
"Kalo aku minta sekarang boleh?" Arkana menatap netra itu mendamba.
Anwa tak menolak tak juga menjawab, lelaki itu mendekatkan kembali wajahnya, menciumi bibir gadis itu dengan lembut. Menghanyutkan, entah sejak kapan tubuh mereka sudah tak mengenakan satu helai benang pun.
"Ar," Anwa mendesah.
"Just relax," Arkana terus saja menggesek-gesekkannya pada Anwa.
Kabut cinta mereka sudah tak lagi mengenal kesadaran, semua masuk dalam satu kesatuan yang tak bisa lagi diungkapkan. Yang ada hanya mereka saling mencintai.
"Ar, sakit... sakit Ar, udah... udah---" nafas Anwa tersengal-sengal, dia tak dapat lagi menahan sakit, tangannya memukul-mukul bahu kekasihnya.
"Sa---kit, Ar... aku gak mau," ujarnya terisak.
Arkana menghentikan percobaan memasuki tubuh Anwa, ia sugar rambutnya frustasi, merutuki dirinya yang ternyata sudah melakukan hal yang seharusnya memang tak mereka lakukan.
"Sstt... Wa, maafin aku," ujarnya memeluk tubuh yang masih polos itu.
"Maafin aku, Wa."
"Sorry, aku salah... maafin aku, gak bakal lagi kayak gini, aku janji."
Anwa hanya diam, menghapus air matanya, lalu berbalik menghadap pada Arkana.
"Janji?"
"Iya."
"Jangan lagi?"
"Iya."
"Sampai waktunya tiba?"
"Iya, aku janji."
"Sampai kita dapat restu mama kamu?"
"Iya, Wa," Arkana mengecupi pucuk kepala gadis itu, menarik selimut, menutupi tubuh mereka berdua.
"Maafin aku ya?"
"Sakit, Ar," ujar Anwa menatap netra lelaki itu.
"Iya, sakit, aku gak bakal ulangi lagi," katanya membelai pipi Anwa. "Sini." Merentangkan tangannya agar Anwa masuk ke dalam pelukannya seperti biasa.
"Aku pake daleman dulu," ujar Anwa. Meraih dalaman yang sudah berserakan kemana-mana. Lalu kembali ke dalam pelukan Arkana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi itu, mereka menikmati sarapan dengan menikmati keindahan danau dan kicauan burung. Gadis dengan rambut keriting yang dia ikat tinggi itu mengenakan kaos berlengan panjang dengan model turtleneck berwarna hitam, serta celana jeans belel. Begitu juga dengan Arkana yg mengenakan kaos dengan warna yang sama dan celana jeans.
"Untung dingin ya, jadi ketolong dengan baju ini," ujar Anwa masih dengan wajah sebalnya.
Saat sadar dia berkaca, ternyata banyak tanda kemerahan di sekitar leher dan dadanya.
"Biasa aja mukanya dong," ujar Arkana yang sudah menggenggam tangan Anwa.
"Sebel aku sama kamu," ujarnya dengan bibir yang sudah mencebik.
"Tapi suka... iya kan?"
"Terpaksa."
"Ih, kok terpaksa sih?" Arkana membukakan pintu mobil untuk kekasihnya. "Kok kepaksa sih?" ulangnya lagi.
"Kan yang suka duluan kamu, aku kasian liat usaha kami dulu yang maju terus pantang mundur." Anwa tertawa jika mengingat pertemuan mereka yang hampir satu tahun lalu.
"Kita mau kemana, Ar?"
"Liat aja nanti."
Mobil berhenti di sebuah taman bunga, tepatnya bunga mawar. Yang Arkana tahu, Anwa suka sekali dengan bunga mawar, sempat beberapa kali ia menemani Anwa berkunjung ke makam Dika selalu membawa bunga mawar, yang ia tahu juga Dika selalu memberikan bunga mawar tak harus pada momen khusus.
"Ar," mata itu berbinar, melihat pemandangan hamparan berbagai jenis bunga mawar disana. "Ini indah banget Ar," ujarnya menarik tangan lelaki itu untuk mengikutinya.
Arkana tersenyum, perasaan di hati ini jelas berbeda saat melihat orang yang kita cintai itu berbahagia. Hanya membawa ke tempat seperti ini saja bisa membuat Anwa mengharu biru. Lebay? untuk sebagian orang tapi untuk Anwa, bunga mawar adalah sesuatu, sesuatu yang selalu mengingatkan ia pada perasaan cinta dan di cintai oleh dua lelaki yang selalu berusaha membuatnya bahagia.
"Makasih," ujarnya. "Kamu selalu membuat kejutan untuk aku," mata itu berkaca-kaca.
Setelah cukup puas menghabiskan waktu di taman mawar itu, Arkana kembali mengajak Anwa ke beberapa tempat destinasi wisata lainnya.
"Laper gak?" ujar Arkana siang itu pada Anwa yang sudah nampak lelah mengikutinya untuk melihat Curug (air terjun) yang katanya fenomenal di daerah itu.
"Kalo ke tempat kayak gitu, harusnya kita bawa baju lagi, Ar."
"Iya, aku lupa... eh di tanya laper gak malah cemberut."
"Untung aku gak basah banyak," ujarnya lagi mengibaskan tangan pada pakaiannya.
"Jadi sekarang kita mau balik ke resort? atau mau makan di luar?"
"Resort aja, aku gak tahan pake baju basah begini, nanti malam baru keluar lagi, ya," pintanya.
"Sesuai yang tuan Putri mau," Arkana mengusak rambut gadis itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ar..." panggil Anwa saat ia keluar dari kamar mandi. Anwa mendapati tempat tidur yang mereka tempati begitu indah dengan taburan bunga mawar di atasnya dan sebuah kotak kecil berwarna putih dengan sedikit renda.
"Ar," panggilnya lagi, kekasih yang ia panggil pun belum terlihat wujudnya. Diambilnya kotak kecil itu, sebuah senyum terukir di wajah Anwa, cincin berwarna putih dengan batu kecil diatasnya, dan terukir nama mereka berdua di bagian dalam cincin itu.
"Aku sudah pake yang ini," ujar Arkana dari balik pintu, menunjukkan jari manisnya sudah melingkar sebuah cincin dengan bentuk yang sama.
"Ar," lagi-lagi mata itu berkaca-kaca, seharian ini dia di buat bahagia oleh sosok lelaki yang hampir satu tahun ini menghabiskan waktu bersamanya.
"Nikah sama aku, Wa," pinta Arkana yang melangkah mendekati Anwa. "Nikah sama aku, aku janji buat kamu bahagia," katanya lagi setengah berbisik.
Anwa terdiam, ingin berkata apa? semua tak pernah ia bayangkan akan secepat ini, bahkan restu dari calon ibu mertua pun belum mereka kantongi.
"Ar... aku harus jawab apa?"
Arkana mengulas senyum. "Kamu cukup jawab, iya... ayok kita nikah, Ar," jawab Arkana dan Anwa pun menghambur ke dalam dekapannya.
"Iya, aku mau, ayo kita nikah," ujarnya tertawa dan menangis.
"Apapun yang terjadi nanti, tetap bertahan di sisi aku, jangan pernah pergi," ujar Arkana mengeratkan pelukannya.
Anwa mengangguk dan menangis, rasa ini luar biasa. Lelaki ini berhasil mengobrak Abrik hatinya. Disaat dia terpuruk, lelaki ini lah yang membuatnya bangkit, di saat ia menarik diri dari semuanya, lelaki inilah yang menariknya keluar dari kesepian, dan lelaki ini menawarkan cinta yang luar biasa.
"Restu mama?" tanya Anwa, menatap Arkana.
"Pulang dari sini, kita temui mama, kita minta restu dari mama."
"Dan saat itu terjadi Ar, jangan pernah kamu lepasin genggaman tangan kamu dari aku."
Arkana merapihkan helaian demi helaian rambut Anwa, menyematkan ke balik dua telinganya. Menangkup kedua pipi gadis itu, memberikan kecupan sekilas di bibirnya.
"Saat itu terjadi, apapun keputusan mereka, genggaman tangan ini gak akan terlepas dari tangan kamu, aku berjanji untuk itu."
selamat malam, mimpi indah gengs 😘