
Sudah hampir dua bulan berlalu pasca melahirkan, itu artinya semakin mendekati Arkana untuk berbuka puasa.
Ah, kadang Anwa tak habis pikir dengan cara Arkana selalu meminta "jatah" padanya. Ada saja kelakuan lucu lelaki itu yang membuatnya semakin cinta. Seperti hari ini tiba-tiba ia memeluk Anwa dari belakang saat sedang memakaikan baju Kawa sehabis bayi itu mandi.
"Jalan yuk hari ini ... Kawa titipin Mama dulu," ujarnya menciumi pundak Anwa.
"Gimana bisa nitipin ke Mama, aku gak tega ... Mama riweh nanti," jawab Anwa saat memakaikan pampers Kawa.
"Kan kebetulan ada Annaya, Bunda sama Ayah pacaran bentar ... boleh ya Nak," ujar Arkana mencium bayi yang sudah wangi itu.
"Emang mau kemana?" tanya Anwa.
"Kemana aja asal berdua ... mau ya?"
"Sekarang?"
"Tidurin Kawa dulu, biar kamu nya gak kepikiran."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Emang kita mau kemana sih, Ayah Kawa?" tanya Anwa pada Arkana saat mereka memasuki sebuah cluster perumahan minimalis.
"Sebentar lagi sampe ... nah ini dia," ujar Arkaan berhenti di sebuah rumah tanpa pembatas pekarangan.
Membukakan pintu mobil untuk Anwa, "ayo masuk ... ini hunian untuk keluarga kecil kita, sampai kita tua nanti," ujarnya menyematkan rambut Anwa.
Anwa tersenyum dengan mata berbinar-binar. Arkana selalu bisa membuatnya merasa seperti tuan putri, perlakuan suaminya ini tidak berubah hingga saat ini dari masa mereka menjalin hubungan.
Memasuki rumah dua lantai yang sudah terisi dengan perabotan dan design minimalis, Anwa di buat takjub.
"Ini kamar kita," ujar Arkana membuka pintu sebuah kamar dengan ukuran yang luas, terdapat jendela kaca yang luas yang menghubungkan dengan sebuah taman dan kolam renang berukuran sekian meter jika jendela kaca itu terbuka.
"Ini kamar kita?" ujar Anwa takjub saat ia membuka kaca besar itu yang ternyata bisa menjadi pintu penghubung ke kolam renang.
"Iya ini kamar kita," ujar Arkana memeluk istrinya dari belakang. "Kamu suka designnya? tempat tidur, lemari dan semua yang ada di kamar ini?"
"Aku suka Ar ... aku suka banget," ujar Anwa membalikkan tubuhnya lalu mengalungkan tangannya di leher Arkana. "Makasih, Ayah Kawa." Anwa mencium lembut bibir suaminya.
Mana mungkin Arkana menolak perlakuan istri cantiknya itu. Arkana membalas ciuman Anwa dengan sama lembutnya, memojokkannya ke dinding jendela kaca. Ciuman itu semakin menjadi liar saat tangan Arkana menyingkap dress baby doll bermotif bunga-bunga itu dan meremat bokong istrinya.
"Aw ... sakit," ujar Anwa manja saat merasakan rematan tangan Arkana.
"Gemes," ujar suaminya lalu melanjutkan kembali ciumannya.
Dress itu lolos dari kepala Anwa, Anwa hanya mengenakan dalaman berenda berwarna hitam, tatapan mata Arkana serta simpul senyum yang mengembang di sudut bibirnya membuat Anwa curiga akan perlakuan suaminya.
"Udah enggak kan?" tanya Arkana saat tangannya menyentuh milik Anwa yang masih berbalut bahan berenda itu.
Anwa tersenyum akhirnya Arkana tahu jika ia sudah menyelesaikan masa nifas sudah lewat dari lima hari yang lalu.
"Kenapa gak bilang?" Arkana masih menyusuri leher istrinya sehingga Anwa menegang. "Aku ngitung loh sama Indomie."
Anwa menjauhkan tubuh Arkana. "Hubungannya apa?" tanyanya tertawa.
"Kala bilang, aku disuruh beli satu dus Indomie berisi empat puluh bungkus ... habis empat puluh bungkus, aku malah nombok lima bungkus," ujarnya merengkuh kembali pinggang sang istri.
Anwa tertawa lucu, bisa-bisanya Arkana melakukan hal gila seperti itu. Tanpa sadar pembungkus dadanya sudah terbuka dan terjatuh di lantai.
"Aku gemes kalo liat ini dimainin sama Kawa," ujar Arkana meremat dada itu hingga membuat Anwa mendesah.
Menuntun sang istri ke tempat tidur berukuran besar yang sudah dilapisi sprei berwarna abu-abu polos.
"Ar?" tanya Anwa saat suaminya sedang asyik memilin puncak dada Anwa.
"Sejak kapan rumah ini jadi?"
"Sejak sebulan yang lalu," jawabnya menciumi perut Anwa.
"Ada yang beresin ... aah ...."
"Ada setiap hari," Arkana menyentuh milik Anwa menarik lolos pembungkus itu.
"Ar ...,"
"Iya, Bunda Kawa ...." Arkana membuka lebar kedua kaki Anwa yang tertekuk.
"Pelan-pelan ya ... katanya rasanya bakal sama seperti baru ngelakuin," ujar Anwa menarik napas panjang saat tangan Arkana menyentuhnya.
"Iya ... aku pelan-pelan," ujarnya sambil mengecup milik istrinya.
"Iya Sayang, kenapa jadi susah ya," kata Arkana memulai memompa tubuhnya perlahan.
Sementara tangan Anwa mencengkeram tangan kokoh milik Arkana.
Desahan demi desahan lolos dari bibir Anwa ketika Arkana berhasil masuk dan memompa dengan sedikit cepat.
"Sayang ... hhhmmm," Arkana mengerang lalu mencium kembali bibir istrinya. "Enak?"
Anwa mengangguk, gerakan naik turun dada Anwa yang semakin berisi itu membuat adrenalin Arkana semakin terpacu. Gerakan itu semakin cepat saat keduanya akan melakukan pelepasan.
Anwa menggigit bibir bawahnya, menahan desahan yang akan segera keluar dari bibirnya sementara Arkana menatap sang istri dengan mata yang begitu sendu sembari semakin menekan miliknya.
Hingga keduanya mencapai kenikmatan bersama dengan peluh keringat yang membasahi tubuh mereka.
Arkana mengecup bibir Anwa sekilas seraya berbisik, "happy anniversary, Bundanya Kawa ... i love you." Arkana memperdalam ciumannya.
"I love you too, Ayahnya Kawa," jawab Anwa mencium pipi suaminya yang masih berada di atas tubuhnya.
"Mau lagi Wa," ujar Arkana yang kembali menggerakkan pinggulnya lalu meremat dada sang istri hingga Anwa ikut menegang lagi.
"Masih kurang?" Anwa terkekeh.
"Masih Wa ... empat puluh hari rasanya hampa tanpa masuk kesini," ujar Arkana mulai memompa kembali.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Menyusuri kembali satu per satu ruangan di rumah itu, terdapat dua kamar tidur anak-anak di lantai dua. Sebuah balkon yang dihiasi tanaman-tanaman yang harganya lumayan sebagai koleksi. Lalu Anwa turun ke dapur yang langsung terhubung dengan taman kecil dekat kolam renang.
Anwa mengamati semuanya, matanya mulai berkaca-kaca. Begitu baik Tuhan menganugerahkan ini semua padanya setelah banyak proses hidup yang harus dia lalui.
Suami yang luar biasa mencintainya, bayi kecil yang selalu membuat hatinya hangat, keluarga besar yang selalu ada untuk dia. Apalagi yang harus ia keluhkan ketika mendapatkan nikmat yang luar biasa seperti ini.
Hanya bentuk ucapan syukur yang lolos dari bibirnya, bersyukur begitu sayangnya Tuhan pada dirinya. Kehidupan tidak hanya sampai di sini saja bukan, masih banyak yang akan Anwa lewati bersama Arkana dan keluarga kecilnya, dan dia selalu berharap semua bisa ia lalui bersama.
"Kenapa nangis? tanya Arkana memeluknya dari belakang, lelaki itu hanya menggunakan boxer pada tubuhnya.
"Sudah bangun?" Anwa menghapus air matanya.
"Sudah ... malah yang ini juga udah bangun lagi," Arkana terkekeh.
Anwa menarik tangan suaminya mengeratkan kembali pelukan itu. Arkana menciumi ceruk leher istrinya.
"Sayang ...."
"Hhmm ... kenapa aku selalu suka wangi kamu, Wa."
"Sayang, terimakasih ya ... terimakasih karena sampai saat ini kamu berada di sisi aku," ujar Anwa.
"Sampai kapanpun aku akan berada di sisi kamu, Sayang."
"Janji?"
"Janji," kata Arkana membalikkan tubuh wanita yang sudah melahirkan anaknya. "Lagi yuk," katanya lagi dan di sambut dengan anggukan sang istri, dengan cepat Arkana membopong istrinya kembali masuk ke dalam kamar milik mereka.
***happy anniversary pasangan uwuu 😘
Sorry late post
enjoy reading 😘
jangan lupa like dan jangan lupa sebar bunga dan kirim secangkir kopi untuk author 😂***
...----------------...
**Hai...
Aku Chida ingin mengadakan giveaway untuk para pembaca aku, jadi... pop Kiss Me udah lebih 1M nih dan mau tamat juga.
Nah aku mah buat giveaway yaitu 3 buah pouch cantik untuk 3 orang yang memberikan point terbanyak buat novel Kiss Me (aku liat dari ranking umum yah)
Dan....
Pulsa @25rbu untuk 3 orang pemenang yang aku pilih dari komentar terbaik dan terkocak.
Jangka waktunya dimulai dari hari ini sampai tanggal 3 Mei 2021
Terima kasih sudah menemani Chida dalam menulis novel Kiss Me ❤️**