Kiss Me

Kiss Me
Puasa



"Wa ... masa kata Kala tadi aku bakal puasa," ujar Arkana saat kembali dari meletakkan Jawa di box bayi.


"Puasa apa?" Anwa menggeser tubuhnya memberi ruang pada suaminya agar tidur bersama dengannya dalam satu ranjang rumah sakit.


"Puasa 40 hari, lama amat Wa ... katanya gak boleh ngapa-ngapain kamu."


"Oh itu ... itu namanya masa nifas, Ar ... kamu harus nunggu aku selesai masa nifas baru boleh masuk lagi ... bahkan ada yang sampe 60 hari, Ar."


"What?! buseeettt lama amat Wa ... gak bener kalo gini Wa," ujarnya kaget.


Anwa tertawa menahan geli, kelakuan suaminya mengenai hal itu memang selalu membuatnya tergelak.


"Loh, kok gak bener sih ... ya bener lah, masa nifas masing-masing wanita itu beda-beda Ar, nah aku gak tau masa nifasku 40 atau 60 hari," goda Anwa.


Arkana menempelkan wajahnya di dada Anwa.


"Kamu harum ASI Wa," ujarnya mendusel dada istrinya.


"Jadi selama 40 atau 60 hari itu kamu gak boleh aneh-aneh in aku, Ayah Kawa." Anwa memiringkan badannya lalu meringis.


"Kenapa?"


"Deras banget ...."


"Apaan?"


"Sisa-sisa darah kotor." Bibir Arkana membentuk huruf O tanda mengerti.


"Kamu yang gak bisa di apa-apa in, Wa ... kalo aku masih bisa di apa-apa in."


"Maksudnya?" Anwa bingung.


"Ya kamu bisa apa-apa in aku dengan cara yang lain," ujarnya mengangkat kedua alisnya nakal.


"Udah ah ngeladenin kamu gak selesai-selesai sampe besok pagi ... tidur Ar, ntar lagi pasti kita kebangun." Anwa mulai memejamkan matanya.


"Kok kebangun?"


"Iya gitu, kalo punya bayi katanya bakal sering begadang an ...."


"Ya ampun, masa?"


"Ayahnya Kawa pinter bikinnya doang ah, udah aku mau tidur, ntar kalo Kawa bangun kamu yang diemin ya ... kita harus jadi team yang solid."


Arkana masih memeluk tubuh istrinya yang sudah memejamkan mata lebih dulu. Dalam hatinya dia berterima kasih pada Tuhan karena diberikan dua hadiah paling indah di hidupnya, yaitu Anwa dan Kawa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi itu, Arkana masih tergeletak di atas tempat tidur. Semalam adalah tugas pertama Arkana sebagai seorang ayah yang harus siap menemani anak mereka membuka mata hampir lima jam tanpa menangis dan tak melakukan apa-apa.


Baru jam lima pagi tadi, Kawa tertidur. Serba salah jika meninggalkan Kawa dalam keadaan celingak-celinguk sendirian malam tadi. Sedangkan Anwa, setelah membersihkan ASI pada bayinya ia tertidur kembali karena lelah.


Iya, mereka harus menjadi team yang solid, bergantian menjaga Kawa. Bayi kecil itu tak banyak menangis hanya diam tapi bisa berjam-jam menatap ke kanan dan ke kiri.


Anwa sudah bersiap-siap untuk pulang ke rumah, Kawa juga sudah harum karena telah dibersihkan oleh perawat, sekalian Anwa belajar cara mengurus, memandikan, memakaikan baju bayi dari memakai gurita yang tidak boleh diikat kencang dan bagaimana memakai bedong agar si bayi tetap hangat.


Menjadi ibu baru itu amazing kata Anwa, dia harus belajar dengan cepat bagaiman mengurus bayinya sendiri. Ada rasa ngeri saat melihat tali pusar bayi yang masih menempel. Anwa harus bisa menjaga agar tali pusar itu tetap kering.


"Anak Bunda udah harum banget," ujar Anwa mengangkat bayi mungil itu dari box nya untuk dia gendong dan diberikan ASI kembali.


"Liat tuh dek, Ayahnya Kawa masih bobok ... ngorok lagi," Anwa terkekeh melihat Arkana yang tidur dengan mulut sedikit terbuka.


"Tadi malem emang Kawa main apa sama Ayah? sampe Ayah kecapekan gitu." Anwa mendekatkan mulut bayi mungil itu ke dadanya.


"Uluh ... uluh ... anak Bunda laper ya ... iya?" Kawa kecil dengan rakusnya menghisap pucuk dada Anwa. "Kamu mirip banget sama Ayah, Nak," ujar Anwa.


"Ngobrol sama anaknya itu yang baik-baik Sayang," suara parau bangun tidur milik Arkana terdengar.


"Eh, Ayahnya Kawa udah bangun."


Arkana melangkah menuju Anwa yang sudah duduk di sofa sambil menyusui bayi montok itu. Arkana bergelayut manja di lengan sang istri masih dengan mode ngantuk berat.


"Aku ngantuk, Wa ...."


"Ya udah tidur lagi sana, gak papa kok ... biar gantian kita kan bagi shift," ujar Anwa tersenyum melihat suaminya masih menutup matanya namun tangannya ia taruh diatas dada Anwa yang sedang menyusui Kawa.


"Hhmm."


"Anak kamu gak mau bener ya berbagi sama aku."


"Berbagi apa?"


"Ini," ujar Arkana meremat sebelah dada Anwa.


"Ah ... sakit Ar," Anwa mengaduh. "Kamu itu harus sabar, Ar ... masa sama anak sendiri gak mau ngalah."


"Masih tiga puluh delapan hari lagi ya Wa?"


Arkana menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa.


"Jangan diitung, ntar malah tambah lama loh." Anwa bangkit dari duduknya lalu meletakkan Kawa pada tempat tidur, dan kembali menuju Arkana.


"Makanya ... bantuin aku dong."


"Bantuin gimana maksudnya?"


"Ini ...," ujar Arkana mengarahkan tangan Anwa ke kelakiannya yang sudah menegang.


Anwa tertawa dia tahu betul suaminya mana bisa menahan hal yang satu itu.


"Kamu itu, empat bulan aja bisa tahan loh gak ngapa-ngapain aku."


"Ya beda lah Wa, empat bulan waktu itu kan aku tidur, dia juga tidur ... nah ini empat puluh hari aku sehat walafiat tapi harus ngeliat kamu setiap hari buka ini depan aku," ujarnya dengan tangan masuk ke dalam baju Anwa.


"Empat puluh hari itu waktu sebentar kalo kamu isi dengan kegiatan-kegiatan baru, Ar."


"Iya ... tapi aku udah gak kuat ini Wa," ujarnya masih dengan tangan di dalam baju Anwa sehingga membuat Anwa juga menegang.


"Ar ...." Anwa mendesah saat Arkana sudah menjatuhkan tubuhnya ke sofa dan menindih tubuh wanita itu. Menghujaninya dengan ciuman liar, menyusuri leher hingga membuka kancing baju rumah sakit yang Anwa kenakan.


Lalu berhenti sebentar, memandang wajah Anwa. "Tuh, kamu aja pengen," ujarnya sambil tersenyum lalu memainkan puncak dada istrinya dengan lidahnya.


Anwa mulai menegang, diusapnya ujung rambut Arkana yang masih asyik dengan puncak dadanya.


"Wa ...."Arkana mengarahkan tangan Anwa menuju ke bawah. Anwa merasakan ketegangan di sana.


"Ke kamar mandi aja yuk," ajak Arkana dengan mata sendu.


"Gak ah, kasian Kawa sendirian," tolak Anwa.


"Sebentar doang Wa, aku bakal cepet ... janji," Arkana kembali menempelkan bibirnya pada bibir Anwa. Lalu berdiri dan meraih tangan Anwa untuk mengikutinya masuk ke dalam kamar mandi.


Desahan dan erangan pasangan suami istri itu saling bersahutan. Anwa yang sudah terduduk di atas kloset dengan mahirnya membantu sang suami melakukan pelepasan kadang dengan mulutnya kadang dengan tangannya yang semakin lincah melakukan pergerakan.


Arkana memang melakukannya dengan cepat, hingga pelepasan itu terjadi, ia kembali mengecup bibir Anwa yang sudah mendongak melihat ke arah Arkana.


"Udah?" tanya Anwa yang melihat suaminya sudah puas dengan kelakuannya pagi ini.


"Kamu harus siap ya ... selama tiga puluh delapan hari ke depan dengan gaya seperti ini," ujar Arkana terkekeh.


"Ar ...." suara di luar sana mengagetkan mereka berdua yang berada di dalam kamar mandi.


"Iya, Ma," seru Arkana.


"Ngapain?"


"Mandi ...."


"Harus berdua? anaknya di tinggal sendirian!" Mama Cha Cha menjawab dengan seruan pula.


"Nanggung Ma," ujar Arkana di hujani pukulan di lengannya dan mata melotot milik sang istri.


***susah emang... udah gak bisa lagi aku bilangnya kalo sama Abang Ar mah....😂


enjoy reading 😘


dan jangan lupa ramaikan give away yaaaah***