Kiss Me

Kiss Me
Ngambek



Suasana di dalam mobil itu sunyi. Dari mulai mereka keluar mall sampai Arkana mengantarkan Anwa ke kostnya. Iya, Arkana mengantarkan Anwa pulang ke kostnya. Biasanya lelaki itu selalu bertanya mau pulang kemana, namun kali ini tidak.


Tidak ada juga kata-kata yang keluar dari bibirnya ketika Anwa turun. Dia hanya mengantarkan sampai di depan gang. Belum jauh Anwa melangkah mobilnya sudah melaju kencang.


Anwa hanya bisa terpaku, dia tahu Arkana marah akan kata-katanya yang seakan merasa mereka menjalin hubungan ini cuma karena napsu bukan lagi cinta.


Sebenarnya ini hanya perasaan Anwa saja, Arkana juga tidak memintanya setiap hari, namun terkadang seorang wanita suka merasa jika hubungan itu sudah terlanjur jauh maka pasti wanita merasakan lelaki hanya butuh tubuh mereka saja.


Bodoh memang jika banyak yang bilang kenapa baru sadar sekarang, kemana aja kemarin? itulah kadang antara cinta dan napsu perbedaannya sangat tipis.


Anwa bisa apa jika perkataannya menyinggung Arkana, maka dia memutuskan untuk tidak menghubungi lelaki itu dulu hingga di rasa cukup untuk membicarakannya kembali.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seminggu sudah hubungan mereka tanpa ada komunikasi, sama-sama diam. Padahal dalam hitungan satu bulan setengah lagi mereka akan menikah. Masalah persiapan melalui WO pun semua yang meng handle Arkana, Anwa hanya duduk manis dan terima beres.


Sibuk dengan pekerjaannya itulah yang mereka lakukan agar tak tersulut api emosi yang sedang membara karena kesalahpahaman.


"Wa," ujar Ibu Ema siang itu di sela-sela menyelesaikan pekerjaannya.


"Iya, Bu."


"Aku baru tahu kalo kamu sama Arkana pacaran ya, mau nikah lagi."


"Ibu kok bisa tahu?"


"Kemarin Pak Fajar bilang, katanya ada undangan buat aku, ya Pak Fajar cerita kalo Arkana mau nikah sama kamu ... aku gak nyangka," ujar Ibu Ema senyum-senyum.


"Iya Bu," Anwa pun tersenyum.


"Kok bisa Wa? selama ini aku gak tau kalian pacaran, pinter kalian nutupin hubungan ya."


Anwa tersenyum lagi, wajahnya merona. Oh, dia merindukan Arkana, lelaki itu tak sedikitpun menghubungi walau hanya menanyakan kabar.


"Wa," suara bariton atasannya yang sudah berada di depan pintu ruang kerja itu mengagetkannya.


"Eh, iya Pak."


"Kamu nanti pulang sama saya ya, tadi mamanya Arkana pesan, kalo kamu di suruh ke rumah."


"Oh, sore nanti Pak?"


"Iya."


"Baik."


"Cieee, balik sama calon mertua nih," goda Ibu Ema saat atasan mereka kembali masuk ke ruangan.


"Ibu Ema bisa aja." Anwa merona.


"Eh Wa, kalo besok udah nikah, tetep kerja kan?" kata Ibu Ema yang sepertinya tidak pernah kekurangan bahan pembicaraan.


"Iya Bu, sayang ... ini perusahaan BUMN, saya tetap kerja."


"Tapi Arkana tahu?"


"Belum sempat dibicarakan." Iya, Anwa baru teringat harusnya ini juga di bahas oleh mereka.


Anwa sepertinya harus memutuskan bertemu dengan Arkana nanti, semoga dia berada di rumah kedua orangtuanya pikir Anwa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ini kedua kalinya Anwa datang ke rumah orang tua Arkana, kali ini statusnya sudah berubah menjadi calon menantu. Tidak tampak mobil Arkana di pekarangan rumah, sepertinya memang Arkana tidak ada di rumah.


Anwa mengikuti langkah kaki Papa Fajar memasuki ruang keluarga. Di sana sudah berkumpul anggota keluarga yang lain, Mama Cha Cha, Mima Jingga dan ada Zurra dan Annaya. Setelah bersalaman dan menautkan pipi-pipi mereka, perbincangan pun dimulai.


Mulai dari persiapan pernikahan, tentang souvernir yang sudah siap, sampai baju kebaya seragam untuk keluarga ini.


"Wa, bunda kamu bahan kebayanya sudah Mama pisah ya, butuh berapa lagi nih buat keluarga kamu yang lain?"


"Kok Bu sih? panggilnya Mama ... Ma --- ma," ulang Zurra yang memang ceplas-ceplos.


"Iya, mulai sekarang kamu panggil Mama ya, karena kamu akan menjadi anak menantu di rumah ini," ujar Mama Cha Cha.


"Wa, kok bahan seragam buat keluarga kamu cuma satu aja?" tanya Mima Jingga heran.


"Satu aja Mima, gak ada yang lain, Anwa gak mengundang siapapun saudara dari pihak bunda dan ayah."


"Eh, kenapa?" tanya Mama Cha Cha.


"Gak papa Ma, tapi memang sudah sepantasnya seperti itu."


Sebenarnya keputusan ini Anwa yang ambil sendiri,dia tidak ingin keluarga besar ayah dan bundanya datang menghadiri pesta pernikahannya. Apalagi jika tahu, dia akan menikahi anak salah satu pejabat di perusahaan BUMN.


Anwa sudah terlalu sakit hati atas penghinaan mereka pada keluarganya. Dimana mereka di saat dibutuhkan. Anwa akan ingat itu seumur hidupnya. Di kala masa kejayaan sang ayah, semua mendekat bak semut mengerumuni gula, tapi memang seperti itulah hidup. Kebaikan seseorang tak akan lagi diingat setelah kesalahan yang dilakukan.


"Wa, sudah foto prewedding?" tanya Zurra dan Anwa menggeleng.


"Kok belum sih? haduh kalian ini itu yang perlu, itu menceritakan perjalanan cinta kalian," ujar Zurra lagi. "Kapan mau foto? aku yang foto in deh, mau spot foto dimana? kalian tentuin ya," ujar Zurra yang memang ahli dalam bidang photography.


"Nanti aku tanya Arkana deh," kata Anwa sambil memilih-milih souvernir pernikahannya.


"Abang Arkan mana?" tanya Zurra pada Anwa.


Anwa lagi-lagi menggeleng, dia benar tak tahu dimana Arkana, bahkan nanti pulang pun dia tak tahu akan pulang dengan siapa.


"Berantem sama Abang?" kali ini Annaya yang jarang sekali berbicara ikut menyahut.


Anwa hanya tersenyum.


"Hhmm biasa ini mah, kalo mau nikah biasanya emang begini Wa, apa aja jadi bahan buat di permasalahkan," ujar Mima Jingga.


"Emang gitu Mima?" tanya Annaya.


"Kenapa jadi lo yang semangat nanya, Nay?"


"Lah, emang salah gue nanya," sahut Naya.


"Kalian berdua ini ya, ada aja yang di bahas," Mama Cha Cha menengahi.


Suara salam yang terdengar dari ruang tamu pun membuat semua menjawab dan menoleh ke asal suara.


Lelaki tinggi berwajah tampan yang hari itu mengenakan kemeja berwarna krem dengan celana chinos berwarna mustard itu sudah bersandar di teralis tangga.


"Capek banget kayaknya, cari duit yang banyak Bang, ntar lagi mau punya istri," celetuk Zurra.


Pandangan mata Arkana tertuju pada Anwa, yang menunduk pura-pura membantu memilah souvernir pernikahan mereka.


"Mama mau siapin makan malem dulu ya," ujar Mama Cha Cha lalu bangkit menuju ke arah dapur.


"Mima bantuin deh."


Sedangkan Naya dan Zurra tetap berada di sana berusaha pura-pura tidak melihat dan mendengar.


Arkana pun naik ke lantai dua menuju kamarnya meninggalkan Anwa di sana yang masih diam terpaku.


"Wah, kayaknya ngambeknya lama ya Wa?"


"Biasanya Abang kalo udah kayak gitu, ngambeknya parah loh, Kak Anwa ... samperin dah, serem Naya liatnya." Kedua gadis itu pun bergidik melihat tatapan mata Arkana tadi.


"Samperin sana Wa, gak papa ... tuh yang itu kamarnya, masuk aja," ujar Zurra menunjuk kamar ketiga paling pojok.


***ngambeknya lama gengs....


tekan like, tinggalkan komen, sebarkan bunga, bagi tiket vote hahahaha 😘😘


enjoy reading***