
Selama satu minggu, terapis datang sebanyak dua kali. Sudah berjalan tiga minggu terhitung, Arkana sudah banuak perkembangannya, dia sudah mulai bisa memposisikan duduk agak tegak tanpa bantuan tumpukan bantal, berjalan pun sudah mulai bisa walau masih harus di gandeng atau di rangkul. Setidaknya perkembangan Arkana lumayan pesat.
"Gimana Mas Dodi, perkembangan suami saya?" ujar Anwa saat mengantarkan terapis itu ke teras rumah.
"Banyak kemajuannya Bu ... Pak Arkana semangat sekali untuk sembuh, saya rasa gak sampe tiga bulan Bapak sudah bisa beraktivitas seperti biasa."
"Syukurlah, saya juga berharap secepatnya dia kembali beraktivitas," ujar Anwa tersenyum.
Suara berdehem dari dalam ruangan membuat Anwa dan Dodi si terapis menoleh. Arkana berjalan menuju mereka di teras.
"Sudah selesai Mas Dodi?" sindirnya.
"Oh iya Pak, saya pamit pulang dulu ... permisi," Dodi mengundurkan diri namun mengulas senyum pada Anwa.
"Aku kok gak suka ya sama dia," ujar Arkana yang sudah berhasil berdiri di samping Anwa.
"Kenapa?"
"Abisnya kalo liat kamu kayaknya dia suka."
"Astaga Ar, istri kamu ini lagi hamil, masa ada yang mau sama ibu-ibu hamil."
"Mau aja ... kamu tau, wanita kalo lagi hamil itu di mata laki-laki terlihat seksi," ujar Arkana merengkuh pinggang Anwa.
"Darimana seksinya, badan gak enak di liat kayak gini, depan belakang maju semua," Anwa terkekeh.
"Ngamar yuk," ajak Arkana nakal.
"Aku mau nemenin mama di dapur siapin makan siang, kamu ke kamar duluan aja ya." Anwa mengecup pipi suaminya lalu menuntunnya masuk.
"Di ruang tivi aja, aku tunggu di sana kalo udah kelar bantu mama," kata Arkana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kamu yakin mau cek resto hari ini?" tanya Anwa pada Arkana pagi ini, dia mengancingkan kemeja lelaki itu. "Mau di sisir gak rambutnya?" Anwa tersenyum lucu karena rambut Arkana baru saja mulai kembali tumbuh.
"Jelek ya? ambilin topi aku aja deh," pintanya pada Anwa.
"Yang mana?" Anwa menunjukkan dua topi bermerk huruf YSL berwarna krem dan hitam.
"Hitam aja." Anwa memberikan topi itu pada Arkana, "gimana? ganteng kan?" Arkana mengedikkan alisnya.
Hari ini Arkana hanya mengenakan kemeja dengan lengan kemeja di gulung sampai ke siku, tanpa di masukkan ke dalam celana panjangnya yang hanya menggunakan jeans belel dengan robekan di kedua lututnya.
Kamu diapain juga tetap ganteng Ar," Anwa mengecup bibir suaminya.
"Kamu ikut kan?" tanyanya pada Anwa.
"Iya aku ganti baju dulu ... sore kita ke dokter," ujar Anwa yang dari awal bulan sudah harus mengontrolkan kandungannya setiap satu minggu.
Ini hari pertama Arkana mengunjungi beberapa restoran miliknya, ia di sambut dengan suka cita oleh para karyawannya. Setelah dari restoran, mereka menuju kafe dimana kafe milik Arkana itu tepatnya sekaligus kantor dari usahanya.
Memasuki kafe, sudah ada Dion, Ria dan beberapa pelayan serta staf yang menyambutnya dengan satu kue ucapan selamat datang kembali yang membuat Arkana terharu.
"Selamat datang kembali Pak Bos," ujar Dion menyambut uluran tangan atasannya.
"Selamat datang Pak," ujar Ria dan yang lainnya.
"Terimakasih semuanya atas perhatian kalian, semoga selama saya tertidur kemarin tidak mendapatkan dampak buruk dengan usaha kita."
Anwa dan Ria hanya tersenyum saling merangkul satu sama lain.
"Ternyata ada partner kerja baru di sini," kata Arkana mengusak rambut istrinya. "Semua silahkan makan siang gratis, saya yang traktir."
"Ais ... suka kali lah sama Pak Bos ini," seru Dion diikuti tepuk tangan riuh dari pelayan dan para staf.
"Ria, saya mau lihat laporan empat bulan terakhir ... semua restoran di setiap cabang," ujar Arkana melangkah ke salah satu meja paling sudut, karena belum memungkinkan Arkana harus menaiki tangga masuk ke ruangan kantornya di lantai tiga.
Arkana mengangguk-angguk saat melihat laporan keuangan yang diberikan oleh Ria, dia patut mengacungkan jempol atas kerja keras istrinya mempertahankan usaha miliknya.
"Jadi selama empat bulan, yang keliling kontrol ke cabang luar kota kamu Ria?"
"Iya Pak, Ibu Anwa memantau semuanya dari Jakarta ... jadi saat ada masalah kami hanya melakukan meeting secara virtual saja," ungkap Ria.
"Memang tidak efisien kalo kita gak turun langsung Ar, hanya karena kondisi aku sedang hamil dan kamu berada di rumah sakit, mereka mengerti semua apa yang harus mereka lakukan, untungnya orang-orang yang kamu pilih adalah orang-orang yang royal dan terpercaya," timpal Anwa.
"Iya ... aku makasih sekali atas kerja keras kamu dan Ria serta lainnya, dan kamu Ria ... keluar kota terus gak mengganggu hubungan kamu dengan tunangan kamu kan?" tanya Arkana sedikit khawatir.
"Gak Pak, tunangan saya mengerti keadaan usaha bapak, jadi gak masalah," jawab Ria.
"Malah dua bulan lagi mereka akan menikah Ar," ujar Anwa tersenyum melirik Ria yang merona wajahnya.
"Wah ... selamat Ria, akhirnya ya." Perasaan lega terpancar dari wajah Arkana, setidaknya wanita yang sering membuat istrinya cemburu itu akan segera melepas masa lajangnya.
"Jangan selamat aja Ar, kasih hadiah dong ... Ria udah banyak membantu kita loh," ucap Anwa.
"Oh iya, tentu kita kasih Ria kenangan yang tak mungkin dia lupakan," kata Arkana bersemangat.
Seharian berkeliling mengunjungi restoran dan kafe yang mereka miliki dan berakhir pada praktek dokter kandungan dengan dikejutkan oleh jenis kelamin bayi mereka membuat Arkana merasa hari ini adalah hari yang membahagiakan.
"Seneng banget sih," ucap Anwa yang bersandar di lengan suaminya saat berada di dalam mobil.
"Seneng banget aku, Wa ... hari ini seperti kejutan buat aku, dari cara kamu menjalankan usaha kita sampai dengan aku liat sendiri perkembangan bayi kita di dalam sini," ujarnya mengusap perut sang istri.
"Kamu buat aku sempurna menjadi suami bahkan ayah untuk anak aku," ujar Arkana lagi.
"Aku hanya menjalankan tugas aku sebagai istri, sebagai pen-support kamu, sekaligus sebagai calon ibu untuk anak kamu."
"Iya ... dan kamu melakukannya dengan baik ... makasih ya," ujar Arkana mengangkat dagu sang istri lalu mengecup bibir Anwa sekilas.
Arkana melirik ke arah supir keluarga yang sedari tadi hanya menatap ke depan. Lalu diulanginya lagi ciuman pada bibir Anwa, Arkana memperdalam ciumannya, hingga Anwa terlena dan membalas ciuman suaminya dengan cukup liar.
"Wa," kata Arkana pelan dan melepaskan ciuman mereka, "kamu mau ya?" tanyanya membuat Anwa malu.
"Sampe lupa kalo kita di mobil, Wa," goda Arkana, "Pak, masih lama?" tanya Arkana pada supir yang memang Arkana perintahkan untuk menuju apartemen mereka.
"Sepuluh menit lagi, Mas Arkana ... apa perlu saya ngebut?" tanya sang supir sepertinya mengerti keinginan tuannya.
Arkana tersenyum simpul. "Masih bisa di tahan Pak," jawabnya melirik pada Anwa yang sudah menghujani cubitan di paha Arkana.
***setelah dibaca klik like yeesss...
btw hari Senin nih bolehlah pasangan ini di taburi bunga-bunga cantik atau tiket vote-nya.
matur tengkyuuuhh 🙏
enjoy reading 😘***