Kiss Me

Kiss Me
Takkan terganti



Jumat di akhir bulan, hari itu cuaca tidak juga panas juga tidak juga hujan. Seperti biasa di Jumat akhir bulan atau awal bulan, Anwa selalu menyempatkan dirinya untuk berkunjung ke makam Dika, kekasihnya dulu.


Sekuntum mawar merah, satu plastik kembang tujuh warna serta satu botol air mineral, selalu dia bawa saat mengunjungi makam itu.


Berpesan pada ojek on-line agar sebentar menunggu. Gundukan tanah berselimut rumput hijau itu begitu rapih tertata. Sama seperti Dika dulu, yang ingin segala sesuatunya harus terlihat rapih.


Mengatakan salam, lalu Anwa duduk di sisi gundukan itu. Membelai nisan, sesekali menepuk-nepuk rumput hijau.


"Apa kabar Ka?"


"Rasanya baru kemarin kita berpisah."


"Kamu gimana di sana?"


"Sudah bahagia?"


"Bidadari surganya pasti lebih cantik dari aku ya? sampe kamu gak pernah dateng ke mimpi aku."


Anwa tersenyum tipis.


"Ka ...."


"Dalam waktu dekat ini aku dan Arkana ... akan melangsungkan pernikahan," ujar Anwa lalu terdiam kembali.


"Ka ... restui kami ya."


"Arkana baik Ka, kamu pasti udah tau kan, kamu pasti udah lihat dari sana."


"Kamu pasti ingin lihat aku bahagia, kan?"


"Aku sudah merelakanmu Ka, aku ikhlas."


"Jangan tanya kamu di hati aku Ka," ujar Anwa mulai terisak.


"Kamu akan selalu ada di hatiku, kamu tak akan terganti, Ka."


Air mata kembali menetes, kali ini Anwa memang harus benar-benar mengiklaskan, menyimpan rapat-rapat memori itu. Hidup harus terus berjalan, meski tak memungkiri posisi Dika akan tetap selalu ada di hatinya.


"Aku pulang ya, tetap lihat aku dari sana, terimakasih untuk kebersamaan kita selama ini, kamu memang yang terbaik dan akan selalu menjadi yang terbaik," ujarnya menghapus air matanya.


Membelai nisan itu, menaburkan kembang tujuh warna, mengguyurinya dengan air dan meletakkan setangkai bunga mawar, simbol cinta mereka dulu.


"Aku pulang Ka," ujarnya lagi lalu menyebut salam.


"Sudah?" ujar suara di belakangnya, lalu merangkul pundak Anwa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seperti biasa setiap hari Jumat di awal atau akhir bulan, Arkana selalu ingat jika Anwa pasti berkunjung ke makam kekasihnya dulu. Kadang Arkana menemani kadang juga tidak, tergantung dengan situasi pekerjaannya.


Hari ini sebenernya Arkana bisa menemani Anwa, namun mungkin agak terlambat, saat dia sudah sampai di depan kantor Anwa, dia sudah terlebih dahulu melihat Anwa sudah berada di atas ojek on-line yang dia pesan.


Seperti mengulang masa lalu di saat mereka baru saja dekat. Arkana menyusul Anwa ke makam. Dan kali ini dia mendengar sendiri apa yang diutarakan kekasihnya di depan makan "mantan" kekasih Anwa.


Marah? tentu jika bisa, namun mana mungkin Arkana marah, Dika berhak mendapatkan posisi di hati Anwa. Mereka juga sudah mengukir masa indah berdua sejak lama.


Bersaing yang menyakitkan itu adalah ketika kita bersaing dengan seseorang yang sudah tiada untuk mendapatkan hati orang yang kita cintai.


Pasrah? tentu tidak. Arkana akan pelan-pelan menutup memori lama itu dengan adanya keberadaan dia selama ini di sisi Anwa. Dan itu terus berlangsung sampai dengan detik ini.


Perasaan lega juga terpancar saat ia mendengar sendiri bahwa Anwa sudah mengikhlaskan kepergian Dika. Dan ingin bahagia bersamanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sudah?" ujar Arkana, lalu merangkul pundak Anwa.


"Eh, kok udah di sini?"


"Tadi jemput kamu di kantor, tapi liat kamu naik ojek jadi aku langsung mikir kamu pasti di sini," ujar Arkana, "udah ngobrolnya?"


"Udah, ayo pulang."


"Tunggu di mobil sebentar ya, aku mau kirim doa buat Dika."


Anwa mengangguk lalu berjalan menuju mobil dan meninggalkan Arkana di sana.


"Hai, bro."


"Gimana kabar? gue rasa lo udah bahagia di sana ya, yakin gue lo pasti bahagia di sana."


"Karena lo udah bahagia, jadi gue mau minta ijin sama lo, buat nge bahagia in Anwa."


"Gue pernah bilang ke elo ... gue bakal Dateng kesini lagi dengan kabar bahagia."


"Gue mau nikah, bro," kata Arkana menyunggingkan senyum, "gue mau nikah sama Anwa, dan gue harap lo restui kami berdua."


"Gue gak bisa ... belum bisa buat Anwa untuk lupa sama lo, dan gue yakin gak bakal bisa, tapi seiring waktu berjalan, gue yakin pelan-pelan dia bakal simpan kenangan kalian di dalam hati dia yang paling dalam."


Arkana menghela napas.


"Makasih karena lo, gue bisa ketemu Anwa, karena lo gue bisa selalu berada di sisi Anwa, cara Tuhan memang indah bro."


"Istirahat yang tenang, bahagia lo di sana."


Arkana menepuk-nepuk nisan bernama itu selayaknya menepuk pundak seorang teman. Lalu melangkah meninggalkan gundukan tanah berbalut rumput hijau itu dengan perasaan lega dan bahagia.


"Pulang?" tanya Arkana saat masuk ke dalam mobil. Ia nyalakan kereta besinya perlahan keluar dari area pemakaman.


"Pulang ya, ke kost aku."


"Kok ke kost?"


"Udah seminggu gak pulang ke kost, Ar ... aku kangen sama bau kamar," ujarnya manja.


"Pindah aja, Wa."


"Pindah? kemana?"


"Apartemen aku," ujarnya menoleh pada Anwa.


"Terus kost aku? barang-barang yang kamu beli dulu, AC dan teman-temannya?"


"Jual aja kalo mau di jual, atau kasih ke temen kamu, siapa si Aneth."


"Jangan di jual, itu kenang-kenangan," ujarnya tersenyum malu.


"Kenang-kenangan pedekate ya?" sahut Arkana. "Gimana? pindah ya ke tempat aku? lagian dua bulan lagi kita kan resmi, Wa."


Anwa seakan berpikir.


"Aku janji gak ngapa-ngapain, bener." Dua jari berbentuk V dia tujukan pada Anwa.


"Karena dua bulan lagi itu Ar, kan nanggung."


"Jadi gimana?"


"Gak usah ya, aku tetap di kost, jadwalnya tetap sama, seminggu di kost seminggu di apartemen kamu, Ok."


"Ribet ya Wa, kita," ujarnya terkekeh. "Berarti ini ke kost? baiklah."


Mobil melaju ke arah bangunan dua tingkat dengan banyak kamar yang masuk ke dalam sebuah gang. Jika di runut dari awal pertemuan mereka, Arkana suka senyum sendiri, begitu sukanya dia dengan gadis berambut keriting ini. Gadis yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.


"Senyum-senyum sendiri, kenapa sih?"


"Gak papa, inget jaman baru kenal sama kamu," jawab Arkana. "Dingin, pelit ngomong, cuek, berasa gak butuh orang ... tapi sayangnya aku suka," ujarnya menarik gadis itu ke dalam dekapannya.


"Kamu cinta banget ya sama aku, Ar?"


"Banget ... bangeeett," jawab Arkana, lalu memarkirkan mobilnya.


"Kamu tidur di sini?"


"Iya lah, gak mau aku tidur sendirian, udah gak bisa," jawabnya manja.


"Kebiasaan," kata Anwa.


"Mana?" Arkana sudah meraup semua rambut keriting Anwa untuk di ikat.


Anwa menyerahkan ikat rambut, kebiasaan Arkana yang tidak pernah hilang dan Anwa suka itu.


"Sudah," ujarnya lalu mengecupi leher gadis itu, "kamu belom mandi aja masih wangi gini, Wa."


Anwa sedikit mendorong tubuh Arkana. "Masa mau di sini, Ar?"


"Kita belom pernah nyobain di mobil kan," Arkana terkekeh lalu mengaduh karena perutnya menjadi sasaran cubitan Anwa.


"Kita lanjutin di kost?" ujarnya lagi seraya berbisik dengan suara penuh damba dan semakin di hujani cubitan rasa kalajengking itu.


***pagiiii... semoga bisa buat pagi kalian lebih berwarna ya... pagi aku berwarna kalo 1 tiket vote itu di sumbangin buat aku, boleh??? atau hadiah bunga-bunga itu di tebar di karya aku ini biar wangi kayak Anwa 😂


enjoy reading darling, tinggal kan jejaaaak and have a good day everyone 😘😘😘😘😘***