Kiss Me

Kiss Me
Stuck with you



Dua minggu berlalu,


Cahaya matahari masuk dari celah tirai gordin apartemen Arkana. Gadis cantik yang hanya menggunakan tanktop tanpa bra dan hotpants itu masih setia memeluk guling dengan sprei berwarna biru tua.


Arkana masih asyik menikmati pemandangan indah yang ia lihat pagi ini. Kepalanya bertumpu pada siku tangan, sedangkan satu tangan lagi masih di dalam selimut meraba-raba perut datar milik Anwa.


Gadis itu menggeliat, namun merapatkan kembali pelukan guling di dekapannya. Rambut yang menutupi setengah wajahnya disematkan Arkana ke balik daun telinganya.


"Wa, bangun yuk," bisik Arkana mendekatkan tubuhnya pada Anwa.


"Masih ngantuk, Ar," suara parau namun lembut itu pun terdengar. "Hari libur ini kan? bangun siang gak papa kali, Ar," ujarnya manja.


"Katanya mau lihat gaun pengantin, kalo ada yang cocok kan bisa langsung di buat Wa." Arkana memeluk Anwa, menyingkirkan guling di antara mereka.


"He--eh, sebentar lagi ya," pinta gadis itu.


"Kalo gak bangun, aku bisa lakuin lebih dari yang semalem lo," ujar Arkana yang sudah menatap belahan dada yang membuatnya menelan saliva berulang-ulang kali.


"Iya, sebentar ya Ar ... dikiiit lagi, aku capek banget kerjaan kemarin numpuk, malemnya kamu buat ulah," rengek Anwa.


"Aku mau buat ulah lagi sekarang ya," ujar Arkana yang sudah menyusuri lekuk leher milik Anwa, tangannya sudah mulai turun ke bawah, kembali menyusuri tempat kesayangannya untuk bermain di antara belahan itu.


"Ar ...," Anwa menggeliat. "Iya, aku bangun ... udah dong," Anwa menahan tangan kekar itu agar berhenti melakukan aktivitas yang akan membuat mereka lupa daratan.


"Aku mandi dulu," Anwa akhirnya menyibakkan selimutnya berdiri di sisi tempat tidur, menoleh sebentar ke arah Arkana yang sudah tersenyum nakal.


"Ntar dulu, Wa," ujarnya menarik pinggang Anwa yang sudah dia rengkuh. "Kamu harus tanggung jawab," ujarnya lagi setelah menjatuhkan kembali tubuh Anwa.


"Haha, salah sendiri ... gak ada yang minta kamu gangguin aku, akhirnya kamu kena karma sendiri kan?" ujar Anwa yang sudah melihat Arkana belingsatan menahan benda di bawah sana sesak tak karuan.


"Tanggung jawab gak?"


"Ogah."Anwa tertawa.


"Pegang pokoknya," paksa Arkana menarik tangan Anwa untuk di bawa nya ke bawah sana.


Jeritan dan tawa Anwa yang menolak untuk menyentuh benda itu pun menggema di ruangan itu. Sampai akhirnya Anwa bisa membebaskan diri dari kungkungan Arkana dan berlari masuk ke kamar mandi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jalanan di hari Sabtu pagi yang biasanya terlihat lengang karena aktivitas perkantoran yang tak sepadat hari biasanya, agak sedikit terhambat. Mereka membutuhkan waktu hampir satu jam untuk sampai ke sebuah butik yang khusus membuat gaun pengantin.


Memasuki butik itu, nampak beberapa pajangan gaun pengantin dari yang biasa sampai dengan yang terlihat begitu elegan. Di sambut ramah oleh pelayan di sana, akhirnya Anwa dan Arkana asyik memilih-milih model seperti apa yang mereka inginkan.


Ada beberapa yang mereka coba untuk contoh, sekitar tiga gaun pengantin dan dua setelan jas yang akan Arkana pakai.


"Cobain yang itu, Wa," ujar Arkana menunjuk satu gaun dengan belahan dada yang agak menonjol.


"Serius yang ini?" tanya Anwa.


"Coba aja dulu, kan bukan di pake saat akad, kalo kamu pake saat akad ntar penghulunya diem aja liatin kamu," Arkana terkekeh.


Anwa keluar dari fitting room, mengenakan gaun dengan belahan dada yang menjorok ke bawah.


"Ganti deh, kamu pake nya pas malem pertama aja kayaknya lebih bagus," kata Arkana mengibaskan tangannya saat ia melihat tonjolan dada Anwa yang seperti ingin keluar.


Anwa lalu keluar lagi dari kamar ganti dengan mengenakan gaun berwarna silver berbahan silk, dengan potongan tali sejari namun terbuka lebar di bagian punggung hingga pinggul.


Arkana memutari tubuh Anwa, senyum nakalnya kembali terukir.


"Kalo kayak gini yang ada, kamu aku kurung di dalam kamar, gak bakal aku suruh keluar," bisiknya sambil mengelus lembut punggung berwarna putih milik kekasihnya.


"Ar, jadi yang mana?"


"Coba yang itu," tunjuk Arkana pada satu gaun berwarna putih, berlengan panjang, namun terbuka lebar di punggung sampai ke pinggang.


Anwa kembali keluar dari kamar ganti.


"Aku suka yang ini," ujar Arkana dengan mata yang tak dapat lepas dari Anwa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kita ke kafe ya sebentar," ujar Arkana setelah mereka menyelesaikan pemesanan gaun dan jas.


"Ngapain?"


"Tadi Ria telpon, ada beberapa laporan yang harus aku tanda tangani."


"Di hari libur?"


"Kan udah biasa, kemarin-kemarin juga gini," jawab Arkana yang memandang lurus ke jalan.


"Iya sih, tapi aku mulai gerah, setiap weekend sekretaris sekaligus kaki tangan kamu itu selalu mengganggu waktu kita berdua."


"Apaan sih," Arkana tersenyum. "Dari dulu dia memang begitu, siapa lagi yang aku andalkan kalo bukan Ria." Arkana menoleh ke arah Anwa, melihat gadis itu masih cemberut.


"Sudah mulai cemburu sekarang ... cieeeee," ujarnya menggoda.


Arkana tersenyum, mengusak rambut kekasihnya.


"Kalo suka cemburu ntar pacarnya lari loh," ujar Arkana.


"Lari aja, aku cari yang lain dong," Anwa tertawa.


"Enak aja, ya udah aku gak jadi lari." Menarik pundak Anwa untuk dia dekap.


Sesampainya mereka di kafe, Anwa menolak untuk masuk ke ruangan Arkana, alasannya karena dia tidak mau mengganggu pekerjaan calon suaminya itu.


"Bener di sini aja?" tanya Arkana.


"Iya, di sini aja, aku mau ngopi sambil makan tiramisu terus menikmati alunan musik," jawab Anwa.


"Aku ke atas dulu ya, kalo udah bosen temui aku," ujar Arkana memberikan kecupan di puncak kepala kekasihnya.


Hampir satu jam Anwa menunggu, mengisi kebosanannya sesekali dia berbincang santai dengan Dion.


"Kok lama ya Yon?"


"Coba mbak Anwa naik lah ke atas, lagian ngapain mbak di sini Pak Bos di atas, emang gak takut?"


"Takut apa?"


"Takut aja Mbak," ujar Dion mengedikkan alisnya.


"Ah, kamu bikin aku mikir yang aneh-aneh."


"Ya kan apa salahnya Mbak Anwa ke atas, temenin calonnya kerja, gih sana," ujar Dion yang menganjurkan agar Anwa masuk ke ruangan Arkana.


"Ya udah deh, aku ke atas dulu," jawab Anwa.


Sedikit melongokkan kepalanya ke dalam, Anwa mendapati kekasihnya sedang membahas beberapa hal pada Ria. Sayangnya Anwa tidak menyukai ketika mereka membahas masalah itu dalam satu sofa panjang dan saling berdekatan sambil menatap laptop.


"Aku ganggu gak?" tanya Anwa, yang mengagetkan kedua orang itu.


"Gak lah, sini," Arkana menjulurkan tangannya agar Anwa mendekat.


Ria yang cukup tahu diri itu pun menggeser duduknya agar tidak terlalu dekat pada Arkana.


"Udah gitu aja deh, Ya," kata Arkana mengakhiri pembahasan tentang Restoran yang akan mereka buka di Bandung.


"Kamu minta designernya untuk konsep seperti model-model restoran di Polandia, kali udah jadi email ke saya."


"Baik Pak, kalo gitu saya permisi dulu," ujar Ria.


Setelah Ria menutup pintu ruang kerja Arkana, Arkana melangkah ke kursi kerjanya.


"Udah ngopi nya?"


"Udah," jawab Anwa.


"Sini Wa," Arkana menepuk pahanya agar Anwa duduk di pangkuannya.


"Harus gitu ya ngebahas kerjaan harus duduk deket-deketan." Anwa melingkarkan tangannya ke leher Arkana.


"Kalo gak deketan gimana aku bisa nunjukin apa yang harus dia kerjain, Wa."


Anwa mencebik.


"Kenapa sih emangnya? kan kamu udah kenal sama Ria, dia juga gak bakal macem-macem."


"Kata Dion, Ria dulu suka sama kamu, mungkin sampe sekarang."


"Dia yang suka kan, bukan aku ... kan udah tau juga kamu calon istri aku, udah gak usah mikir yang aneh-aneh."


Arkana mencium bibir Anwa lama. Tangan sudah berada di punggung gadis itu, meringsek masuk ke dalam, berusaha melepaskan pengait dada Anwa.


"Eh, mau ngapain?"


"Mau di buka," jawab Arkana ******* kembali dengan liar bibir kekasihnya.


"Ar, gak mau ah," Anwa menolak.


Sayangnya kemeja itu sudah terangkat ke atas dengan pengait dada yang sudah terlepas membuat Arkana kembali menjelajahi benda kesayangannya.


"You know what?" Arkana melepaskan pagutannya, memandang terlena tatapan sayu Anwa yang napasnya masih menggebu.


"Apa?" lirih Anwa.


"I'm stuck with you." Arkana ******* lagi bibir manis itu, meremat kembali benda kesayangannya hingga Anwa melenguh. "I'm stuck with you," ujarnya mendesah.


***tinggalkan jejak yeeeesss... tq udah yang menebar hadiah bunga hari ini... dan tq buat yang udah vote 🙏 buat yang masih ada tiket vote... boleh lah buat Kiss Me 😘😘😂


enjoy reading 😘***