
Arkana memasuki rumah kedua orangtuanya, terdengar olehnya suara para wanita di ruangan tengah. Sampai dia menyebutkan salam dan di jawab oleh mereka. Pandangan matanya tertuju pada gadis yang sudah satu minggu ini dia acuhkan.
Iya, kejadian satu minggu kemarin cukup membuat hatinya terluka. Bagaimana mungkin Anwa menganggap dirinya lelaki yang terlihat brengsek, hanya butuh tubuh gadis itu saja untuk melampiaskan nafsunya bukan lagi cinta yang ada di sana.
Arkana hanya bingung, kenapa baru di bahas sekarang padahal sebentar lagi hari mereka menuju halal sudah di depan mata.
Wajar kalau Arkana kecewa, pikiran Anwa belakangan ini memang sulit di mengerti. Bayangkan saja, dari awal mereka dekat menjadi temen, lalu teman tapi mesra hingga akhirnya Anwa sendiri yang menerimanya sebagai kekasih, hal itu sering mereka lakukan. Dan itu atas dasar suka sama suka, atas dasar cinta karena memang tidak pernah terbesit sedikitpun untuk melampiaskan nafsu.
Bagaiman Anwa bisa berpikir seperti itu.
Gadis itu langsung menunduk saat mata mereka bersitatap. Mengurungkan niatnya untuk bergabung, Arkana memutuskan untuk naik ke kamarnya dan membersihkan diri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bunyi garpu dan sendok yang saling beradu, serta terkadang senda gurau saat menikmati makan malam. Keluarga ini memang hangat dan harmonis, segala bentuk cinta ada di sini. Bahagianya Anwa bisa menjadi salah satu anggota keluarga ini kelak.
"Jadi, Anwa rencana ke depan gimana? masih tetap kerja?" tanya Mima.
Arkana yang sedari tadi diam dan hanya fokus pada makanannya mengangkat kepalanya dan memandang Anwa.
Anwa yang di tanya pun meletakkan sendok ya dan meneguk segelas air, matanya menatap Arkana yang berada di depannya.Belum selesai masalah kemarin dia juga harus menjawab hal yang belum sempat dia bahas dengan Arkana.
"Rencananya sih Anwa masih mau kerja Mima," jawabnya melirik Arkana.
"Iya sih, emang susah kalo kita sudah terbiasa kerja tiba-tiba berhenti karena menikah atau mempunyai anak," ujar Mima.
"Bang, kata Anwa belum foto prewedding ya?" tanya Zurra, "sini gue yang poto in, kapan dimana kabarin aja kalo kalian udah pada siap."
"Hhmm," jawab Arkana.
"Mima, pulang yuk, ntar Didi ribet kalo sampe rumah kita belum dateng," ujar Zurra bangkit lalu membawa piringnya ke dapur.
"Emang Langit kemana Ga?" tanya Fajar.
"Hari ini baru balik dari Lombok," jawab Jingga. "Kita balik ya semua, makasih makan malamnya," ujar Jingga lalu berpamitan dengan semua yang ada di ruangan.
"Anwa tidur di sini? besok kan libur," tanya Mama Cha Cha.
"Gak Ma, Anwa pulang aja," jawab Anwa yang merasa tak enak.
"Ya sudah kita naik dulu ya ... Ar, jangan lupa di antar pulang." Pasangan suami istri itu pun memutuskan menikmati malam mereka di dalam kamar.
"Naya, udah selesai? sini aku bawa ke dapur piringnya biar sekalian," kata Anwa pada Naya yang sedang mengupas kulit jeruk.
"Biar Naya aja, Kak."
"Oke." Anwa berjalan menuju dapur meletakkan piring-piring kotor di sana, lalu kembali lagi ke ruang makan.
"Abang naek ke kamar, Kak Anwa susulin aja gak papa kok," ujar Naya.
"Aku tunggu di ruang tengah aja deh, mungkin bentar lagi Arkana turun," jawab Anwa disertai anggukan dari Naya.
Setengah jam Anwa menunggu di sana, namun Arkana belum menunjukkan tanda-tanda kedatangannya.
"Loh, Wa belum pulang?" tanya Mama Cha Cha berdiri di anak tangga.
"Nunggu Arkana, Ma."
"Arkana dimana?"
"Dari tadi di kamar," jawab Anwa.
"Lagi terima telpon di taman belakang."
"Aduh mereka ini ada tamu malah di cuekin sendirian, udah kamu naik ke atas ke kamar Arkana, takut dia malah tidur lupa nganterin kamu pulang, udah sana ... sana," ujar Mama Cha Cha mengibaskan tangannya memberi isyarat agar Anwa naik untuk memanggil Arkana.
Anwa perlahan menaiki anak tangga, melangkah menuju kamar Arkana yang tertutup rapat. Mengetuk beberapa kali namun tidak ada jawaban dari dalam. Pelan-pelan di bukanya pintu kamar itu, ini pertama kalinya dia memasuki kamar kekasihnya.
Anwa melongokkan kepalanya ke dalam, mencari sosok yang dia tunggu di bawah tadi, namun tak dia temui Arkana di sana.
"Ar," panggil Anwa namun tak ada jawaban.
Melihat pintu menuju balkon terbuka, Anwa berinisiatif melangkah ke sana.
Arkana duduk di kursi santai sedang asyik berselancar ke dunia maya.
Gila kali ya, aku nunggu di bawah lamanya minta ampun, dia di sini malah santai-santai.
"Ar."
Arkana menoleh lalu kembali melihat ponselnya.
"Aku minta tolong antar pulang ya, sudah jam sembilan," ujar Anwa berdiri mematung di sebelah Arkana, tetapi lawan bicaranya masih asyik dengan dunianya sendiri.
"Ar ...." Masih tidak ada jawaban, "aku tunggu di bawah ya, atau kalo memang gak bisa, aku pamit pulang aja kalo gitu." Anwa berbalik bermaksud untuk pulang sendiri.
"Tunggu aja, pasti aku antar pulang," jawabnya datar.
"Oh, oke ... aku tunggu di bawah," katanya lagi.
"Tunggu di sini, kenapa di bawah?"
"Gimana?"
"Tunggu di sini sebentar lagi aku selesai," ujarnya dengan mata yang masih melihat ponselnya.
Anwa bukanlah gadis yang bisa menahan kesal terlalu lama, dia tidak suka dengan sikap Arkana yang seperti ini. Memberikan waktu agar Arkana tenang sepertinya memang tidak ada gunanya.
"Sudah malam, kalo harus nunggu kamu lagi kayaknya mending aku pulang sendiri," ujarnya berbalik badan.
Dengan cepat Arkana loncat dari duduknya, tangan Anwa di tarik oleh Arkana, sehingga tubuh mereka saling berbenturan.
"Kalo aku bilang tunggu sebentar ya tunggu!" ujarnya dengan suara meninggi.
"Kamu kenapa sih? hah!" Anwa tak kalah kesal. "Marah sama aku? iya? marah karena aku bilang yang kemarin ... ya udah kalo masih marah, aku juga gak mau minta tolong kamu anterin kalo bukan di suruh sama Mama," ujar Anwa berapi-api lalu mendorong tubuh Arkana.
"Kamu pikir aku gak kecewa dengan kata-kata kamu kemarin? apa kamu bilang? pelampiasan? iya ... kalo kamu cuma pelampiasan aku, ngapain aku susah-susah ngajak kamu nikah, ngapain aku susah-susah kita berjuang bareng-bareng dapetin restu mama, pikiran kayak apa itu Wa, gak pernah sedikitpun terbesit di sini--" Arkana menunjuk kepalanya, "menganggap kamu cuma sebagai pelampiasan nafsu aku." Arkana benar-benar menumpahkan amarahnya.
Anwa berbalik menuju pintu keluar kamar itu.
"Mau kemana? aku belom selesai," ujarnya meraih pinggang Anwa dan Anwa meronta.
Gadis itu menahan air matanya agar tidak turun.
"Sudah panjang perjuangan kita Wa, dan kamu baru mempermasalahkan itu sekarang di saat hari pernikahan kita semakin dekat," ujar Arkana pelan.
"Kamu belum bisa buka hati kamu buat aku ternyata, kamu belum sepenuhnya percaya sama kesungguhan aku, aku gak tau harus apa lagi." Kali ini Arkana menyandarkan tubuhnya pada dinding dengan tangan di lipat di dada.
***serem kalo udah marah ternyata 😎
enjoy reading***