Kiss Me

Kiss Me
Won't go home without you



Hari ketiga Anwa di Lampung. Pagi itu rumah sudah ramai lagi dengan suara mesin pemotong rumput, Ayah dan Bunda sedang berada di depan teras memperhatikan kedua tukang yang disewa oleh Arkana.


"Harusnya Arkana gak usah repot-repot sampai harus menyewa orang untuk membersihkan ini semua," ujar Bunda.


"Sayang Tante, taman ini masih terlihat bagus kalo di rawat lagi," jawab Arkana yang pagi ini memakai setelan celana Jogger dan kaos berwarna hitam.


"Anwa belum bangun Bun? tumben," kata Pak Syahril.


"Kecapekan mungkin, biar saja," jawab Bunda.


"Kalo toko bangunan di sini dimana ya Tante?"


"Mo ngapain?" suara Anwa dari dalam rumah.


"Eh, udah bangun," Arkana melihat penampilan bangun tidur Anwa dengan piyama berwarna ungu motif bunga-bunga kecil, "mau beli cat, biar sekalian tukang-tukang yang ngerjain."


"Gak usah beli-beli cat, biar aja begini, kamu apa-apaan sih," sungut Anwa yang tidak suka dengan keterlibatan Arkana terlalu jauh masuk ke dalam keluarganya, dari membereskan taman sampai harus membuat rumahnya terlihat tampak bagus lagi.


"Bunda setuju, Arkana gak usah repot-repot, ini juga masih nyaman untuk di tinggali, biar aja begini."


"Maaf Tante, bukan maksud saya... maksudnya biar sekalian ini kan dapat tukang biar kiya sewa buat membereskan rumah Tante agar terlihat lebih nyaman," Arkana serba salah menjawab takut malah nanti lebih tersinggung.


"Gak papa Bang Ar, Malik juga sudah mulai risih ngeliat rumah ini sudah lusuh, plafon kamar Malik juga jebol gara-gara ada kucing berantem di atas," Malik yang sudah berdiri di dekat pintu mendukung ide Arkana.


"Ya udah kalo gitu temenin gue nyari peralatannya dari cat sampai triplek buat ganti plafon kamar."


"Ayaaah," rengek Anwa yang jelas tak setuju ide Arkana meminta ayahnya agar mengurangkan niat itu.


Sang ayah yang diminta untuk tidak terprovokasi pun pura-pura tidak mendengar rengekan Anwa, berjalan mendekati tukang-tukang untuk memberi titah selanjutnya.


Anwa yang marah pun langsung membalikkan badannya masuk ke dalam rumah.


"Udah Bang, biarin aja ntar juga sembuh sendiri," ujar Malik terkekeh.


"Malik!"


"Eh iya Bun, ayo Bang jadi gak? ntar keburu yang ini juga ngambek," Malik berlari keluar sambil menjinjing sendal jepitnya menghindari pukulan sang Bunda.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Siang itu sebagian ruangan sudah terlihat lebih bercahaya, cat berwarna putih itu tak lagi terlihat lusuh setelah di perbarui kembali dengan warna cat yang senada, hanya tinggal ruang makan dan dapur dan kamar Anwa yang belum tersentuh. Dua tukang yang di bantu oleh Arkana dan Malik jadi lebih cepat selesainya.


Setelah makan siang mereka melanjutkan kembali pekerjaannya, Anwa masih dengan mode marah.


"Masih gak negur Bang?" tanya Malik yang sudah memegang kuas cat.


"Iya, marahnya awet kali ini," kata Arkana.


"Coba deketin Bang," usul Malik.


"Takut Lik, masih bawa centong nasi," Arkana terkekeh yang melirik Anwa sedang mencuci peralatan makan siang mereka tadi.


Malik pun tertawa. "Habis ini nge cat kamar Ayuk Wawa kan?"


"Iya."


"Ntar Abang sama Ayuk aja yang nge cat ya, biar gak marahan lagi," usulnya.


"Sip, tengkyu Lik," Arkana pun mengacungkan jempolnya.


"Bang."


"Jadi warna itu?"


"Jadi lah, tapi bagus gak sih?"


"Bagus, pas buat kamar cewek."


"Sip," lagi-lagi Arkana mengacungkan jempolnya.


Setelah mencuci piring di dapur, Anwa masuk ke kamarnya, disusul dengan Arkana yang mengikutinya dari belakang. Ketika akan menutup pintunya, di tahan cepat oleh kaki Arkana.


"Mo ngapain?"


"Nge cat kamar," jawabnya santai lalu masuk begitu saja.


"Gak usah, catnya masih bagus," jawabnya menarik kaos yang Arkana pakai dan menggiringnya keluar kamar.


Dengan cepat pintu kamar Arkana tutup.


"Ar!"


"Apaa?" ujarnya menarik meja rias lalu temoat tidur agar tak terkena percikan cat.


"Aku bilang gak usah di cat, ini masih bagus."


Arkana mendekat. "Lo bikin gemes tau gak seharian ini," ujarnya mendekatkan wajahnya pada Anwa yang sudah mundur beberapa langkah.


Pinggang itu di raih oleh Arkana, dengan santainya dia mendaratkan kecupan singkat pada bibir Anwa.


"Ar!" Anwa memberikan cubitan pada dada Arkana namun tangan yang berada di dada itu di genggam erat oleh Arkana.


Gadis itu merona, jujur dia juga merindukan sentuhan laki-laki yang berada di hadapannya ini. Tiga hari menahan diri untuk tidak menyentuh secara intens seperti yang sering mereka lakukan.


"Ar," ujarnya lembut mengingatkan Arkana untuk menjaga sikapnya.


Arkana mengambil semua rambut Anwa mengikatnya tinggi-tinggi hingga leher jenjang itu terlihat jelas.


"Gue kangen yang ini," katanya menyusuri leher gadis itu. "Kangen harum lo,Wa," ujarnya lagi.


"Ar," Anwa menjauhkan dirinya saat mendengar langkah kaki, mendekati kamarnya.


Pintu terbuka, kepala pemuda tengil menyembul masuk ke dalam.


"Belom mulai?" ujar Malik.


"Baru di bujuk," jawab Arkana.


"Mo di bantuin gak?"


"Bantuin deh Lik, bakal lama kalo sendirian."


Cat berwarna baby pink, sudah mewarnai kamar gadis itu. Pemilik kamar terlihat masih memasang wajah cemberut.


"Bagus kan Yuk?"


"Kenapa harus warna ini sih?" tanyanya kesal.


"Bagus tau, ini warna cewek, soft, girly, cewek banget," ujar Malik.


"Iya tapi kan aku gak suka warnanya kalo di pake di dinding kamar, kecuali warna baju atw sepatu gitu, bukan warna dinding," sungutnya.


"Udah sih nikmatin aja, gak kasian apa sama tuh---" menunjuk kearah Arkana yang sedang mengembalikan posisi meja rias ke tempat semula.


"Dih, sapa suruh repot-repot pake nge cat segala."


"Udah kelar, gak usah bawel, bener kata Malik, nikmati aja," jawab Arkana melenggang keluar kamar.


"Tuh kan... gantian sekarang yang ngambek, urusin tuh," Malik menyusul Arkana keluar dari kamar Anwa.


Anwa memandangi warna kamarnya, lalu tersenyum.


Malam menjelang, Arkana duduk di teras seorang diri, Malik tadi pamit untuk berkunjung ke salah satu rumah temannya, Ayah Bunda baru saja masuk ke dalam rumah.


Anwa berdiri di kusen pintu, melipat kedua tangannya.


"Kamu mau pulang kapan?" tanyanya.


"Ngusir?"


"Aku kan cuma nanya," ujar Anwa.


"Lo pulang ya gue pulang," jawab Arkana berdiri dan menyandarkan tubuhnya pada pilar tembok.


"Bisa gitu?"


"Bisa dong," senyumnya.


"Sebenarnya tujuan kamu kesini apa sih?" Pertanyaan yang akhirnya terlontar setelah tiga hari mereka bersama di rumah ini.


"Mau jemput calon ibu dari anak-anak gue pulang," ujarnya menatap Anwa.


"Ngaco."


"Ya udah kalo gak percaya," membalikkan tubuhnya.


"Besok kamu pulang ya," pinta Anwa, melangkah mendekati Arkana yang sedang menatap keluar jalan.


"No... i won't go home without you," ujarnya masih memandang ke depan.


Anwa menggeleng, lalu membalikkan tubuhnya melangkah masuk ke dalam dengan cepat Arkana menahannya.


"Gue gak bakal pulang, kalo lo gak pulang," bisiknya lembut menerpa sisi telinganya membuat Anwa menegang.


Arkana merengkuh pinggul gadis itu, mendekatkan wajahnya, memandang wajah cantik gadis yang diharapkan membalas perasaannya, bukan hanya sekedar teman tapi mesra tapi lebih dari itu.


Tangan yang berada di dada Arkana, perlahan lelaki itu turunkan agar tak ada jarak diantara keduanya.


******* bibir yang siang tadi hanya sekilas dia rasakan, ciuman lembut nan hangat itu menerima balasan sama lembutnya. Gigitan kecil pada bibir bawah Anwa membuatnya sedikit membuka hingga Arkana lebih leluasa masuk ke dalam rongga mulutnya dan saling membelit lidah mereka.


Tangan Anwa tak pernah diam, selalu memilin kaos yang Arkana pakai. Berhenti sejenak hanya untuk berbagi udara, lalu melanjutkan kembali hingga keduanya melepaskan dengan deru nafas yang saling bersahutan dan tatapan mata yang sendu.


"Masuk gih, tidur, besok kita pulang," ujar Arkana lalu mengusap bibir Anwa yang basah karena ulahnya.


Anwa melepaskan genggaman tangannya. "Selamat malam Ar."


***lanjut lagiiii????


hari Senin gaeeesss boleh di vote yaaah tapi vote nya ke Langit Jingga 😂 yang ini belom kontrak 😘***