Kiss Me

Kiss Me
Restui kami, Bu.



Mobil Arkana mengiringi mobil yang dinaiki oleh Anwa dan Mama Cha Cha. Mereka menuju ke salah satu restoran seafood terkenal di bilangan Kelapa Gading. Mereka memasuki restoran dan memilih ruangan VIP, lalu memesan beberapa menu makanan. Udara AC terasa panas bagi Anwa, sejak di mobil tadi perasaan canggung masih menyelimuti mereka.


"Saya mau dengar cerita tentang keluarga kamu, Anwa," ujar Mama Cha Cha pada Anwa yang langsung menatap mata wanita itu. "Dari mulut kamu langsung, agar saya tidak terpengaruh simpang siur berita di luar sana jika nanti kalian memang akan bersama."


Deg


"Maksud Mama?" ucap Arkana.


"Ceritakan semua dari awal sampai akhir kenapa semua bisa terjadi di keluarga kamu," tegas Mama Cha Cha.


"Baik, akan saya ceritakan semuanya kepada Ibu, apapun mengenai keluarga kami." Anwa menjawab pertanyaan yang mungkin sudah sangat lama ingin diutarakan oleh ibu dari kekasihnya.


Anwa menceritakan semuanya bagaimana awal mula keluarga mereka, kehidupan mereka sebelum ujian itu datang, hingga sang ayah terkena kasus korupsi.


"Semua berubah ketika ayah terbukti bersalah, untuk menebus itu kesalahannya, ayah menjual semua harta yang ayah dan bunda miliki, hingga tersisa hanya rumah yang kami tinggali sekarang," ujar Anwa.


"Disaat semuanya terjadi kami harus menerima sangsi sosial dari masyarakat bahkan keluarga ayah dan bunda," katanya lagi dengan mata berkaca-kaca.


"Dan saya sadar, siapa yang akan menjadi orang terdekat yang benar-benar tulus membantu dan selalu ada jika kita terkena suatu ujian, bukan meninggalkan namun merangkul untuk menyongsong hari yang lebih baik lagi, saya menemukan orangnya, saya menemukan orang yang tulus melihat saya apa adanya, saya mendapatkan dari putra Ibu."Anwa menatap manik mata Mama Cha Cha, jari jemari Anwa sudah di genggam erat oleh Arkana.


"Saya mohon restui kami, Bu," ujarnya lagi.


Cha Cha terdiam, pada mulanya dia memang menyukai Anwa saat pertama kali mereka bertemu. Gadis itu begitu lembut, sopan, jika berbicara pun tidak berlebihan, tahu dimana menempatkan diri.


Begitu juga tadi saat mereka berada di rumah sakit, Cha Cha tahu betul usahanya agar dia diterima di dalam keluarga besar mereka. Mengingat dulu saat ia gadis jelas berbeda dengan Anwa, Cha Cha memang sudah mengenal keluarga Fajar karena mereka memang berteman pada awalnya. Bukan seperti Anwa dan Arkana.


Berusaha menurunkan ego seorang ibu yang ingin anaknya bahagia, maka Cha Cha akan berusaha menerima Anwa jika Anwa juga berusaha meyakinkan dirinya, bahwa Anwa memang pantas di perjuangkan.


"Kapan mau di kenalkan dengan keluarga kamu?" ujar Mama Cha Cha santai sambil mengunyah udang asam manis yang tersaji di atas meja.


"Gimana Ma?" tanya Arkana.


"Kapan Mama sama papa kamu dikenalkan sama orangtuanya Anwa," ulangnya lagi.


"Serius Ma?" tanya Arkana tak percaya.


"Gimana sih kalian ini, Mama mau ketemu keluarga Anwa malah nanya serius Ma? ya serius lah, kamu kira main-main sama anak gadis orang." Mama Cha Cha meneguk air mineral sampai tandas.


"Oh iya Ma... secepatnya... kapan ya? kapan Wa?" Arkana merasa bahagia.


"Kapan?" tanya Anwa.


"Iya, kapan?"


"Hish, kalian ini... sudah lah pikirkan saja dulu mau kapannya, kalo udah siap kabari Mama, ngerti Ar?"


"Ngerti Ma, ngerti banget." Wajah bahagia itu tidak lagi dapat di tutupi. Tangan Arkana meremas tangan Anwa di bawah meja. Anwa hanya tersenyum melihat tingkah kekasihnya.


"Mama udah selesai, ini yang masih sisa terserah mau kalian bawa atau bagaimana, Mama pulang duluan ya," ujar wanita itu dengan langkah elegan meninggalkan mereka.


"Wa... kamu denger gak?"


"Iya Ar," ucap Anwa masih dengan senyum-senyum.


"Jadi gimana?" tanya Arkana lagi.


"Ya gimana?"


"Wa..."


"Iya Ar, kan kita persiapkan dulu kapan mau ketemunya, ayah sama bunda bisa gak? papa kamu sibuk gak? kan harus matang gak bisa langsung ujug-ujug dateng tanpa ada persiapan," ujar Anwa membersihkan tangan dan bibirnya.


"Oke, kalo gitu... pulang?"


"Maksud aku ke tempat kamu apa ke tempat aku?" lelaki itu menyeringai nakal.


"Kemana dong?" goda Anwa.


"Ke tempat aku ya?" ujarnya berbisik.


"Tapi pagi antar aku pulang, aku gak bawa baju kerja," jawab Anwa.


"Berarti ke tempat kami dulu ambil baju, terus kita ke tempat aku."


"Ribet ya kita," ujar Anwa terkekeh.


"Makanya nikah Wa, jadi gak sibuk nentuin tempat," Arkana tertawa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Aku jemput sore nanti," Arkana mendaratkan kecupan di bibir gadis itu.


"Lipstik aku di bibir kamu," ujar Anwa mengusap bibir Arkana.


"Aduh Wa, jadi mau lagi kan aku."


"Udah ah, aku kerja ya...." Anwa buru-buru keluar dari mobil, bisa beda urusannya kalau dia masih berada di dalam sana.


Arkana pun melajukan mobilnya untuk mengecek beberapa restorannya yang berada di Bekasi.


Sepanjang hari Anwa menggantikan Ibu Ema untuk mendampingi Pak Fajar meeting di beberapa tempat. Pekerjaan yang menurut Anwa luar biasa sibuknya lama-lama terbiasa dia lakukan, apalagi ini sudah satu tahun dia mengemban pekerjaan itu.


Sore itu seperti biasa dia menunggu Arkana di depan gedung kantornya. Sambil menggulirkan ponsel di tangan, seseorang datang dengan menepuk pundak Anwa.


"Anwa?" ujar lelaki itu.


Anwa menoleh, mendapati lelaki yang tak asing untuknya. "Edwin?" ucapnya tak percaya, "Edwin kan... anak SMA 1, bener kan?" Dia memastikan.


"Iya, gue Edwin... lo apa kabar?" Edwin menjulurkan tangan pada Anwa.


"Lo kemana aja Wa? gak ada kabar, hilang gitu aja."


"Haha, baik Win... gak hilang kok, aku ada nih," ujarnya berseloroh.


Percakapan itu berlanjut dengan canda dan tawa, layaknya seorang teman lama bertemu kembali.


"Lo nunggu jemputan?" Anwa mengangguk. "Apa perlu gue anterin Wa, daripada lama nunggu."


"Gak usah sebentar lagi juga datang," Anwa celingukan belum juga nampak mobil Arkana.


"Ayolah, gue anterin aja," ujar Edwin lalu menarik tangan Anwa.


Anwa terkejut, lebih terkejut lagi saat tangannya di raih oleh Edwin, mobil Arkana berhenti di depan mereka. Sorot mata tajam dari dalam mobil pun tak dapat lagi Anwa elakkan.


"Aku udah di jemput Win, itu..." Anwa melepaskan tangannya. "Kapan-kapan ketemu lagi ya," ujar Anwa mengakhiri pertemuan singkat itu.


Anwa tersenyum saat masuk ke dalam mobil, wajah Arkana sudah dapat dia tebak bahwa lelaki itu marah padanya. Anwa diam, sengaja tak ingin membahas saat Arkana masih di selimuti rasa marah.


Masuk ke basemant apartemen, Arkana berjalan mendahului Anwa. Berada di dalam lift, suasana semakin tak kondusif, Arkana bersandar di dinding lift dengan sorot mata yang tajam memperhatikan gerak gerik Anwa yang masih asyik mengusap layar ponselnya.


***ngebayangin muka Arkana kalo lagi marah kayak apa ya 😂


jejak dooong... semoga masih pada bertahan yaaaah buat cerita selanjutnya 😘


enjoy reading***