
Malam itu setelah Dion menutup kafe, Anwa dan Arkana masih duduk di depan teras dengan temaram lampu yang menyala sendu.
"Bos, balik ya," ujar Dion.
"Udah lo cek semua Yon?"
"Udah Bos," jawabnya.
Sebagian pelayan kafe sudah pamit undur diri sedari tadi hanya tinggal Dion pemegang kunci kafe itu yang memang terakhir sekali pulang.
Kafe ini didirikan sebenarnya hanya sebagai tempat nongkrong anak-anak muda, karena dulu Arkana tidak mempunyai kantor yamg tetap, maka kafe ini lah yang menjadi pilihannya untuk dijadikan sebagai kantor pusat untuk anak-anak cabang restorannya.
Dion berlalu dari hadapan mereka, hanya tinggal penjaga malam yang ditugaskan untuk menjaga kafe ini.
"Kita pulang yuk Ar," ajak Anwa yang sudah terlihat mengantuk.
"Ngantuk ya?"
"Iya, aku udah lengket banget pengen mandi," ujar Anwa lagi yang sudah risih dengan penampilannya.
"Ke apartemen aja ya, besok kan libur," kata Arkana.
"Tapi baju aku gak ada di sana, cuma daleman doang Ar, masa mau pake baju kamu terus tanpa bawahan," rengek Anwa.
"Kan aku udah pernah bilang aku suka kamu pake baju aku tanpa bawahan," lelaki itu tertawa lalu mencium pipi kekasihnya. "Itu taksi nya udah dateng, ayo pulang." Arkana meraih tangan Anwa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Anwa keluar dari kamar mandi, seperti biasa memakai kaos kebesaran milik Arkana. Dia berjalan santai menuju dapur mengambil satu gelas air putih, lalu membawanya ke ruang tidur meletakkannya di atas nakas di sisi ranjang.
Arkana pun sudah mengeluarkan dengkuran halus. Setelah dia membersihkan diri dan di tinggal mandi oleh Anwa, dia memutuskan untuk tidur lebih dulu.
Anwa menelusup masuk ke dalam selimut, menyusul sang kekasih yang sudah tertidur pulas karena lelah. Memberikan kecupan selamat malam, Anwa membenarkan posisinya agar nyaman.
"Eh... kok bangun?" tanya Anwa yang baru saja akan memeluk guling dan membelakangi Arkana.
"Kebangun," ujarnya lalu menempelkan bibirnya pada tengkuk leher Anwa. Anwa kembali membalikkan tubuhnya, membelai wajah kekasihnya.
"Sini, aku peluk," ujarnya merentangkan kedua tangannya. Arkana masuk ke dalam pelukan Anwa, tidur di atas dada gadis itu.
"Aku kangen, Wa," ujar Arkana mengusel wajahnya pada dada Anwa hingga Anwa kegelian.
"Aku juga kangen, Ar" Anwa menyisir rambut Arkana dengan tangannya.
"Satu minggu lebih gak tidur sama kamu, aku jadi insomnia," ujarnya terkekeh dengan tangan yang sudah masuk ke dalam kaos Anwa. Meraba perut datar yang selalu membuatnya ketagihan untuk terus berusaha naik ke atas atau turun ke bawah.
"Ar," ujar Anwa yang sudah mulai menggelinjang berusaha menahan hasratnya.
"Hhmm, kenapa?" Arkana mulai menegang kaos itu sampai ke atas dada Anwa. Sekali-kali di ciumnya bibir Anwa sekilas
Mata yang sudah sama-sama sendu itu pun seakan menuntun mereka untuk melakukan hal yang lebih jauh. Arkana berhasil menarik kaos putih itu dari atas kepala Anwa.
Dada itu masih berbalut renda berwarna pink, kali ini Arkana menyibakkan selimut yang menutupi setengah tubuh kekasihnya. Mengamati dari atas sampai dengan bawah tubuh kekasihnya yang masih berbalut dalaman, membuatnya menelan saliva berkali-kali.
"Ar," ujar Anwa saat wajah Arkana mendekat pada wajahnya dan tangannya meraba dada yang berukuran pas ditangannya.
"Apa?" Arkana mulai ******* bibir gadis itu, benda sintal yang manis dan hangat selama satu minggu ini tidak dirasainya itu kembali ia gigit.
Bibir bawah Anwa yang ia gigit dan ia tarik itu pun akhirnya mengeluarkan desahan yang selama ini ingin Arkana dengar, kembali memacu adrenalin dengan cepat.
Ciuman itu semakin lama semakin turun ke bawah, mata Arkana seakan meminta ijin sang pemilik untuk melepaskan benda berenda itu dari tahtanya.
"Boleh ya," bisik Arkana lalu menggigit telinga Anwa.
Suara lenguhan lembut itu terdengar saat Arkana mendaratkan kecupan diatas pucuk dada Anwa. Gadis itu menegang, pijatan lembut kembali Arkana berikan pada satu sisi yang lain, dan satu tangan lagi masih berusaha melepaskan kaitan benda berenda berwarna pink tadi.
Kali ini Arkana harus puas dengan usahanya melepas kaitan itu. Sesuatu yang selalu tertutup itu akhirnya terlihat jelas dimatanya, Anwa berusaha untuk menutupi dengan kedua tangan.
"Jangan di tutup," ujar Arkana yang membawa kedua tangan Anwa berada di sisi kepala gadis itu. "Biar aku nikmati dulu dengan melihatnya."
"Ar... aku malu," ujar Anwa dengan wajah yang entah tak lagi dapat di deskripsikan.
"Lucu ya, Wa," ujar Arkana tersenyum memperhatikan benda itu, lalu menciumnya.
Desahan kembali terdengar, Anwa sudah tak tau lagi bagaimana harus menahan ini semua. Saat tangannya tak sengaja menyentuh milik Arkana, lelaki itu pun mengaduh.
"Kenapa?"
"Siapa dedek emesh, Ar."
"Ini, boleh ya?"
Tanpa meminta persetujuan Anwa, Arkana sudah berada diatas tubuh Anwa, tangannya sudah mulai menyusuri celana milik Anwa.
"Wa, kok basah?"
"Hah? apa?" Anwa meraba miliknya yang masih tertutup, dan melihat noda darah di tangannya. "Aku haid, Ar."
Lalu mendorong tubuh Arkana, Anwa berlari mengambil sesuatu di dalam tasnya dan membawanya ke kamar mandi dengan tubuh yang hanya memakai ****** *****, menoleh ke arah Arkana yang terduduk memandang gadis itu.
"Sabar ya," ujar Anwa tanpa suara dan tersenyum penuh kemenangan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam yang panas penuh dengan cumbuan itu pun mengantarkan mereka menyambut pagi penuh dengan cinta.
"Pagi Ar," ujar Anwa yang sudah berada di dapur, yang sedang membakar roti bertabur coklat meisis yang banyak sesuai dengan kesukaan Arkana.
Lelaki itu masih memeluknya dari belakang, menciumi tengkuk leher gadis itu, sambil menggoyang goyangkan tubuh mereka.
"Cuci muka sana gih, aku bikinin kamu kopi atau teh?"
"Kalo ada susu dari sini juga boleh," ujarnya meremat dada Anwa.
"Aw... sakit Ar," Anwa mengaduh.
"Yang tadi malem belum selesai, Wa... aku mau lagi."
Anwa tertawa. "Belum rejeki kamu, Ar."
"Berapa hari?" tanyanya.
"Apa?"
"Haid kamu."
"Satu minggu, emang kenapa?"
"Setelah satu minggu, lagi ya?" ujarnya membalikkan tubuh gadis itu.
Anwa mengecup bibir Arkana sekilas, lalu membawa roti ke meja yang terletak di ruang tivi, Arkana mengikutinya dari belakang.
"Wa."
"Apa?" Anwa sudah duduk manis sambil menukar saluran tivi yang akan dia tonton.
"Aku mau lagi yang semalam," ujar Arkana yang sudah memeluk Anwa dari balik sofa.
"Mandi dulu sana Ar," ujar Anwa yang sudah kegelian karena ciuman bertubi-tubi di lehernya.
"Jawab dulu, boleh gak?"
"Iya boleh, tapi gak lebih," ujar Anwa.
"Ah, cuma di tempel doang?" ujar Arkana dengan mulut penuh dengan roti yang diberikan oleh Anwa.
"Apa yang di tempel?"
"Dedek emesh nya," ujar Arkana tertawa.
***susah sudah.... gimana dong 😂
enjoy reading 😘***
...----------------...
Sedikit dari penulis
**Jadi gaes gue mo sedikit ngobrol-ngobrol nih sama kalian tentang si Arkana dan Anwa ini mengapa hidupnya sepertinya bebas ya, tidur bareng segala macem bareng-bareng. So, cerita ini memang gue ambil dari beberapa pengalaman pribadi teman-teman yang pada saat mereka berumur 24 tahun ke atas memutuskan untuk hidup seperti tokoh yang gue ceritakan disini. Cara berpikir satu orang dengan orang yang lain itu berbeda gengs, tokoh yang gue ambil ini adalah sosok gadis berusia 24 tahun yang mandiri secara finansial dan mapan secara karir, banyak kita temui di kota besar hal seperti ini terjadi, disaat mereka merasa mampu berarti kehidupan mereka yang kendalikan. Nah balik lagi nih ke diri kita masing-masing ya, gue tekan kan di sini balik lagi ke diri kita masing-masing, bisakah kita menjaga apa yang harus di jaga, seperti kehormatan perempuan, nama baik keluarga, dll. Karena circle seperti ini bisa saja terjadi sama kita, tapi sekali lagi bisa gak kita "menjaga". So, buat kalian yang memang mendapatkan hikmah dari cerita ini dan mau terus buat ngelanjutin baca dan merasa terhibur, gue makasih banget 🙏tapi bila sekiranya kalian merasa udah gak ada lagi yang kalian dapatkan dari cerita ini, gue gak bisa maksa kalian untuk lanjut 🙏
fyi, sebagian dari kisah yang gue tulis ini adalah kisah nyata**.
peluk cium untuk kalian semua 😘😘