Kiss Me

Kiss Me
Kalo aku minta sekarang boleh?



Hari baru menyambut dua pasangan yang masih berbalut selimut. Arkana asyik memandangi wajah gadis yang terlihat begitu lelah memikirkan hubungan mereka. Bibir yang sedikit terbuka itu begitu seksi jika Arkana yang memandangnya. Anwa hanya mengenakan daster bercorak batik berbahan lembut. Jika selimut itu Arkana sibakkan mungkin daster itu sudah terangkat sebatas pinggang.


Iya, Anwa tidur tidak pernah diam, gerak sana gerak sini, itu kenapa Arkana lebih senang melihatnya tidur di pelukannya. Anwa akan diam di posisi tidur semula sampai keesokan paginya lagi. Seperti pagi ini, gadis itu bagai seorang bayi.


"Wa... " Anwa menggeliat kala Arkana membangunkannya pagi itu.


Acara nonton semalam akhirnya ter cancel karena mata sembab Anwa. Dan di gantikan dengan makan pecel lele di pinggir jalan, sambil duduk lesehan di gelaran tikar atas trotoar.


"Anwa..." ujar Arkana lagi membelai lembut pipi itu. Gadis yang kali ini akhirnya membawa beberapa pakaian untuk ia taruh di apartemen kekasihnya itu, masih malas membuka matanya.


Arkana semakin bertubi-tubi mengecupi wajah gadis itu agar mata kekasihnya terbuka.


"Ar," suara parau bangun tidur itu pun terdengar. "Geliii." Arkana sudah menyusuri bagian belakang telinga Anwa untuk dia kecupi, tangannya mulai meremat dada yang terbungkus daster tanpa pelapis lagi di dalamnya.


"Kalo gak bangun bakal lebih dari ini," bisik Arkana.


"Oke, aku udah bangun," Anwa memicingkan matanya. "Aku udah bangun, Ar." Tangan itu di turunkan dari atas dadanya.


"Aku laper, Wa," katanya lagi "makanya dari tadi bangunin," ujarnya masih menciumi telapak tangan Anwa.


Anwa menggeliat, memandang wajah kekasihnya di pagi hari.


"Aku baru sadar, kalo kamu ganteng banget ya ternyata," ujarnya mencium sekilas bibir lelaki itu.


"Kemana aja selama ini," Arkana menyibakkan selimutnya, "aku gak bisa lama-lama samping kamu?"


"Kenapa?"


"Dedek emesh aku mau minta jatah," Arkana terkekeh.


Anwa turun dari tempat tidur, menuju wastafel, mencuci wajahnya lalu ke dapur. Membuka lemari es mencari sesuatu yang bisa dia olah untuk di jadikan sarapan. Dia mendapati sosis dan telur di dalam sana dan satu bungkus roti tawar. Menuangkan susu di dua gelas berbeda, roti ia panggang dengan campuran telur, dan sosis hanya ia goreng untuk di cocok dengan saos sambal dan tomat.


Arkana sudah rapih dan wangi hari itu, style hariannya dengan celana pendek dan kaos slim fit berwarna hitam.


"Makan Ar... tadi minta sarapan," kata Anwa melepaskan pelukan Arkana yang sudah mendekapnya tak ingin dilepas.


"Libur tiga hari Wa, kita liburan yuk," ajaknya mengingat Anwa semalam begitu terlihat sedih, dan ini caranya membuat mood kekasihnya kembali lagi.


"Kemana?"


"Kita ke Garut, Minggu pagi kita pulang, gimana?"


"Kita jalan siang ini?" tanya Anwa, Arkana mengangguk. "Aku mandi dulu."


"Aku ikut," Arkana mengikutinya dari belakang.


"Kemana?"


"Mandi---" ujarnya terkekeh melihat mata indah Anwa yang sudah melotot.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Perjalanan Jakarta-Garut membutuhkan waktu tiga sampai empat jam. Mereka tiba tepat pukul setengah tujuh malam, karena Arkana tadi menyempatkan diri ke kafenya sebentar, karena di waktu long weekend seperti ini pengunjung kafe jelas lebih ramai.


"Ar...."


"Iya?"


"Ini resortnya bagus banget," ujar Anwa terpukau melihat resort eksklusif yang di kelilingi oleh danau dan pemandangan alam yang indah, meskipun mereka sampai sudah malam.


"Iya, kebanyakan orang yang kesini buat honeymoon," ujar Arkana meraih tangan Anwa.


"Anggap aja kita honeymoon," Arkana mencium punggung tangan Anwa. Lalu mereka mengikuti bellboy yang mengantarkan mereka hingga pintu kamar yang langsung berhadapan dengan danau.


Memasuki ruangan, Anwa begitu takjub. Kamar yang di desain dengan interior kayu semua, tempat tidur yang di hiasi kelambu, ruangan yang bersih dan rapih. Udara di sini luar biasa dinginnya, dindingnya bagai geribik seperti di desa-desa yang selalu ada di pikiran Anwa. Gadis itu bolak balik memeriksa setiap ruangan.


"Ar, ini keren banget," ujarnya duduk di sisi tempat tidur.


Arkana yang sedari tadi duduk di sofa hanya bisa tersenyum melihat kelakuan kekasihnya.


"Suka ya?" ujarnya melangkah mendekat pada Anwa, berdiri di hadapan gadis itu lalu membelai rambut keriting kesayangannya.


"Makasih ya."


"Untuk apa?"


"Aku tau, kamu bawa aku kesini buat ngehibur aku kan?"


"Iya, biar amunisi kamu terisi lagi buat menghadapi mama,"ujar Arkana mengecupi pucuk kepala Anwa.


"Kamu gak boleh gitu, Ar."


"Loh, kan bener... menghadapi mama kita harus punya strategi, Wa... aku salut sama kamu, bisa membuat mama terdiam kemarin."


"Aku gak ada niat sebenernya, tapi aku juga perlu membela diri, Ar."


"Iya kamu gak salah," ujar Arkana yang sedikit demi sedikit sudah menciumi gadis yang menengadahkan wajah pada dirinya.


"Ar," ujar Anwa yang sudah di dorong pelan oleh Arkana untuk berbaring.


"Apa, Wa?"


"Kita belom bersihin badan loh."


"Setelah ini baru kita bersihin badan," ujarnya sudah membenamkan wajahnya di ceruk leher Anwa.


"Wa...."


Anwa mendesah saat Arkana sudah meremat dadanya. Menciumi bibirnya, melilitkan lidah dan berbaur saliva di dalam sana. Anwa melenguh saat Arkana menggigit daun telinganya, membuka perlahan kancing penyangga baju model overall milik Anwa, menarik kaos gadis itu lolos dari kepalanya.


Nampak pemandangan yang begitu indah yang sangat Arkana sukai, tempat dimana dia bisa bermain lama di sana. Arkana menumpu kedua lututnya diatas tubuh Anwa. Membuka kaos yang ia pakai, Anwa membuang mukanya, Anwa selalu tak pernah kuat jika harus memandang lama dada bidang lelaki itu.


Arkana kembali menunduk, melanjutkan aktivitas ******* bibir merah tanpa pewarna itu. Meraupnya seperti takut tak kebagian, Anwa merasa kewalahan, oksigen yang ia dapati mulai berkurang. Pelan di dorongnya dada itu.


"Pelan-pelan," ujar Anwa, dan Arkana tersenyum.


"Aku selalu ketagihan sama ini, Wa," tatapnya sendu.


Arkana melucuti kembali, overall Anwa hingga tergeletak di lantai, begitupun Arkana yang sudah melucuti celana pendek yang ia pakai.


Dua insan yang di mabuk cinta, yang di dukung oleh suasana romantis resort itu, seperti kehilangan akal. Bergelut kembali hanya dengan mengenakan pakaian dalam.


Arkana berhasil melepaskan pengait pembungkus dada itu, memulainya kembali menciumi satu per satu, memijat secara bergiliran. Menciumi sampai dengan perut datar yang berwarna putih selembut sutra. Lalu memandang netra itu seakan meminta ijin sambil menyusuri jaitan segitiga berwarna nude itu. Tangan yang mulai menyentuh bagian intim Anwa itu seakan membuat jantung berdegup ribuan kali kencangnya. Anwa seperti kehilangan kontrol dirinya, dia menggeliat, dia melenguh, dia mendesah menikmati semuanya.


"Kalo aku minta sekarang boleh?"


***damn.... 🤦🏻‍♀️


jejaaaaak darliiiing 😘😘***