Kiss Me

Kiss Me
Rasa yang aneh



Bukan hanya barang elektronik yang Arkana belikan untuk Anwa. Arkana mengajak Anwa kembali masuk ke dalam supermarket di tempat perbelanjaan itu. Segala buah, minuman, makanan kecil dia masukkan ke dalam troli.


"Ar... ini banyak banget," ujar Anwa yang sudah tak enak hati.


"Gak papa buat stok kamu di kost, mau apa lagi? yang mana? ini?" katanya menunjukkan coklat batangan lalu dimasukkannya lima coklat batangan ke dalam troli kembali.


"Udah Ar... cukup, udah---udah."


"Ok, sekarang kita tinggal bayar, tuan Putri ikut aja kemana Pangeran pergi ya, dijamin selamat sampai tujuan."


Anwa hanya bisa menggelengkan kepalanya, sudah tak tahu lagi harus bagaimana. Seakan yang akan tinggal di kamar kostnya adalah Arkana, semua dia lengkapi.


"Kayaknya kita harus cari rak tivi yang minimalis ya," ujarnya lalu berjalan menuju ke bagian furniture.


"Ar... aduh bener deh aku pulang aja ya."


"Pulang aja gak papa, lo pulang juga rak tivinya tetep dateng kesana," ujarnya mengerlingkan mata.


"Astagaaaa."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Orang yang baru saja memasangkan AC di kamar Anwa baru saja selesai mengerjakan tugasnya. Anwa hanya duduk di pinggiran kasur memperhatikan Arkana yang sedang mengatur tata letak dimana tivi dan kulkas kecil itu berada.


Maka letak tivi berada satu garis dengan tempat tidur Anwa, sedangkan kulkas mini berada bersebelahan dengan rak piring kecil menuju arah ke kamar mandi.


"Selesai," ujarnya sambil menepuk-nepuk kedua telapak tangannya, "dingin kan? kalo begini kan aku bisa tiap hari kesini."


Anwa masih terdiam, sebenarnya ini adalah bentuk protesnya pada Arkana.


"Wa, diem aja sih... dingin kan?"


"Hhmm."


"Banyak makanan lagi Wa," katanya lagi sambil meneguk minuman kaleng yang baru saja dia ambil di dalam kulkas.


"Buat kamu aja."


"Wa...." Duduk di sebelah Anwa.


"Apaan sih?"


"Lo kalo marah lucu tau."


"Biarin aja."


"Wa...."


"Apa Ar?"


"Ngomong-ngomong gue belom tau nomer ponsel lo," katanya tersenyum.


"Siapa suruh gak nanya."


Arkana tertawa. "Berapa?"


"Apa?"


"Nomernya, Wa."


Anwa memberikan ponselnya pada Arkana. "Miss call aja, aku juga lupa berapa nomer HP aku."


Arkana menggeser keatas layar ponsel itu. Yang pertama dilihatnya adalah poto Anwa mencium pipi Dika kekasihnya. Seketika rasa yang aneh berdesir di dadanya, entah rasa apa tapi cukup menyakitkan saat melihat poto itu.


"Sudah aku simpan," ujarnya memberikan ponsel itu kembali pada Anwa, tapi kali ini sikap Arkana tiba-tiba dingin.


"Ar... makasih ya," ucapan terimakasih dari bibir Anwa diiringi dengan senyuman yang tulus.


"Buat apa?"


"Buat ini," menunjuk barang-barang yang sudah mereka beli tadi.


"Cuma sebagian kecil yang bisa gue kasih ke elo, cuma buat menghibur lo Wa," ujarnya mengacak rambut Anwa.


"Kayaknya bakal jadi kebiasaan ya."


"Apa?"


"Ngacak-ngacak rambut aku."


Arkana tertawa, lalu meneguk lagi minuman kaleng di tangannya. "Nih abisin," ujarnya menyodorkan minuman itu, "gue balik dulu ya."


Anwa mengangguk seperti anak kecil yang menurut.


"Jangan lupa makan," ujarnya lagi lalu berjalan menuju pintu diikuti oleh Anwa di belakangnya, dan tiba-tiba berhenti membuat Anwa menabrakkan dirinya pada Arkana yang sudah berbalik.


Seketika pandangan mata mereka saling mengunci, tinggi badan yang hanya selisih 20 centimeter membuat Anwa harus mengangkat sedikit wajahnya.


"Kalo berenti bilang-bilang dong," sungut Anwa.


"Ya lo yang salah jalan di belakang gue," kekeh Arkana, "balik ya."


Sepulangnya Arkana, Anwa merebahkan dirinya, menikmati dinginnya kamar yang sudah ber AC itu, dan terhanyut ke alam mimpi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Makan siang yang biasanya selalu ada yang mengirimkan untuk Anwa, sudah dua minggu ini juga sudah tak lagi datang.


"Wa, sudah disiapkan semua berkas yang mau di bawa meeting oleh Pak Fajar?"


"Sudah Bu," menyerahkan dua map dokumen yang sudah ia siapkan sedari pagi.


"Oke makasih ya, ini saya berangkat meeting sama Pak Fajar, kalo ada sesuatu dan lain hal yang masih bisa kamu handle usahakan ditangani semaksimal mungkin."


"Baik Bu," jawabnya tegas.


Pak Fajar yang baru saja keluar dari ruangannya menghampiri meja mereka.


"Gimana Anwa pekerjaan kamu? saya lihat kamu cepat mengikuti ya."


"Iya Pak, saya usahakan bisa cepat belajar dan beradaptasi dengan pekerjaan di sini."


"Bagus, saya suka anak muda yang punya kemauan keras buat belajar."


Anwa tersenyum, sampai kedua atasannya hilang dari hadapannya.


Sore pukul lima, Anwa mulai bersiap-siap untuk pulang dari kantor, membereskan file-file yang berserakan di atas meja kerjanya. Tak lama dering telepon berbunyi, diliriknya nomer tak di kenal dan seperti biasa tak akan pernah dia angkat. Selang beberapa menit terdengar pesan masuk.


Gue tunggu di bawah ya, cepetan turun, bunyi pesan itu.


Anwa pun tersenyum seakan tahu siapa yang mengirimkan pesan padanya, lalu membalas pesan itu untuk menunggu sebentar.


Keluar dari lobby kantor, sebuah mobil Pajero Sport berwarna hitam metalik sudah berada di pelataran lobby. Anwa pun tersenyum, saat kaca jendela mobil itu terbuka, ia sedikit mempercepat langkahnya.


"Hai...."


"Hai," balas Anwa masih dengan senyumnya, "gak lama kan?"


"Gak... seneng banget sih kayaknya." Arkana melajukan mobilnya keluar dari pelataran gedung tinggi itu.


"Keliatan ya?"


"Seneng ya liat gue lagi?" godanya pada Anwa.


Anwa lagi-lagi tersenyum, jujur banget sebenernya memang Anwa senang lelaki itu kembali lagi entah darimana dia, tapi hati Anwa bahagia. Rasa yang aneh ini terkadang muncul saat Arkana selalu tiba-tiba muncul di hadapannya.


"Senyum mulu," ujarnya saat berhenti di lampu merah, menyandarkan kepalanya pada kemudi dan menoleh ke Anwa.


"Apaan sih." Gadis itu salah tingkah.


"Gak nanya kemana gue dua minggu?"


"Aku gak nanya aja kamu bakal cerita juga kan," ujarnya santai, "udah ijo lampunya."


Arkana melaju kembali. "Gue dari Bali, restoran gue dua minggu berturut-turut jadi tempat nikahan orang," ujarnya, "jadi mau gak mau gue harus standby, memastikan semuanya berjalan dengan baik."


"Keren...."


"Apanya?"


"Usaha kamu."


"Cuma nerusin usaha kakek, banyak belajar dari mima, di kembangin lagi mengikuti jaman, jadi lah seperti sekarang."


Anwa mengangguk angguk.


"Gimana tidurnya?"


"Eh?"


"Maksud gue setelah pasang AC," Arkana terkekeh.


"Biasa aja, cuma lebih dingin."


"Boong banget," dia mengacak-acak rambut Anwa, "lebih nyaman kan? maksud gue di banding pake kipas angin yang bunyi kemarin."


Anwa hanya diam, lalu kembali ke masa lalu, dulu Dika pun menyarankan untuk memakai AC di kamarnya, tapi Anwa menolak, karena selama mereka menjalin hubungan Dika selalu dominan membiayai hidupnya, jadi Anwa lebih berpikir tidak sepantasnya dia membebani lagi keuangan kekasihnya.


"Gue kira hobi ngelamun lo lama-lama ilang... ternyata masih aja ya," ujar Arkana memperhatikan wajah Anwa yang tiba-tiba berubah sayu.


"Kita makan aja Ar," ajaknya.


"Boleh... makan apa?"


"Pecel lele, mau?"


"Boleh... kok pake nanya mau sih?"


"Takut kamu gak biasa makan di pinggir jalan."


"Gue makan apa aja Wa dan dimana aja" jawabnya.


makan lo aja gue bisa saat ini ujarnya dalam hati dan menyunggingkan senyum nakal penuh arti.


***mulai nakal ya abaaaang....😘 sabarr yaaaa bentar lagi mereka jadi uwu kok


1part lagi gengs.... jejaaaaak jangan lupa


btw buat yang mau masuk ke group, monggo yaaah...mari kita menjalin silaturahmi dan saling support 😘***