Kiss Me

Kiss Me
Aku sanggup memenuhinya



Pagi itu Arkana menepati janjinya membawa istri dan anak yang berada di dalam rahim Anwa untuk berjalan-jalan di taman.


Setelah berkeliling, akhirnya mereka menemukan penjual yang menjual otak-otak bumbu kacang, Anwa meminta otak-otak yang masih panas untuk dia bawa pulang. Lalu mereka berjalan lagi mencari rujak mangga, alhasil rujak mangga pun akhirnya ditemukan agak jauh dari taman.


Wajah Anwa senang sekali mendapatkan apa yang ia inginkan, begitupun Arkana, setidaknya dia tidak harus susah-susah mencari makanan yang istrinya inginkan.


"Ar, otak-otak nya di makan nanti sampe rumah ya, aku mau makan yang ini dulu," ujarnya menyodorkan rujak mangga itu, namun dengan wajah yang mencari sesuatu.


"Cari apa sih?" Arkana merengkuh pinggang Anwa.


"Cari pohon mangga," jawabnya.


"Astaga," Arkana menepuk jidatnya, ia kira Anwa akan lupa akan keinginannya memakan rujak mangga di atas pohon mangga. "Itu bahaya, Wa ... aku gak ngijinin," kata Arkana tegas.


"Kamu mau anak kamu ngeces an?"


"Gak lah, mana ada gara-gara ngidam nya gak terpenuhi anaknya ngeces, mitos itu Wa."


"Gak mau, aku mau nya nyari pohon mangga," ujar Anwa penuh percaya diri.


Arkana hanya mampu mengikuti kemauan istrinya, dari taman menuju apartemen Arkana ikut mencari letak pohon mangga.


"Gak ada Wa di sini ... kita pulang aja ke rumah mama, kali tetangga ada yang punya," bujuk Arkana.


"Ya udah kita pulang ke rumah mama, tapi nanti pas dapet pohonnya kamu gak usah naek ya, nonton aja dari bawah."


"Ah ... ada-ada aja, gak usah deh kalo gitu."


"Ar ...," rengek Anwa.


"Gak! kamu ada-ada aja."


"Ya udah ... iya, tapi aku duluan yang manjat, kamu di bawah aku ya."


Mimpi apa Arkana harus meladeni ngidam sang istri sampai sebegininya. Dia hanya bisa mendengus kesal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mobil sudah memasuki jalan komplek siang itu, berada di perumahan elit yang sebagian jalannya di tumbuhi pepohonan besar sangat nyaman untuk di susuri.


Kepala Arkana sedari tadi menoleh ke kiri dan ke kanan berharap pohon mangga yang dia inginkan segera dapat ia temui.


Hingga berhentilah ia di sebuah rumah yang cukup besar, dengan gerbang yang tinggi. Arkana melihat pohon mangga di samping rumah itu. Dengan tekad yang bulat, Arkana mulai membunyikan bel di dekat gerbang.


"Cari siapa?" ujar satpam yang menyambut mereka.


"Em ... gini Pak, istri saya ... aduh, gimana ya? gini deh ... yang punya rumah ada?" tanya Arkana.


"Ada perlu apa?"


"Saya mau ijin, istri saya lagi ngidam nih pengen makan rujak mangga tapi di atas pohon mangga, boleh gak Pak? atau saya ijin langsung sama yang punya rumah deh," ujar Arkana tak enak hati.


Satpam itu sejenak berpikir. "Yang punya rumah lagi pergi ke Hongkong, saya bisa ijinkan tapi sebentar ya Pak."


"Aduh Pak, makasih banget ya," ujar Arkana mengatupkan tangan di dada.


Anwa yang mendengar diperbolehkan untuk memanjat pun bahagia hatinya.


"Gak tinggi-tinggi ya Wa, cuma batas itu," ujar Arkana menunjuk batang pohon yg tidak terlalu tinggi.


"Iya tenang aja." Anwa memanjat dengan lihainya, Arkana menggelengkan kepalanya baru pertama kalinya melihat kelakuan istrinya yang aneh.


"Sini Ar, mana rujaknya." Arkana mengikuti Anwa untuk naik juga ke atas pohon.


Dan akhirnya suami istri itu selama setengah jam bertengger di atas pohon menikmati rujak mangga bumbu pedas.


Setelah berpamitan pada satpam rumah besar itu dan memberikan uang tips sebagai ucapan terimakasih, Arkana melajukan mobilnya menuju rumah orangtuanya.


"Baru pulang?" tanya Mama Cha Cha saat keluar dari kamarnya bertemu dengan anak dan menantunya akan menuju kamar mereka.


"Iya, Ma," jawab Anwa.


"Gimana hasil periksanya, Mama nungguin kalian eh malah gak pulang."


"Maaf Ma, semalam Arkana ngajakin tidur di apartemen," ujar Anwa malu-malu. "Kata dokter janinnya sehat, umurnya enam minggu."


"Kamu gak pengen apa gitu, Wa?"


"Jangan di tanya Ma," jawab Arkana.


"Loh kenapa?"


"Anwa baru manjat pohon mangga," Arkana memutar matanya jengah.


"Oh ya? kok bisa?" Mama Cha Cha tertawa.


"Anwa bawa otak-otak bumbu kacang, Mama mau?"


Dua wanita berbeda usia itu pun menuruni ta tangga menuju ruang makan untuk menikmati makanan yang di bawa Anwa sambil bercerita.


"Terus kami turunnya gak loncat kan Wa?"


"Ya gak Ma, Anwa di gendong sama Arkana," ujarnya tertawa.


"Ada-ada aja kalian ini," Mama Cha Cha tertawa.


"Papa kemana Ma?"


"Dari pagi bilangnya maen golf, mungkin bentar lagi pulang, kamu udah makan siang?"


"Nanti aja Ma ... Anwa ke kamar dulu ya Ma, nengokin yang lagi sebel," ujarnya terkekeh.


Masuk ke dalam kamar, dilihatnya Arkana sedang bersandar di tempat tidur sambil memangku laptop.


"Ar, mau makan siang sekarang?" tanya Anwa mendekati suaminya.


"Nanti aja, aku lagi nge cek laporan keuangan yang di kirim oleh Ria."


"Ar ... masih sebel ya?"


"Sebel? gak ... emang aku kayak sebel gitu." ujarnya menoleh sebentar ke Anwa.


"Kirain kamu sebel sama aku gara-gara naek pohon mangga."


"Aku cuma takut kamu kenapa-kenapa Wa, lagi hamil malah manjat-manjat, untung yang di dalem anteng."


Anwa tersenyum. "Makasih ya ... udah menuhin permintaan aku hari ini."


"Berarti bakal ada permintaan lagi dong?"


"Iya lah, kan hamilnya masih lama," Anwa mengedikkan alisnya yang sebelah kiri.


"Asal jangan yang berat-berat dan jangan yang jauh-jauh, beneran aku gak sanggup."


"Udah belom nge cek email nya?"


"Masih ada beberapa, kenapa sih?"


"Gak papa, ya udah aku tungguin."


Arkana menutup laptopnya, menghadap miring menatap sang istri.


"Kenapa?"


"Apa?"


"Kamu kayak lagi pengen sesuatu," terka Arkana.


"Kok tau?"


"Tau dong, mudah ketebaknya."


"Emang apa?"


"Kamu mau lagi?"


Wajah Anwa merona merah, seulas senyum mengembang di sudut bibirnya.


"Bener kan? sini ...." Arkana merentangkan tangannya memeluk tubuh yang selalu membuatnya ketagihan.


"Apa pun yang kamu minta aku sanggup memenuhinya ... apalagi itu," ujarnya mencium lembut bibir sang istri.


Anwa membalas ciuman suaminya sama lembutnya, menggigit bibir secara bergantian, lidah yang saling berbelit itupun membuat hasrat mereka kembali hadir.


"Ar ...."


"Hhmm." Arkana mulai membuka kancing kemeja tunik yang di pakai Anwa.


"Tapi ini masih siang, nanti mama tiba-tiba suruh kita makan."


"Biarin aja, ntar kalo mama ngetuk pintu kita gak usah denger." Arkana sudah membuka penutup dada Anwa.


"Aku suka banget liat ini Wa," katanya lagi lalu memijat dada Anwa yang semakin hari semakin berisi.


"Ar ...." Anwa mulai mendesah merasakan setiap sentuhan tangan Arkana yang sudah bebas berkelana siang ini.


***sambung nanti yaaaah....😘


enjoy reading 😘***