Kiss Me

Kiss Me
Keluarga kecil



Umur Kawa sudah tepat enam bulan, begitu pesat perkembangan bayi bertubuh gempal itu. Saat ini Kawa sudah bisa menikmati makanan pendamping ASI, sudah belajar duduk dan perlahan mengangkat bokongnya seperti ingin bersiap merangkak.


Arkana memutuskan memboyong keluarga kecilnya untuk menempati rumah baru mereka. Walaupun sebenarnya Mama Cha Cha terlihat sedih, namun bagaimanapun anak lelakinya harus memimpin keluarganya sendiri, harus bisa mandiri membina keluarga kecilnya.


Barang-barang sudah dari jauh-jauh hari di angsur ke rumah baru mereka, memang hanya baju dan peralatan kecil serta barang-barang milik Kawa saja yang di bawa, karena rumah itu sendiri sudah terlengkapi segala perabotan.


"Ya ampun Ma, dari sini ke rumah Arkan paling cuma satu jam itu juga kalo macet kalo gak macet setengah jam nyampe," kata Arkana yang melihat mimik wajah sang ibu yang tampak sedih menciumi bayi lucu itu di gendongan Anwa.


"Sering-sering kesini ya Kawa, Oma sendirian kalo gak ada Kawa," ujar Mama Cha Cha sedih.


"Ntar kalo Annaya nikah, dia yang bakal nemenin Mama di rumah, suruh bikin anak banyak-banyak biar rame rumah Mama," celetuk Arkana yang sudah mengangkat tas berisi baju-baju bayi gembul itu masuk ke bagasi mobil.


"Kalian gak pake jasa baby sitter, Wa?" tanya Mama Cha Cha.


"Gak usah lah Ma, gak repot ini ... kan bisa gantian sama Arkana ngejagainnya, kalo Ayah Kawa keluar kota kan Anwa bisa tidur di rumah Mama atau bunda yang Anwa suruh terbang ke Jakarta," ujar Anwa yang memang sejak lahirnya Kawa dia yang mengurus segala sesuatunya sendiri meski bantuan ibu mertuanya selalu ada.


"Papa pulang sore ini kan dari Lombok?" tanya Arkana, Mama Cha Cha pun mengangguk. "Apa Mama mo nginep di rumah kita nih sampe papa pulang terus jemput Mama."


"Enggak deh, papa pulang malam ini ... kasian kalo papa pulang Mama gak ada," ujarnya mengulurkan tangannya dan di cium oleh Anwa untuk berpamitan.


"Kita pulang ya Ma, besok kita kesini lagi," pamit Anwa.


"Hati-hati jaga anak Wa, Kawa lagi gak bisa diem loh, kalo di taro di tempat tidur jangan lupa di halangin bantal," pesan mama mertua.


"Iya Ma, kemarin juga di sekitar tempat tidur di lantai udah Anwa pasang playmate," jelas Anwa yang mewanti-wanti takut bayi itu terjatuh.


"Ya udah sana, nanti kemaleman ... Ar, hati-hati bawa mobil ya," kata Mama Cha Cha mencium pipi anak lelakinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Wa ... baju Kawa udah aku rapihin semua ya," ujar Arkana menutup lemari baju bayi mereka.


"Iya ... makasih ya Sayang," jawab Anwa yang sedang menyusui bayi montok yang barusan saja terbangun karena ulah sang ayah menciuminya bertubi-tubi.


"Udah tidur lagi?" Arkana mendekat dan tidur di belakang tubuh istrinya.


"Udah nih ... tapi tangannya masih genggam jari aku, itu berarti dia belom nyenyak banget."


Arkana melongokkan wajahnya melihat bayi yang masih semangat menghisap puncak dada istrinya.


"Kalo dia gitu bisa sejam kok kamu gak bersuara sih, Wa? kalo aku baru lima menit kamu udah mendesah-desah."


"Beda rasanya Sayang ... masa sama anak sendiri mau mendesah, aneh kamu ah."


Arkana terkekeh, "laper gak? mau makan apa?"


"Delivery order aja Ar, jadi kamu gak harus keluar bolak balik ...."


"Makan apa?" Arkana membuka aplikasi delivery online.


"Apa aja deh, yang penting perut aku terisi buat amunisi Kawa nanti malam."


"Ar ... sabar kenapa, ini anaknya aku lepasin dulu," ujar Anwa yang mencegah Arkana menurunkan benda berenda dari tempatnya.


"Udah gini aja," bisik Arkana di telinga Anwa, lelaki itu memulai aktivitasnya.


"Ah Ar ...." Anwa yang merasa terpancing mau tak mau menerima perlakuan suaminya yang berada di belakang tubuhnya.


Perlahan mulut mungil Kawa ia lepaskan, masih dengan posisi yang membelakangi Arkana, tangan kekar Arkana melingkar di pinggang wanita itu, menggerakkannya secara perlahan, sedikit membuat Anwa menoleh ke belakang.


"Enak gak gini?" lirih Arkana.


Anwa membalikkan tubuhnya, membuka seluruh pakaiannya, memposisikan tubuhnya berada di atas suaminya.


"Wow ...." Arkana menarik maju mundur tubuh istrinya, dari pelan sampai dengan cepat hingga pelepasan pun terjadi beberapa kali.


Tidur dengan bantalan lengan Arkana, tubuh polos mereka masih saling bersentuhan.


"Jadi makan?" tanya Arkana tersenyum nakal.


"Masih Ar, aku laper."


Pagi itu Anwa menyadari, anak dan suaminya sudah tak ada di sampingnya. Anwa duduk di tepi ranjang, sayup-sayup terdengar olehnya suara Arkana sedang bermain dengan sang putra di pinggir kolam. Mengikat rambutnya tinggi, kembali memakai daster yang masih berada di lantai.


Disuguhkan pemandangan indah pagi ini, suami dan anaknya sedang bercengkrama diatas pelampung besar berbentuk bebek sambil berjemur menikmati matahari pagi.


"Pagi bundanya Kawa," sapa Arkana yang memangku bayi yang juga tersenyum padanya. "Gabung sini," ajak sang suami yang memang hanya memakai boxer semalam.


Anwa tersenyum, ia membuka kembali dasternya hingga hanya memakai benda-beda berwarna nude menutupi kedua benda berharga miliknya. Arkana memandangi tubuh indah sang istri, ada sesuatu yang bereaksi di bawah sana namun harus ia tahan mengingat bayi kecil itu membutuhkan kedua orangtuanya.


Anwa duduk di tepi kolam, menunggu suami dan anaknya mendekat padanya. Kawa mulai berceloteh ketika sang Bunda mengajaknya berbicara. Arkana memberikan bayi itu pada Anwa. Mereka bertiga duduk di tepi kolam menikmati sinar matahari pagi.


Sementara Arkana memilih posisi duduk membentangkan kakinya lebar di belakang Anwa. Bermain cilukba dengan sang putra, tapi tetap saja tangannya menjelajahi tubuh istrinya yang menggemaskan. Ingin rasanya Arkana menghempaskan tubuh wanita itu kembali ke tempat tidur untuk dia nikmati. Ah, kalau tentang Anwa tak akan pernah ada habisnya pikirnya lalu tersenyum.


"Ayah Kawa, tangannya gak pernah di kondisikan ya," ujar Anwa yabg juga menikmati setiap rematan tangan kekar itu di dadanya.


"Sekalian main sama Kawa, bundanya juga harus diajak main ... malah setelah ini Ayah Kawa mau lagi kayak yang semalem ... ciluuuuk baaaa," ujarnya sambil bermain dengan bayi yang sudah terkekeh atas ulah sang ayah.


"Aw ... Sayang, jangan di situ ... malu di liat orang," ujar Anwa kesal saat Arkana memberikan noda merah di lehernya.


"Kamu bahagia kan Wa?" tanya Arkana.


"Bahagia banget Ar ... hidupku bahagia bersama keluarga kecilku ... kamu dan anak-anak kita." Anwa menoleh lalu mengecup bibir suaminya.


Arkana menarik tengkuk sang istri, memperdalam ciumannya dengan lembut sementara bayi laki-laki itu melihat ulah kedua orangtuanya sambil tertawa-tawa kegirangan seakan mengerti, jika ia terlahir di keluarga yang di penuhi dengan CINTA.


***setelah membaca beri like nya ... karena setelah aku lihat dan diingatkan oleh salah satu teman pembaca ... yang baca banyak yang like kayaknya masih malu-malu ... di bantu like ya teman-teman, matur tengkyuuuhh 🙏


enjoy reading 😘***