
Pukul setengah enam pagi, Arkana dijadwalkan untuk melakukan tindakan operasi. Beberapa dokter spesialis sudah mulai berdatangan, sementara Arkana sudah disiapkan di kamar operasi.
Anwa masih dengan mata yang sembab, ditemani oleh Mima Jingga dan suaminya, duduk tepat di depan pintu masuk kamar operasi, seringkali pintu itu terbuka saat itu juga jantungnya berdetak cepat.
Semalaman dia tidak tidur, sampai dengan pagi ini pun dia tidak makan. Bisa bayangkan ketika separuh jiwa kita terkulai tak berdaya, di antara ambang maut, apa yang ada di pikiran kita?
Anwa sesekali mengusap air matanya, operasi sudah berjalan selama dua jam setengah. Masih belum ada tanda-tanda lampu operasi itu padam. Untaian ribuan kata-kata berupa doa untuk keselamatan suaminya tak henti terucap dari bibirnya.
"Wa," ucap Zurra, lalu menyerahkan roti dan secangkir air teh hangat untuk Anwa. "Dimakan, kamu belum isi apa-apa dari semalam, kasian baby Wa," ujar Zurra lagi.
"Makasih Ra ... nanti aku makan," jawabnya lalu meletakkan kembali roti itu di sisi duduknya.
Zurra hanya menggeleng melirik pada sang Mima yang hanya memberikan isyarat dengan mata. Tak berapa lama Papa Fajar dan Mama Cha Cha pun datang, setelah beberapa kali tak sadarkan diri, akhirnya Mama Cha Cha menguatkan dirinya. Nampak Annaya yang baru saja tiba dari Jogja beserta Om Aby dan Tante Arumi serta Kala.
Ibu dari suaminya itu memeluknya sangat erat seakan sama-sama saling menguatkan. Tubuh mereka sama-sama bergetar karena tangis. Dua wanita yang sama-sama sangat menyayangi lelaki yang sedang berjuang untuk hidup di dalam ruangan itu.
Hampir tiga jam setengah, akhirnya lampu ruangan operasi itu pun padam, disertai terbukanya pintu ruangan itu. Semua bersamaan berdiri.
"Dok?" tanya Anwa hampir tak terdengar.
Dokter spesialis mengangguk, lalu mengatakan,
"Operasi yang kita lakukan berhasil," ujar dokter itu, "namun ... kita masih mengobservasi pasien lebih lanjut, karena ... banyak kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi nantinya, tapi ... kita berharap, pasien dapat melewati itu semua."
"Bisa lebih detail lagi Dok?" ujar Anwa, walaupun ada perasaan lega karena operasi ini berhasil, namun sebagaimana yang Anwa tahu, operasi cedera otak adalah operasi dengan tingkat resiko yang fatal.
"Pasien masih berjuang Bu, kita berharap efek yang Ibu khawatirkan tidak terjadi, mari sama-sama berdoa, agar pasien melewati masa kritisnya."
"Maksud dokter, kemungkinan yang kita bicarakan kemarin bisa saja terjadi?" ujar Papa Fajar.
"Kemungkinan apa Pa?" tanya Mama Cha Cha.
Fajar terdiam. "Kemungkinan apa Pa?" ulang Mama Cha Cha lagi.
"Kemungkinan terburuk, adalah Arkana akan mengalami koma atau dia sadar dengan menderita kelumpuhan," jelas Fajar.
Hati seorang ibu mana yang bisa menerima kenyataan ini, Mama Cha Cha melangkah mundur dengan air mata yang terurai.
"Mama ... bantu Anwa ya, bantu Anwa menguatkan diri Anwa untuk membuat Arkana kembali lagi seperti dulu ... Mama, kita jangan menyerah, masih ada kemungkinan yang lain Ma, Arkana pasti mampu melewati ini," ujar Anwa menghapus air mata ibu mertuanya.
Disaat seperti ini siapapun tidak akan menerima keadaan, namun dengan menangis tidak akan mengubah keadaan, yang diperlukan adalah saling menguatkan, dan percaya semua mampu terlewati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ya, Anwa harus berperan penting di sini, dia harus lebih kuat dari siapapun, suaminya sedang berjuang untuk hidup. Di samping itu, dia juga harus memikirkan bayi yang berada di dalam kandungannya. Anwa harus berusaha kuat demi keluarga kecilnya.
Anwa yakin kebahagiaan akan kembali hadir ketengah-tengah keluarga kecilnya. Anwa memasuki ruangan itu, mengunjungi suaminya yang masih terpasang dengan banyak peralatan medis.
Anwa raih tangan suaminya, mengecup kening lelaki itu, membelai lembut wajah suaminya.
"Hai Ar ...," sapanya. "Dengar aku?" tanyanya, "dokter bilang operasi kamu berhasil Ar, tapi kamu butuh waktu melewati masa kritis ini ... kamu tau Ar, aku pasti nunggu kamu ... mau selama apapun kamu tidur di tempat ini, aku pasti nunggu kamu ... nanti kita pulang sama-sama."
"Kata dokter beberapa jam lagi kalo kondisi kamu stabil, kamu sudah bisa pindah ke ruang rawat ... aku sih pengennya kamu di bawa ke Jakarta aja, biar lebih mudah semuanya."
"Ar, kata dokter tadi setelah melewati masa ini akan ada dua kemungkinan yang akan terjadi, pertama kamu mengalami koma entah sampai berapa lama, kedua kamu akan menderita kelumpuhan ... apapun yang akan terjadi nanti kamu harus yakin kalo aku selalu ada buat kamu Ar ... aku dan anak kita." Mata Anwa mulai berkaca-kaca.
"Mama khawatir banget sama kamu Ar, mungkin melebihi rasa khawatir aku, sedih aku lihat mama tadi, makanya kamu harus semangat ya ... semangat bisa melalui ini semua."
Perlahan Anwa membelai wajah Arkana sekali lagi, diusapnya bibir kering yang terbuka karena terpasang selang untuk bernapas.
"Kamu tau Ar, aku gak pernah membayangkan ini terjadi sama kita," Anwa mulai terisak, berusaha untuk kuat itu hanya teori saat ini karena pada kenyataannya hatinya masih rapuh.
"Aku ngerasa bahagia ku baru saja kembali terasa ... seperti membalikkan telapak tangan semuanya terenggut begitu saja ... baru kemarin aku ngerasain hangatnya tatapan mata kamu, belaian lembut saat kamu mengusap perut aku, ciuman kamu yang kadang sering berubah menjadi liar ...," Anwa menghela nafasnya.
"Ar ... aku kangen ...," wanita itu kembali terisak, menciumi telapak tangan suaminya, meletakkan di pipinya, "bangun Ar ... aku mohon ... aku gak kuat seperti ini sendiri ...." Tangis itu kembali pecah.
Ungkapan hati Anwa yang tertahan baru ia lontarkan di hadapan suaminya.
"Tapi aku harus kuat demi kamu Ar, aku gak bakal menyerah demi keluarga kita ... gak ada yang bisa pisahin kita Ar, aku janji itu," Anwa menghapus air matanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah perundingan keluarga besar, keluarga Arkana akan menunggu segala sesuatunya berjalan dengan baik serta menunggu stabilnya keadaan Arkana, maka Arkana akan di pindahkan ke salah satu rumah sakit yang berada di Jakarta.
Satu minggu berlalu, Arkana sudah berada di ruang rawat di salah satu rumah sakit swasta di Jakarta namun masih dalam kondisi koma. Anwa dengan telaten merawat suaminya mulai dari mengajaknya berbincang, mendengarkan lantunan doa-doa, mendengarkan musik-musik yang Arkana suka, sekedar bercerita tentang awal percintaan mereka, atau berbicara dengan janin yang berada di dalam kandungan Anwa.
Anwa selalu berharap di setiap perbincangan mereka, Arkana akan memberikan respon walau hanya sedikit, namun sepertinya Anwa harus lebih bersabar lagi meski untuk waktu yang tak bisa di tentukan.
***everything will be okay gengs...
aku minta like dari kalian dong jika cerita ini mengena di hati kalian... pembacanya banyak tapi mungkin masih malu-malu buat like ya... pelan-pelan diarahkan jempolnya buat klik like ya sayang-sayang nya akuuuh...
enjoy reading 😘***