Kiss Me

Kiss Me
Teman tapi Mesra



"Wa... " Arkana membangunkan Anwa yang tertidur di sofa setelah menonton film horor yang cukup menegangkan tadi, tidak ada pergerakan dari Anwa.


Posisi tidur yang miring ke kanan dengan mulut yang sedikit terbuka dan rambut keriting yang menutupi wajahnya membuat Arkana gemas melihatnya.


Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, setelah membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya, Arkana kembali menuju sofa, masih memandangi gadis yang tertidur pulas itu.


"Wa... bangun yuk, lo mo balik apa tidur di sini?" pertanyaan macam apa ini gumamnya dalam hati dan tertawa geli.


Anwa hanya bergerak sebentar, tanpa membuka mata hanya mengangguk angguk. Menarik tangannya ke atas seolah meregangkan otot-otot tubuhnya. Membuat kaos yang ia pakai terangkat, menampakkan perut datar berwarna putih selembut sutra.


Arkana menelan salivanya berkali-kali, ia yang duduk di sisi Anwa yang tertidur pelan-pelan menutup kembali kaos yang terangkat tadi.


"Wa... " bisiknya lagi, "tidur di sini aja ya, besok pagi gue anter pulang ke kost lo terus langsung kerja."


Masih tidak ada jawaban, akhirnya Arkana memutuskan untuk tidur di apartemennya, dengan Anwa tidur di sofa dan dia yang akan tidur di tempat tidurnya sendiri.


Menyelimuti Anwa dan membenarkan posisi tidur gadis itu hingga terlihat nyaman. Arkana memandangi wajah Anwa, dari mulai alis yang tebal, bulu mata yang lentik, hidung yang mancung, pipi yang terlihat tirus, sampai dengan bibir yang sedikit tebal dan berwarna merah tanpa lipstik.


Arkana adalah seorang lelaki normal berusia hampir 26 tahun, melihat pemandangan indah seperti ini naluri lelakinya seolah bergejolak, namun tentu saja harus ia tahan.


Memberanikan diri membelai pipi gadis itu dan meraba sepintas bibir yang hampir saja dia rasakan beberapa hari lalu.


Arkana menggelengkan kepalanya, lo harus tahan Ar, jangan sampai semuanya kacau kalo bertindak gegabah kata suara dalam hatinya.


Semakin dia tetap duduk di samping Anwa maka gejolak itu semakin besar. Arkana beranjak dari tempat duduknya, mematikan lampu sentral dan menggantikan dengan lampu di sudut ruangan lalu masuk kembali ke ruangan yang berisi tempat tidur berukuran yang lebih besar sedikit dari spring bed Anwa di kost nya.


Merebahkan tubuhnya dengan posisi menghadap ke arah dimana Anwa tertidur. Melipat tangannya di depan dada, lalu berusaha untuk memejamkan matanya, berharap sepagi mungkin dia akan bangun agar tidak terlambat mengantarkan Anwa pulang dan langsung berangkat kerja.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pukul setengah lima pagi, Anwa terbangun dan melihat sekelilingnya. Cahaya lampu remang-remang di sudut ruangan, merubah posisi tidurnya menjadi duduk di atas sofa, masih mengerjap-ngerjapkan matanya.


Setelah membasuh mukanya, Anwa berjalan mendekati Arkana yang tidur meringkuk sambil memeluk guling. Dengkuran halus terdengar, lelaki itu bak bayi yang sedang tidur. Wajah Indo Belanda yang ia miliki begitu tegas tersirat.


Helaian rambut yang jatuh di dahinya perlahan Anwa singkirkan, hidung yang mancung, kulit yang putih bersih, bibir yang begitu menggoda, apalagi bila dia tersenyum.


Arkana memintanya untuk membuka hatinya secara perlahan, hampir setengah tahun Arkana bertahan dan memasuki hidupnya penuh dengan kejutan, bentuk kepeduliannya pada Anwa memang sudah tidak bisa lagi dielakkan.


"Ar... " ujarnya pelan, menggoyangkan lengan Arkana, "bangun Ar, sudah subuh, antar aku pulang ya... "


Anwa masih duduk di sisi Arkana yang mulai bergerak, meregangkan otot-otot tubuhnya, lalu membuka satu matanya, menghela nafas dan mengangguk angguk.


"Ayo, bangun, nanti keburu macet, anterin aku pulang ke kost," ujar Anwa lagi.


Arkana mengangguk lagi. "Aku tunggu di sofa."


Baru saja Anwa akan beranjak, tangannya di cegah oleh Arkana, "gak ada morning kiss Wa?"


"Mimpi kamu?"


"Gak."


"Aku tunggu kamu, buruan cuci muka."


"Morning kiss dulu," ujarnya lagi.


Anwa mendekat, namun satu tangannya lagi meraih bantal di sebelah Arkana.


"Ini morning kiss dari aku," ujarnya membenamkan wajah Arkana ke dalam bantal, lalu di tekan-tekannya.


"Gak bisa nafas gue Wa," ujar Arkana melepaskan bantal dari wajahnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pukul setengah delapan, Anwa sudah berada di depan gedung kantornya. Gadis itu memakai rok span berwarna hitam dengan atasan kemeja berwarna maroon, high heels yang baru dia beli sehabis gajian bulan lalu, serta sling bag kulit berwarna hitam serta tablet yang berada di tangannya.


"Makasih ya Ar," ucapnya, membuka pintu mobil.


"Wa."


Anwa kembali menoleh. " Iya, Ar."


"Nanti sore gue jemput ya," ujar Arkana, "jangan pulang sebelum gue jemput, Ok."


"Ok." Anwa tersenyum, "aku kerja dulu ya."


Arkana tersenyum dan mengangguk.


"Eh, Wa."


"Apalagi, Ar?"


"Lo cantik pagi ini."


Anwa tersenyum lalu turun dari mobil, menutup pintu mobil dan melambaikan tangannya pada Arkana.


Kesibukan kerja di awal hari luar biasa membuat Anwa pusing tujuh keliling belum lagi, Pak Fajar yang memintanya mengatur ulang jadwal meeting direksi, belum lagi berkas-berkas yang harus dia susun dari beberapa tahun silam yang di minta oleh atasannya itu harus selesai setelah jam makan siang.


Satu per satu pekerjaannya sudah terselesaikan, tepat pukul setengah enam sore Anwa sudah bersiap untuk pulang. Mengusap layar ponselnya, lalu membalas pesan dari Arkana.


"Aku udah kelar, aku tunggu di depan kantor aja jangan di pelataran lobby ya."


Pesan terkirim, centang satu, yang menandakan pesan sudah terkirim.


Tak butuh waktu lama Anwa sudah menunggu. di depan gedung kantornya, duduk di sisi-sisi trotoar yang di tumbuhi bunga-bunga.


Setengah jam berlalu, Anwa masih duduk di sana, mengusap kembali layar ponselnya. Pesan yang ia kirimkan tadi sudah berubah centang dua tapi belum berubah berwarna biru, itu artinya pesan Anwa belum terbaca.


Mungkin macet, ini hari Senin itu wajar, baiklah aku tunggu pikirnya.


Satu jam berlalu Arkana belum juga menampakkan batang hidungnya, langit mulai gelap, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Hingga akhirnya, Anwa memutuskan untuk pulang, memesan ojek on-line dan membawa sedikit perasaan kecewa.


Setelah sampai di kamar kost, Anwa seperti biasa membersihkan dirinya, mengenakan hotpants dan tank top berwarna biru, Anwa merebahkan diri, menekan tombol remote, mencari tayangan televisi yang akan ia tonton, menghidupkan AC sambil menunggu abang nasi goreng langganannya lewat di depan kost.


Ketukan pintu membuatnya terkejut, sekiranya dia tidak menunggu seseorang. Membuka handle pintu, dan melihat siapa yang datang.


"Anwa... " ujar Arkana, "boleh gue masuk?"


"Sudah hampir malam Ar," Anwa melihat jam di dinding kamar.


"Kalo gitu kita keluar sebentar," ajak Arkana.


"Besok aja, aku capek."


"Wa,"


"Besok aja Ar," ujarnya lagi dari balik pintu yang menutup setengah tubuhnya.


***kalo janji mah di tepati Bang... emang enak anak orang nunggu satu jam lebih tanpa kabar.


jejaaaak nya darliiiing 😘***