Kiss Me

Kiss Me
Detak jantung



Satu minggu sudah Arkana di buat sibuk karena permasalahan kebakaran yang menimpa restorannya di Bandung.


Menurut penyelidikan adanya arus pendek listrik yang mengakibatkan setengah dari bangunan itu hangus terbakar. Kerugiannya jelas lumayan besar, namun apa mau di kata, semua sudah terjadi.


Arkana memasuki rumah dengan wajah letihnya. Tak di dapat satu pun orang yang ia temui, berpikir jika istrinya berada di kamar, ia melangkah menaiki anak tangga.


Baru saja tiga anak tangga yang ia tapaki, sayup terdengar suara istrinya dari arah dapur sedang tertawa.


Arkana bersandar pada dinding dapur dengan tangan yang di lipat di depan dada, memperhatikan istrinya yang sedang tertawa membentuk adonan donat yang ia buat bersama ibunya.


Wanita yang sedang mengandung anaknya itu terlihat lebih berisi dari sebelumnya, tawanya juga semakin renyah. Rasa-rasanya Arkana banyak melewatkan hari bersama Anwa beberapa hari belakangan ini.


"Ar ...," sahut Anwa saat melihat suaminya sedang memandangi aktivitasnya di dapur. "Kamu sudah dari tadi?" Anwa bangkit mencuci tangannya dan melepaskan celemek.


"Sudah lumayan, sampe liat kamu ketawa enak banget." Arkana mencium puncak kepala istrinya.


"Ma, Anwa naik ke atas dulu ya," pamitnya pada mertuanya.


"Ma, jangan ketok-ketok pintu dulu ya," Arkana menimpali dengan wajah usilnya.


"Ish, kalian ini," sahut sang mama kembali membentuk adonan donat di temani bibik.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Gimana anak Ayah, selama Ayah tinggal?" ujar Arkana menciumi perut istrinya.


"Gak nakal Ayah, cuma kangen," jawab Anwa membelai rambut suaminya.


"Yang kangen anak Ayah, atau Bunda nya?" Arkana terkekeh.


Anwa mencium sekilas bibir Arkana, lalu berjalan mengambilkan handuk untuk suaminya.


"Mandi dulu, biar seger." Anwa memberikan handuk pada Arkana.


"Ayo, berdua," ajaknya, Anwa menggeleng dengan alasan masih siang.


Anwa memperhatikan suaminya memakai baju, matanya tak pernah lepas dari aktivitas suaminya dari mulai memakai celana hingga baju.


"Beneran kangen kayaknya," ujar Arkana naik ke tempat tidur merayap hingga berada di atas Anwa.


Anwa mengalungkan tangannya pada leher Arkana, "aku kangen Ar," ujarnya manja.


"Aku tau," jawab Arkana mencium bibir istrinya, menggigit secara bergantian bibir atas dan bawah milik Anwa.


Hal yang sama di lakukan oleh Anwa, ia membalas ciuman itu sama lembutnya, membiarkan Arkana menyusuri lehernya, membiarkan Arkana membuka kancing kemeja tuniknya hingga kancing paling akhir.


"Wa ...." Arkana melepaskan pembungkus dada Anwa, melihat benda yang selama satu minggu tidak ia sentuh. Ia buang pembungkus dada itu ke sembarang tempat.


"Aku kangen ini," ujar Arkana memijat secara bergantian dada Anwa hingga Anwa mendesah pelan.


"Semakin hari semakin berisi ya? apa memang sudah ada isinya?" tanya Arkana polos.


"Coba aja ... mungkin sudah ada," Anwa terkekeh, lalu Arkana pun membenamkan wajahnya ke dada Anwa. Menikmati setiap permainan lidahnya yang menyesap satu per satu dada Anwa.


Anwa belai rambut suaminya dengan lembut, Anwa tarik kaos berwarna putih itu hingga lolos dari kepala Arkana sehingga hanya menyisakan boxer berwarna hitam.


Menyusuri setiap lekuk istrinya, sesekali memberikan ciuman liar pada bibir Anwa. Arkana perlahan tapi pasti menyusuri perut yang masih terlihat rata itu, mengecupinya perlahan hingga sampai pada kewanitaan Anwa.


Sembari menatap Anwa yang menikmati setiap sentuhannya, Arkana melepaskan pembungkus terakhir. Begitu ia merindukan kehangatan istrinya. Menyesap dan mengecupinya membuat Anwa tak dapat lagi menahan pelepasannya.


"Ar ... udah dong," ujar Anwa terbata-bata.


Tak menunggu waktu lama, mereka berdua pun akhirnya melepaskan segala hasrat yang tertimbun itu.


Nafas yang masih tersengal-sengal, dengan posisi Arkana masih bertumpu dengan kedua tangannya berada di atas Anwa. Masih ia kecupi setiap jengkal wajah istrinya.


"Seminggu di tinggal bisa sedahsyat ini ya Wa, apalagi berbulan-bulan," kata Arkana dengan nafas yang masih memburu.


"Ngomong jangan sembarangan Ar, siapa yang mau di tinggal berbulan-bulan? aku gak mau ... kamu tinggalin aku, ya aku ikut," jawab Anwa sedikit meringis ketika Arkana menarik kelakiannya.


Anwa mengubah posisinya miring menghadap lelaki itu memeluk pinggangnya, dan mengecupi dada Arkana.


"Ditanya, enak gak?"


"Harus gitu di jawab setelah berapa kali ngerasain," jawab Anwa menarik puncak dada Arkana.


"Aw ... sakit Wa," Arkana mengusap dadanya.


"Tiga hari lagi aku kontrol ke dokter, Ar."


"Tiga hari lagi ya? hhmm."


"Gak bisa nemenin ya?"


"Sebenarnya tiga hari lagi aku bakal balik ke Bandung, sudah mulai membangun pondasi lagi untuk puing-puing yang terbakar kemarin."


"Jadi gak bisa? kalo gitu aku sama mama aja gak papa."


"Tapi aku usahain pagi berangkat sore pulang."


"Bener? kata dokter masuk dua belas minggu kita sudah bisa mendengar jelas detak jantung adek," Anwa mendongakkan kepalanya.


"Oh ya? berarti pergi sama aku aja, tunggu aku pulang ya ... aku mau denger detak jantung pertama kali anak aku yang ada di rahim kamu," ujarnya mendaratkan ciuman lagi.


"Ar ...," Anwa melepaskan ciumannya.


"Kenapa?"


"Itu," Anwa menunjuk ke bawah.


"Iya, dia masih kangen," Arkana tersenyum, "lagi?"


Anwa menggeleng dengan cepat lalu menarik selimutnya dan berpura-pura memejamkan mata. Sementara Arkana hanya tersenyum kecil melihat kelakuan istrinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi itu Arkana sudah rapih dengan kemeja merah maroon dan celana chinos berwarna hitam. Ia menyisir rambutnya di depan meja rias, sementara Anwa sedang memakai blazernya bersiap pula untuk berangkat kerja.


Menuruni tangga, kedua orangtua sudah menunggu mereka di meja makan. Sang Mama sedang melayani suaminya mengambilkan sarapan.


"Ke Bandung lagi hari ini, Ar?" tanya Fajar pada anaknya.


"Iya Pa, hari ini aja cuma mau ngawasin pembangunan gedung yang habis terbakar, tapi sore Arkan udah balik kok," jawab Arkana menarik kursi untuknya dan untuk Anwa.


Fajar melipat korannya, "kamu sendiri atau pergi sama bawahan kamu?"


"Sendiri aja Pa, biar cepet kelar ... telur aja Wa," ujarnya pada Anwa ketika Anwa mengambilkan sarapannya.


"Hati-hati Ar, sudah mulai musim hujan, bawa mobil jangan ngebut ya," pesan Fajar pada Arkana. Arkana hanya mengangguk, mengiyakan pesan sang papa.


Sesampai di pelataran kantor Anwa, Arkana hanya mengecup sekilas bibir istrinya.


"Tunggu aku pulang ya, nanti aku langsung ke rumah sakit, kamu tunggu aja di sana, aku pasti datang."


"Hati-hati, Ar ... jangan ngebut, telpon aku kalo sudah sampai di Bandung."


Arkana mengecup dan mengusap perut istrinya, "Ayah gak sabar pengen dengar detak jantung kamu Nak," ujarnya sangat dalam.


"Aku masuk dulu, jangan lupa telpon kali sudah sampai," ujar Anwa lagi mencium punggung tangan suaminya.


Arkana masih menunggu hingga Anwa tak terlihat lagi dari pandangannya barulah dia menjalankan kembali mobilnya menuju Bandung.


***jangan lupa jempolnya buat klik like yaaaah


enjoy reading 😘***