
Sabtu pagi matahari sudah menyeruak masuk melalui sela-sela tirai berwarna coklat. Anwa masih melingkar pada spring bed singlenya.
Ketukan di pintu beberapa kali sangat mengganggu tidurnya. Berusaha membuka matanya, mencari ikat rambut lalu mengikatnya tinggi-tinggi, serta membuka selimut yang membalut tubuhnya.
Anwa berjalan menuju pintu kamarnya, membuka kuncinya lalu menyembulkan sedikit kepalanya dengan mata yang masih memicing sebelah.
"Pagi." Senyum lelaki itu terukir di wajahnya tanpa dosa.
"Ya ampun..." Anwa menepuk dahinya, "ini masih pagi."
"Siapa bilang?"
Anwa menoleh ke dalam, melihat jam yang bertengger di dinding kamar. Pukul sembilan pagi, ukuran pagi bagi Anwa.
"Cuci muka bila perlu mandi, terus ikut gw," kata Arkana yang sudah dengan santainya masuk lalu membuka jendela, mematikan kipas angin yang berputar kesana kemari.
"Emang badan lo gak sakit apa pake kipas angin begini mana berisik lagi bunyinya," katanya lagi, "udah buruan mandi, malah berdiri di situ."
Anwa masih terpaku melihat laki-laki yang dengan bebasnya masuk ke dalam kamar kostnya dengan mulut yang tidak berhenti berceloteh lalu memberi perintah seenaknya dan parahnya lagi semua perintah lelaki itupun dia turuti.
"Gue tunggu di mobil ya, gak pake lama."
Butuh waktu lebih setengah jam menunggu Anwa keluar dari kamarnya. Gadis itu berpenampilan sangat biasa, hanya mengenakan sweater rajut berwarna mustard dipadukan dengan celana jeans dan flatshoes berwarna krem, di pundaknya sudah ada sling bag kulit kesayangannya dengan warna yang sudah agak memudar.
Arkana memperhatikan penampilan gadis itu dari luar gang, iya dia menunggu Anwa tepat di depan gang.
She is look gorgoeus, walau tanpa make up sedikitpun.
Kesan pertama saat mereka bertemu secara tidak sengaja di kafe saat itu seperti terulang kembali, penampilan Anwa yang sederhana tidak berlebihan mampu membuat hari seorang Arkana luluh lantah dibuatnya, belum lagi sikap yang datar-datar saja menambah poin plus buat Anwa yang susah di dekati.
"Mau kemana?" tanyanya pada Arkana yang sudah menyalakan mesin mobilnya.
"Beli kran," jawabnya santai.
"Di toko bangunan ujung jalan juga ada yang jual tapi bukanya jam sepuluh," jelas Anwa yang masih memperhatikan wajah lelaki di sebelahnya, entah mengapa wajah itu terlihat manis pagi ini.
"Sarapan dulu, emang lo gak laper?"
"Oh... makan apa?"
"Pengen bubur ayam atau lontong sayur."
"Oh, harusnya tadi kita di kost aja, biasanya abang bubur ayam suka lewat."
"Gue mau makannya di Senayan."
"Jauh amat."
Kadang hal-hal seperti ini yang membuat Anwa tidak habis pikir dengan kelakuan Arkana yang spontanitas, tiba-tiba datang, ajak pergi, tiba-tiba datang makan bareng. Mungkin setelah kenal lama akan banyak kata tiba-tiba yang Anwa dapati.
Mobil melaju membelah jalan ibukota di hari Sabtu yang nyatanya memang lengang. Berhenti di deretan ruko-ruko, terdapat dua gerobak yang menjual mie ayam dan bubur ayam. Terlihat gerobak bubur ayam yang ramai pengunjung.
"Tunggu disini, gue pesen dulu."
Arkana turun dari mobilnya, laki-laki yang hanya menggunakan celana pendek dan sandal jepit mahal itu berjalan santai, lalu memesan pesanannya sambil menunjuk kearah mobil.
"Kenapa makannya harus jauh sih?" tanya Anwa sesaat setelah Arkana masuk kembali.
"Biar lama pas jalan pulangnya," Arkana pun tersenyum.
"Ada-ada aja."
"Wa, gue boleh nanya ya."
"Apa?"
"Lo serius gak kejauhan nge kost di Tebet kerja di daerah Pasar Minggu?"
"Gak, udah biasa kan sebulan ini, lancar aja."
"Maksud gue, selain lo hemat ongkos lo juga bisa hemat waktu."
"Gak, aku mau nya tetep di sana."
"Karena banyak kenangan sama Dika ya?" tanyanya mencari tahu.
"Salah satunya itu, salah satunya lagi karena deket sama tempat dia dimakamkan."
Oke, baiklah usaha gue kayaknya kudu ekstra, gak mudah bersaing dengan orang yang sudah gak ada.
Anwa mengangguk.
"Tapi kalo misalnya nih... misalnya ya jangan marah," ucapnya memastikan, "semisalnya lo pindah kost yang lebih gede gitu tapi masih di daerah itu mau gak? apartemen mungkin?"
Anwa tertawa. "Kamu kenapa sih? dari kemarin bahasnya kost terus... gini ya aku kasih tau, aku nyaman dengan kamar itu walaupun kecil, tapi aku suka, gak menutup kemungkinan memang kamar itu banyak kenangannya, tapi aku suka, aku belom berfikiran bakal pindah apalagi ke apartemen... astaga, aku makan aja masih Senin Kamis Ar, terus kamu nawarin buat cari apartemen, setengah gaji aku abis buat operasional ***** bengeknya apartemen itu doang."
Arkana tercengang saat mendengar penjelasan Anwa, gadis ini ngomongnya banyak ternyata bukan hanya ya, oh, gitu, gak, apa, kemana.
"Kok diem?"
Arkana menarik sudut-sudut bibirnya berubah menjadi senyuman. "Gue seneng lo ngomongnya banyak."
"Apaan sih, biasa aja."
"Serius, kemarin-kemarin lo ngomongnya pelit." katanya lagi, "dan sorry bukan maksud gue mo ngatur-ngatur lo Wa, cuma gue ngerasa tempat itu terlalu kecil dan...."
"Dan?"
"Dan banyak kenangannya," ujarnya tercekat takut-takut menyinggung perasaan sensitif itu lagi.
"Aku masih mau menikmatinya dulu."
Kan bener, balik lagi dah datarnya, salah banget gue.
Ketukan di kaca jendela, mencairkan suasana, bubur ayam yang di tunggu-tunggu pun akhirnya datang. Menikmati kelezatan bubur ayam dengan mode diam tanpa banyak bicara.
Setelah menyelesaikan sarapan mereka, mobil Arkana melesat menuju salah satu pusat perbelanjaan terbesar di bilangan Senayan. Memasuki salah satu electronik store, mereka berjalan beriringan.
"Ar...."
"Ya?"
"Kita mau ngapain kesini?"
"Mau beliin AC buat lo sesuai janji gue,"
"Tapi Ar...."
"Udah lo tenang aja, anggap ini awal temenan kita, ya."
"Iya, tapi...."
"Apa? listrik? gak usah lo pikirin."
"Aku harus mikir Ar, kamu tau bawa kipas angin aja bayar lima puluh ribu, apalagi pake AC... Ar, gak usah aja."
"Gue yang bayar Wa, setiap bulannya, gue pengen lo nyaman tinggal di sana."
"Tapi, aku udah nyaman Ar."
"Please, jangan nolak, ini juga buat gue."
"Eh, maksudnya?"
"Ya biar gue betah kalo maen ke tempat lo, Wa," jelasnya lagi, "jadi biar semua gue yang urus ya."
Kali ini Arkana memberanikan diri mengacak-acak rambut keriting itu. Dan sentuhan itu membuat Anwa terkejut bahkan menegang.
"Ayo, malah berdiri di situ."
Masih berjalan bersebelahan, sekali-kali Arkana bertanya pada salah satu pelayan toko di sana, berapa PK AC yang di butuhkan untuk kamar ukuran sekian-sekian, AC yang bagus yang mana, watt listrik yang di butuhkan dan banyak lagi pertanyaan.
Berakhir pada AC 1/2 PK bermerk L* sudah terpesan, alamat sudah di berikan, mereka berjalan lagi menyusuri rak yang berisi deretan televisi.
"Ar...."
Arkana hanya menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya, isyarat agar Anwa diam dan menurut saja. Satu TV LED 24' masuk lagi ke dalam nota pembelian. Lalu dengan percaya dirinya Arkana menarik tangan Anwa, yang menurutnya berjalan terlalu pelan. Mereka menghampiri rak dengan deretan kulkas mini.
"Ar, ini berlebihan, aku gak mau."
"Dengan sangat terpaksa lo harus terima," ujarnya tersenyum.
Satu kulkas mini pun masuk ke dalam nota pembelian, dan Arkana tersenyum bahagia, lain hal dengan Anwa yang sudah memutar otaknya dalam perhitungan kalkulator, satu AC, satu tv, satu kulkas mini, mau bayar berapa listrik tiap bulannya. Dan wajah itu pun berubah menjadi masam.
***Anwa kalo gak mau buat aku aja 😂
jejaaaaak mana jejaaaak... 📢📢***