Kiss Me

Kiss Me
Are you lost baby girl?



Minggu pagi setelah membersihkan seisi kamar kostnya, Anwa turun ke "dapur milik bersama penghuni kost" di dekat tangga. Ia membuat satu piring mie goreng dan telur mata sapi untuk sarapannya pagi ini.


Setelah menyelesaikannya, Anwa membawa masakannya menuju kamarnya.


"Makasih Wa," ujar Arkana yang sudah berbaring di tempat tidur miliknya.


"Kamu?"


"Sini," ujarnya mengambil piring dari tangan Anwa, "makasih ya, tau aja gue belom makan."


"Tempat tidur aku kenapa di acak-acak lagi Ar," ujar Anwa merapihkan kembali spreinya.


"Lo bikin lagi ya mie nya, yang ini gue makan."


"Ish, kamu kapan datengnya sih, tiba-tiba udah nongol aja."


"Tadi waktu lo masak mie," ujarnya sambil menyuapkan satu garpu penuh dengan mie, "mau?"


"Gak sopan, itu kan punya aku Ar," ucapnya lagi.


"Ya udah makan bedua sini," ujar Arkana lagi.


"Gak mau, gak kenyang." Lalu beranjak mengambil satu bungkus mie dan satu telur serta satu piring lagi, kembali turun ke bawah untuk memasaknya lagi.


Setelah selesai semuanya ia masak, Anwa kembali naik masuk ke kamarnya. Arkana sudah dengan bebasnya berbaring di atas tempat tidur kembali.


"Hari ini ke mall yuk Wa."


"Ngapain?"


"Jalan-jalan, ngabisin uang kan orang kaya," ujar Arkana asal.


"Sombong banget," Anwa tertawa.


"Kita nonton, terus makan, terus beli apa gitu Wa," katanya lagi.


"Males ah," Anwa menolak.


"Oh, sukanya di kamar gitu berduaan, iya?" goda Arkana dan Anwa pun merona, "buruan kelarin makannya terus kita jalan, kalo gak mau ke mall kita ke pasar malam."


"Mana ada pasar malam pagi-pagi begini Ar," Anwa bingung.


"Gak ada ya?"


"Tuh kan... " sungut Anwa, "kita masak aja deh."


"Masak dimana?"


"Dibawah, tempat masak mie tadi," ujar Anwa.


"Kamu udah mandi belom?" tanyanya pada Anwa, melihat penampilan Anwa yang masih memakai daster batik.


"Udah dong, emang gak wangi ya?" ujar Anwa mencium kedua ketiaknya dengan cuek.


"Anwa... jorok banget sih," Arkana menggelengkan kepalanya takjub dengan gadis di hadapannya, "ganti baju terus ikut gue ya, acara kita hari ini memasak ala chef Arkana."


"Dimana?" kali ini Anwa yang bertanya.


"Ikut aja, buruan gue tunggu di pagar depan."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mobil itu berhenti di sebuah pasar tradisional. Anwa tersenyum saat melihat wajah bingung Arkana, setelah memarkirkan mobilnya Anwa mengajaknya segera turun karena waktu sudah pukul sepuluh pagi.


"Ayo buruan, ntar keburu abis sayurnya."


"Kok kesini sih Wa?"


"Gue jadi bingung sendiri, rencana gue tadi mau masak steak sama bikin spaghetti doang Wa," Arkana menjawab sambil menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.


"Kita masak ayam kecap, tumis sawi, goreng tempe sama sambel goreng, mau gak?"


"Serah dah Wa... tapi ini pasar gak becek kan Wa?"


"Pak bos, yang namanya pasar tradisional pasti becek, gak becek itu mall, udah ikut aja."


"Terkadang gue lebih seneng liat lo pelit ngomong daripada ngomong terus Wa."


Anwa hanya tersenyum mendengar kata-kata dari Arkana.


"Sudah, apa lagi nih?" Arkana sudah membawa tiga kantong plastik berisi sayur dan bumbu dapur serta satu plastik berisi potongan-potongan ayam.


"Sendal jepit gue, kotor Wa."


"Cerewet sih."


"Mobil gue baru juga kemarin di cuci Wa," rengeknya lagi.


"Besok cuci lagi, ayo buruan."


Berhenti di sebuah gedung apartemen yang jaraknya mungkin hanya sekitar 3km dari kafe tempat dimana usaha Arkana berada.


"Kok kesini? kan kita mau masak?" tanya Anwa.


"Masaknya di sini aja," Arkana mematikan mesin mobilnya, "ayo," ujarnya melambaikan tangannya pada Anwa yang masih di dalam mobil.


Anwa mengikuti langkah kaki lelaki itu, memasuki sebuah lift lalu berhenti di satu unit apartemen dengan tipe studio. Apartemen yang hanya terdiri dari 2 ruangan, 1 ruangan adalah sofa sekaligus dapur bersih dan satu ruangan lagi yang merupakan kamar tidur dan satu kamar mandi.


Dapur yang berisi kulkas dan alat-alat memasak lengkap beserta kompor dan sahabat-sahabatnya.


"Kita masak di sini, lo masak gue duduk di situ sambil nonton bola, gimana? asik kan?"


Anwa sudah tak lagi mendengarkan apa yang Arkana katakan. Dia sudah terlalu sibuk dengan kegiatannya di dapur. Tak pula ia tanyakan apartemen siapa ini, cukup melanjutkan kegiatan memasaknya sampai dengan selesai. Setelah selesai memasak dan semua sudah terhidang di meja panjang yang memisahkan antara ruangan tivi dengan dapur, Anwa berjalan ke arah Arkana yang sudah tertidur di sofa.


"Ar... bangun, udah kelar tuh, mau makan gak?"


Arkana hanya mengangguk tanpa membuka matanya.


Karena Arkana tak kunjung bangun dari tidurnya, Anwa memutuskan untuk keluar dari apartemen itu dan berjalan-jalan di taman yang ia lihat dari kaca jendela apartemen Arkana.


Sudah hampir satu jam dia berada di taman itu, berkeliling lalu duduk di sana sambil membaca buku novel yang ia ambil dari rak buku Arkana tadi. Memutuskan untuk masuk kembali ke dalam apartemen, sayangnya Anwa terlihat bingung dia harus menuju lantai berapa dan nomor unit apartemen Arkana yang lupa dia hafal, iya kalau itu apartemen Arkana kalau bukan, jadi apartemen itu milik siapa pun Anwa tak tahu.


Sebentar terdiam akhirnya dia memutuskan untuk mengunjungi semua lantai. Dari lantai dua lalu naik ke lantai paling atas, lalu turun lagi, seperti itu secara berulang menyusuri semua bentuk pintu yang sama. Ingin menangis rasanya tapi tak bisa, seperti anak yang kehilangan ibunya.


Kembali ke lobby apartemen bertanya pada security di sana, hanya mendapatkan jawaban unit berapa atas nama siapa. Saat Anwa katakan atas nama Arkana security pun menggelengkan kepala karena belum pernah mendengar nama itu.


Sial iya benar-benar sial, harusnya Anwa tadi diam saja di dalam sana, meski merasa bosan karena harus menunggu Arkana tertidur. Berdiri sambil bersandar di dinding lobby dekat pintu masuk, Anwa melihat ujung sepatu tepleknya, lalu membuat lingkaran dengan satu kakinya, begitu bergantian dengan kaki yang lain.


Hingga berdiri di depannya kaki yang bersih beralaskan sandal jepit mahal dengan bulu di sekitaran betis berwarna putih itu.


"Are you lost baby girl?" ujar lelaki itu tersenyum.


Wajah yang cemberut, dengan mata yang berkaca-kaca, tidak ada senyum, ingin sekali ia berlari kepelukan lelaki itu. Lelaki yang sedari tadi di tunggunya, kini datang malah dengan senyum tanpa dosa.


Arkana mengacak-acak rambut gadis itu, menangkup kedua pipi yang mengembung karena cemberut, dengan mata yang merah menahan tangis.


"Kesasar ya?" ujarnya lagi.


"Arkaaaaan, jahat banget sih," lalu menghambur kepelukan lelaki itu.


***mulaaaaai niiiihhh mulaaaii... udah senyum senyum beloooom


jejaaaaak tinggalin jejaaaak yaaah 😘***