Kiss Me

Kiss Me
Alya



"Gue jemput sore nanti ya, kabarin kalo udah kelar kerjaannya."


Bunyi pesan yang Arkana kirimkan untuk Anwa.


Saat ini Arkana sedang di sibukkan memeriksa laporan keuangan dan operasional restoran-restoran miliknya. Salah satunya yang berada di Lombok, pengurangan karyawan di cabang Lombok membuatnya semakin pusing. Seharusnya tidak ia lakukan, karena menurutnya memutuskan rejeki seseorang akan membuat perasaannya tak enak, tetapi demi operasional restoran itu tetap harus dilakukan.


Selain memberikan gaji terakhir untuk mantan karyawannya, Arkana juga memberikan uang kompensasi sebanyak gaji mereka satu bulan penuh. Pengurangan karyawan harus dilakukan mengingat turunnya jumlah wisatawan asing yang datang ke daerah tersebut dikarenakan issue virus yang sedang viral beberapa waktu belakangan ini.


Meeting dengan mode virtual dengan beberapa orang kepercayaannya di cabang yang ia lakukan pagi ini juga sempat membuat emosinya terpancing. Banyak sekali yang luput dari pengawasannya beberapa bulan terakhir.


Saat Ria masuk memberikan data keuangan berupa hard copy sedikit membuatnya mengangkat wajahnya.


"Yang kamu bawa laporan dari cabang kita yang mana?"


"Bali Pak," jawab Ria.


"Ada yang mengganjal setelah kamu periksa?"


"Sejauh ini normal Pak, cuma mungkin kita butuh tambahan satu chef lagi, karena menurut laporan chef Putu, restoran kita kewalahan dalam melayani menu-menu baru yang kemarin sempat kita promosikan."


"Coba kamu atur itu dengan chef Putu dan Pak Wira, apa sebaiknya kita menambah satu chef lagi itu tidak mengurangi pemasukan atau memberikan keuntungan yang signifikan."


"Baik, Pak." Ria beranjak dari duduknya, "saya permisi Pak," ujarnya lagi.


"Oh, Ria...."


"Iya, Pak?"


"Kalo semua pekerjaan kamu sudah selesai, usahakan kamu jangan lembur," ucap Arkana.


"Baik, Pak."


Selang beberapa menit setelah Ria keluar dari ruangannya, ketukan di pintu pun terdengar kembali.


"Masuk," ujar Arkana dari dalam ruangan.


Seorang wanita cantik, berkulit putih bersih, dengan rambut yang tergerai sebahu, menggunakan blazer berwarna putih, rok span sebatas lutut, dan high heels berwarna senada masuk ke dalam ruangan lelaki itu.


Berjalan dengan anggun, dan melemparkan senyum manis pada Arkana. Senyum yang hilang setelah hampir dua tahun tak pernah terlihat.


"Alya," ujar Arkana terkejut mendapati gadis yang pernah mengisi hatinya dalam kurun waktu yang sangat lama.


Berdiri dari kursi kerjanya, Arkana berjalan menuju Alya yang sudah mengulurkan tangan padanya.


"Kamu apa kabar?" ujar Alya ramah.


"Aku? baik... baik," menerima uluran tangan gadis itu.


Rasa yang canggung, iya canggung sekali. Alya adalah cinta pertama Arkana. Mereka berkenalan di sebuah perpustakaan saat masih berkuliah di Universitas Negeri di Jakarta. Kala itu mereka masih duduk di bangku kuliah semester empat.


Alya salah satu mahasiswa kedokteran, terkenal serius atau lebih tepatnya salah satu mahasiswi terpintar di kampus itu. Terkesan kaku, dan tidak banyak bicara, namun paras cantiknya menutupi semua itu. Putri dari seorang dokter bedah terkenal di Indonesia, sedangkan Arkana mahasiswa jurusan komunikasi.


Pertemuan di perpustakaan universitas itu membawa mereka pada suatu hubungan yang lebih intens. Tiga tahun berpacaran, Arkana tak pernah melihat sedikitpun cacat dari hubungan mereka.


Hingga pada satu waktu, Alya meneruskan pendidikannya di Oxford University. Merasa bahwa hubungan ini akan terasa sia-sia, Alya memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka. Dengan alasan Alya harus lebih fokus untuk mengambil gelar spesialisnya.


Dan sekarang gadis yang sempurna itu berdiri berhadapan dengannya, membawa berjuta kenangan, yang hampir saja tertutup rapat.


"Kapan balik ke Indo?" tanya Arkana, lalu mempersilahkan Alya untuk duduk di sofa.


"Satu minggu lalu," ujarnya memposisikan duduknya agar nyaman.


"Usaha kamu semakin berkembang Ar," ujarnya lagi.


Arkana masih memandangi gadis itu. "Mau pesan apa? pasti belum makan kan?"


"Tau aja, seperti biasa... masih ingat?"


"Gak pernah ganti... " Alya tertawa.


Ya Arkana masih mengingat semuanya, makanan, minuman, buku sampai warna baju yang Alya suka.


"Sebentar... aku bilang ke anak-anak dulu," lalu beranjak keluar dari ruangan, dan kembali lagi setelah ia memesan makanan untuk Alya.


Hari ini Arkana mengenakan kemeja slim fit berwarna hitam, celana chinos dengan warna senada.


"Kamu tambah keren Ar," ujar Alya mengamati lelaki yang dulu sangat dia cintai.


"Kamu juga, semakin matang." Arkana duduk bersebelahan dengan Alya.


"Kapan rencana kembali ke UK? atau jangan-jangan sudah selesai?" tanyanya lagi.


"Bulan depan kembali ke UK, tinggal enam bulan lagi menyelesaikan semuanya, aku pulang karena ada tawaran pekerjaan di sini, mereka bersedia menunggu sampai aku selesai."


"Keren... selalu bisa membanggakan, gak ada niatan buka praktek sendiri?"


"Ada sih tapi nanti lah, cari pengalaman dulu, ini juga Rumah Sakit besar, jadi aku harus belajar lagi."


Ketukan di pintu pun membuat mereka menjeda obrolan. Makanan yang datang mereka nikmati bersama, obrolan-obrolan yang kadang membuat mereka tertawa dan sesekali mengingat masa lalu.


Waktu menunjukkan pukul setengah tujuh malam saat Arkana memutuskan untuk mengantar Alya pulang.


Berhenti di sebuah rumah yang dulu sering ia datangi.


"Salam buat Ayah sama Mama ya, sorry gak bisa nganter sampe ke dalem."


"Gak papa, ati-ati ya Ar, next time kita harus ketemu lagi sebelum aku balik ke UK."


"I will," jawabnya lalu memperhatikan gadis itu turun dan melambaikan tangan.


Sepanjang jalan Arkana berpikir, siapa sangka akan bertemu lagi dengan cinta pertama yang sudah susah payah ia lupakan. Perpisahan secara sepihak yang sudah membuat hatinya sakit, kini datang lagi seolah membuka perlahan hati yang sudah terkunci untuk wanita itu.


Arkana meraih ponselnya yang sedari tadi mati total dan sedang mengisi daya pada car charger. Dia hidupkan kembali ponselnya, ada beberapa pesan masuk, mobil berhenti di sebuah lampu merah saat Arkana membuka pesan dari Anwa.


"Aku udah kelar, aku tunggu di depan kantor aja jangan di pelataran lobby ya."


Pesan yang terkirim saat pukul setengah enam sore tadi.


"Astagaaaa," gumamnya


Bagaimana dia bisa lupa dengan janji yang dia buat sendiri, di pikirannya berkecamuk berapa lama Anwa menunggunya di sana, marahkah Anwa padanya, bagaimana akan dia jelaskan ini semua pada gadis itu, dia mengacak rambutnya frustasi.


Lampu berubah menjadi hijau, tak menunggu lama, Arkana memacu laju mobilnya menuju kost Anwa.


Ketukan tiga kali di pintu kamar itu akhirnya terbuka.


"Anwa... " ujar Arkana, "boleh gue masuk?"


"Sudah hampir malam Ar," Anwa melihat jam di dinding kamar.


"Kalo gitu kita keluar sebentar," ajak Arkana.


"Besok aja, aku capek."


"Wa,"


"Besok aja Ar," ujarnya lagi dari balik pintu yang menutup setengah tubuhnya.


"Please... sebentar aja," tangannya menahan pintu yang akan tertutup itu.


***aku berharap kalian gak bingung yaaaah... karena aku gak pake flashback flashback an 😂


jejaaaaak darling 😘 tq***