
Jumat sore Arkana sudah menunggu Anwa di depan kantor gadis itu. Tak menunggu waktu lama, Anwa sudah mengetuk kaca mobil Arkana, lalu membuka pintunya.
"Sudah lama ya?"
"Baru kok."
"Serius ini mau ke Bandung?"
"Iya lah, balik ke kost kamu terus siap-siap."
Banyak cara yang dilakukan oleh Arkana untuk membuat Anwa merasakan kembali hidupnya setelah di tinggal sang kekasih. Menghilangkan trauma masa lalu seseorang sangat sulit sekali, dan sudah terbukti dengan cara yang Arkana lakukan. Sedikit demi sedikit walaupun dia sendiri tidak pernah tahu apakah nantinya hati itu juga akan terbuka untuk dirinya.
"Udah siap? udah di bawa semua? gak ada yang ketinggalan kan?" tanyanya pada Anwa saat persiapan Anwa akan dibawa ke mobil.
"Udah... gak ada yang ketinggalan."
Dari kost Anwa mereka menuju kafe Arkana untuk menjemput Ria.
"Kok kesini Ar?"
"Jemput Ria dulu ya."
"Ria?"
"Iya, staf keuangan gue yang ngurus semua keluar masuk keuangan di kafe-kafe yang gue diriin."
Anwa mengangguk angguk.
Perjalanan Jakarta ke Bandung memakan waktu hampir tiga jam. Arkana sudah memesan dua kamar di hotel di dekat kafe miliknya.
"Ria... ini access card kamar kalian ya," ujar Arkana memberikannya pada Ria.
"Kamar gue di sebelah kamar kalian," bisik Arkana pada Anwa, gadis itu hanya menaikkan alisnya, dan Arkana tersenyum, "lo mikir aneh pastikan," Arkana tertawa, "maksud gue kalo lo perlu temen ngobrol dan belom bisa tidur bisa ke kamar gue ntar gue temenin begadang sampe pagi," jelasnya karena Arkana tahu sekali jika Anwa kadang menderita insomnia semenjak kekasihnya meninggal atau sering terbangun tengah malam lalu tak tidur sampai menjelang pagi.
"Ria, mau mandi duluan apa aku duluan?" tanya Anwa pada Ria yang sedang membereskan kopernya.
"Anwa duluan aja gak papa," ujar Ria.
Gadis yang baik menurut Anwa, juga manis, tubuh semampai bak seorang model, kulit yang eksotis asli sekali kulit wanita Indonesia. Dari yang Anwa lihat, sepertinya Ria menyukai Arkana, dari tatapan mata hingga cara dia berbicara yang terkesan tertata rapih. Namun entah mengapa Arkana sepertinya berusaha bersikap sewajarnya layaknya atasan dan bawahan.
Selesai membersihkan dirinya, Anwa merebahkan tubuhnya di satu tempat tidur khusus untuk dirinya dan satu tempat tidur lagi untuk Ria. Meraih ponsel di atas nakas kemudian mengusap layar ponselnya, terdapat beberapa pesan masuk salah satunya dari Arkana.
"Udah tidur ya?"
"Apa lagi ngobrol sama Ria?"
"Lo gak mau apa nemenin nonton film serem nih di kamar gue."
"Wa...."
"Tidur ya?"
Dan beberapa pesan lagi dari Arkana, Anwa tersenyum membacanya. Lalu berkata pada Ria untuk tidur terlebih dahulu karena ada sesuatu hal yang akan dia urus. Meninggalkan Ria yang baru saja selesai mandi, Anwa keluar dari kamarnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ketukan di pintu kamar Arkana sempat membuatnya terkejut, karena memang sedang tidak menunggu seseorang atau memesan sesuatu. Kalau pun ia menunggu Anwa, pasti Anwa akan membalas pesan yang tadi dia kirimkan.
Ketukan pintu itu kembali terdengar, Arkana berjalan menuju pintu untuk membukanya. Saat pintu terbuka, gadis dengan piyama pink bermotif Hello Kitty itu pun tersenyum.
"Hai," ujar Anwa, "masih butuh temen buat nonton film horor?"
Arkana terkekeh, lalu menarik tangan gadis itu untuk masuk ke dalam.
"Filmnya udah abis, ada nya yang genre romantis," ujarnya lagi.
Anwa sudah duduk di pinggir tempat tidur dan terasa canggung.
"Ar...."
Arkana menoleh. " Apa," ujarnya sambil meletakkan arloji di nakas.
"Gak papa," ujar Anwa lalu tersenyum.
"Sukanya bikin orang penasaran... kenapa?"
"Gak papa... eh buka pintu balkonnya ya?" Anwa berjalan ke arah pintu kaca yang mengarah ke balkon.
"Dingin Wa," kata Arkana.
Anwa menoleh ke belakang. "Pemandangannya langsung ke kolam renang ya Ar."
"Mau berenang?"
"Malem gini? ogah ah... ntar aku masuk angin, mau tanggung jawab."
Cubitan mendarat di perut Arkana, "sakit Wa."
"Habis kalo ngomong gak di filter."
"Loh bener dong gue, itu tandanya gue itu cowok bertanggungjawab Wa," katanya lagi.
"Ar...."
"Apa sih Wa? dari tadi Ar Ar Ar terus...."
Anwa tertawa melihat wajah Arkana yang sudah cemberut.
"Besok itu kamu sampe jam berapa?"
"Siang juga udah kelar... lo ikut kan ke kafe?"
"Gak deh ya, aku di sini aja, kalo aku ikut nanti malah ganggu kamu."
"Gak bosen nunggu sendirian di sini?"
"Gak kayaknya kalo aku udah liat ada kolam renang di sini," ujarnha tersenyum senang.
"Mau berenang? di situ? di liat orang banyak Wa, itu bukan private pool, gak deh jangan."
"Loh, kenapa? kan kolam renang buat berenang bebas juga buat siapa aja," Anwa bingung.
"Maksud gue lo berenang di situ pake baju renang, di liat orang banyak Wa, gak ah gak mau gue, mana gue gak ada di situ pula."
"Terus kalo kamu ada di situ, aku boleh berenang?"
"Gak boleh juga...."
"Ya sama aja dong."
"Ini kenapa perkara berenang gak berenang jadi panjang sih," Arkana membalikkan tubuhnya menghadap Anwa, lalu mengangkat semua rambut Anwa, "mana iketannya?" tanyanya meminta ikat rambut yang biasa Anwa pakai.
"Nih," Anwa merogoh kantung piyamanya lalu menyerahkan ikat rambutnya pada Arkana.
"Nah, kan kalo gini enak liatnya, kalo di tiup angin rambut lo menghalangi pandangan," ujarnya menepuk nepuk kepala Anwa.
"Pandangan siapa?"
"Pandangan gue lah."
Dan pandangan mata mereka pun saling mengunci. Arkana melangkah mendekati dirinya pada Anwa, tangannya sudah berada pada pinggang Anwa, menarik gadis itu lebih merapat padanya dan sedikit meremas pinggang itu sedangkan Anwa masih merasa canggung, kedua tangannya menahan dada lelaki itu.
Semakin lama semakin Arkana mendekatkan bibirnya untuk berlabuh di bibir berwarna merah milik Anwa, memiringkan sedikit wajahnya agar dapat merengkuh bibir merah itu.
"Ar... aku gak bisa, maaf," Anwa menunduk.
Arkana seakan sadar dengan apa yang ia lakukan bahwa memang tidak sepantasnya secepat itu dia melakukan hal bodoh seperti ini.
"Sorry Wa, gue...."
"Gak papa, aku balik ke kamar ya, gak enak sama Ria, ntar nungguin," ujarnya melepaskan genggaman tangan Arkana. Wajah yang merona merah itu sebaik mungkin dia sembunyikan. Sedangkan Arkana menyugar rambutnya frustasi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi itu Anwa bangun sangat telat, sadar-sadar ia tidak menemukan Ria di kamar itu. Hanya ada sepiring nasi goreng dan sandwich serta segelas susu yang sudah tersedia.
Hingga siang berlalu, pesan masuk dari Arkana yang menyuruhnya untuk bersiap dan menunggunya di lobby pukul dua siang nanti.
Sekitar pukul dua, Anwa sudah berada di lobby, gadis itu hanya mengenakan kaos slim fit berwarna putih dan celana jeans serta sepatu Converse dan tas punggung kulit berwarna hitam. Tak berapa lama, Arkana datang tanpa bersama Ria.
"Ria dimana?"
"Masih di kafe, harus nyelesaiin laporan keuangan."
"Loh, kok kamu udah ada di sini?"
"Mau ajak lo, jalan-jalan, ayo," menggenggam tangan Anwa lalu berjalan menuju mobil yang terparkir di sana.
"Emang kita mau kemana?"
"Ke hatimu," jawab Arkana mengerlingkan mata pada Anwa.
"Kumat...." jawab Anwa diiringi tawa Arkana.
***mulai gitu deeeh....
jejaaaaak oohhh jejaaaaak dimanakah kamu😂***