Kiss Me

Kiss Me
Selamat Ulangtahun, Ar.



"Di Jogja acara apa?" ujar Anwa yang menciumi harum tubuh Arkana.


"Pertunangan," ujar Arkana membelai lembut rambut kekasihnya.


Anwa beringsut duduk, menatap lelaki itu yang sudah memejamkan matanya.


"Ar," Anwa menggoyangkan tubuh itu, "tunangan siapa? kamu?" tanyanya lagi.


"Bukan lah, masa aku... yang di depan aku ini calon ibu anak-anak aku, masa aku tunangan sama orang lain." Arkana masih menutup matanya.


"Ar, aku serius," Anwa mulai kesal. "Bangun dulu!"


"Bukan aku, Wa," ulangnya lagi. "Yang mau tunangan itu Kala, kebetulan pacarnya dokter koas di Jogja, dan asli Jogja. Jadi, karena si pacarnya itu masih mau ambil spesialis, makanya sama Kala diajakin tunangan dulu."


Anwa menghela nafas lega, kemeja yang tadi belum terkancing pun menarik perhatian Arkana untuk ikut duduk berhadapan dengan gadis itu.


"Lanjutin yang tadi ya," ujarnya nakal yang sudah menurunkan kemeja itu sampai ke lengan Anwa.


Anwa menegang kala ciuman itu bertubi-tubi menyusuri leher dan dadanya. Arkana membawa Anwa berbaring di bawah kungkungannya, menciumi gadis itu mulai dari kening sampai ke bibirnya, bermain lidah di dalam sana, saling menuntut, saling meremas dan akhirnya terhenti saat bagian tubuh bawah Arkana menegang menuntut yang lebih dari sekedar meremas, meraba dan menempelkan.


"Ar," ujar Anwa yang melihat ke bawah tubuh Arkana, lalu menggeleng.


Arkana lagi-lagi harus menuruti kemauan kekasihnya agar menjaga sesuatu yang akan terenggut hingga saatnya tiba atau hingga dia benar-benar siap.


"Tidur ya, aku ke kamar mandi dulu sebentar," ujarnya mengecup bibir Anwa sekilas.


Degup jantung yang masih bertalu-talu begitu kencang Anwa rasakan. Perasaan takut tapi ingin pada saat seperti ini bedanya sangatlah tipis. Anwa kembali membalut dirinya dengan selimut, membiarkan Arkana di dalam sana sedangkan dia kembali memejamkan mata.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Acara pertunangan sepupu Arkana yaitu Kala berjalan dengan sangat lancar. Sepupunya itu akhirnya memberanikan diri melamar gadis yang hampir empat tahun berpacaran dengannya.


"Siapa lagi setelah Kala nih?" ujar Tante Arumi adik dari Didi Langit.


"Nunggu yang lebih tua dulu lah," ucap Zurra melirik Arkana yang sedari tadi acuh tak acuh dengan obrolan keluarganya.


"Yang kemarin dibawa ke rumah kan?" Om Abi pun menimpali.


"Anaknya kayaknya sopan ya Ar, lembut kalo Tante liat sih, gak banyak neko-neko," ujar Tante Arumi lagi.


"Itu yang penting, cari istri itu kudu yang gak banyak neko-neko, jangan yang dandannya lama, cuma ngabisin waktu buat alis doang," sindir Om Abi.


"Eh, aku gak loh ya, ini alis udah dari sana nya begini, gak di apa-apa in udah bagus," Tante Arumi yang merasa tersindir pun mulai cemberut.


"Haha, istri aku ini emang gak pake-pake alis, tapi nunggu gonta ganti baju kalo mau pergi itu yang lama," Om Abi merangkul pundak istrinya.


"Terus gimana Ar, sejauh ini?" Tante Arumi belum puas dengan interviewnya.


"Lagi menunggu restu Tante," jawab Arkana tersenyum.


"Loh, masih nunggu?" Arumi tak percaya lalu Jingga dengan sengaja mencubit lengannya.


Arkana pun kembali tersenyum. "Didoain aja ya Tan, semoga luluh," ujarnya tanpa suara sambil melirik sang Mama yang pura-pura tak mendengar.


Hari ini hari ketujuh mereka berada di Jogja, semua keluarga menikmati liburan keluarga besar yang sudah sangat jarang mereka lakukan.


"Hallo, lagi apa?" video call untuk kesekian kalinya yang dilakukan Arkana setiap hari dari hari pertama Arkana berada di Jogja sampai hari ke tujuh ini.


"Lagi kirim email ke Pak Fajar," ujar Anwa lalu membenarkan letak kacamatanya.


"Aku aja yang sampein, kan papa lagi sama aku," kekeh Arkana.


"Kamu lagi dimana?"


"Nemenin mama di Malioboro, nyari biasalah... batik," mengarahkan ponselnya ke arah Mama Cha Cha, yang sedang sibuk bertanya pada pelayan toko.


"Berdua aja?"


"Sama Mima, Zurra, Annaya, tapi aku gak tau mereka udah ada dimana."


"Kayaknya aku ke Bali dulu deh Wa, ada urusan di sana." Anwa mengerucutkan bibirnya, "kangen ya?" Anwa yang di tanya pun hanya mengangguk. "Paling dua hari di Bali, sabar ya," ujarnya mengedip-ngedipkan mata.


"Kerjaan aku udah selesai, aku beres-beres dulu ya, kamu hati-hati di sana," ujar Anwa.


"Ya udah, kamu juga hati-hati di sana."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Udah dimana?" tanya Anwa di seberang sana.


"Di bandara, on the way kafe, kamu langsung ke apartemen aja ya, aku capek banget."


"Ok, sebentar lagi aku selesai nanti langsung ke apartemen."


Anwa berhenti di sebuah toko kue, memilih-milih kue yang akan dia berikan pada Arkana setibanya Arkana di kafe nanti. Anwa sudah mengatakan pada Dion, jika Arkana sampai lebih dulu usahakan dia berada di dalam ruangannya, namun jika Anwa yang datang lebih dulu maka surprise untuk lelaki itu tetap di laksanakan.


Dan ternyata, Anwa lah yang tiba lebih dulu di kafe milik kekasihnya itu. Gadis itu memakai kemeja berwarna hitam dan celana bahan berwarna senada sibuk menyiapkan sudut di sisi meja bar yang agak tak terlihat. Diyakininya semua sudah siap, dia duduk menunggu kekasihnya.


Arkana dengan wajah yang terlihat lelah memasuki kafe dengan senyum yang terpaksa. Dia menggeret travel bag nya dengan sangat malas. Anwa menyambutnya dengan senyum khas gadis itu, meraih tangan Arkana untuk mengikutinya. Dion yang sedari tadi hanya memperhatikan pasangan itu pun tersenyum senyum beserta pelayan yang lain.


Tiba-tiba lampu kafe di buat sedikit redup, alunan suara Ellie Goulding menggema di seisi ruangan.


----


You're the light, you're the night


You're the color of my blood


You're the cure, you're the pain


You're the only thing I wanna touch


Never knew that it could mean so much, so much


-----


So love me like you do, lo-lo-love me like you do


Love me like you do, lo-lo-love me like you do


Touch me like you do, to-to-touch me like you do


What are you waiting for?


Anwa tersenyum saat lilin itu dinyalakan oleh salah satu pelayan, lalu memberikan kue ulang tahun yang berhias lilin kepada Anwa.


"Selamat ulangtahun, Ar."


"Astaga, Wa," Arkana mengusak rambut kekasihnya, lalu memeluk dengan satu tangannya dan mencium pucuk kepala Anwa.


"Aku aja lupa kalo hari ini," ujarnya kembali menciumi pucuk kepala gadis itu. "Makasih ya."


Anwa bahagia melihat wajah lelah itu kembali tersenyum.


"Make a wish," ujar Anwa menyodorkan kue ber lilin itu pada Arkana.


Arkana diam sejenak, menutup matanya, memanjatkan doa untuknya, untuk cintanya, selamanya.


"*I love you Wa."


"I love you too, Ar."


"So, kiss me please*," bisik Arkana membuat wajah cantik itu merona.


***hari Senin jangan lupa vote... eh tapi vote ke LangitJingga ya😘


enjoy reading 😘***