
Sudah dua minggu, bayi kecil itu meramaikan kediaman keluarga Arkana. Arkana dan Anwa sudah kembali ke kamar mereka di lantai dua, sementara orang tua Anwa sementara masih berada di Jakarta dan tinggal bersama di kediaman keluarga Arkana.
Rumah itu benar-benar ramai, setiap pagi yang dilakukan oleh kedua nenek bergantian memandikan Kawa atau menjemur Kawa beberapa menit sebelum mandi.
"Kawa sama Nyaima dulu ya, Oma mau mandi nanti kita berjemur di taman belakang," ujar Mama Cha Cha memberikan Kawa pada besannya.
"Kawa baru bangun? aduh halum banget ciih ... Nyaima suka banget halumnya Kawa bangun bobok." Bunda duduk di sebelah suaminya yang sedang menikmati kopi pagi itu.
"Coba Bun, aku juga pengen gendong," ujar Ayah Syahril menerima Kawa di tangannya.
"Ayah jangan kaku gitu tangannya, lemes aja ... kayak baru bisa gendong bayi aja."
"Kan emang udah lama gak gendong bayi ... iya ya Kawa, Yai baru ini gendong bayi lagi ... Kawa gendut banget sih, pipi nya embil," ujar sang kakek.
Bayi kecil itu seolah-olah mengerti ucapan kakek dan neneknya, padahal dengan umur baru dua minggu seorang bayi hanya melihat cahaya yang berada di hadapannya.
Anwa melihat interaksi antara Kawa dan kedua orangtuanya tersenyum penuh haru. Ia menuruni anak tangga melangkah menuju kedua orangtuanya dan Kawa.
"Hei ... Kawa sama siapa itu?" Anwa mencolek pipi gembul anaknya.
"Sama Yai sama Nyaima, aduh Nyaima bakal kangen banget sama Kawa nih ... besok kita udah mau pulang," ujar Bunda dengan raut wajah yang sedih.
"Sering-sering kesini Bun, Anwa pasti seneng banget kalo Bunda sama Ayah sering-sering datang mengunjungi kami," ujar Anwa merangkul sang Bunda.
"Bunda lagi banyak-banyaknya catering Wa, kayaknya harus di bikin jadwal kalo kesini."
"Iya, minimal dua bulan sekali kunjungi Anwa di sini Bun," ucap Anwa mencium pipi Bunda.
"Nah ... Oma udah kelar nih, ayo Nyaima kita berjemur dulu di taman belakang, abis itu baru deh mandi, biar harum," kata Mama Cha Cha.
"Kalo udah sama Nyaima sama Oma, Bunda di tinggalin deh," ujar Anwa cemberut.
"Anwa urus bayi besar aja dulu, bayi kecil serahin ke Mama sama Bunda," ujar Mama Cha Cha berlalu meninggalkan Anwa.
"Ayah, Anwa ke atas dulu ya, mau bangunin bayi besar," Anwa terkekeh disertai anggukan sang ayah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ar, bangun Sayang ... kamu gak ke Bekasi? katanya ada meeting sama WO?" Anwa menciumi wajah Arkana.
"Nanti jam sepuluh ... aku ngantuk banget, anak kamu tiap malem ngerjain aku Wa, nangis gak tapi cuma celingak-celinguk ... mau aku tinggal tidur tapi kasian sendirian," ujar Arkana memeluk Anwa.
"Sebelum magrib pulang kan? acara syukuran Kawa setelah magrib loh ... kamu udah hubungi Ustadz nya kan kemarin?"
"Hhmm." Arkana mengeratkan pelukannya.
"Ayo dong Ar, bangun ... siap-siap terus sarapan," ujar Anwa mendorong tubuh suaminya, "siang nanti rumah ini bakal sibuk loh, pulang jangan sampe lebih dari jam empat, ya!" tegas Anwa.
"Hhmm."
"Ham hem ham hem aja, ayo buruan bangun kalo gak ntar malem gak aku---"
"Iya, aku bangun," jawab Arkana cepat lalu duduk di sisi tempat tidur. "Tapi ntar malem ya ... awas kalo gak," ujarnya berjalan menuju kamar mandi.
"Ish, giliran itu aja cepet," gumam Anwa.
Acara malam itu sangat khusyuk, bayi mungil yang menggemaskan itu pun jauh dari kata rewel. Kawa tidak banyak melakukan pergerakan di pelukan ibunya. Berkali-kali Arkana menciumi anaknya, berkali kali pula ia mendapat penolakan kala ingin mencium istrinya walau hanya di pipi saja.
"Kamu beneran kayak bayi besar ... astaga, malu di liat orang Ar," ujar Anwa gemas.
"Aku kesana dulu deh, kamu gak mau di cium soalnya." Arkana meninggalkan Anwa untuk bergabung dengan para sepupunya sedangkan Anwa asyik berbincang dengan para ibu-ibu pengajian.
"Jadi gimana Bang, puasa lo ... masih berlanjut?" tanya Kala.
"Masih lah ... masih 28 hari lagi, gila gak lo ... gue ngitungin loh," Arkana dan Kala tergelak.
"Lagi lo rajin banget ngitunginnya malah berasa lah," sahut Kala.
"Gak berasa juga sih sebenarnya, kan masih ada cara lain Kal," ujarnya tersenyum penuh kemenangan.
Kala memandang curiga, "jangan ... jangan ... lo? ish, gila lo Bang ... berbagai macam cara lo lakuin kayaknya ya," lagi-lagi Kala tertawa.
Kala tak henti-hentinya tertawa. "Lo bakal melakukan hal yang sama dengan istri lo nanti Kal, percaya deh kata-kata gue, daripada aneh-aneh di luar."
"Iya juga sih ... tapi gue juga gak kepikiran bakal aneh-aneh di luar Bang."
"Ya jangan mikir yang aneh-aneh makanya ... jadi lo kapan nikah?"
"Gak tau ...," jawab Kala lesu.
"Lah, kenapa?"
"Dia masih asyik sama kariernya Bang, ya mau gak mau gue harus nunggu lagi sampe dia dapet rumah sakit yang mau memperkerjakan dia sesuai standarnya."
"Hhmm, untung gue gak jadi sama dokter," ujar Arkana tanpa sadar jika istrinya berada di belakangnya.
"Siapa yang gak jadi sama dokter?"
"Eh, itu ... ini ... Kala, belom nikah-nikah karena calonnya masih mau kerja di rumah sakit yang standardnya baik, gitu ... iya kan Kal?" Arkana serba salah.
"Terus ... inget sama mantan yang dokter?" tanya Anwa sok cemburu.
"Gak lah ... ngapain, yang ini udah lebih dari segalanya," kata Arkana merangkul pinggang istrinya.
"Gendong anaknya tuh, pegel aku dari tadi," rengek Anwa.
"Dimana sekarang Kawa nya?"
"Sama Opa nya, diajakin ngobrol tentang bisnis kayaknya," kekeh Anwa, Arkana pun berlalu melangkah menuju bayi kecil yang benar-benar anteng sama siapa saja.
"Tadi ngobrolin apa Kal?" selidik Anwa pada Kala.
"Gak ada ... cuma ngobrolin buka puasa doang," jawab Kala senyum-senyum.
"Siapa yang puasa?"
"Abang lah," kekeh Kala lalu menyusul Arkana ke perkumpulan bapak-bapak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Udah tidur Kawa?" tanya Arkana saat membuka pintu kamar mereka, dan melihat istrinya sudah menarik selimut untuk bersiap tidur.
"Udah ... baru selesai mimik," jawab Anwa membelai pipi montok bayi itu yang memang masih tidur satu tempat bersama orangtuanya.
"Lucu banget sih anak gantengnya Ayah." Arkana menciumi pipi gembul itu bertubi-tubi.
"Kalo bangun kamu yang susui ya," ujar Anwa yang kesal kalo Arkana sudah menciumi anaknya pasti sampai bangun lagi.
Arkana tersenyum, "ya udah aku ciumin Bunda nya aja kalo gitu ... mau gak?"
"Tadi ngobrol apa sama Kala tentang buka puasa?"
"Oh, buka puasa itu ... kan bentar lagi puasa emang," jawab Arkana serba salah.
"Ish," Anwa kesal.
"Buka puasa caranya aku tuh beda ... aku bilang gitu sama Kala, nanti juga dia tau kalo udah nikah," jelas Arkana. "Sekarang kita buka puasa lagi yuk," ujarnya yang sudah menempelkan tubuhnya di belakang tubuh Anwa.
Anwa mulai merasakan sesuatu yang menegang di bawah sana.
"Ayo Wa ... ntar keburu Kawa bangun ... kayak alarm imsak," ujarnya membuat Anwa terkekeh dan menciumi wajah lelaki itu bertubi-tubi.
gemeeesshhh aku...
udah pada buka puasa kan????
enjoy reading 😘 jangan lupa ramaikan Give Away yaaaah hari ini pop Kiss Me udah 1 M loohh dalam waktu belum mencapai 2bulan tepat di part 82... terharu aku 😊👏👏
terimakasih semua buat temen-temen yang masih setia dengan alur cerita ini 😘😘