Kiss Me

Kiss Me
Friends?



"Ikut gue," ujar Arkana mengambil kunci mobil yang ada di atas kasur.


"Kemana?"


"Temenin gue ke suatu tempat, gue yakin lo suka,"


"Aku ganti baju dulu,"


"Udah gitu aja, gak ada yang mau liat ini," Arkana sudah menunggunya di depan pintu


Anwa yang hanya memakai kaos oblong dan kulot 7/8 serta sandal jepit havaianas hadiah terakhir yang dia terima dari Dika, menjadi ootd nya sore ini.


Mobil melaju membelah keramaian ibukota Jakarta, hanya sekitar dua puluh menit dari tempat kost Anwa. Arkana menepikan mobilnya di sebuah kafe yang biasa di datangi oleh Anwa.


"Ayo, biasanya hari Minggu ada live music nya disini,"


"Kamu--"


"Buruan," Arkana keluar dari mobilnya, dan masih menunggu Anwa di depan mobilnya.


Memasuki kafe itu, Dion sang barista sekaligus kasir di sana, terheran melihat pemilik kafe nya datang dengan gadis bermata sembab yang akhir-akhir ini menjadi pelanggan setia mereka.


Ada Ria di sana yang memperhatikan mereka saat mereka masuk dari pintu itu. Sorot matanya yang juga penuh tanda tanya seolah bertanya siapa gadis yang berada di sisi Bos nya kali ini. Alis mata Arkana yang terangkat saat melihat Dion yang seolah meminta jawaban.


Arkana berjalan santai, seakan dia adalah pengunjung biasa sama dengan yang lainnya. Duduk di meja paling pojok di samping jendela menghadap taman, sambil mendengarkan alunan suara Maroon five feat Cardi B.


"Minum apa?" tanya Arkana melihat gadis itu memandang ke arah luar jendela masih di temani rintik hujan, "minum apa Wa?" tanyanya sekali lagi.


"Eh, coffee latte?"


Arkana menjetikkan jarinya memberi tanda agar pelayan mendekat, tetapi dengan sengajanya yang mendekat adalah Dion.


"Pesan apa Pak?" seakan mengikuti drama yang Arkana perankan.


"Coffee latte dua," jawab


"Makannya?"


"Ada pecel lele?"


Dion membulatkan matanya, "sorry, gue cuma becanda," ujarnya, "yang ringan aja, kentang goreng sama roti gembong ada?"


"Ada Pak, rasa?"


"Lo suka rasa apa?"


Anwa yang sedari tadi hanya membuka menutup buku menu di depannya mengangkat wajahnya,


"Terserah,"


"Oke... rasa terserah ada?"


"Ada Pak, terserah pada rasa yang ada," ujar Dion.


Anwa pun sedikit menyunggingkan senyuman.


"Ya udah itu aja, terserah pada rasa yang ada," ujar Arkana, "gak pake lama ya,"


Arkana kembali memandang wajah gadis di depannya, bahkan saat seperti ini saja wajah sedihnya masih terlihat gumam Arkana dalam hati.


"Pernah kesini?" tanyanya pada Anwa.


"Iya,"


"Suka tempatnya?"


"Suka, nyaman,"


"Buat ngelamun?"


Anwa kembali tersenyum, dia merasa lelaki di hadapannya ini terlalu banyak tahu tentang dia.


"Gue mo menawarkan sesuatu sama lo?"


"Apa?"


"Tapi janji ya, lo bakal terima,"


Arkana tersenyum, serius dia begitu ingin sekali mengenal gadis ini, terkadang ceplas-ceplos, terkadang dingin, terkadang terlihat hatinya begitu terluka, terkadang membuatnya ingin sekali menariknya ke dalam pelukannya.


"What about if we just a friends? not more,"


"Gimana maksudnya?"


"Gimana kalo kita berteman,"


"Bukannya kita memang dalam hubungan pertemanan?" ujar Anwa.


"Teman sesungguhnya," ucap Arkana lagi, "teman di saat lo sedih, temen di saat lo membutuhkan sesuatu, teman yang selalu ada buat lo di saat lo ngerasa sendiri, gimana?"


Anwa terdiam,


"Gue tulus berteman, sorry kalo gue lancang, gue cuma pengen lo gak ngerasa sendiri aja, kayak sekarang... gue di depan lo tapi lo kayak gak nganggep gue ada di sini,"


Anwa terdiam, diamatinya wajah lelaki yang beberapa hari belakangan ini selalu muncul tiba-tiba.


Menjulurkan jari kelingkingnya, Anwa pun tersenyum.


"Kita temenan sekarang," ujarnya


Jari kelingking itu di sambut oleh Arkana. Sayup-sayup terdengar alunan suara para pemain band melantunkan lagu Sam Smith secara akustik I'm not the only one.


Seperti sama dengan yang Arkana rasa saat ini, dia tidak akan secepat itu mengambil langkah untuk menggantikan posisi lelaki yang sudah tiada. Setidaknya menjadi teman terlebih dahulu adalah tahap permulaan yang baik. Lebih mengenal Anwa seperti layaknya seorang teman, menghilangkan rasa sakit hatinya perlahan. Jujur saja ada perasaan tertarik Arkana pada gadis itu saat pertama kali melihatnya secara dekat, yang menurutnya lucu, yang menurutnya menyimpan beban yang berat.


"Kamu juga sering kesini?" tanya Anwa sesaat setelah pesanan mereka datang.


"Iya, tapi jika di butuhkan aja,"


"Maksudnya?"


"Kafe ini salah satu usaha aku,"


"Oh," pantas saja seperti pernah melihat Arkana sebelum pertemuan mereka di ruangan Pak Fajar beberapa minggu lalu.


"Kenapa?"


Anwa menggelengkan kepalanya.


"Kayak pernah liat ya sebelumnya?" seakan tahu apa yang Anwa pikirkan,


"Iya, seperti sebelumnya pernah liat kamu tapi aku lupa, berarti ini bukan hanya kebetulan kan?"


"Kebetulan dong tepatnya... aku pernah liat kamu di sini, beberapa hari kemudian liat kamu lagi di kantor papa, terus liat kamu lagi ujan-ujanan, apa itu bukan kebetulan? oh mungkin juga jodoh," ujarnya santai.


Anwa mengaduk-aduk coffee latte nya seakan tak menggubris perkataan Arkana tentang jodoh, namun di hatinya seakan mengatakan apa aku masih percaya jodoh jika suatu saat orang-orang yang aku sayangi pergi begitu saja nantinya, bahkan lebih parahnya lagi mereka pergi dan tak kembali.


"Sukaannya ngelamun sih," ujar Arkana mengagetkan.


"Eh iya, sorry... bilang apa tadi?"


"Gak ada, anggep lewat aja," Arkana sedikit kesal.


"Orang kalo suka ngambek, jodohnya jauh loh," Anwa berusaha mencairkan suasana.


"Eh bisa becanda ternyata ya," Arkana pun tertawa, "gue kira lo datar-datar aja kayak kulkas 2 pintu, flat,"


"Apaan sih,"


Menikmati akhir pekan setelah enam bulan selalu sendiri, kali ini Anwa kembali merasakan hidup yang berwarna walaupun sedikit. Alunan musik yang sesekali dia dendangkan tak luput dari perhatian Arkana, terbesit sedikit senyum di wajahnya kala ia memperhatikan gadis itu tersenyum. Bagaimana bisa gadis yang sepertinya pembawaannya ceria begitu terluka akan suatu rasa kehilangan.


"Sudah jam sepuluh, balik yuk," Arkana bangkit dari duduknya.


Para pemain musik sudah bersiap untuk mengakhiri pertunjukan mereka, begitu juga beberapa pelayan sudah bersiap untuk membereskan tempat itu, pengunjung satu per satu meninggalkan kafe.


Anwa mengangguk dan ikut beranjak dari tempat duduknya, mengikuti Arkana yang berjalan di depannya.


"Gue balik Yon... jangan lupa lo cek semuanya, bilang yang jaga di depan jangan tidur aja, ya kali gue bayar dia buat pindah tempat tidur doang ke sini," Arkana sedikit kesal saat mendapatkan laporan bahwa penjaga kafe yang baru tiga minggu bekerja padanya hanya tidur saja saat sedang bertugas.


"Siap Bos," ujar Dion sambil melipat lipat lap meja yang ada di tangannya, "bos juga ati-ati ya, dianter sampe rumah, biar aman dunia," Dion mengerlingkan matanya memberi isyarat pada Arkana.


"Ya iyalah gue anter ke rumah masa ke KUA," Arkana menarik lengan Anwa untuk segera berlalu dari percakapan kurang ajar bawahannya yang semakin gak punya akhlak itu.


jangan lupa jejak kalian sekecil apapun itu yaaah biar aku tau kalian masih setia 😘