
Anwa mengangkat tubuhnya, menatap netra Arkana yang juga membalas menatapnya.
"Kita kawin lari aja Wa," ulangnya lagi.
"Ngaco kamu," ujar Anwa beringsut.
Arkana menghela nafas, diam sejenak lalu memperhatikan gadis di hadapannya.
"Sini," Arkana menarik lengan Anwa, untuk kembali berbaring di sisinya.
Anwa menatap lelaki itu. "Kamu kenapa sih? dateng-dateng mukanya kacau, tiba-tiba ngajakin kawin lari."
"Sini dulu dong," ujar Arkana menarik paksa Anwa. "Mama Papa sudah tau semuanya."
"Tau apa? latar belakang keluarga aku?" tanya Anwa menatap Arkana.
"Iya, mereka tau dari Tante Indira istri Om Riza, aku rasa Tante Indira gak ada maksud buat ngasih tau, mungkin keceplosan."
Anwa tercekat, terdiam, lalu menghela nafas.
"Gimana Wa?" tanya Arkana.
Bisa saja Anwa menyetujui ajakan Arkana untuk melakukan tindakan "Kawin Lari" tadi, toh keluarga Anwa sudah pasti akan menerima Arkana, tapi bagaimana dengan Anwa, dia akan seumur hidup tak akan mendapatkan restu dari orang tua kekasihnya.
"Aku bukan wanita tangguh Ar," jawab Anwa membenarkan posisinya menjadi bersandar.
"Berarti kita?"
"Let's fight together!" ujar Anwa, menyisir rambut Arkana yang sudah menaruh kepala di pangkuannya.
"Tapi aku gak janji, kita bakal bisa melewatinya tanpa ada kendala," ujar Anwa lagi.
"Tapi aku janji, kita akan berakhir dengan kebahagiaan," ujar Arkana mengecupi tangan gadis itu.
"Wa," ujarnya lagi.
"Apaaa?" Anwa menjawab dengan menguap.
"Masih ngantuk?"
"Ini baru jam enam pagi Ar, dan ini hari libur, kamu dateng di saat matahari belom terbit," kata Arkana.
"Nih," Arkana menggeser tubuhnya, "kita tidur lagi," ia menarik kembali selimut untuk menutupi tubuh mereka.
Anwa masuk kedalam dekapan nyaman kekasihnya, berharap apa yang akan mereka lalui esok nanti bisa terlewati tanpa ada yang tersakiti.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di suatu sore, dua minggu setelah mereka berjanji akan berjuang bersama, Anwa mendatangi kafe milik Arkana sepulang dia bekerja. Seperti biasa Anwa menanyakan keberadaan Arkana pada Dion sang bartender.
"Pak Bos lagi ada tamu Mbak, tunggu aja ya," ujar Dion pada Anwa.
Anwa menempati kursi yang tak jauh dari anak tangga menuju ruangan Arkana. Sambil menikmati minuman yang kali ini, ia hanya memesan jus alpukat dengan float di atasnya. Satu piring potongan black forest juga sudah ada di atas mejanya.
Sesekali ia melirik anak tangga, siapa tahu Arkana turun dari sana, namun setelah menghabiskan satu piring potongan cake, Arkana belum juga muncul. Sempat terpikir olehnya siapa tamu yang mendatangi kekasihnya itu.
Satu jam hampir berlalu, suara langkah kaki menuruni tangga terdengar olehnya. Anwa melirik, keingintahuannya akan siapakah tamu Arkana akhirnya terjawab sudah.
Wanita yang masih terlihat cantik dan modis di usia yang sudah tidak muda lagi itu melihat kepadanya. Anwa menundukkan wajahnya tanda hormat, lalu bangkit untuk menghampiri tapi sayangnya, ibu dari kekasihnya itu pergi tanpa sedikitpun melempar senyum padanya.
Wajah Anwa berubah menjadi sendu, hatinya terasa bagai teriris. Wanita yang pertama kali di temuinya saat makan malam itu begitu ramah, sekarang berbanding terbalik, senyum pun tak terukir di wajahnya.
Arkana melihat itu, setelah mengantarkan sang Mama ke parkiran, sempat pula mendengarkan wanita cantik itu bersenandung dengan segala wejangan ketidaksukaannya pada Anwa oh bukan pada Anwa tapi pada latar belakang keluarganya, Arkana hanya bisa mengangguk angguk tanda mengerti agar sang Mama tak tersinggung atau pun merasa tak di dengarkan.
Cepat-cepat dia kembali ke dalam kafe, menemui Anwa yang sedang menyeruput jus alpukat yang tinggal sisa-sisa.
"Udah abis itu Wa, mau tambah lagi?" tanyanya setelah sempat mendengar bunyi seruputan dari dalam gelas Anwa yang kosong.
Anwa tersenyum lebih tepatnya nyengir bak kudu dengan deretan gigi putihnya. Arkana duduk tepat di sebelahnya, menaruh satu tangannya di belakang kursi yang Anwa duduki. Lelaki itu menarik narik rambut Anwa, agar gadis itu melihat padanya.
"Apa?" tanya Anwa yang akhirnya menatap Arkana.
"Lama ya nunggunya?"
"Hampir satu jam," jawab Anwa santai masih mengaduk aduk gelas jus yang kosong.
"Maaf ya," ujar Arkana.
"Kalo selain mama?"
"Tergantung kalo cewek yang naksir kamu, ya aku samperin lah, masa aku diem."
"Cieeeh yang udah cinta," goda Arkana.
"Cieeeh yang udah cemburu," goda Arkana lagi.
"Apaan sih."
"Tadi mama kesini ngapain Ar?" tanya Anwa, "aku minta air mineral boleh gak sih? seret nih," ujarnya lagi mengelus elus lehernya.
Arkana tersenyum, lalu menjetikkan jarinya maka pelayan pun datang, memesan beberapa menu sekalian untuk makan malam mereka.
"Tadi mama kesini, nyuruh aku pulang ke rumah, mama bilang sepi, yang nemenin mama cuma Bik Jum, papa walaupun keluar kota sehari dua hari tetep mama kesepian."
"Terus kamu bilang apa?"
"Aku bilang, makanya biarin aku nikah sama kamu, ntar kamu yang nemenin mama setiap hari," ujarnya mengedikkan alis.
"Kamu loh ..."
"Loh? gak salah dong aku, ini kan sebagian dari cara aku berjuang, meminta restu sama mama biar di ridhoi," Arkana tersenyum.
"Iya sih, tapi gak langsung tancap gas gitu, Ar."
"Terus gimana? coba aku di contohin,"
"Em... mama sukanya apa?"
"Sukanya? shopping kain batik dari seluruh Indonesia, perawatan wajah di klinik kecantikan langganan dia, ngumpulin tas berbagai merk yang limited edition, apa lagi ya... oh sama suka tanaman monstera yang harganya sampe bikin aku geleng kepala," ujar Arkana mendeskripsikan tentang kebiasaan sang mama.
"Aduh, berat juga ya," Anwa memijat keningnya.
"Kok berat?"
"Kamu aja geleng-geleng kepala mikirin harganya, apalagi aku Ar," Anwa tertawa.
"Terus apa dong aku juga bingung," kali ini Arkana yang kebingungan.
"Makanan yang dia suka?"
Arkana terdiam sebentar, lalu menyuapkan satu sendok nasi goreng seafood ke mulutnya. Lalu menyuapkannya pada Anwa. Jangan tanya Dion yang dengan muka pengennya melengos melihat kemesraan Bos nya itu.
"Apa lo Yon, ngeliatnya gitu amat," hardik Arkana dengan suara sedikit keras.
"Kagak Bos, kelilipan ini mata," Dion juga menjawab dengan suara yang tak kalah keras.
Anwa pun tertawa. "Jadi apa makanan apa yang paling di sukai sama mama?"
"Em ... pempek kayaknya," jawab Arkana.
"Ok, ini jam berapa?"
"Setengah delapan, kenapa?"
"Kamu udah kelar belom kerjanya?"
"Udah sih, emang kenapa?"
"Kita ke swalayan beli ikan."
"Eh, buat apa? mau pelihara ikan? mending kamu pelihara aku Wa," ujarnya mendekatkan wajah pada Arkana.
Anwa meraup wajah tampan itu. "Ikan buat bikin pempek, malem ini kita buat, biar besok kamu bawa buat mama."
"Astaga, repot amat sih... kenapa gak beli?"
"Ini salah satu cara aku mengambil hati calon ibu mertua," ujar Anwa sombong menaikkan alisnya.
***berhasil gaaaak yaa???
selamat bermalam Minggu 😘 jangan lupa tinggalkan jejak kalian***