
Ruang Rawat Inap Gemintang...
Gemintang perlahan membuka matanya dan melihat wajah cantik sang kakak disana. Zinnia tampak lembut mengusap rambut coklat pirangnya.
"Mbak Zee... Sama siapa?" tanya Gemintang pelan.
"Sama Sean dan Arsya."
"Arsya dimana?"
"Di depan. Katanya nunggu kamu bangun. Apa masih terasa sakit Mintang?" tanya Zinnia yang duduk di samping tempat tidur Gemintang.
"Rasanya kencang... Yang sakit sebenarnya hatiku mbak..." isak Gemintang. "Aku bodoh benar tidak tahu aku hamil..."
"Sayang, bukan salah kamu. Tadi mbak tanya sama dokter yang merawat kamu, usianya baru empat Minggu dan kalau kamu tidak tahu, wajar. Mintang, dengarkan mbak, be strong. Mbak tahu, kamu dan Raj sangat ingin memiliki anak... Mbak yakin, Allah akan memberikan kembali..."
"Aku masih merasa sangat bersalah mbak... Tidak bisa menjaganya..."
"Jangan merasa seperti itu. Apa kamu tahu, tidak hanya kamu yang kehilangan tapi Raj juga. Tadi dia menangis di pelukan Sean. Sekarang sedang diajak suamiku minum kopi."
Gemintang menatap Zinnia. "Arjun menangis lagi?"
"See, bukan hanya kamu saja yang sedih... Raj pun. Mbak yakin, setelah kamu selesai masa nifas... Kalian akan segera diberikan momongan. Tapi mbak minta, jangan dijadikan suatu beban, just enjoy seperti biasanya karena jika kamu overthinking supaya segera hamil, yang ada kamu stress malah tidak jadi dan kamu bisa frustrasi."
"Mbak Zee..."
"Maaf mbak frontal bilangnya karena dulu waktu kerja di rumah sakit di Geneva, ada rekan perawat yang seperti kamu. Keguguran dan setelahnya sangat heboh ingin segera hamil lagi... hingga tiga tahun belum dikasih momongan. Mbak baru masuk kerja waktu itu. Dia ngobrol banyak dan sama mbak diajak meditasi untuk mengurangi tingkat obsesinya secara rutin. Tidak sampai enam bulan melakukan meditasi dan yoga, dia hamil dan terakhir mbak dengar, anaknya sudah dua..."
Gemintang mengangguk. Benar aku sangat sedih dan kehilangan tapi aku tidak sendirian. Arjun pun sama karena kami sama-sama menginginkan seorang anak. Mungkin benar kata Mbak Zee, aku dan Arjun belum diijinkan mendapatkan rejeki sekarang dan aku juga yakin Allah akan segera memberikan rejeki anak kepada kami di waktu yang tepat.
***
Coffee Shop Area Rumah Sakit
Sean dan Raj duduk bersama di sebuah coffee shop sembari menikmati kopi dan croissant disana. Arsya tampak senang ketika tahu ada pretzel keju dan memakannya dengan didampingi hot choco.
"Berapa usia anakmu ..." tanya Sean.
"Empat Minggu... "
"Bersabarlah Raj. Insyaallah akan segera diberikan kembali... Prosesnya sangat menyenangkan bukan?" kekeh Sean membuat Raj sedikit tersenyum.
Arjun Raj Rao
King Sean Léopold
"Kamu itu bang..." senyum Raj.
"Lho tapi benar kan Raj? Kegiatan pasangan suami istri yang paling nikmat dan haqiqi ya itu. Apalagi bersama dengan wanita yang paling kita cintai..." ucap Sean sembari menyesap kopinya.
"You're right bang."
"Oh aku berharap besok kalau Mintang hamil lagi, jangan sampai kamu macam aku, Dante, dan Michel."
"Kenapa?"
"Zee dua kali hamil, dua kali aku yang kena cauvade syndrome. Aku yang mabok!" ucap Sean gemas.
"Noooo" kekeh Raj sambil menatap Sean.
"True. Aku yang mengalami morning sick, dan setahuku Dante serta Michel pun sama. Bahkan Michel sampai sebulan tidak berangkat kerja karena badannya super lemas."
"Bukankah itu merupakan salah satu tanda si suami sangat mencintai sang istri?" senyum Raj.
"Kamu kan yang dokter, jadi masuk akal tidak?"
"Masuk akal. Karena hidup itu harus fair, bang. Bayangkan mbak Zee harus membawa Arsya, Avaro dan Alisha selama sembilan bulan dalam perut. Belum nanti proses melahirkan yang bertaruh nyawa dan kalau ditambah dengan morning sick... Kebayang kan bang? Jangan meremehkan seorang wanita karena sebenarnya mereka lebih kuat dari kita."
Sean mengangguk. "Itu benar. Zee tiga tahun tanpa aku bisa berjuang sendirian bersama Arsya. Bahkan saat dulu hamil double A, dia juga mengalami hal yang sama dengan Mintang tapi Alhamdulillah si kembar tidak apa-apa..."
"Mbak Zee pernah jatuh juga?" tanya Raj.
"Arsya yang melihat sendiri, Raj" timpal Sean.
"Alhamdulillah si kembar tidak apa-apa..." ucap Raj.
"Iya. Jadi Raj... Insyaallah kalian akan segera diberikan momongan lagi. Ingat, kegiatan membuat anak itu sangat lah nikmat. Atau kalian berlibur lah, anggap saja bulan madu lagi..."
"Bisa dipertimbangkan..."
***
Kamar Rawat Inap Gemintang
Semua orang sudah kembali dan Raj pun sudah mengganti pakaiannya dengan kaos dan celana training. Raj sudah meminta tempat tidur besar agar dirinya bisa satu tempat tidur bersama dengan Gemintang. Dia tahu, istrinya membutuhkan dirinya.
"Halo sayang. Masih kencang kah perutnya?" tahya Raj sambil meletakkan tubuhnya disamping Gemintang.
"Sedikit..."
Raj memeluk tubuh Gemintang erat. "Segera sehat, sayang. Kita bisa melewati ini semua."
Gemintang mengangguk dalam pelukan suaminya.
"Kata bang Sean, acara membuat anak itu paling nikmat jadi nanti kita berusaha sambil menikmati seperti sebelumnya ya..." kekeh Raj.
"Bang Sean mah meshum! Dia itu tidak bisa lepas dari mbak Zee yang bohay..."
Raj tertawa. "Kakakmu itu memang seksih jadi wajar jika suaminya begitu bucin."
"Heeeiii..." protes Gemintang.
"Tapi buat aku, tetap saja kamu yang segalanya..." Raj mencium kening Gemintang. "Apa kita liburan?"
"Boleh?" Mata hijau Gemintang tampak berbinar.
"Kamu mau kemana?"
"Queensland! Aku ingin melihat rumahku di Kingaroy."
Raj sudah tahu tentang pengalihan kepemilikan rumah Krisna dan Gemintang yang menjadi milik istrinya. Bagi Raj, itu adalah milik Gemintang dan jika istrinya ingin melihat rumahnya yang dulu, serta membuatnya bahagia, kenapa tidak. Mereka berdua memang membutuhkan healing dari rasa kehilangan.
"No problem. Nanti aku ajukan cuti lagi dan kita liburan jika kondisi kamu sudah kembali normal... "
Gemintang mengangguk. Dirinya boleh mulai melakukan kegiatan hubungan suami istri jika sudah tidak ada pendarahan pasca keguguran tapi demi kesehatan dirinya, Gemintang memilih harus menunggu hingga enam Minggu sebelum acara membuat anak.
***
Enam Bulan Kemudian...
Gemintang dan Raj sedang berada di ruang dokter Obgyn untuk memeriksakan kondisi wanita cantik itu. Tiga bulan lalu Raj dan Gemintang berlibur ke Kingaroy Australia, bertemu dengan Fathir, Fahira dan Pahlevi Hassan. Liburan selama seminggu membuat mood keduanya membaik pasca kehilangan calon anak mereka.
Dan kini, Gemintang merasa bahwa ada yang berubah pada tubuhnya apalagi Raj sudah dua Minggu ini bolak balik mengeluh mual dan muntah-muntah. Apa kejadian Bang Sean, Bang Dante dan Michel akan kena di Arjun?
Gemintang pun dipersilahkan untuk tiduran dan dokter Obgyn itu mengoleskan gel di atas perutnya dan mulai menempelkan alat transducer nya disana.
"Bagaimana dokter Olga?" tanya Raj penasaran.
"Congratulations, dokter Rao. Dokter Gem hamil delapan Minggu..." senyum dokter Olga.
Raj dan Gemintang saling menatap dengan tatapan tidak percaya, bahagia, terharu menjadi satu.
"Alhamdulillah..."
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️