
FH Ranch Queensland Australia
Gemintang berjalan dengan santai menuju istal tempat Fathir dan Pahlevi itu berada bersama beberapa Cowboys atau Stockmen kalau disebut di Australia.
"Oom Fathir!" panggil Gemintang yang membuat pria berdarah Turki itu menoleh.
"Mintang! Sudah datang? Levi, ini ada mbak Mintang!" panggil Fathir memanggil putra tunggalnya.
"Hai mbak!" sapa Pahlevi yang biasa dipanggil Levi oleh kedua orangtuanya dari atas kuda.
"Duh Vi, kamu besarnya ganteng deh!" puji Gemintang. "Oom Fathir sehat?" Gemintang mencium punggung tangan Fathir dan gadis itu mendapatkan tepukan di kepalanya.
"Sehat lah Mintang. Kembaranmu ke Italia?" tanya Fathir.
"Iya, menggantikan manager nya yang harus pulang karena istrinya melahirkan."
"Mamamu pasti ngomel-ngomel" gelak Fathir yang tahu hebohnya Freya.
"Sudah kok Oom. Untung Gem semangat mau kesana jadi mommy ayem."
"Iyalah, kan ada Leia, Dante dan Antonio di Turin. Kalau ada apa-apa kan ada saudara dekat."
Gemintang mengangguk. "Kata Tante Fahira, Pahlevi mau ikut pertandingan berkuda?"
"Iya. Disini macam di Amerika, Mintang. Mungkin karena dulu Australia dipakai buat buang tahanan Inggris dan Amerika apalagi jadi persemakmuran Inggris ya jadi budayanya masih ikut sana. Akhir pekan ini ada acara berkuda dan Levi mau ikutan akselerasi berkuda. Sayangnya, si Dark Horse lagi mutung jadi harus dirayu dulu" kekeh Fathir yang melihat putranya membisikkan sesuatu ke kuda stallion hitamnya.
"Ish macam mommy saja pundungan kalau tidak diijinkan ikut acara Ghost Hunters" gelak Gemintang.
"Oom tuh heran deh sama mommymu, nggak hilang-hilang hobi nyeleneh nya!" gerutu Fathir. "Dulu waktu mommymu hamil kalian, bikin daddymu jantungan karena minta ke acara Halloween!"
Gemintang melongo. "Ya ampun mommy..."
"Oom Aji dan Tante Falisha mu yang kelimpungan bujuk mommymu mana hamil besar gitu... Ampun deh!"
Gemintang tertawa geli mendengar kekacauan sang mommy. "Untung Daddy tabah ya Oom."
"Lha katanya cuma mas Haris yang boingable, pelukable, cipokable, setuhable... Apa masih kacau juga?"
"Masih lah! Mereka berdua itu sering lupa anak-anaknya masih ada disana menjadi saksi orangtua meshum dalam arti sesungguhnya!"
Fathir terbahak. "Mereka berdua itu memang deh!"
"Papa, ini si Dark mutung. Dibujuk gimana ya?" adu Pahlevi.
"Mbak Mintang boleh masuk?" tanya Gemintang.
"Monggo mbak. Siapa tahu Dark mau mendengar ucapan mbak Mintang." Pahlevi membukakan pintu pagar istal itu.
Gemintang menghampiri kuda hitam tinggi besar itu dan pelan dirinya menyentuh hidungnya. "Dark? Namamu Dark..." bisik Gemintang sedikit merayu. "Kamu kenapa ngambek? Memang Levi tidak merawatmu?"
Pahlevi dan Fathir saling berpandangan.
"Mbak, jadi horse whisperer?" goda Pahlevi.
"Short of." Gemintang melanjutkan percakapannya dengan Dark. "Dark, aku Gemintang, calon dokter baru disini. So, bagaimana kalau Dark menurut dengan Levi, nanti aku kasih apel setiap pagi selama sebulan. Mau?"
Mata hitam kuda itu menatap mata hijau Gemintang. "Mau ya Dark? Nurut dengan mas Levi?" senyum Gemintang.
Dark pun meringkik seolah mengerti ucapan Gemintang membuat Pahlevi melongo karena kudanya termasuk sulit dekat dengan orang asing tapi dengan kakaknya langsung nurut.
"Vi, naik saja sekarang. Sudah mau menuruti semua perintah kamu kok." Gemintang tersenyum ke Pahlevi.
"Yakin mbak?" tanya Pahlevi ragu-ragu. Dia tahu kakaknya dokter hewan tapi apa iya.
"Dark sama mbak sudah ada perjanjian. Dan mbak nggak bakalan melanggar nya" ucap Gemintang sambil mengelus muka Dark yang menempelkan kepalanya ke kepala gadis itu. "He's very handsome. Ya kan Dark?"
Dark meringkik lagi tanda setuju membuat Fathir dan Pahlevi saling berpandangan. "Mintang, fix kamu kerja sama Oom ya!"
Gemintang tersenyum senang.
***
Gemintang tampak menikmati pemandangan Pahlevi yang beraksi diatas Dark dan tampak kuda itu mau menuruti semua perintah Pahlevi.
"Oom, dimana aku bisa ambil apel segar? Aku lihat tadi banyak pohon apel yang sedang berbuah sepanjang ranch milik Oom?"
"Kamu jalan saja sepanjang perjalanan ini dan akan menemukan para pegawai Oom sedang panen. Mau buat Dark?"
"Hati-hati. Bilang saja kamu keponakannya Oom kalau mereka tanya!" ucap Fathir melihat keponakan cantiknya berjalan menuju kebun apel.
"Oke!"
"Mr Hassan" panggil para Stockmen.
"Apa? Jangan macam-macam dengan keponakan aku ya!" Fathir menatap tajam ke para pegawainya.
"Yah! Langsung diblokir!"
"Iyalah! Memangnya aku tidak tahu kelakuan kalian" seringai Fathir.
***
Gemintang berjalan menuju kebun apel apalagi musim dingin di bulan Juli ini tidak terasa panas hanya udara sejuk yang terasa. Suhu yang tertera di ponsel Gemintang menunjukkan suhu 21°C yang setara dengan Bandung malam hari.
Gadis itu pun menikmati pemandangan sepanjang ranch Fathir. Banyak tanaman buah-buahan dan sayuran organik disana dan ternyata pegawainya banyak yang dari Indonesia sepanjang jalan Gemintang menyapa.
Hingga mendekati kebun apel, Gemintang melihat sebuah bangunan dari kayu yang bertuliskan 'Rest Area' dan melihat sekelebat bayangan yang membuatnya penasaran. Entah mengapa dirinya merasa mengenali bayangan itu.
Gemintang pun masuk ke dal bangunan itu dan mata hijau nya terbelalak melihat sosok yang sedang mengenakan kaosnya.
"Halo, Mintang..." senyum sosok itu.
"Kamu!"
Pria itu memakai kaosnya dan mendekati Gemintang. "Kamu ngapain disini?" tanya Krisna Rao polos.
Gemintang hanya melongo tidak percaya pria yang dijauhinya, kini berada di hadapannya.
***
Palermo Sisilia Italia
Setelah berapa kali Gemini menolak ajakan makan malam oleh Michel de Luca, akhirnya gadis itu mengiyakan ajakan salah satu penguasa Palermo.
Keduanya kini berada di sebuah restauran seafood klasik yang tampak aestetik dan old. Gemini salut dengan restauran yang masih mampu bertahan seperti restauran kuno ini. Sama halnya dengan RR's Meal yang tetap eksis sampai sekarang meskipun sudah beberapa generasi.
"Suka restaurant nya?" tanya Michel.
"Suasananya aku suka. Banyak sekali perjalanan waktu di restauran ini. Itu piring yang dipajang, berapa usianya?" Gemini menunjuk ke sebuah hiasan piring yang tertempel di dinding.
"250 tahun mungkin ada" jawab Michel.
"Wow! Untung Omaku tidak ikut, bisa ribut beli itu piring." Gemini teringat Oma Yanti Reeves yang penggemar barang antik.
"Itu tidak dijual, Signora."
"Aku tahu. Tapi Omaku selalu bilang 'Kalau tidak dicoba, kita tidak akan tahu'. Dan Oma juga bukan tipe pemaksa jika barang itu tidak dijual, ya sudah."
Michel menatap gadis bermata biru terang itu. "Apakah anda nyaman tinggal di Palermo?"
"So far, aku senang-senang saja tinggal disini. Lumayan tiga bulan meninggalkan Jakarta dan menikmati keindahan Sisilia, itu sesuatu."
"Anda ada acara kemana lagi Signora?"
"Malta. Aku ingin ke Malta. Kamu tahu aku jarang bisa berlibur lama sambil bekerja seperti ini."
"Bagaimana jika kita pergi bersama? Aku temani liburan ke Malta dan kebetulan aku familiar disana" tawar Michel.
Gemini menggelengkan kepalanya. "No thank you. Aku ingin menikmatinya sendiri."
Michel hanya tersenyum tipis.
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️