
Uccle Belgia
Raj mengajak Gemintang untuk nonton bioskop dan meskipun gadis itu sedikit tidak nyaman tapi mendengar film yang sedang diputar dibintangi aktor favoritnya, membuat dirinya berpikir ulang. Toh hanya nonton film.
Sepeda milik Gemintang kembali diparkiran di tempat parkir khusus sepeda dan dia masuk ke dalam mobil Raj. Di dalam mobil, Raj dan Gemintang lebih fokus bercerita tentang pasien-pasien mereka yang berbeda.
"Jadi Minggu kemarin kamu harus mengoperasi seekor ular piton? Karena telurnya tidak mau keluar?" tanya Raj dengan wajah bergidik. Meskipun dia keturunan India, ular adalah binatang paling dia benci.
"Iya dan waktu aku buka, astaghfirullah baunya..." jawab Gemintang sambil mengerucutkan hidungnya. "Hasil Rontgen ada sepuluh telur yang sayangnya busuk semua dan ular itu pun tidak selamat 24 jam kemudian. Memang sudah resikonya dan pemiliknya pun tahu. Diambil dan tidak diambil, sama-sama mematikan karena aku periksa anemia parah..."
"Ditambah dia keracunan akibat telur-telurnya busuk di dalam" sambung Raj.
"Iya. Duh, aku sampai harus memakai parfum banyak agar bau busuknya tidak tercium terus." Gemintang bergidik saat membayangkan kejadian itu.
"Rupanya menjadi dokter hewan banyak storynya ya Gemintang."
"Banyak. Kucing paling sering bikin masalah setiap diperiksa atau disuntik vaksin. Lihat, tangan aku sudah banyak bekas cakaran kaum random bersuara meong" kekeh Gemintang sambil memperlihatkan bekas cakaran disana.
Raj menoleh ke tangan Gemintang yang jauh dari kata mulus dan tampak bekas-bekas luka dari para pasiennya yang tidak dapat diduga kelakuannya.
"Sudah kamu obati kan? Takutnya kena rabies atau apa, Gemintang."
"Tentu saja sudah. Aku juga tidak mau terkena penyakit aneh-aneh dari pasien aku" senyum Gemintang.
"Gemintang, bagaimana kehidupan di ranch? Maksud aku, sebagai dokter hewan disana?" Raj bertanya hati-hati.
"Seru. Kamu tahu, aku harus membuat jadwal pembiakan sapi, membantu stockmen mencukur domba, dan yeah kehidupan di ranch sangat menyenangkan..." senyum Gemintang sedikit getir.
"Apakah kamu ingin kembali kesana? Maksud aku, ke ranch milik pamanmu?"
"Someday tapi tidak sekarang. Aku masih ingin menikmati tinggal disini, bebas dan bahagia. Bukankah setiap orang berhak untuk berbahagia dengan caranya sendiri?"
Raj mengangguk. "You're right. Meskipun pasienmu berbulu dan hanya bisa mengeong dan menggonggong, itu suatu healing tersendiri bukan?"
Gemintang tertawa. "Kamu kurang jauh, pasien ada yang mendesis, berkotek, cerewet macan orang..."
"Biar aku tebak. Burung Parot?" senyum Raj.
"Bingo. Kamu tahu aku harus mengikir paruhnya agar tidak terlalu panjang hingga mempersulit makannya. Bisa-bisanya dia bilang 'dia akan membunuh ku, dia akan membunuhku'. Rupanya, Captain Sparrow nama burung itu, hobinya nonton film bersama pemiliknya dan mengikuti dialog di film itu" gelak Gemintang.
Raj tertawa geli membayangkan bagaimana Gemintang pasti terkejut mendengar ucapan tidak jelas dari pasiennya.
Tak lama, mobil Raj tiba di parkiran mall dan keduanya turun untuk jalan bersama menuju bioskop. Sepanjang perjalanan Gemintang takjub dengan bagaimana perjalanan Raj saat menjadi doctors without Borders apalagi di daerah konflik.
Tanpa sadar, ada rasa tertarik yang berbeda dari sebelumnya. Raj sangat menghormati profesi Gemintang dan begitu juga sebaliknya. Keduanya pun memesan tiket dan membeli popcorn besar dan dua coke sebelum masuk ke dalam teater.
***
Manchester Inggris
Apsarini sedang menikmati acara minum kopinya di Starbucks dekat dengan kantor tantenya setelah tadi harus lembur menyelesaikan tugas. Beruntung Starbucks disana buka hingga pukul 12 malam jadi dirinya bisa istirahat sejenak sebelum kembali ke rumahnya.
Masuk nya seseorang ke dalam cafe kopi itu membuat wajah Apsarini tersenyum sumringah. Menunggu orang itu mendapatkan pesanannya, Apsarini lalu memanggilnya.
"Krisna!"
Orang yang dipanggil pun menoleh dan tersenyum melihat wajah yang familiar disana lalu datang menghampiri.
"Hai Sari. Apa yang kamu lakukan disini?" sapa Krisna ramah.
"Istirahat. Aku baru saja selesai lembur dan butuh kafein demi memenangkan pikiranku" senyum Apsarini.
"Oh." Krisna melihat MacBook milik Apsarini masih terbuka dan ada beberapa berkas disana. "Apa kamu masih sibuk?"
"Nope, ini hanya sisa - sisa lembur" kekeh Apsarini. "Kamu ngapain kemari?"
"Soal apa?" tanya Apsarini polos. Jangan bilang kamu masih kepikiran mbak Mintang.
"Ah kamu tidak mengerti..."
"Hei, bukankah lebih baik mengeluarkan semua beban di benak mu daripada membuat kamu sakit dada dan perutmu" senyum Apsarini. "Aku sih begitu, kalau ada yang mengganjal di benakku."
Krisna tersenyum miring. "Aku sudah pernah menikah Sari. Aku sangat mencintai istriku... ralat Mantan istriku tapi karena aku berusaha mendapatkan dirinya dengan... Bottom line, aku menyakiti mantan istriku. Selama kami menikah, dia... dia tidak pernah membalas perasaanku... hingga akhirnya kami berpisah dan resmi bercerai..."
Apsarini menatap datar ke arah Krisna tidak mau menginterupsi ucapannya. Aku tahu apa yang kamu perbuat ke mbak Mintang, dan kamu salah! Sangat salah!
"Dan sekarang? Dimana mantan istrimu?"
"Aku tidak tahu... Keluarganya menyembunyikan istri... mantan istriku entah dimana..."
"Apakah kamu sangat mencintai mantan istrimu?" tanya Apsarini dengan nada sedikit cemburu.
"Sangat... tapi makin kemari... aku semakin sadar karena semakin aku memaksa, semakin Mintang pergi. Dan mungkin kita memang tidak berjodoh" gumam Krisna.
"Mungkin jodohmu yang sebenarnya masih disiapkan oleh Allah" senyum Apsarini.
Krisna tertegun melihat wajah cantik di hadapannya. "Kamu benar Sari. Mungkin jodohku dan Mintang hanya sampai disini."
"Semangat, Kris. Aku yakin kamu akan bertemu dengan wanita yang sangat mencintaimu dan kamu pun akan mencintai nya lebih besar dari mantan istrimu." Apsarini menatap lembut ke Krisna. Sorry mbak Mintang, mantan suamimu akan aku rebut. Soal bagaimana keluarga besar kita nanti, aku pikir belakangan! Toh mbak Mintang sudah tidak mau dengan Krisna kan.
Krisna mengangguk sambil masih tetap menatap Apsarini. Gadis cantik ini benar. Jika Mintang sudah menemukan kebahagiaannya, kenapa aku harus merenungi nasib. Raj benar, aku harus move on.
***
Di dalam Bioskop Mall di Brussels Belgia
Gemintang tampak serius menatap layar bioskop apalagi film yang ditontonnya semi thriller membuatnya tidak berkedip. Kebiasaannya adalah meskipun mata hijaunya menatap adegan film, tangannya tidak berhenti memakan popcorn nya.
Raj hanya tersenyum melihat mantan iparnya tampak sangat tegang apalagi adegan pembunuhnya mengendap masuk ke dalam rumah jagoannya.
Pria itu mengambil popcorn di bucket besar dan tangannya bersentuhan dengan tangan Gemintang membuat gadis itu terkejut.
"Astaghfirullah! Kaget aku!" bisik Gemintang.
"Kamu tuh tegang banget sih?!" senyum Raj.
"Iiiisshhhh, lagi serius tahu!" bisiknya judes.
Raj mengambil popcorn nya dan mulai memakannya sambil melirik Gemintang yang mulai tegang lagi.
"Awas! Di belakang mu!" teriak salah seorang penonton yang membuat semua orang yang didalam bioskop langsung protes.
"Haaaaahhh jadi hilang kan momentum tegangnya..." keluh Gemintang yang membuat Raj tertawa kecil. "Kamu juga, kenapa tertawa?"
"Habis it's just a movie tapi kenapa kalian terhanyut..."
"Ah kamu menyebalkan Arjun!" omel Gemintang sambil memukul dada pria yang masih tertawa itu.
Akhirnya mereka melanjutkan acara nontonnya yang sempat terinterupsi.
***
Yuhuuuu Up Sore Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️