Gemini and Gemintang Love Stories

Gemini and Gemintang Love Stories
Apa Kamu Tidak Suka?



Rumah Krisna dan Gemintang di Kingaroy Queensland Australia


Gemintang merasakan ada seseorang sedang menciumi bibirnya lembut membuat mata hijaunya terbuka pelan dan betapa terkejutnya dia saat tahu siapa yang menciumnya penuh perasaan.


Seketika Gemintang mendorong Krisna dengan kuat hingga terjatuh meskipun setelahnya kepalanya berdenyut hebat membuat dirinya meringis merasakan sakit.


"Mintang..." Krisna bangun dan langsung mengecek istrinya yang menahan sakit hingga meneteskan air mata. "Maaf..."


"Selalu begitu..." gumam Gemintang.


"Apanya?" Krisna naik ke atas tempat tidur untuk memeluk tubuh istrinya yang tampak lemas.


"Selalu... mencuri kesempatan... Selalu... berbuat kesalahan... dan selalu minta maaf... setelahnya.. Apakah kamu tidak tahu... aku benci kamu!" bisik Gemintang pelan tapi membuat Krisna menegang.


"Mintang... jangan benci aku..."


"Kamu sendiri yang membuat aku benci kamu... Damn! Kepalaku sakit sekali..." Gemintang meringkuk dalam pelukan Krisna yang perlahan memijat pelipis istrinya sedangkan tangan satunya tetap memeluk Gemintang.


"I'm sorry... Mintang. Tapi, aku tidak tahan untuk tidak menciummu..."


Gemintang hanya diam saja tapi tangannya mencengkram tangan Krisna yang memeluknya saat rasa sakit kepala itu datang lagi.


"Obat sakit kepalamu dimana?" tanya Krisna yang kasihan melihat kondisi istrinya.


"Laci meja... kotak obat biru... ada yang dosisnya seperempat. Ambil... itu saja." Krisna meletakkan tubuh Gemintang Diatas kasur dan berjalan menuju meja rias lalu membuka lacinya. Tampak kotak obat harian bewarna biru dengan label 'Obat Migrain Oma Haura'. disana. Krisna mengambil yang ukurannya paling kecil lalu membawanya ke Gemintang sambil membawakan segelas air putih yang tersedia.


"Mintang, minum dulu. Bangun sebentar..." Krisna membantu istrinya untuk duduk dan meminum obatnya. Gemintang meminum obat dari Omanya dan kemudian memejamkan matanya sambil merebahkan tubuhnya.


Krisna meletakkan gelasnya Diatas nakas lalu meletakkan tubuhnya di samping Gemintang dan memeluknya dari belakang. "Jangan sakit, Mintang..." bisiknya di tengkuk Gemintang.


"Iya..." bisik Gemintang yang sebenarnya tidak suka sakit. "Tapi kamu membuatku... semakin sakit... sakit hati..."


Krisna mengetatkan pelukannya. "Jangan berkata seperti itu sayang..."


"Aku bebas mengatakan apa saja... Rao. Perlakuan kamu seperti ini ... Tidak akan pernah... menghapuskan rasa sakit hatiku padamu..." Gemintang memejamkan matanya yang mulai basah.


"Mintang... bisakah kita memulai kembali?"


"Memulai apa Rao? Semuanya kan sesuai mau kamu kan? Semuanya... harus sesuai dengan keinginan kamu ... kemauan kamu... impian kamu. Tapi apakah kamu pernah tahu atau bertanya... apa keinginan aku... mimpiku... tidak Rao. Kamu hanya ingin aku seperti mimpimu tapi kamu tidak mau tahu apa mimpiku..."


Krisna mencium tengkuk leher Gemintang. "Sayang... Maafkan aku yang egois karena aku tidak mau kehilangan dirimu..." ucap Krisna dengan nada gemetar.


"Jika kamu bisa egois... harusnya aku juga bisa... kan Rao..." ucap Gemintang yang tidak lama terlelap setelah efek obat dari Haura itu bereaksi.


Entah kenapa kalimat terakhir dari istrinya membuat Krisna ketar - ketir. Jangan bilang kamu berencana meninggalkan aku? No Mintang, kamu adalah istriku, istri sah aku! Dan aku sebagai suamimu, tidak akan mengijinkan nya.


***


Apartemen Michel dan Gemini


Pagi ini sudah seminggu Gemini dan Fillipo dengan ditemani Xena belajar merangkai kata dengan huruf braille. Meskipun agak sulit awalnya tapi Gemini tidak mau menyerah dan tetap berusaha mempelajari huruf baru yang sangat berbeda.


"Apa kamu yakin ini bahasa Inggris?" tanya Gemini saat diberikan sebuah buku dengan huruf braille.


"Wah, Signora de Luca tahu juga kalau buku ini bukan bahasa Inggris" puji Fillipo yang sengaja memberikan novel Sherlock Holmes berbahasa Italia.


"Come on Fillipo, aku bisa berbagai bahasa dan ini... buku berbahasa Italia kan?"


Fillipo saling berpandangan dengan Xena. "Anda sangat cerdas Signora."


"Fillipo, kamu meremehkan nonaku" kekeh Xena.


"No Signora Xena. Saya hanya mengetes apakah jari jemari Signora de Luca sudah bisa 'membaca' dan ternyata seminggu belajar sudah bisa membedakan. Saya kagum dengan keteguhan anda Signora" puji Fillipo tulus.


"Lalu pelajaran selanjutnya apa Fillipo?" tanya Gemini semangat.


"Bagaimana besok kita lancarkan lagi lalu perlahan kita menggunakan mesin tik khusus. Kebetulan Signor de Luca sudah membelikan untuk anda."


Hati Gemini seperti dicubit mendengar bagaimana suaminya sedemikan rupa memberikan semua fasilitas demi keinginannya untuk bisa membaca dengan huruf braille.


"Baiklah Fillipo" jawab Gemini pelan.


***


Michel memperhatikan bagaimana wajah Gemini berubah saat mendengar ucapan gurunya bahwa dirinya sudah membelikan mesin tik khusus. Pria itu memperhatikan situasi di ruang makan melalui kamera CCTV disana.


Apakah Gemini tidak suka? Atau dia kecewa hanya mesin tik? Bodoh kamu Michel, bukankah sekarang sudah ada keyboard khusus untuk kaum tuna netra!


Michel menepuk jidatnya. Ya ampun Micheeelll! Terang saja Gemini keberatan memakai alat kuno seperti itu! Gemini kan terbiasa memakai keyboard bukan mesin tik!


Pria Italia itu memperhatikan wajah Gemini yang masih sibuk belajar membaca buku yang diberikan Fillipo. Nanti malam akan aku tanyakan, mau mesin tik atau keyboard khusus.


***


Kamar Michel dan Gemini di Palermo


Seperti biasa Gemini membersihkan wajahnya dengan peralatan makeup yang sudah dilabeli dengan huruf braille. Apalagi gadis itu sudah mulai hapal tata letak semua peralatan make-up nya.


Meskipun tidak bisa berdandan seperti biasanya apalagi dirinya hanya di rumah saja, tapi Gemini tetap memperhatikan kesehatan kulit wajahnya.


"Gem..." panggil Michel yang sudah keluar dari kamar mandi.


"Apa Michel?"


"Maaf ya jika aku membelikan kamu mesin ketik Braille. Harusnya keyboard khusus ya..."


Gemini melongo. "Hah? Apa maksudmu Michel?"


Michel berlutut di hadapan Gemini yang duduk di kursi depan meja riasnya. "Seharusnya bukan mesin tik jadul..."


"Astaghfirullah! Jadi ini yang membuat kamu tadi makan tidak semangat?"


"Hah?" Michel menatap Gemini bingung.


"Kamu tidak makan seperti biasanya, temponya sedikit melambat seperti memikirkan sesuatu. Aku memang buta, Michel dan itu membuat inderaku yang lain lebih bekerja melebihi biasanya. Jadi aku bisa merasakan sesuatu yang berbeda" senyum Gemini. "Aku tidak masalah dengan mesin tik old fashion. Yang penting aku belajar dulu cara mengetuknya."


Michel mencium bibir Gemini lembut membuat gadis itu membeku. "Terimakasih, Gemini. Aku takut istriku tidak suka..."


Gemini hanya terdiam mendengar ucapan suaminya. Apakah aku harus menerima atau tidak pria yang sudah membuat aku seperti ini?


***


Rumah Krisna dan Gemintang di Kingaroy Queensland Australia


Gemintang dilarang oleh Fathir untuk bekerja sampai keponakannya sehat dan sembuh total. Akibatnya dirinya merasa gabut di rumah dan Krisna sudah kembali bekerja seperti biasanya. Seminggu usai dirinya dan Krisna berdebat di kamar saat sakit, sikap suaminya berubah menjadi lebih hati-hati agar dirinya tidak terluka lagi.


Dan kini dia mendapatkan kabar jika Juliet akan menikah dengan Romeo pada bulan Juni besok. Semua anggota keluarga akan datang dan Gemintang tersenyum karena pasti kakaknya Zinnia akan hadir.


Gadis itu memberanikan diri untuk menelpon Ratu Belgia itu ke ponsel pribadinya yang khusus keluarga saja. Deringan ketiga akhirnya telepon Gemintang diterima.


"Assalamualaikum mbak Zee..."


"Wa'alaikum salam. Sebentar ya Mintang, Zee sedang memarahi Arsya yang membuat Alisha menangis" kekeh Sean yang terdengar malah geli dengan kenakalan putranya. Tak lama terdengar suara wanita cantik itu.


"Ada apa Mintang? Maaf mbak Zee gemas dengan Arsya. Duh ajarannya Shinchan beneran deh bikin mbak emosi!" sungut Zinnia yang membuat Gemintang tertawa.


"Mbak, apa mbak Zee datang ke acaranya Juliet?"


"Insyaallah kami datang apalagi Sean sudah janji dengan Pedro, Dante, Luke dan Samuel untuk boys day out di Jakarta. Kenapa sayang?" tanya wanita berambut hitam tebal itu.


"Mbak... bolehkah aku minta tolong..."


"Minta tolong apa Mintang?" tanya Zinnia perhatian.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️