
Rumah Krisna dan Gemintang di Kingaroy Queensland Australia
"Apa maksudmu Mintang?" tanya Krisna dengan sedikit bergetar di nada suaranya. "Jangan berharap aku bisa hidup lebih lama?"
"Kamu pikir saja sendiri! Siapa Opaku! Siapa sepupuku! Mereka selama ini diam saja bukan berarti mereka tidak akan bertindak. Mereka selama ini diam karena tahu aku yang memintanya! Mereka bisa saja menghajar kamu akibat foto-foto itu, bisa saja kamu dilempar ke Empang bang Luke, tapi aku yang meminta pada mereka untuk tidak melakukan apapun demi menghindari skandal! Itu alasan aku menikah denganmu! Menghindari skandal! Aku tidak mau mereka semua masuk penjara hanya karena seorang Krisna Rao! Jadi aku minta, lepaskan tanganmu!" Gemintang menatap tajam ke arah Krisna.
Krisna melepaskan cengkramannya yang meninggalkan memar di lengan putih Gemintang. "Mintang..."
"Kenapa kamu tidak bisa paham? Aku dipaksa dan terpaksa menikah denganmu tapi aku tidak bisa menjadi istri seutuhnya. Aku tidak masalah jika kamu mencari wanita la..."
Krisna memeluk Gemintang erat. "No, jangan suruh aku mencari wanita lain untuk pelampiasan nafsu biologis aku! No Mintang, aku hanya untukmu dan kamu hanya untukku..."
Gemintang terkejut mendengar ucapan Krisna. Apakah kamu segitunya padaku Rao?
"Maaf Mintang, maaf melukai mu lagi... Maaf, maaf..." suara Krisna terdengar bergetar. Gemintang yang aslinya sangat sensitif hatinya, merasa tersentuh mendengar pernyataan Krisna tapi dirinya harus memikirkan dirinya sendiri.
Pernikahan kami sudah tidak sehat. Sebucin-bucinnya mommy dan Daddy, mereka bukan saling obsesi over dosis. Posesif, iya tapi masih dalam batas wajar.
"Lepaskan aku Rao..."
"Tidak, sampai kamu mau maafkan aku..."
Gemintang menghela nafas panjang. "Aku maafkan lagi Rao..."
Krisna melepaskan pelukannya dan memegang wajah Gemintang. Diakui gadis itu kalau Krisna tampan untuk ukuran pria India, fisik bagus, otak cerdas tapi... ada yang salah dengan perasaan obsesinya.
"Besok kita ke psikolog ya?"
"Dengan satu syarat."
"Apa itu?"
"Kamu juga harus diterapi... Untuk mengurangi kadar obsesimu padaku."
Krisna menatap Gemintang bingung. "Itu karena aku mencin..."
"No, Rao. Kamu harus membedakan antara cinta dan obsesi. Jika kamu tidak mau diterapi, jangan harap aku mau pergi konsultasi!"
Krisna akhirnya menganggukan kepalanya.
***
Apartemen Michel dan Gemini di Palermo
"Bagaimana Gem? Apakah kamu akan meninggalkan aku jika sudah bisa melihat?" tanya Michel lagi.
"Michel... Aku tidak tahu..."
"Apa maksudmu tidak tahu? Sekarang jujur padaku. Apakah kamu masih membenci aku sekarang?"
Gemini termangu. "Masih tapi kadarnya tidak seperti awal..." jawab Gemini jujur.
"Apakah kamu sudah bisa menerima aku... maksud ku, sebagai suami?"
"Masih suami diatas kertas tapi aku bisa merasakan bahwa kamu tulus padaku..."
Michel mencium bibir Gemini dan gadis itu membalasnya. "Aku mencintaimu Gem. Apapun aku lakukan untuk wanita yang aku cintai. Aku amat sangat menyesal, akulah yang membuatmu buta. Hingga saat ini, rasa penyesalan itu tidak hilang dari benak dan pikiranku. Tapi kita sudah tiga bulan satu atap, satu tempat tidur dan berbicara banyak hal. Aku selalu bersyukur dan senang disaat kamu bercerita segala sesuatu meskipun itu hal yang receh dan biasa tapi bagi aku, itu suatu anugerah kamu percaya padaku Gem..."
Gemini menatap Michel dengan perasaan terharu.
"Berjanji lah padaku Gem. Apa yang terjadi di masa depan, entah kamu bisa melihat atau tidak, janganlah meninggalkan aku. Karena Gem, aku bisa mati karena kehilanganmu." Michel mencium bibir istrinya lagi.
***
Ruang Konseling Psikolog Pernikahan Rumah Sakit Westside Brisbane Australia
Krisna dan Gemintang sudah mengajukan ijin kepada Fathir untuk ke rumah sakit di Brisbane dan pria Turki itu mengijinkan karena tahu keponakannya lebih baik kontrol ke rumah sakit yang lebih besar.
Dan kini keduanya sudah berada di ruang konseling, menatap sang psikolog yang sudah berumur bernama Sue Wallace.
"Jadi, kalian sudah menikah selama..."
"Tiga bulan" jawab Krisna.
"Tidur terpisah" jawab Gemintang.
Sue menatap keduanya bingung. "Boleh aku tahu kenapa?"
Krisna dan Gemintang saling berpandangan. "Saya yang memaksanya untuk menikah denganku."
Sue mulai menatap menyelidik ke arah Krisna. "Apa kamu melakukan ini, karena rasa cintamu padanya?"
Krisna mengangguk.
Sue beralih ke arah Gemintang. "Tapi kamu tidak mencintainya?"
Gemintang mengangguk. "Boleh saya cerita kenapa."
"Tentu saja. Kalian berdua tampaknya membutuhkan pihak ketiga untuk membicarakan masalah kalian yang bisa menyimpan rahasia bukan?" senyum Sue yang mirip seorang Oma yang mendengarkan cerita cucunya.
"Pria ini, sudah terobsesi dengan saya sejak kuliah dan hingga akhirnya saya terpaksa menikah dengannya..."
"Apakah anda begitu mencintai Gemintang, Krisna ?"
"Sangat."
"Apakah anda melakukan sesuatu yang membuat kehidupan pernikahan anda tidak bahagia?" Sue bertanya pelan ke Krisna.
"Saya..." Krisna menatap istrinya. "Saya dulu... membuat rumor di kampus jika... Mintang frigid...dan hanya bisa berhubungan dengan saya..."
Wajah Sue tampak terkejut. "Dan hasilnya?"
Krisna mengusap wajahnya kasar. "Mintang bilang, dirinya menjadi frigid termasuk dengan saya."
Sue mengangguk. "Mintang, kenapa kamu mau menikah dengan pria ini?"
Gemintang menghela nafas panjang. "Karena ada banyak hal yang harus saya pertimbangkan jika saya menikah atau tidak dengan dia."
Sue mencatat beberapa notes di bukunya. "Kamu sangat memikirkan banyak hal ya hingga mengorbankan dirimu untuk masuk ke pernikahan yang boleh dibilang tidak sehat dan timpang perasaan dari satu pihak."
Krisna menatap sendu ke Gemintang sambil menggenggam tangan istrinya tapi gadis itu melepaskannya.
"Gemintang, apakah kamu tidak nyaman?"
"Sejujurnya? Iya. Bagi saya pernikahan ini hanyalah formalitas untuk menutupi sesuatu. Dan saya sudah meminta pada dia untuk melepaskan saya tapi dia tetap tidak mau" jawab Gemintang.
"Krisna, apa kamu sadar bahwa sejak tadi Gemintang hanya mengatakan dirimu 'pria ini' atau 'dia' tapi tidak pernah sekalipun menyebutkan namamu, baik nama depan maupun nama belakang." Sue melihat wajah terkejut Krisna. "Ada dua hal yang bisa saya simpulkan kenapa Gemintang seperti itu pada anda. Pertama dari sisi psikoanalisis, anda hanya diartikan sebagai kepemilikan. Itu berdasarkan dari tidak pernah disebutkan nama anda sama sekali."
Gemintang hanya mendengarkan analisis psikolog di hadapannya.
"Kedua, dalam posisi ini, Gemintang memendam amarah yang luar biasa, yang saya tidak tahu sampai sebesar apa tapi jika seorang istri tidak pernah menyebutkan nama suaminya sama sekali, dia sudah muak dengan pasangannya."
Krisna tampak tercengang sedangkan Gemintang tetap diam saja.
"Dan jika Gemintang mengatakan bahwa dia mengalami frigid kepada setiap pria termasuk anda, itu adalah bentuk mekanisme pertahanan diri agar tidak terluka lagi."
"Apa yang harus kami lakukan agar Mintang bisa menghilangkan perasaan frigid nya?" tanya Krisna.
"Take a break, berpisah lah sementara. Saya sebenarnya tidak boleh menganjurkan untuk berpisah tapi saya melihat dari bahasa tubuh Gemintang, dia sudah tidak sabar ingin pergi dari sisi anda. Bukan karena ada pria lain atau apapun... tapi lebih menjurus Gemintang sudah lelah..." ucap Sue yang membuat Krisna menatap nanar ke arah Gemintang.
"Apakah itu keinginan mu?" tanya Krisna dengan nada bergetar.
Gemintang menatap Krisna dingin. "Menurut mu?"
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️