
Apartemen Michel dan Gemini di Palermo Italia
Gemini terbangun dengan pelukan posesif di perutnya yang rata. Gadis ... ralat, wanita ... itu semalam memberikan miliknya yang paling berharga untuk suaminya, Michel de Luca. Entah kenapa tadi siang saat mereka membicarakan tentang pernikahan, Gemini terhanyut dengan ciuman Michel yang terasa menuntut dan penuh perasaan yang terasa disana.
Hingga akhirnya Gemini menyerah dengan perasaan membenci suaminya yang semakin terkikis dengan sikap Michel selama ini. Michel yang tidak pernah berkata kasar, selalu lembut, selalu mendahulukan kepentingan dirinya.
Dan tadi Michel begitu lembut membawanya ke dunia baru, dunia dewasa yang belum pernah dia rasakan. Dunia yang selama ini hanya ada di film-film romantis dan kini dirinya merasakan bagaimana Michel memperlakukan dirinya seperti memujanya. Disaat Michel menembus pertahanannya, pria itu membisikkan kata-kata cinta yang menenangkan dirinya hingga bisa merasakan bagaimana rasanya mendapatkan kenikmatan ber*cinta dengan suaminya.
Pada saat semuanya selesai, Michel menciumi wajah dan bibirnya mengucapkan terimakasih yang membuat Gemini merasa hangat. Betapa rasanya dicintai sedemikian rupa, membuat Gemini terharu. Apa yang terjadi, Gemini sudah tahu konsekuensinya termasuk jika suatu hari nanti dia hamil.
"Gem?"
Gemini menoleh ke arah belakang. "Apa Michel?"
"Aku mencintaimu" ucap Michel sambil menciumi tengkuk istrinya dan tangannya mengusap-usap perut Gemini. "Apakah kamu tidak apa-apa jika suatu saat kamu hamil? Aku...tidak pakai pengaman tadi dan mengeluarkannya di dalam..."
Gemini melongo. "Apakah kamu tidak mau punya anak?"
Michel membalikkan tubuh istrinya dan menghadap ke dirinya. Hidung mancung Gemini semakin hapal aroma khas suaminya yang harum parfum Acqua di Parma.
"Aku serahkan semua padamu Gem karena kamu yang akan membawanya selama sembilan bulan dan yang penting apakah kamu bersedia memiliki anak bersamaku, Gem. Kalau kamu tidak mau memiliki anak denganku, kamu bisa memakai kontrasepsi..." suara Michel menghilang ketika bibir Gemini menutup bibirnya.
"Aku sudah memberikan milikku padamu dan pasti aku tahu akan semua konsekuensinya termasuk kemungkinan saat ini sedang proses pembuahan di dalam... Jika aku hamil, itu adalah anugerah yang tidak boleh ditolak. Apakah kamu keberatan punya anak?"
Michel mendekatkan tubuh polos istrinya ke tubuhnya yang juga polos di balik selimut. "Aku sangat ingin memiliki anak denganmu Gem. Dan kita akan menjadi keluarga yang bahagia..."
"Meskipun aku tidak bisa melihat?"
"Bisa melihat atau tidak, kamu tetaplah istriku, Gem. Dan aku memenuhi janjiku padamu untuk mencari dokter ophthalmologists di seluruh dunia yang bisa mengoperasi kamu..." Michel menciumi mata Gemini yang terpejam.
"Tapi Oom Joey, mas Sammy dan Tante Fayza sudah mencari di Amerika..." jawab Gemini.
"Belum semuanya Gem. Mereka memang berusaha mencari tapi mereka juga seorang dokter sedangkan Tante Fayza juga sibuk dengan pekerjaan di Tokyo. Tapi aku adalah suami kamu Gem. Akulah yang seharusnya bertanggung jawab mencarikan dokter untukmu, membuat kamu kembali bisa melihat..." ucap Michel pelan membuat Gemini terharu mendengar ucapan pria itu.
"Gem... jangan menangis Gem..." bisik Michel melihat mata biru kosong itu tampak berkaca-kaca.
"Aku... terharu mendengar ucapanmu, Michel" balas Gemini jujur.
"Aku masih mencari dokter untukmu Gem... jangan khawatir. Aku yakin kamu bisa melihat lagi dan aku bisa melihat ekspresi di mata mu saat kita ber*cinta..." Michel menciumi wajah Gemini hingga menelusuri rahang dan ceruk lehernya hingga semakin ke bawah.
"Michel... apa yang kamu lakukan?" tanya Gemini dengan suara tersengal karena rasa nikmat yang menggelenyar di seluruh saraf kulit tubuhnya.
"Bercinta denganmu lagi, istriku..."
***
Rumah Krisna dan Gemintang di Kingaroy Queensland Australia
Krisna tampak melamun di halaman belakang rumahnya sembari merokok dan sekaleng bir terdapat di sebelahnya. Acara konsultasi dengan psikolog tadi membuat dirinya takut jika Gemintang benar-benar melakukan saran wanita bernama Sue Wallace yaitu berpisah.
Pria berdarah India itu tidak mau berpisah dengan Gemintang meskipun tahu kehidupan pernikahan mereka jauh dari kata bahagia seperti yang diidamkannya. Dia bahagia bisa menikahi Gemintang tapi Gemintang tidak pernah bahagia dengannya.
Krisna mematikan rokoknya di dalam asbak lalu dia menyalakan sebatang lagi dan menenggak birnya. Tadi usai dari Brisbane, mereka memutuskan berhenti di sebuah restauran cepat saji dan membeli makanan disana untuk makan malam. Tidak ada percakapan di dalam mobil karena masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.
Semoga kehidupan pernikahan kami membaik, aku dan Gemintang bisa menjalani hidup bersama seperti layaknya pasangan suami istri saling menyayangi.
***
Kamar Gemintang
Zinnia dan Sean menatap wajah lelah Gemintang di layar MacBook mereka. "Are you okay Mintang?" tanya Zinnia.
"No..." jawab Gemintang melalui airpods karena dirinya tidak mau Krisna mendengar percakapan dirinya bersama Zinnia dan Sean.
"Kalian jadi ke psikolog?" tanya Sean.
"Jadi bang. Dan dia adalah seorang psikolog yang berpengalaman dan bisa melihat hanya dari bahasa tubuh aku dan Krisna."
"Lalu, apa hasilnya?" Zinnia tampak khawatir dengan keadaan Gemintang yang sudah seharusnya lepas dari pernikahan toxic dan tidak sehat itu. Mungkin sudah waktunya mereka berpisah sementara dan apa yang akan terjadi di kemudian hari... itulah takdir.
"Kami harus berpisah..."
Zinnia dan Sean saling berpandangan. "Jadi rencana besok Juni tetap berjalan kan Mintang?" Sean menatap adik iparnya dengan penuh perhatian.
"Insyaallah jadi bang..." ucap Gemintang pelan.
"Mintang, be strong oke? Mbak Zee salut mental kamu benar-benar kuat."
"Karena aku selalu fokus akan segera pergi mbak. Jadi aku menguatkan diriku sendiri. 'Kamu kuat Mintang, kamu bisa tahan Mintang. Kamu bisa bertahan di Singapura, lalu kenapa sekarang kamu tidak bisa kuat?' Itu yang selalu aku ucapkan setiap pagi setiap bangun tidur dan sesudah sholat subuh."
Mata hitam Zinnia tampak basah dan ratu Belgia itu ingin memeluk adiknya. "Gemintang anak kuat!" ucap mommy Arsyanendra itu dengan suara bergetar.
"Terimakasih mbak Zee, bang Sean. Selain mommy dan Daddy yang selalu memberikan support, kalian semua, keluarga besar aku, sangatlah berperan besar di aku. Without prejudice ( tanpa prasangka ), kalian selalu ada di belakang aku..."
"Mintang, semua bukan salahmu. Rasa cinta yang terobsesi dari Krisna Rao lah yang membuat dia berbuat nekad tanpa memikirkan dampaknya padamu" ujar Zinnia.
"Iya mbak. Dia tidak tahu bahwa kekuatan ucapan, kekuatan lidah, mungkin sekarang jempol, jauh lebih dahsyat efeknya ke pikiran dan mental dibandingkan kita berkelahi dengan otot..."
"Kamu benar Mintang. Makanya lidah itu dibuat tidak bertulang oleh Allah agar tahu diri bahwa lidah dapat menjadi pedang paling tajam di dunia" ucap Zinnia.
Gemintang mengangguk sambil terisak. "Krisna tidak tahu bahwa rumor tentang aku frigid itu berdampak pada kewarasan aku sendiri apakah memang aku tidak bisa melakukan dan menikmati hubungan suami istri bahkan hingga kehilangan libido."
Krisna yang sedang berjalan di dekat jendela kamar Gemintang, tersentak dengan ucapan istrinya yang belum pernah didengarnya.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️