Gemini and Gemintang Love Stories

Gemini and Gemintang Love Stories
Yang Penting Kebahagiaan Kamu



Istana Brussels Belgia


Zinnia terdiam mendengarkan permintaan adiknya yang tinggal di Australia.


"Apa kamu yakin Mintang?" tanya ratu Belgia itu.


"Iya mbak. Aku sudah memikirkan matang-matang. Apa mbak Zee bisa tolongin aku?"


Zinnia menatap Sean yang sedang menggendong Alvaro dengan tatapan bingung membuat suaminya membalas tatapannya dengan wajah bertanya.


"Mintang, mbak tahu apa yang terjadi sama kamu dan Krisna waktu masih di Singapura. Mbak tahu rasanya menjadi kamu dan jika itu keinginan kamu, mbak akan bantu kamu tapi sebaiknya kamu bilang dulu dengan Oom Fathir, Tante Fahira dan Pahlevi agar mereka tidak kaget dan ada unggah ungguhnya. Memang kedengarannya kamu tidak profesional tapi kalau soal masalah hati dan mental, itu tidak bisa diabaikan apalagi kamu kan punya migrain kalau sudah terlalu stress."


"Iya mbak. Setidaknya aku ingin menata hatiku karena apa yang terjadi hampir tiga bulan ini tampak terasa cepat hingga aku tidak bisa berpikir jernih dan logis seperti biasanya."


"Setelah kamu bicara dengan Oom Fathir, kamu telepon mbak dan biar kita rencanakan dengan matang. Oke?" ucap Zinnia.


"Oke mbak. Terimakasih. Sayang mbak Zee" senyum Gemintang. Keduanya masih mengobrol sebentar lalu Gemintang mengakhiri panggilannya.


Sean menghampiri istri cantiknya yang sedang termangu tampak bingung. "Ada apa Zee? Mintang bertengkar dengan Rao?"


"Mintang ingin pergi meninggalkan Krisna."


Sean tampak tidak terkejut mendengar ucapan istrinya. "Zee, mereka berdua kan memang mengalami masalah sebelumnya ditambah Mintang terpaksa untuk menikah dengan Rao. Aku tidak tahu apa kelakuan Rao yang membuat Mintang harus menikah dengannya tapi jika adikmu ingin menenangkan diri, kita dukung."


Zinnia memeluk suaminya erat. "Kira-kira kemana enaknya sembunyikan Mintang? Indramayu?"


Sean menggelengkan kepalanya. "Kamu kan punya tempat yang paling aman."


"Istana kita?"


***


Apartemen Michel dan Gemini di Palermo


Sudah hampir dua Minggu Gemini dan Fillipo belajar bersama dan kini Gemini belajar mengetik di iMac dengan voice command. Berkat aplikasi canggih dan jauh lebih disabilitas friendly, membuat Gemini merasa dirinya bisa bekerja seperti halnya sebelum dia mengalami kebutaan.


"Wah, anda sudah bisa mengetik dokumen tanpa salah dengan keyboard khusus" puji Fillipo setelah Michel membelikan keyboard khusus dengan huruf braille di keypadnya.


"Benarkah?" tanya Gemini senang.


"Aplikasi ini juga memberikan kemudahan dengan membaca ulang lewat suara dari komputer. Sudah ada berbagai macam bahasa juga." Fillipo menerangkan kepada Gemini. "Silahkan anda mencobanya Signora."


Gemini melakukan voice command melalui airpods nya yang sudah disetting oleh Xena. Dan gadis itu mendengar dokumen yang diketiknya dan mulai mengingat apa yang salah.


"Bisa ternyata Fillipo!" seru Gemini senang bisa produktif kembali.


"Aplikasi ini bagus Signora apalagi semuanya dengan voice command jadi mempermudah semuanya."


Gemini bersyukur dengan adanya aplikasi ini. "Kalau boleh tahu, siapa pembuat aplikasi ini?"


"Yung IT Corp."


Gemini menepuk jidatnya. "Astagaaa! Itu perusahaan Oom aku!"


***


Acara Makan Malam Michel dan Gemini


"Bagaimana Gem tadi? Sudah terbiasa mengetik dengan voice command?" tanya Michel ke Gemini.


"Lumayan Michel. Dan kamu tahu siapa pembuat aplikasi yang membantu aku?"


"Siapa?"


"Oom Aji Yung" senyum Gemini yang tampak bahagia. "Oom aku memang jenius membantu para kaum disabilitas."


"Apakah selama ini kamu tidak tahu?" tanya Michel.


"Aku kan tidak memakai aplikasi buatannya sampai aku mengalami sendiri kekurangan aku, Michel. Biasanya orang baru tahu setelah mengalaminya sendiri."


"Ah, tidak juga. Kebetulan saja diberikan kelebihan hingga bisa membantu orang lain" jawab Gemini merendah.


"Tapi tetap saja, Gem." Michel mengelus kepala Gemini lembut. "Bersyukur bisa lahir di keluarga seperti keluarga kalian."


Gemini terdiam saat Michel mengelus kepalanya. Apa aku harus bisa menerima Michel? Hampir tiga bulan kami bersama dan selama itu aku merasa nyaman dan aman dengan Michel. Benarkah dia tulus atau hanya ada rasa bersalah saja ? Tapi dia bilang mencintaiku... Benarkah?


"Gem? Kamu kenapa?" tanya Michel dan Gemini mendengar nada cemas di pria Italia itu.


"Tidak apa-apa."


"Gem, kalau ada yang menjadi beban pikiran kamu, ungkapan saja. Aku bukan cenayang, bukan juga orang yang bisa membaca pikiran ataupun bahasa tubuh. Jadi kalau kamu ada rasa tidak suka atau ingin sesuatu, katakan saja Gem. Oke?" ucap Michel lembut.


"Iya Michel."


Michel mencium pelipis Gemini lembut. Ya Allah, aku harus gimana? Mencoba berdamai dengan dendamku karena pria yang menjadi suamiku ini adalah orang yang mencelakai diriku hingga buta atau seperti Mintang yang memilih pergi suatu saat nanti?


Gemini hanya diam saja ketika Michel memegang tangannya erat.


***


Rumah Krisna dan Gemintang di Kingaroy Queensland Australia


Pagi ini Krisna melihat Gemintang sudah kembali sibuk di dapur seperti biasa dan pria itu melihat tas dokter yang biasa dibawanya sudah terletak di dekat pintu utama.


"Kamu sudah yakin sembuh total? Aku tidak mau seperti kemarin Mintang. Baru masuk dua hari sudah ambruk lagi..." ucap Krisna lembut tapi ada nada tegas disana.


"Aku sudah bosan di rumah Rao. Hampir seminggu menjadi kaum rebahan itu tidak enak!" jawab Gemintang yang kesal badannya jadi ringkih seperti ini. Dua Minggu lalu memang Gemintang sudah masuk kerja seperti biasa tapi hanya bertahan dua hari lalu dia ambruk lagi.


Fathir memberikan waktu seminggu untuk beristirahat dan kini gadis itu sudah merasa lebih baik lagipula dia rindu dengan para hewan pasiennya.


"Aku tidak mau kamu sakit lagi Mintang" Krisna memeluk Gemintang dari belakang membuat gadis itu membeku. Krisna merasakan bagaimana tidak nyamannya istrinya di dalam pelukannya tapi dirinya merasa tidak ingin melepaskan Gemintang. Entah mengapa, dirinya merasa takut jika Gemintang benar-benar meninggalkan dirinya.


"Jules hendak menikah besok Juni. Kita datang kan?" tanya Gemintang sambil mempersiapkan salad meskipun agak kesusahan karena Krisna tidak melepaskan pelukannya.


"Kita akan datang... " Krisna mencium kening Gemintang. "Jangan terlalu diforsir nanti bekerjanya." Pria itu melepaskan pelukannya dan duduk di meja makan dimana sudah tersedia sandwich dan semangkuk cereal disertai kopi dan air putih.


Gemintang mengibaskan tubuhnya seolah tidak mau ada bau pria itu di badannya dan gerakan itu terlihat oleh Krisna yang merasa nyeri di dadanya.


Apakah aku seperti kotoran bagimu?


***


Ruang Kerja Fathir Hassan


Fathir, Fahira dan Pahlevi melongo mendengar rencana Gemintang di bulan Juni saat pernikahan Juliet dan Romeo.


"Apa kamu yakin Mintang?" tanya Fahira yang sebenarnya tidak menyetujui keputusan keponakannya untuk meninggalkan suami. Tapi melihat wajah Gemintang yang tidak bahagia, wanita berdarah Turki itu tidak bisa mencegah keinginan gadis itu.


"Iya Tante. Maaf jika Mintang tidak profesional..."


"Tidak Mintang. Oom dan Tante paham perasaan dirimu yang tidak bahagia. Baiklah, jika kamu memang sudah mantap, kami akan selalu mendukung kamu. Yang penting kebahagiaan kamu." Fathir menatap lembut keponakannya.


"Memang mbak Mintang minta tolong sama siapa?" tanya Pahlevi.


"Mbak Zee."


Ketiga anggota keluarga Hassan saling berpandangan. Yang diminta tolong nggak tanggung-tanggung!


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️