Gemini and Gemintang Love Stories

Gemini and Gemintang Love Stories
Bersama Raj



Cafe dekat klinik Hewan Uccle


Gemintang dan Raj berjalan bersama menuju cafe dekat klinik hewan dengan menaikkan jaketnya. Udara akhir bulan Januari memang masih dingin dan terkadang salju masih turun.


"Dingin?" tanya Raj.


"Sedikit" jawab Gemintang apa adanya.


"Sini, tangan mu berpegangan dengan lenganku."


Gemintang mendelik ke arah Raj. "Kamu nggak modus kan?"


"Ya Allah Gemintang, kamu saja sampai gemetaran kedinginan begitu... Cafe nya masih satu blok lagi. Aku tidak mau kamu hipotermia." Raj lalu mengambil tangan kanan Gemintang dan membawanya dalam genggamannya seolah memberikan kehangatan. Gadis itu menatap ke arah Raj. "Aku tidak mau menggendong kamu kalau pingsan. Berat!"


Gemintang memukul bahu Raj dengan tangan lainnya yang bebas. "Kamu kok nyebelin sih! Dokter macam apa kamu!"


"Dokter yang mencegah pinggang sakit akibat menggendong gadis pingsan akibat hipotermia" senyum Raj lembut ke arah Gemintang.


Wajah Gemintang memerah melihat mata coklat itu menatapnya dalam. Matanya mirip Rao tapi entah kenapa jantungku berdebar begini? Padahal selama tinggal bersama dengan Rao, matanya selalu menatapku seperti Arjun tapi tidak membuatku seperti ini.


"Ada apa Gemintang?" tanya Raj melihat wajah cantik itu memalingkan mukanya.


"Tidak apa-apa..."


"Tuh cafenya sudah nampak" ucap Raj riang untuk menghilangkan rasa yang mulai muncul dan tanpa malu itu.


Gemintang berusaha mengambil tangannya yang digenggam Raj tapi pria itu seolah tidak mau melepaskan sampai mereka masuk ke dalam cafe, baru Raj membebaskan tangannya.


Keduanya mengambil tempat duduk di area sudut cafe lalu mulai memesan makanan dan minuman. Keduanya saling menatap tapi setelahnya memalingkan wajah masing-masing karena entah kenapa, gara-gara berpegangan tangan, membuat jantung mereka berdetak tidak normal.


"Gemintang... "


"Ya Raj?"


"Kamu nanti pulang naik apa?"


"Sepeda lah! Aku suka naik sepeda soalnya olahraga juga dan ..."


"Kamu selesai praktek jam berapa?" potong Raj.


"Aku? Jam empat sore. Kenapa Arjun?" tanya Gemintang bingung.


"Temani aku nonton bioskop yuk."


Gemintang menatap Raj bingung. Ada sesuatu yang disimpan oleh pria yang wajahnya mirip dengan mantan suaminya. "Ada apa Arjun?"


Raj menghela nafas panjang berulang kali. "Aku... suasana hatiku sedang tidak enak."


Gemintang memegang tangan Raj. "Kamu kehilangan pasienmu?"


Mata coklat Raj menatap Gemintang. "Bukan, Gemintang. Kamu tahu, kasus wanita yang tewas di meja operasi? Suaminya, aku dengar hanya akan dituntut hukuman sepuluh tahun! Sepuluh tahun! Dapat apaaa? Dia menghilangkan nyawa istrinya! Dengan sadis pula!"


"Astaghfirullah? Kenapa tidak seumur hidup?"


"Aku tidak tahu, Gemintang. Rasanya aku ingin membuatnya... Haaaaahhh, tapi perkataan kamu membuat aku mengurungkan niatku..." Mata coklat Raj tampak berkaca-kaca. "Aku tidak menyangka ada orang mampu berbuat sadis seperti itu!"


Gemintang memberikan senyum menenangkan. "Arjun, tidak semua bisa kamu selamatkan, dan tidak semua bisa kamu buat sesuai dengan keinginan kamu. Percayalah hukum tabur tuai itu ada."


"Aku merasa kasihan pada kedua orang tua wanita itu..." Raj mengusap matanya. "Mereka tampak hancur, Gemintang."


"I'm so sorry to hear that. Tapi itu sudah terjadi, Arjun."


Raj menatap mata hijau yang membuatnya semakin terhipnotis. "Kamu wanita baik hati Gemintang."


"Aku tidak baik hati, Arjun..."


"No, Gemintang, kamu baik hati."


Percakapan mereka terhenti ketika pesanan mereka datang. Raj menatap Gemintang yang asyik makan dan tersenyum tipis.


Apakah jika aku nantinya jatuh cinta denganmu, apakah kamu akan menerimanya? Dan apakah keluarga mu dan keluarga aku bisa...


"Arjun? Kamu kenapa?" tanya Gemintang.


"Tidak nyaman bagaimana?"


"Gemintang... Bagaimana kalau..." Tiba-tiba suara beep terdengar di ponsel Raj. Pria itu langsung membuka ponselnya dan tampak terkejut. "Gemintang, maaf aku harus pergi."


"Urusan rumah sakit?" Gemintang tersenyum maklum karena dia sendiri juga seorang dokter.


"Iya. Maaf, tapi bisakah kamu bayarin dulu? Nanti aku ganti." Raj terburu buru mengenakan jaketnya.


"No problem."


Raj memakai topi Beanie nya lalu mencium kening Gemintang. "Aku pergi dulu. Nanti aku kabari." Pria India itu langsung keluar cafe meninggalkan Gemintang yang terkejut dengan sikap Raj.


"Dia mencium keningku?" gumam Gemintang bingung.


***


Klinik Hewan Uccle Belgia


Usai makan siang dan membayar, Gemintang kembali ke klinik Hewan nya. Anna sudah memberikan informasi bahwa pasiennya sudah menunggu untuk jadwal diperiksa.


Waktu berjalan begitu cepat hingga jam emapt sore pun tiba. Gemintang mulai membereskan semua bawaannya.


"Aku pulang dulu Anna" pamit Gemintang saat waktu menunjukkan pukul setengah lima sore.


"Hati-hati pulangnya Dok" senyum Anna.


Gemintang sudah bersiap dengan sepedanya untuk pulang ketika melihat Raj datang ke arahnya.


"Arjun? Ada apa..." Gemintang terkejut ketika Raj memeluknya erat. "Kamu ... Kenapa?"


"Biarkan seperti ini dulu, Gemintang. Aku butuh tenang..." bisik Raj yang membuat Gemintang terdiam. Meskipun demikian, tangan gadis itu tetap berada di sisi tubuhnya.


***


"Jadi kamu dipanggil mendadak itu karena ada gegeran di ruang sel tahanan?" tanya Gemintang setelah keduanya duduk di cafe yang sama tadi siang mereka datangi.


"Iya. Kamu tahu siapa yang menjadi korban? Si Suami!" jawab Raj.


"Siapa?" seru Gemintang kaget.


"Iya, si suami, Gemintang. Kamu benar, akan asa hukum tabur tuai."


"Tapi bagaimana bisa?" Gemintang menyesap teh herbalnya dengan bingung.


"Kamu tahu, di tahanan semua orang tahu siapa pria itu dan mereka sangat marah. Very furious! Sambil menunggu jadwal sidang, pria itu ditempatkan dalam sebuah sel bersama dengan beberapa tahanan lainnya. Dan Kekacauan terjadi saat para tahanan lainnya mendengar dia akan dituntut sepuluh tahun penjara. Mereka menghajarnya Gemintang. Dan saat dibawa ke rumah sakit tadi, keadaannya sangat parah. Wajahnya sampai tidak berbentuk..."


"Astaghfirullah Al Adzim..." Gemintang tampak terkejut.


"Dia juga mengalami beberapa luka tusuk..."


"Tapi dari mana para tahanan lainnya mendapatkan senjata, Arjun? Bukankah sebelumnya mereka diperiksa secara teliti sebelum dimasukkan ke dalam tahanan?"


"Tampaknya mereka menemukan beberapa alat disana yang bisa dijadikan senjata. Aku melihat ada banyak luka tusuk dengan bolpoin hingga obeng... Menurut petugas polisi yang mengawal pria itu ke rumah sakit, memang ruang tahanan sedang dalam renovasi. Tukangnya secara ceroboh meninggalkan beberapa peralatan disana."


"Bagaimana dengan para tahanan yang melakukan pengeroyokan?" tanya Gemintang concern.


"Hukuman mereka ditambah tapi kata polisi tadi, mereka merasa tidak menyesal mendapatkan tambahan hukuman yang penting sudah membuatnya merasakan seperti istrinya." Raj menyesap kopinya. "Setidaknya bukan aku yang menarik pelatuk. Begitu kan maksud mu Gemintang?"


Gadis itu mengangguk. "Orang akan mendapatkan apa yang dia perbuat. Jika kamu berbuat baik, maka akan mendapatkan kebaikan berlipat. Jika kamu berbuat jahat, hanya membutuhkan waktu perbuatan kamu akan dibalas."


Raj tersenyum setuju. "Kamu benar, Gemintang."


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️