Gemini and Gemintang Love Stories

Gemini and Gemintang Love Stories
Michel Murka



Perusahaan Anggur de Luca Palermo Sisilia Italia


Michel de Luca bersama dengan asistennya, Jerome, mendatangi pabrik milik keluarganya dan sesampainya di ruang meeting, sudah menunggu para anggota keluarga de Luca termasuk para pemegang saham.


"Ada apa ini?" tanya Michel tanpa basa basi dan langsung duduk di kursi paling ujung yang menunjukkan bahwa dirinya adalah kepala keluarga de Luca.



Michel de Luca


"Kami ingin meminta kamu berpisah dengan gadis buta itu!" ucap salah seorang bibi Michel.


"Alasannya?" Michel menatap tajam ke wanita paruh baya yang memang tidak pernah disukainya.


"Dia merepotkan kamu, Michel. Kamu bisa mencari wanita lain yang lebih sempurna! Gara-gara gadis buta itu, kamu pindah dan bukan menjadi bagian kami!"


"Bagian yang mana? Bagian aku sudah tidak sama keyakinan dengan kalian?" Michel paling sebal jika semua dikaitkan dengan keyakinan karena menurutnya itu adalah hak asasi semua orang. Mau pindah atau tidak, hak nya lah.


"Iya dan gadis buta itu pasti akan merepotkan kamu."


BRAAKK!


Michel menggebrak meja yang terbuat dari kayu Mahogany membuat wanita itu terdiam.


"Gadis buta itu adalah istriku! ISTRIKU! Namanya adalah Gemini Sky Lexington! Dan sebelum kalian ribut, harusnya kalian sadar dia dari keluarga mana!" bentak Michel.


"Tapi Michel..." ucap salah satu pamannya dengan nada sedikit melunak. "Dia tidak bisa mendampingi kamu..."


"Karena aku yang membuatnya buta! Apa kalian tidak ingat itu! Oh, apa kalian tidak suka jika aku menikah dan memiliki keturunan karena takut bagian warisan kalian berkurang bukan?" sindir Michel. "Apa paman takut uang untuk berjudi berkurang? Atau kamu bibi, tidak bisa mempertahankan gaya hidup mewahmu? Jika kalian takut akan hal itu, hari ini juga, aku bisa mencoret kalian dari daftar keluarga sekalian! Bagaimana?"


Suara riuh memenuhi ruang pertemuan itu namun Michel tidak bergeming dan hanya menatap tajam anggota keluarganya sambil meletakkan tangannya di dagu.


"Kamu tidak bisa begitu Michel! Kita semua keluarga!"


"Kamu tidak ada hak Michel! Itu semua milik keluarga de Luca!"


"Tentu saja aku bisa melakukannya! Karena aku memegang 65% saham De Luca Ltd!" ucap Michel dingin. "Kalian sendiri lah yang menjual saham milik kalian ke luar keluarga karena selalu merasa kurang dan aku beli kembali! Jadi, jika kalian sudah tidak nyaman dengan keputusan aku, pintu keluar disana dan begitu kalian keluar, kalian sudah bukan keluarga de Luca!"


Semua orang disana melongo mendengar ucapan Michel yang merupakan keturunan langsung keluarga de Luca apalagi memiliki saham terbesar sehingga bisa melakukan apa saja ke keluarganya.


Paman dan bibi Michel saling berpandangan namun mereka sangat terkejut mendengar pria itu tahu saham mereka jual ke keluarga lain. Mereka pun berpikir ulang untuk mengkudeta Michel.


"Oh, tidak ada yang keluar? Ternyata kalian masih butuh uang ya" ejek Michel. "Oh, kalian jangan ada yang sekali-kali hendak mencelakakan Gemini karena dia adalah sepupu Antonio, Leia dan Luke Bianchi, ipar Dante Mancini dan anggota keluarga Pratomo. Kalian tidak akan bisa melawan keluarga mereka. Paham? Jerome!"


Semua orang itu awalnya tidak percaya gadis buta itu adalah anggota keluarga terkenal namun setelah asisten Michel memberikan susunan silsilah keluarga Gemini, nyali mereka pun ciut. Siapa yang tidak tahu peristiwa Turin? Kartel saja mereka lawan apalagi hanya keluarga de Luca yang tidak ada apa-apanya dibandingkan klan Pratomo.


***


Apartemen Michel dan Gemini di Palermo


"Pembangunan resort nya sampai mana Steve?" tanya Gemini sambil menelpon manager PRC Group Sisilia.


"Sudah 80% Gem. Kamu sendiri gimana? Apa aku kirim semua berkas pakai huruf braille?" tawar Steven.


"Aku belum mempelajari braille Steve. Tapi apa kamu bisa mengirimkan yang biasa? Biar Xena yang membaca untukku."


Steven memang diminta oleh Gemini memanggil namanya jika hanya berdua karena mereka tidak beda jauh usianya tapi jika di perusahaan, tetap panggilan formal.


"Gem, aku punya paman yang tuna netra akibat glukoma dan dia mempelajari huruf braille. Beliau adalah dosen dan menjadi tuna netra bukan halangan untuk berkarya. So, aku mohon kamu belajar huruf braille sampai kamu bisa melihat lagi. Sementara tapi kamu bisa bekerja karena aku akan buat salinannya dengan huruf braille."


Gemini merasa terharu mendengar permintaan manager nya yang meskipun sering membuatnya gemas tapi disaat situasinya serius, Steven memang bisa diandalkan


"Nanti akan saya Carikan guru untuk belajar bahasa braille nona Gemini" ucap Xena.


Gemini terdiam untuk meresap ucapan Steven. Sepertinya Steve kampret benar, aku harus bisa berdamai dengan kondisi aku. Mataku boleh tidak bisa melihat tapi otak, jari, hidung, telinga mulut masih berfungsi dengan baik.


"Gemini, coba kamu diskusikan dengan Michel untuk mendapatkan guru huruf braille yang bagus. Aku rasa Michel bisa mencarikannya" timbrung Nora yang mendengar percakapan Xena dan Gemini.


"Oh dear, Michel pasti akan senang membantu kamu" ucap Nora sambil memegang bahu Gemini.


Gemini hanya mengangguk.


***


Kingaroy Queensland Australia


Gemintang terbangun ketika mendengar suara alarm ponselnya yang memang selalu disetting jam setengah empat pagi karena waktu subuh disana dimulai jam segitu. Karena tidak ada mesjid yang dekat, Gemintang pun menyeting ponselnya.


Gadis itu mulai bangun dan menuju kamar mandi untuk mulai membersihkan diri dan memulai ibadah subuhnya. Suara ketukan di pintu membuat Gemintang mengurungkan niatnya untuk memulai sholat lalu membuka pintu kamarnya.


Krisna tertegun melihat istrinya yang sudah mengenakan rukuh bewarna biru navy, tetiba lupa hendak bilang apa.


"Ada apa Rao?" tanya Gemintang.


"Eeerrr... apakah kamu tidak keberatan jika kita berjamaah?"


Gemintang terdiam. Satu sisi dirinya tidak mau diimamkan oleh Krisna tapi sebagai umat muslim dan istri, sangat tidak elok menolak ajakan ibadah apalagi suami sendiri yang sah secara hukum dan agama.


"Sholat dimana?" tanya Gemintang.


"Aku sudah mempersiapkan di kamar. Bukankah lebih baik di tempat yang tidak terlihat agar tidak dianggap riya' dan terlindung dari hal-hal yang bisa membatalkan sholat?" jawab Krisna lugas.


Gemintang pun berbalik untuk mengambil sajadahnya. "Jom ( ayo )."


Krisna tersenyum lebar mendengar istrinya bersedia beribadah bersamanya.


***


Usai beribadah, seperti biasa Gemintang melakukan dzikir. Krisna hanya duduk sambil memandangi wajah istrinya yang khusuk melakukan dzikir subuh yang memang sudah rutin dia lakukan.


"Kenapa kamu memandangi aku seperti itu?" tanya Gemintang yang lama-lama risih juga usai dzikir pagi.


"Aku senang memandangi mu, Mintang. Apalagi usai ibadah, wajah kamu semakin cantik."


"Jika kamu pagi-pagi hendak merayu aku, tidak mempan Rao."


Krisna membalik tubuhnya dan berhadapan dengan istrinya. "Mintang, bagaimana jika kita berdamai?"


"Maksudnya?"


"Kita jalani pernikahan ini sampai salah satu tidak kuat dan tidak mampu..."


"Kenapa tidak sekarang saja kita selesaikan?"


"Tidak sekarang. Karena aku sangat mencintaimu, Mintang."


"Sampai kapan?"


"Selamanya. Selalu dan selamanya hanya kamu di hatiku..."


Gemintang hanya menatap datar ke arah suaminya.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️