
Manchester Inggris
Krisna menatap gadis cantik di hadapannya dan dia merasa pernah melihat nya tapi dimana? Cantiknya gadis ini berbeda dengan Mintang... Kabar istriku... eh salah mantan istriku bagaimana ya?
"Apakah kamu hendak menonton pertandingan Manchester United?" tanya Apsarini.
"Maaf, aku harus memanggilmu siapa? Namamu agak sulit di lidah aku..." Krisna tersenyum kikuk.
"Sari. Kamu bisa memanggil aku Sari."
"Itu nama bahasa mana?" tanya Krisna lagi.
"Dari bahasa Jawa. Almarhum mommy ku masih ada keturunan Jawa."
"Artinya apa?"
"Cantik bagaikan bidadari" jawab Apsarini sambil tersenyum manis.
"Sesuai dengan wajah mu Sari..."
"So, kamu belum menjawab pertanyaan aku. Apakah kamu hendak menonton pertandingan Manchester United?" Mata coklat Apsarini menatap lekat ke Krisna.
Andaikan Mintang yang menatap ku seperti itu bukan sorot mata benci dan sedih.
"Sebenarnya aku hanya ingin berjalan - jalan saja dan aku belum memiliki tiketnya juga."
"Yuk nonton bersamaku" ajak Apsarini.
"Excuse me? Memangnya kamu punya tiketnya?" Krisna menatap gadis misterius itu bingung.
"Ayo lah! Ini tiketnya asli kok" ajak Apsarini sambil menarik tangan Krisna.
"Eh? Sariiii!"
***
Kediaman Keluarga Léopold Brussel Belgia
"Kakinya pochi tidak apa-apa kan Tante?" tanya Arsya dengan wajah cemas melihat kaki kecil anjing shitzhu miliknya sedang diperiksa oleh Gemintang.
"Tidak apa-apa, Arsya. Tidak ada yang patah hanya keseleo. Ini Tante kasih kompres untuk mengurangi bengkak nya" ucap Gemintang. "Ada obat nanti yang diminum buat ngurangi rasa sakit."
"Obatnya pahit nggak Tante?"
"Nggak sayang. Nanti kan dicampur di makanannya. Sementara Pochi di kandang dulu, ya Sya. Biar nggak jalan-jalan dulu sampai kakinya sehat." Gemintang mengelus rambut Arsyanendra.
"Kasihan mochi tidak ada temannya" ucap Arsya sambil menunjuk anjing shitzhu satu lagi yang tampak sedih melihat temannya sakit.
"Jangan disatukan dulu, Sya. Nanti malah main terus nggak istirahat."
Arsya memeluk tantenya. "Arsya sedih Tante."
"Tidak apa-apa, Pochi harus istirahat dua hari ya Sya. Kalau mau pee dan pup bisa ke kandang satu lagi pakai pad nya." Gemintang mengusap kepala keponakannya.
***
"Pochi gimana Mintang?" tanya Sean saat acara makan siang bersama.
"Tidak apa-apa bang, hanya keseleo kok. Sementara di kandang dulu sampai dua hari" jawab Gemintang.
"Syukurlah. Kakinya di gips?" tanya Zinnia.
"Nggak mbak, aku kompres saja sama kasih obat oral untuk mengurangi sakitnya."
"Mommy, kata Tante Mintang obatnya nggak pahit. Tapi kok obat Asya ada yang pahit ya?" tanya balita bermata biru itu.
"Obat Arsya yang pahit itu adalah obat yang bikin Arsya cepat sembuh" senyum Zinnia.
"Antibiotik waktu Arsya sakit di Indramayu."
Gemintang tertawa kecil. "Pahitnya cuma sebentar kan Sya?"
"Hu um. Habis itu mommy kasih madu."
***
"Yakin kamu tidak mau menginap disini?" tanya Zinnia ke Gemintang yang bersiap pulang ke Uccle bersama Hazel.
"Nggak mbak. Aku ingin menikmati kota Brussels di malam hari.... Refreshing sejenak" senyum Gemintang. "Dua hari ini aku mengurus kasus rumit soalnya."
"Ya sudah kalau kamu ingin menikmati jalan-jalan" senyum Zinnia. "Hazel, kamu temani Miss Lexington ya."
"Yes, your majesty."
***
Gemintang dan Hazel memilih untuk berjalan-jalan di pusat kota sembari menikmati jajanan yang dijual disana apalagi banyak roti dan camilan manis yang merupakan favorit gadis itu.
"Saya heran dengan anda nona..."
"Apa itu Hazel?" tanya Gemintang.
"Anda makan banyak tapi tetap langsing."
Gemintang tertawa. "Soalnya badanku ikut gen Daddy yang sulit gemuk bahkan di usianya sekarang, masih awet kurus."
"Saya iri dengan anda nona. Lihat! Saya bernafas saja sepertinya mendapatkan dua kilo lemak!" gerutu Hazel yang membuat Gemintang semakin tertawa geli.
Suara sirine ambulans meraung di jalanan membuat Gemintang dan Hazel serta orang-orang disana hanya menatap mobil itu.
"Apakah ada kecelakaan lagi?" gumam Hazel.
"Aku tidak tahu, Hazel."
***
Clinique Saint Jean Bruxelles
Sementara itu di rumah sakit, Raj bersama dengan tim dokter harus berjibaku menyelamatkan seorang wanita yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Suaminya memang sudah ditangkap polisi tapi luka-luka yang diderita wanita itu jauh dari kata manusiawi.
"Bagaimana bisa seorang suami menusuk istrinya hingga 20 tusukan?" umpat Raj sembari mencoba menghentikan pendarahan di leher korban sedangkan rekannya merawat luka lainnya.
"Suaminya seorang pecandu narkoba dan saat kejadian ini terjadi, dia sedang mengkonsumsi PCP hingga peristiwa memilukan ini membuat kita miris" ucap salah seorang perawat.
"Bagaimana kamu tahu?" tanya Raj.
"Saya sempat bertanya ke anggota polisi tadi dok" jawab suster itu.
Suara nada garis lurus terdengar di ruang ER itu membuat Raj dan para dokter mencoba menyelematkan nyawa wanita itu dengan melakukan kejut jantung menggunakan defribrilator namun tetap tidak ada pengaruhnya.
"Kasus ini akhirnya menjadi kasus pembunuhan" ucap Raj.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Lanjut besok.
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️