
Brussels Belgia
Raj dan Gemintang menuju mobil bewarna merah yanb remuk dan pria itu mengambil sebuah linggis mini yang dibawanya untuk menarik besi yang menggencet korban.
Gemintang menatap wanita yang tampak pingsan lalu menoleh ke arah Raj. "Apa kamu ada botol oksigen di tas doktermu?"
"Ada Gemintang. Bagaimana wanita itu?" Raj berhasil membuka besi yang menekan tubuh korban.
"Pingsan." Gemintang membuka tas dokter milik Raj lalu menuju ke pintu belakang mobil dan memberikan oksigen ke korban dari sana agar tidak menggangu kondisi leher korban karena tidak tahu apakah lehernya cidera serius atau tidak sedangkan Raj mulai memeriksa kondisi wanita itu.
"Luka dalam, aku perkirakan empat sampai lima tulang rusuknya retak atau patah. Tangan kiri patah dan dislokasi. Gemintang, kamu tetap berikan oksigen karena dia pasti kesulitan bernafas, aku yang akan mengurus luka luarnya" pinta Raj.
"Oke."
"Dokter Rao... " panggil pria tadi yang menolong korban mobil hitam.
"Dokter Jensen. Bagaimana...?" Raj menoleh ke arah mobil hitam. Bekas-bekas perban yang digunakan dokter Jensen berserakan. "Dia tidak selamat ya?"
"Je suis désolé ( aku minta maaf )" jawab Dokter Jensen sendu.
"Setidaknya kita selamatkan wanita ini!" ucap Raj tegas. "Gemintang, kamu tetap berikan oksigen, biar kami yang bekerja."
"Baik." Gemintang tahu ilmu bedah manusia adalah ranah Raj dan dokter Jensen. Tak lama ambulans pun sampai begitu juga polisi dan petugas damkar yang langsung mengurus korban.
Raj dan dokter Jensen lalu membantu paramedis untuk membawa korban yang masih hidup ke dalam ambulans sedangkan pihak polisi menderek dua mobil yang ringsek itu.
Kedua dokter itu memberikan keterangan kepada polisi begitu juga dengan para pengguna jalan raya itu terutama saksi mata utama disana.
Gemintang memutuskan untuk kembali ke mobilnya karena merasa dirinya tidak diperlukan lagi. Gadis itu pun berjalan sambil membawa tas dokternya menuju Mini Cooper nya dan masuk ke dalam.
Sembari menunggu lalu lintas berjalan lancar karena licinnya jalan, Gemintang menyesap hot choco yang dibawanya. Suara ketukan di jendela mobilnya membuat Gemintang menoleh.
"Ada apa Arjun?" tanya Gemintang saat membuka jendela mobilnya.
"Kamu mau kemana?"
"Ke rumah kakakku, istana Brussels. Kami hendak merayakan malam tahun bersama."
Raj mengangguk. "Hati-hati, mobilku berada lima mobil dari mobilmu." Pria itu menunjukkan mobilnya yang membuat Gemintang menoleh.
"Oke. Aku pergi dulu" ucap Gemintang sambil menutup jendelanya. Raj melambaikan tangannya dan Gemintang menjalankan mobilnya.
***
Istana Brussels Belgia
"Kenapa terlambat Mintang?" tanya Zinnia setelah adiknya datang.
"Ada kecelakaan mbak, jadi aku membantu korban dulu bersama dokter Jensen dan dokter Arjun Rao" jawab Gemintang tenang.
"Rao? Apa hubungannya dengan Krisna?" tanya Zinnia yang berjalan bersama dengan Gemintang.
"Dia saudara kembarnya..."
Mata hitam Zinnia melotot tidak percaya. "Kembar? Identik?" Gemintang mengangguk. "Kamu baik-baik saja?"
"Baik mbak. Aku sudah bahagia sekarang jadi buat hal-hal yang tidak penting, aku buang lah!" senyum Gemintang.
"Itu baru adik mbak!" Zinnia memeluk Gemintang erat. Keduanya pun tiba di balkon istana untuk menikmati kembang api bersama Sean, Arsya dan si kembar.
"Mintang!" panggil Sean dengan wajah judes.
"Ada apa ya bang?"
"Kenapa Shinichi mempengaruhi Arsya supaya membuka larangan masuk Belgia? Kamu kan yang minta ke Arsya?" pendelik Sean dengan wajah sok galak.
Gemintang menoleh ke Zinnia. "Mbak...?"
"Kamu jangan marah-marah dong Sean. Sudah tahu Shinichi memang begitu jadi nggak heran dong" senyum Zinnia sambil menepuk dada Sean yang reflek merangkul pinggang istrinya.
"Beneran deh anak itu! Lihat Arsya, wajahnya dibuat melas!" tunjuk Sean ke Arsya yang memajukan bibirnya dan matanya berkaca-kaca.
"Huwaaaaa! Daddy jahat!" teriak Arsya. "Daddy marahin Tante Mintang!"
"Hah? Nggak Sya... Daddy nggak marahi..." Sean pun tampak panik.
"Huwaaaaa! Mommy!" tangis Arsyanendra pun terdengar dan Zinnia menatap tajam ke arah Sean.
"Haaaaahhh... Benar-benar deh si Kungkang!" gerutu Sean.
***
Apartemen Michel dan Gemini di Palermo Italia
Pasangan suami istri itu menikmati acara pesta kembang api yang terlihat dari balkon apartemen mereka. Michel memang menyediakan sebuah sofa dari rotan dan fireplace agar mereka nyaman melihat pemandangan kota.
Gemini bersandar di tubuh kekar suaminya yang dengan lembut mengusap perutnya yang mulai tampak membuncit di usia tiga bulan.
"Mintang ke istana nya mbak Zee dan Arsya ribut dengan bang Sean gara-gara marahi Mintang" kekeh Gemini sambil membaca pesan dari kembarannya.
"Lho memang kenapa Sean marahi Mintang?" tanya Michel bingung.
"Gara-gara Shinichi lah! Jadinya Sean gemas padahal dia tadi marahi Mintang juga nggak beneran, karena sebal saja sama Shinichi. Eh Arsya mengira Daddynya marahi tantenya beneran. Dan sekarang, Arsya tidak mau lepas dari Mintang dan judes sama Sean" gelak Gemini sambil menunjukkan foto Arsya memeluk Gemintang erat.
"Astagaaa kalian itu" kekeh Michel. "Gem, kira-kira anak kita cowok atau cewek ya?"
"Aku sih yang penting sehat, lengkap semuanya dan lahir dengan selamat baik anakku dan aku. Karena melahirkan itu taruhannya nyawa."
Michel semakin mengeratkan pelukannya ke istrinya. "Kamu dan anak kita pasti selamat, Gem. Selama selalu mengikuti aturan dokter terutama soal pola makan, insyaallah baik-baik saja."
Gemini menatap wajah suaminya. "Thank you Michel."
Michel mencium bibir istrinya. "You're very welcome and I love you."
"Love you too..."
Suara kembang api membuat keduanya terkejut dan baru sadar kalau sudah berganti tahun.
"Happy New Year, Gemini. Aku senang di tahun baru ini ada anggota keluarga yang baru" senyum Michel.
"Happy New Year, Michel. Love you to the moon and back..." Gemini mencium bibir suaminaya.
"Yuk!" Michel pun bangkit dan menarik tangan Gemini.
"Kemana? Katanya mau lihat kembang api?" tanya Gemini bingung.
"Nengok si baby lah!" jawab Michel santai sambil mengajak Gemini masuk apartemen.
***
Clinique Saint Jean Bruxelles Brussels Belgia
Raj menatap kembang api dari halaman rumah sakit bersama dengan para perawat dan dokter yang mendapatkan jadwal jaga di malam tahun baru. Dirinya sendiri tidak ada masalah menjadi dokter jaga karena tidak ada pasangan.
Merasakan ponselnya bergetar, Raj pun masuk ke dalam ruang praktek yang agak kedap suara lalu menerimanya.
"Selamat tahun baru Krisna" salam Raj yang tahu Mumbai sudah pukul setengah lima pagi karena perbedaan jam di empat setengah jam.
"Selamat tahun baru, Raj. Bagaimana keadaan kamu?"
"Baik. Meskipun tadi harus menolong korban kecelakaan. Kamu sendiri?" Raj memang tidak mau mengatakan apapun tentang Gemintang.
"Barusan aku mendapatkan email dari perusahaan aku bekerja sekarang. Per tanggal lima besok, aku sudah harus berada di kantor baru."
"Kamu pindah kemana?"
"Manchester Inggris."
Hati Raj menjadi tidak tenang.
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️