
Apartemen Michel dan Gemini di Palermo Italia
"Apa kamu yakin, Mintang?" tanya Gemini melalui panggilan telepon. Hatinya merasa tidak enak apalagi pikirannya ke Gemintang terus.
"Aku yakin Gem. Mbak Zee dan bang Sean sudah oke dan sudah mempersiapkan semuanya."
"Sekarang kamu dimana? Apakah Rao mendengar kamu?" tanya Gemini khawatir.
"Aku di kamar mandi, Gem. Pintu kamar mandi aku tutup tapi kamarku kuberikan lagu dari bluetooth speaker biar Rao tidak mendengar."
Gemini merasakan kehadiran Michel yang membuka pintu kamar mereka. Gemini memang memutuskan untuk beristirahat di kamar setelah menerima laporan dari Steven yang sudah bisa diaplikasikan di app buatan Aji Yung. Gemini mendengar suara langkah kaki suaminya yang mendekati tempat tidur.
"Telepon siapa Gem?" tanya Michel lembut sambil mencium kening istrinya.
"Telepon Mintang. Kan di Kingaroy sudah jam sembilan malam, telepon sebelum tidur."
Michel mengangguk dan melihat jam dinding yang menunjukkan pukul satu siang. Perbedaan waktu antara Palermo dan Queensland adalah 9 jam lebih dulu Australia.
"Kamu sudah makan?" tanya Michel dengan nada yang terdengar Gemintang lembut dan mesra.
"Sudah. Maaf Michel, aku tidak tahu jika kamu pulang cepat jadi tadi aku, Xena dan bibi Nora makan dulu" jawab Gemini dengan nada bersalah.
"Tidak apa-apa, aku yang salah tidak memberitahukan padamu kalau aku hendak pulang cepat. Sorry Mintang, aku mengganggu obrolan kalian. Aku ke kamar mandi dulu." Michel berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Michel terdengar sangat sayang padamu Gem..." komentar Gemintang.
"Iya... kamu tahu. Dia merasa bersalah saat membelikan aku mesin tik Braille jadul padahal ada keyboard komputer khusus Braille" kekeh Gemini. "Padahal bagiku, tidak masalah karena yang penting aku bisa produktif."
"Gem, kalau kamu mau menerima Michel, bukan sesuatu yang salah kok. Lagipula, Michel sebelumnya juga baik padamu dan kejadian kalian itu memang takdir. Kita tidak bisa mengingkari apa yang sudah tersurat dari dalam perut di usia empat bulan..."
"Aku masih belum yakin Mintang..."
"Setidaknya Michel tidak membuat kamu tidak nyaman kan?"
"So far begitu, Mintang..."
"Selami hatimu Gem. Mungkin aku terdengar munafik tapi posisimu dan posisiku memang terpaksa menikah dengan situasi yang berbeda. Michel meminta untuk menikahi mu karena dia ingin merawat mu sebagai rasa bersalahnya tapi dia tulus mencintaimu. Rao... aku terpaksa Gem agar Opa tidak terkena serangan jantung lagi dan menghindarkan dari skandal. Rao itu terlalu obsesi padaku dan aku takut padanya."
Gemini terisak mendengar perkataan kembarannya. "Aku mengerti Mintang, hatimu itu sebenarnya jauh lebih lembut dan sensitif dibandingkan aku. Mintang, aku harap apapun keputusan kamu besok, aku selalu mendukungmu. Kamu berhati-hatilah dengan Rao, dia bisa merasakan perubahan sikap kamu. Biasa saja Mintang, toh tinggal dua bulan lagi kita ke Jakarta."
"Thanks Gem. Doakan aku bisa pergi ya."
"Apapun demi kebahagiaan kamu, sis."
Gemini mematikan panggilannya dan mendengar Michel sudah keluar dari kamar mandi dengan bau harum sabun dan shampoo.
"Michel..."
"Yes Gem?" Michel yang hanya mengenakan handuk di bawah pinggangnya masih mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil menatap istrinya yang melihat ke arahnya.
"Kenapa badan kamu tadi bau mesiu?"
Michel melongo.
***
Michel memakai boxer dan celana pendeknya lalu naik ke atas tempat tidur mendekati Gemini. "Bagaimana kamu bisa tahu?"
Gemini cemberut. "Michel de Luca! Apakah kamu lupa aku dari keluarga mana? Semua keturunan klan Pratomo harus bisa menembak dan bela diri jadi aku hapal bau mesiu!"
Tiba-tiba Michel mencium bibir Gemini lembut. "Kamu tambah cantik kalau cemberut..." goda Michel.
"Jangan main curi-curi ciuman Michel..."
"Kenapa? Kamu istriku jadi aku berhak lah mencium kamu. Lagipula, bibirmu enak... Addduuuhhh!" Michel mengusap bahunya.
"Kamu nggak pakai baju?" pekik Gemini.
"Lho aku kan barusan mandi..." Michel merengkuh tubuh langsing Gemini dan mendudukkannya Diatas pangkuannya. Gemini reflek memegang bahu suaminya dan merasakan kedua tangan Michel memeluk tubuhnya.
"Gemini... kita menikah sudah berapa lama?"
"Apakah kamu sudah nyaman denganku? Apa kamu sudah mulai membuka hatimu padaku?"
Wajah Gemini tampak bingung. "Apakah kamu meminta hak mu sekarang?"
Michel menatap wajah cantik istrinya yang mata birunya tampak kosong tapi wajahnya terlihat sangat cemas.
"Kalau kamu belum nyaman... Aku tahu kamu pasti tidak bisa melakukannya jika tidak ada perasaan disana kan Gem..."
Gemini hanya bisa terdiam. "Maaf Michel tapi kalau aku..."
Michel mencium bibir Gemini lembut dan kemudian Melu*matnya dan memberikan French kiss ke istrinya hingga gadis itu kehabisan nafas. "Aku sangat mencintaimu, Gemini..."
Gemini memegang wajah Michel. "Apakah kamu akan tetap mencintaiku jika selamanya aku buta?"
"Apakah kamu akan meninggalkan aku jika kamu bisa melihat?" balas Michel dengan nada sedih disana.
Gemini hanya terdiam.
***
Rumah Krisna dan Gemintang di Kingaroy Queensland Australia
Gemintang keluar dari dalam kamar mandi dan mendengar suara ketukan di pintu kamarnya. Gadis itu mematikan iPad nya yang menyetel lagu-lagu klasik di speaker bluetooth nya.
Setelahnya Gemintang menuju pintu dan membuka kuncinya. Gadis itu membuka pintu kamar dan tampak Krisna berdiri di dpean pintu.
"Ada apa Rao?" tanya Gemintang.
"Hanya ingin tahu kenapa kamarmu terdengar lagu - lagu klasik..."
"Kenapa? Tidak boleh?" balas Gemintang dingin.
"Bukan begitu Mintang... tapi..."
"Kalau kamu keberatan, mulai detik ini aku tidak akan menyetel lagu apapun!" Gemintang menutup pintunya keras di hadapan Krisna dan langsung menguncinya.
Krisna menghela nafas panjang. Ya Allah, aku hanya ingin bertanya sejak kapan dia suka lagu klasik karena setahuku dia suka lagu pop dan slow rock.
Krisna mengetuk pintu kamar Gemintang lagi. "Mintang... aku tidak melarang kamu menyetel lagu apapun dari speaker mu ... Aku hanya amu bertanya sejak kapan kamu suka lagu klasik karena kamu kan bukan tipe..."
Pintu kamar terbuka dan tampak wajah Gemintang yang judes disana. "Apa karena obsesi mu, kamu merasa tahu semuanya tentang aku Rao? Kamu tidak tahu keseluruhannya! Dan aku sekarang mau tidur. Good night!" Gemintang menutup pintu kamarnya lagi tapi tidak sekeras tadi.
Krisna hanya bisa mengelus dadanya. Sabar Krisna, ini adalah hasil perbutan kamu yang tidak bisa berpikir panjang saat membuat Gemintang menjadi milikmu.
"Mintang..." panggil Krisna sambil mengetuk pintu kamar Gemintang lagi. "Besok kita ada janjian dengan seorang psikolog di rumah sakit di Brisbane jadi kita berangkat pagi ya."
Gemintang membuka pintu kamarnya lagi. "Apa maksud kamu janjian dengan psikolog? Memang ada apa?"
Krisna menatap sendu ke Gemintang. "Untuk terapi keadaan frigid kamu..."
"Aku tidak butuh terapi, Rao. Aku bisa hidup selibat tapi entah kalau kamu..." Gemintang tersentak ketika Krisna mencengkram lengannya.
"Satu-satunya wanita yang ingin aku habiskan hidup bersamanya, bercinta dengannya, memiliki anak dan hidup berumahtangga, itu adalah kamu, Gemintang! Dan jangan membuatku marah..."
"Jika kamu berani menyakitiku lagi, Rao... Jangan harap kamu bisa hidup lama!" balas Gemintang dingin dengan mata hijaunya berkilat marah.
Krisna tampak terkejut melihat bagaimana kesungguhan wajah Gemintang yang penuh dengan amarah.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️