
Rumah Krisna dan Gemintang di Kingaroy Queensland Australia
Seperti biasa, jam lima subuh Gemintang sudah berada di dapur membuat kopi, teh wasgitel kesukaannya dan sarapan. Gadis itu sudah terbiasa sejak berada di Singapura semuanya sendiri karena dari kecil, Freya selalu mendidik dirinya dan Gemini untuk bisa melakukan pekerjaan rumah.
Di setiap weekend, Freya selalu mengajak suami dan anak-anaknya untuk acara bebersih rumah sebelum jalan-jalan. Kalau liburan sekolah jika tidak ada acara berlibur, Freya selalu membuat dua anak gadisnya ke dapur, mencuci baju dan menyetrika. Prinsip Freya, setinggi-tingginya kamu sekolah, kamu harus bisa pekerjaan perempuan. Kedengarannya kuno tapi semua di keluarga Pratomo, semua anak gadisnya harus bisa pekerjaan rumah tangga termasuk memasak.
Dan secara tidak langsung, semua anak-anak perempuan memiliki jiwa kompetitif siapa yang bisa membuat makanan yang berbeda setiap Minggu. Bahkan para Oma sering membuat tugas agar setiap cucu perempuannya membuat makanan tertentu dan dipamerkan di grup keluarga.
Anak laki-laki pun tidak kalah, harus bisa urusan listrik, mengganti genteng meskipun mereka memanggil tukang, tapi basic mereka harus paham, dan bisa memasak yang simple. Semua bisa mencuci baju kecuali Shinichi karena bisa dipastikan bakalan hujan deras setiap dia mencuci.
Suara pintu kamar Krisna terbuka, membuat Gemintang menoleh. Tampak pria itu sudah mandi dan tampak segar dengan harum parfum bercampur sabun yang dihapal Gemintang.
"Selamat pagi Mintang" sapa Krisna sambil menghampiri istrinya dan memberikan ciuman di keningnya.
"Selamat pagi" balas Gemintang yang masih sibuk membuat nasi goreng sosis. "Duduk sana, kopi dan air putih sudah tersedia."
Namun Krisna memilih bersandar di meja dapur sambil menatap lembut istrinya dan Gemintang yang merasa ditatap pun menoleh ke arah suaminya.
"Ada apa Rao?"
Krisna menggelengkan kepalanya. "Tidak, hanya menikmati wajah cantik istriku."
Wajah Gemintang sedikit memerah mendengar kalimat sederhana itu. Bohong kalau dia tidak terpengaruh pujian seperti itu meskipun dia membenci siapa yang mengucapkan.
"Kamu duduk deh! Ini nasi gorengnya sudah siap." Gemintang mengambil dua piring dan meletakkan nasi goreng diatasnya.
"Biar aku bawa, Mintang." Krisna membawa dua piring nasi goreng ke meja makan sedangkan Gemintang meletakkan wajan dan alat masak yang kotor di tempat cuci piring.
Gemintang pun duduk di hadapan Krisna yang menunggu istrinya untuk memulai sarapan bersama. Pria itu meletakkan sebuah telor ceplok Diatas piring berisikan nasi goreng istrinya.
"Terima kasih Rao."
"Aku yang berterima kasih sudah kamu masakan setiap hari" jawab Krisna lembut.
Gemintang menatap suaminya dengan tatapan waspada. Permainan apalagi yang kamu lakukan Rao? Entah kenapa Gemintang merasakan bahwa suaminya tahu dirinya ingin lepas darinya. Aku harus hati-hati karena pria ini bisa melakukan apa saja.
"Acara kamu hari ini apa?" tanya Krisna.
"Mengatur jadwal pembuahan sapi dan kambing untuk musim potong. Dan memeriksa semua binatang karena ada virus yang masuk ke Aussie." Gemintang mendapatkan informasi itu dari dokter Mallard dan menurut rencana mereka akan memeriksa semua hewan ternak dan memberikan vaksin dan vitamin untuk mencegah situasi yang memburuk dan merugikan ranch.
"Oke. Pakai masker Mintang, biar tidak sakit."
Gemintang hanya mengangguk.
***
PRC Group Palermo
"Ini pembangunan yang tahap ketiga sudah berjalan?" tanya Gemini sambil membaca laporan Steven dengan jarinya.
"Iya Gem, ini tahap ketiga. Kamu tahu, awalnya susah membuat laporan pakai huruf braille tapi lama-lama terbiasa. Semuanya demi kamu Gem biar bisa bekerja kembali." Steven menatap wajah Gemini yang biasanya mata birunya menatap tajam, judes dan berkilau kalau sedang senang tapi kini mata itu tampak kosong.
"Oke ini proyek yang di selatan? Dekat perbatasan kebun anggur de Luca?" Gemini membaca lokasi pembangunan resort proyek pemerintah Sisilia dan PRC Group.
"Iyes."
Gemini mencoba mengingat kembali proyek yang belum sempat dia awasi akibat kecelakaan itu tapi sudah melakukan ground breaking. "Ini layout nya?" Gemini membaca blueprint dengan jarinya.
"Yes Gem. Kamu tahu, aku sampai menyeret Fillipo DeLuis untuk membuatnya dengan Braille."
Gemini tersenyum. "Terima kasih Steven untuk membuat wanita tuna netra ini bisa bekerja kembali. "
"Sejujurnya Gem, aku berharap entah suamimu atau Mr and Mrs Lexington, bisa mendapatkan dokter yang membuatmu bisa melihat kembali" ucap Steven sungguh-sungguh. "Karena aku rindu melihat matamu menatap tajam dan judes padaku kalau aku salah."
"Aamiin."
***
"Bagaimana rasanya bisa kembali bekerja nona?" tanya Xena.
"Senang aku Xena. Betapa aku rindu semuanya meskipun aku tidak bisa melihat tapi aku bisa membayangkan."
"Semoga anda bisa melihat lagi nona. Bagaimana pun saya setuju dengan ucapan pengawal Gemini.
"Aamiin."
"Nona hendak mampir kemana sebelum pulang?"
"Langsung pulang saja Xena, aku sedikit lelah. Mungkin terlalu semangat jadi semua energiku, aku kerahkan semua" kekeh Gemini.
"Baik nona."
Mobil itu pun melaju menuju apartemen Gemini dan Michel.
***
Michel yang melihat mobil istrinya datang pada saat dirinya juga baru sampai dari perusahaannya, tersenyum melihat wajah istrinya yang tampak senang. Michel menghampiri mobil istrinya yang baru saja terparkir rapi oleh Xena.
"Baru pulang sayang?" sapa Michel sambil membuka pintu mobil tempat Gemini duduk.
"Michel! Ngapain kamu disini?" tanya Gemini sedikit terkejut.
"Menjemput istriku" ucap Michel sambil mencium mesra Gemini. "Kamu mau jalan sendiri atau aku gendong?"
Gemini mendelik. "Jalan!"
Michel tertawa sambil meraih tangan Gemini dan membantu istrinya turun dari mobil lalu sambil bergandengan tangan, keduanya berjalan menuju lift dengan Xena di belakangnya.
"Bagaimana hari ini? Apakah Steven membuatmu kesal?" tanya Michel sambil memeluk pinggang Gemini saat keduanya sudah di dalam lift.
"Tidak. Tapi dia rindu kena omel aku."
"Apa proyek mu sudah berjalan?" Michel mencium pucuk kepala istrinya.
"Sudah masuk tahap tiga. Alhamdulillah."
"Yang lokasinya dekat kebun anggur aku kan?"
"Iya Michel. "
Suara pintu lift terbuka dan ketiganya menuju apartemen mereka. Michel dan Gemini pun segera masuk ke dalam kamar.
"Kemarikan tas kamu, biar aku simpan di lemari." Michel mengambil tas warna kuning itu dan meletakkan di dalam lemari khusus tas yang menurut Gemini lebih kecil dari lemari tasnya di Jakarta.
"Rasanya ingin segera mandi" gumam Gemini sambil melepaskan jaket Levi's nya dan menggantungkan di lemari.
"Bagaimana kalau kita mandi bersama?" goda Michel dengan nada dalam yang membuat Gemini merinding karena suaminya ada di belakangnya.
"Mandi sendiri... Aaaaaahhhh Michel!" pekik Gemini kaget tubuhnya digendong oleh suaminya. Reflek kedua lengannya mengalungi leher suaminya.
"Mandi bersama lebih enak, Gem. Apalagi aku sangat merindukan kamu di kantor tadi..." Michel mencium bibir istrinya yang dibalasnya dengan sama panasnya.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️