
Taman Kota Bruxelles Brussels Belgia
Gemintang dan Hazel tampak senang melihat berbagai macam pertunjukan di Sabtu malam itu. Jika weekend begini, banyak orang-orang melakukan pertunjukan seperti bermain musik, berjualan makanan, bermain sulap atau hanya berjalan-jalan seperti yang dilakukan keduanya.
"Miss Lexington, anda ingin makan malam apa?" tanya Hazel saat melewati restauran seafood.
"Kamu ingin seafood ya Hazel?" goda Gemintang.
"Sejujurnya iya nona, agak bosan dengan daging sapi dan ayam" jawab Hazel jujur.
"Yuk, kita makan seafood."
***
Apartemen Michel dan Gemini di Palermo Italia
"Aku ingin seafood!" ucap Gemini membuat Michel yang sedang bekerja di depan MacBook nya melongo.
"Seafood? Kamu ingin makan dimana?" tanya Michel sambil menutup laptop nya.
"Restauran yang kita sering datangi."
"Kamu ngidam?" tanya Michel bodoh.
"Iya! Ayo sayang!" hardik Gemini gemas melihat suaminya macam loading lama.
"Aku ganti baju dulu." Michel lalu menuju kamarnya untuk berganti pakaian karena tadinya dirinya hanya mengenakan kaos dan celana training. Gemini sendiri sudah berganti pakaian untuk pergi.
Setengah jam kemudian keduanya sudah berada di jalan raya menuju restauran seafood favorit Gemini.
"Gem, coba kamu telepon Mintang. Pasti dia sedang makan seafood" celetuk Michel.
"Masa sih?" sahut Gemini skeptis.
"Coba saja kamu telepon. Yakin dia sedang makan di restauran seafood dan sinyalnya sampai ke kamu" jawab Michel yakin. "Kalian kan kembar, pasti ada sesuatu."
Gemini tampak meragukan ucapan suaminya tapi tetap mengambil ponselnya untuk menelpon saudara kembarnya. "Assalamualaikum Mintang, kamu dimana?"
Mata biru Gemini melotot sempurna. "Restauran seafood?" Bumil itu menoleh ke arah Michel yang sedang menyetir tampak sok serius.
B aja bang...
"Aku juga ingin makan seafood, Mintang. Makanya aku sekarang perjalanan menuju restauran seafood favorit kami berdua..." kekeh Gemini.
Michel hanya mendengarkan celoteh istrinya yang terdengar bahagia mengobrol dengan Gemintang dan itu berarti Gemintang baik - baik saja. Michel bersyukur kembaran istrinya semakin kuat setiap harinya karena dukungan keluarganya.
"Oke Mintang, kami sudah sampai. Bon appetit. Assalamualaikum" pamit Gemini karena mobil mereka sudah terparkir sempurna.
Bumil itu pun keluar dari mobil bersama dengan Michel yang tersenyum lebar. "Kamu menyebalkan!" kekeh Gemini sambil membenarkan rambutnya karena malam ini Michel memilih mobil convertible klasik yang baru dibelinya.
Sabar Gem...
"Kan aku sudah bilang" seringai Michel sambil memeluk pinggang istrinya. "Bagaimana Mintang?"
"Alhamdulillah terdengar bahagia dan menikmati hidupnya" senyum Gemini sambil merangkul pinggang Michel.
"Syukurlah. Kamu tahu, aku ikut senang adikku bahagia karena semua badai pasti akan berlalu. Masa Mintang tidak boleh bahagia?" ucap Michel sambil mengecup kening Gemini.
Pasangan suami istri itu masuk ke dalam restauran dan sang manager yang melihat keduanya, langsung memberikan tempat kosong untuk mereka karena Michel de Luca adalah pelanggan mereka dan pemasok white wine restauran itu.
"Besok Senin sore kamu jadi kontrol?" tanya Michel setelah mereka memesan makanan dan pelayan undur diri.
"Jadi sayang. Kenapa?" tanya Gemini.
Michel memegang tangan Gemini. "Aku antara takut, penasaran, cemas... "
"Kenapa?"
"Aku ingin anak laki-laki... tapi kalau ternyata perempuan... aku semakin pening... Menjaga anak perempuan itu ..."
"Sama beratnya Michel. Yang penting kita sebagai orang tua, mendidik anak-anak yang terbaik, agama dan Budi pekerti, seperti halnya aku dan Gemintang dididik oleh kedua orang tua kami..." Gemini memegang wajah suaminya. "Jangan terlalu mencemaskan apa yang belum terjadi besok. Mempersiapkan segalanya boleh tapi jika kamu selalu tampak cemas dan over thinking, itu akan membebani hidup kamu. Nantinya jika tidak sesuai yang kamu harapkan, kamu akan tertekan..."
"Yang penting besok hasil kontrol baik semua..." senyum Gemini.
"Pasti baik, karena aku yang mengalami morning sick sedangkan kamu tetap makan enak" ucap Michel sambil manyun.
Gemini tertawa dan mencium bibir suaminya. "I love you my hubby..."
"I love you too my wife..."
***
Brussels Belgia
Gemintang selesai makan malam bersama dengan Hazel lalu memutuskan untuk pergi ke sebuah mini market untuk berbelanja camilan. Entah karena pengaruh udara dingin di bulan Januari, membuat Gemintang selalu merasa lapar dan ingin ngemil terus.
"Ya ampun nona, benar-benar stok camilan" kekeh Hazel yang melihat trolly belanjaan Gemintang penuh dengan roti, Snack, susu, juice, dan berbagai macam coklat disana.
"Hawanya dingin Hazel jadi membuat mulutku ingin ngemil" senyum Gemintang. "Padahal di kabinet masih ada ya?"
"Anda terlalu khilaf" gelak Hazel.
"Sepertinya." Gemintang pun membawa trolly itu ke kasir sambil mengeluarkan kantong belanjaan nya dari dalam tasnya.
Gemintang dan Hazel menunggu sampai kasir menyelesaikan menghitung lalu membayar nya. Keduanya pun membawa dua kantong belanjaan menuju pintu keluar dan disaat bersamaan Raj masuk ke dalam toko itu.
"Gemintang?" seru Raj terkejut.
"Arjun?" Gemintang menatap mantan iparnya dengan alis bertaut. "Kamu baik-baik saja?" Wajah Raj tampak kusut dan ada aura kemarahan disana.
"No, I'm not okay! Aku beli bir dulu..."
"Jangan. Kita duduk di sana, jangan minum alkohol karena kamu seorang dokter dan mengemudi. Ayo!" ajak Gemintang sedangkan Hazel hanya mengikuti gadis itu.
Raj pun mengurungkan niatnya untuk membeli minuman beralkohol untuk mengurangi rasa sesak di dadanya akibat tadi harus melaporkan ke polisi yang mengurus kasus wanita yang meninggal di ruang ER. Pria itu pun mengikuti Gemintang bersama dengan pelayannya.
***
"Nih minum!" Gemintang menyerahkan sebuah kaleng choco ke Raj. "Coklat membantu untuk menenangkan hati." Gadis itu juga mengeluarkan dua kotak coklat dan makanan lainnya di atas meja taman.
Raj membuka tutup kaleng itu dan menenggaknya lalu mengambil sebuah chip dan sekeping coklat.
"Ada apa? Apa ada sesuatu terjadi di rumah sakit?" tanya Gemintang sambil meminum mineral waternya.
"Jika aku tidak ingat akan sumpah dokterku, rasanya aku sendiri yang akan menusuk b@jing@n itu dengan pisau!" geram Raj dengan mata berkilat marah.
"Siapa yang hendak kamu tusuk?" Gemintang menoleh ke arah Hazel yang mengedikkan bahunya.
Raj menatap mantan iparnya dengan tatapan sedih. "Kamu tahu, aku gagal menyelamatkan seorang wanita yang mengalami luka tusukan oleh suaminya..."
Gemintang dan Hazel terkesiap. "Ditusuk oleh suaminya?"
"Iya Gemintang... dua puluh tusukan! Dua puluh tusukan! Astaghfirullah.... Astaghfirullah..." Raj tak hentinya beristighfar.
"Kenapa suaminya tega berbuat seperti itu?" tanya Hazel ikut penasaran.
"Aku tidak tahu ma'am..." jawab Raj karena Hazel lebih tua dari Gemintang dan dirinya.
"Orang itu psycho!" umpat Gemintang.
"You're right, Gemintang. Aku tadi tidak berhasil menghentikan pendarahan di lehernya itu..." Raj menutup wajahnya.
"Arjun, meskipun demikian, wanita itu tahu bahwa ada orang yang berusaha menyelamatkan dirinya dan memang tubuhnya sudah lelah hingga meyerah... Kita tidak tahu apa yang terjadi di rumah tangga mereka. Bukan kesalahan kamu, tapi kesalahan suaminya yang jahat itu!" ucap Gemintang.
Raj membuka tangannya dan tersenyum sendu. "Kamu benar... Hanya saja jika aku tahu seperti apa suaminya, ingin rasanya dia merasakan apa yang dirasakan oleh istrinya."
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️