
FH Ranch Queensland Australia
Gemintang menatap galak ke Krisna Rao yang tersenyum kearahnya. Tangannya terkepal, gatal ingin menghajar wajah menyebalkan yang sudah lama tidak dia lihat dan membuat hidupnya aman tentram gemah Ripah loh jinawi...
"Kamu tambah cantik, Mintang."
"Kamu tambah jelek dan menyebalkan!"
"Kok kamu makin menggemaskan kalau marah begini?" Krisna semakin mendekati gadis itu yang mundur beberapa langkah menghindari Pria berotot itu.
"Kamu ngapain disini?" tanya Gemintang yang memilih berada di belakang sebuah meja kayu agar ada jarak diantara mereka berdua.
"Kerja lah!"
"Apa maksudmu dengan 'Kerja lah'?"
"Aku bekerja disini, Mintang."
"Bohong!"
"Aku tidak bohong! Aku benar-benar bekerja disini, dengan Mr Fathir Hassan, Oom kamu!"
Mata hijau Gemintang menyipit dan tatapannya tampak memindai Krisna Rao dengan galak. "Kamu sengaja kan bekerja disini? Kamu tahu kan siapa Fathir Hassan!"
"Kamu jangan suudzon dong Mintang. Aku dalam fase jenuh di London dan saat cari-cari lowongan kerja, aku melihat lowongan disini. Jadi aku masuk lah dan Alhamdulillah diterima" jawab Krisna santai.
Berarti selama ini dia di London - batin Gemintang. "Kenapa kamu tidak di London saja?"
"Kan aku sudah bilang, aku jenuh disana. Aku butuh suasana baru. Dan FH Ranch buka lowongan, so why not? Toh aku memenuhi kualifikasi yang diminta." Krisna berusaha maju tapi terhalang meja. "Really Mintang? Kamu sengaja berdiri di belakang meja?"
"Iya! Kenapa?" balas Gemintang galak.
"Kamu kok tidak berubah dari dulu Mintang, selalu judes padaku."
"So? Masalah?"
"Nope, aku suka kamu, sayang kamu dan cinta kamu jadi kamu galak, bukan masalah di aku." Krisna tersenyum manis.
"Kamu memang sinting!" Gemintang bergegas lari dari rumah kayu itu meninggalkan Krisna disana yang hanya terbengong bengong.
"Astagaaa! Masih saja seperti itu!" kekeh Krisna.
***
Gemintang berlari hingga tiba di perkebunan apel dan beberapa buruh petik menatap gadis cantik itu bingung. Gemintang mencoba mengatur nafasnya setelah berlari cukup lumayan dan dirinya bersyukur memakai sneaker bukan boot, kebiasaannya selama menjadi mahasiswa kedokteran, pakailah sepatu yang nyaman.
"Ada apa nona?" tanya seorang buruh petik yang Gemintang bisa melihat ada darah Indonesia disana.
"Hah...hah... tidak apa-apa. Hanya... terkejut melihat ular..." ucapnya ambigu sambil terengah-engah.
"Oh disini banyak nona, tapi rata-rata tidak berbisa. Maaf nona siapa?"
"Saya... Gemintang, biasa dipanggil Mintang. Keponakannya Mr Fathir Hassan."
"Ooohh..." beo para buruh petik itu. "Namanya Indonesia sekali tapi casingnya bule."
"Iya, saya masih ada keturunan Indonesia meskipun sekitar 5%" senyum Gemintang dengan bahasa Indonesia membuat para buruh petik yang berdarah Indonesia heboh.
"Nona Gemintang mau cari apa?"
"Apel, untuk kuda milik Pahlevi."
"Kebetulan kami ada sisa..." buruh petik itu pun mengambilkan beberapa apel segar dan dimasukkan ke dalam kantong plastik yang terdapat disana.
"Terimakasih. Oh, jam berapa biasanya kalian mulai memetik apel?" tanya Gemintang kepo.
"Pagi nona. Sekitar jam tujuh pagi."
"Oke. Aku besok kemari lagi. Terimakasih apelnya. Permisi."
"Silahkan nona."
Setelah Gemintang pergi, para buruh itu pun langsung heboh karena keponakan boss mereka cantik dan humble.
***
Gemintang berjalan dengan santai menuju istal kuda milik Fathir dan dadanya sedikit berdebar saat melewati pondok kayu itu. Kok bisa sih si Rao kerja disini? Apa sengaja ya? Tapi kan tidak banyak yang tahu nama Hassan berhubungan dengan Lexington.
Gadis itu masih saja berjalan sambil melamun memikirkan bagaimana bisa Krisna Rao bekerja dengan Oomnya padahal dia sudah bekerja di London, memilih terbang ke dunia yang jauh dari kata ramai dibandingkan ibu kota negara Inggris itu.
Pasti ada udang dibalik petis! Gemintang malah terbayang tahu petis yang dipamerkan oleh Arabella saat lagi-lagi David Hakim Satrio ngidam soto neon Semarang sebagai alibi kabur bersama Anandhita dan Arabella ke kota lumpia itu.
Besok cari toko bahan makanan Asia deh, siapa tahu ada petis mau buat tahu petis buat camilan. Gemintang pun berjalan dengan semangat tanpa menyadari ada sosok yang mengikutinya dari jauh.
***
Gemini kini berjalan bersama dengan Michel de Luca menuju gedung apartemen nya yang tidak jauh dari parkiran mobil. Awalnya Michel ingin parkir depan gedung apartemen gadis itu tapi ternyata sudah penuh jadi dia memilih parkir di area parkir yang sudah disediakan.
"Kita jalan jauh sedikit, tidak apa kan?" tanya Michel ke Gemini.
"It's okay. Lagipula, tadi aku makan banyak dan membutuhkan waktu untuk turun agar tidak sebah." Gemini memang memilih memakai flat shoes karena tadi Michel mengatakan mereka santai.
"Kapan kamu akan ke Malta?"
"Belum tahu. Aku masih harus memeriksa banyak hal disini. Apalagi mendekati akhir dari renovasi jangan sampai ada yang salah." Gemini menatap Michel dengan serius.
"Kamu sangat workaholic ya Signora Lexington."
"Aku hanya berusaha menjaga nama baik PRC Group. Bagaimana pun membangun nama baik itu sulit tapi menghancurkan itu mudah" senyum Gemini kecut.
"Keluarga mu sangat keras padamu?"
"No, Mr de Luca. Aku yang keras pada diriku sendiri karena jika aku tidak mampu, lebih baik aku keluar dari keluarga besar Pratomo."
Michel de Luca menatap gadis yang dia perkirakan memiliki tinggi 170an cm. "Apakah kamu merasa terbebani dengan hal itu? Maksudku menjadi bagian dari keluarga Sultan itu?"
Gemini tertawa kecil. "Beban moral iya, tapi beban fisik tidak. Aku sudah memilih dan aku harus bertanggung jawab. Dan kamu tahu, sebenarnya kedua orang tua ku tidak melarang aku memilih karier lainnya tapi aku tidak mau mengecewakan Opa buyut ku."
Michel de Luca mengangguk. Siapa yang tidak mengenal Javier Arata.
"Kita sudah sampai Signora Lexington." Keduanya kini sudah tiba di depan pintu gedung apartemen Gemini.
"Terimakasih atas traktirannya." Gemini menatap Michel dengan sedikit mendongak karena pria itu lebih tinggi apalagi dia memakai flat shoes.
"Kabari aku jika kamu mau ke Malta."
"Seperti aku bilang sebelumnya..."
"Kamu mau liburan sendirian" senyum Michel.
Gemini tersenyum. "Sorry, you're not invited, Signor de Luca."
"Someday, Signora Lexington, someday ( suatu hari nanti )."
"Yup." Gemini menoleh ke arah pintu gedung apartemennya. "Aku masuk dulu. Terimakasih sekali lagi."
"Gemini..."
"Ya?"
Michel mencium pipi Gemini. "Goodnight. Kami biasa di Italia seperti ini."
Gemini tersenyum. "Buona notte ( selamat malam )." Gadis itu pun berjalan masuk ke gedung apartemen nya.
Michel menunggu sampai Gemini masuk ke dalam lift lalu membalikan badannya menuju parkiran mobil.
***
FH Ranch Queensland Australia
Gemintang dan Pahlevi mendatangi istal usai sarapan untuk memberikan apel yang pagi ini diambil oleh gadis itu di perkebunan.
"Seperti nya Dark suka padamu mbak" kekeh Pahlevi.
"Apalagi kena sogokan apel tiap pagi ya?" senyum Gemintang.
Dark meringkik saat mendengar suara Gemintang.
"Tuh kan! Dark langsung terpesona sama kamu mbak" gelak Pahlevi.
Gemintang tertawa tapi tawanya lenyap saat melihat Krisna Rao sedang mengobrol dengan salah seorang stockman. Pria berdarah India itu tersenyum lebar saat melihat Gemintang datang.
Menyebalkan!
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️