
Uccle, Belgia
Garvita menatap tajam kearah Raj yang memberikan senyum lembut ke dirinya. Astri? Aku paling tidak suka diganti namaku! Dan aku tidak begitu suka nama Astri meskipun artinya bagus.
"Kenapa Gemintang? Kamu tidak suka panggilan Astri? Bagus lho artinya. Astri itu berarti sangat cantik dari bahasa Nordik, sesuai dengan wajahmu. Tidak heran jika kembaranku sangat tergila-gila padamu."
Gemintang tidak bereaksi dengan ucapan Raj. Apakah kamu juga akan sama dengan Krisna?! Aku sudah cukup lelah dan sudah mendapatkan ketenangan batin tapi wajahmu muncul dengan orang berbeda.
"Kalau versi bahasa Indonesia, karena kamu ada keturunan Indonesia" sambung Raj sambil membuka ponselnya "Nama Astri adalah putri bintang. Gemintang artinya rasi bintang jadi tidak jauh kan?"
"Kamu kenapa sih datang - datang seenaknya sendiri mengganti nama orang?" bentak Gemintang kesal.
"Karena aku suka namamu. Sangat antik dan indah. Coba kita lihat. Gemintang sendiri rasi bintang, Paramastri berarti cantik bagai bidadari dari bahasa Jawa, Astri sendiri sangat cantik. Keseluruhan menunjukkan sesuai dengan dirimu yang memang cantik, Gemintang."
"Apakah kamu selalu begini, mencari arti nama orang yang baru kamu kenal?" Gemintang menatap sebal ke arah Raj.
"Tidak pernah sebelumnya karena nama mereka tidak secantik namamu" jawab Raj lugas.
Gemintang hanya diam saja lalu menghabiskan hot choco dan sup krim nya tanpa menawarkan Raj yang sudah memesan roti dan kopi.
"Maaf..."
Gemintang menatap curiga ke Raj. "Apa lagi? Kamu lama-lama mirip dengan kembaranmu, sedikit - sedikit minta maaf! Menyebalkan!"
Raj tidak berkata apapun tapi pria itu mengambil sebuah tissue yang tersedia disana dan membersihkan sisa hot choco di bibir Gemintang. "Ada choco di bibir kamu" ucapnya lembut.
Wajah Gemintang memerah mendengar ucapan Raj. Rasa kesalnya ke Krisna memang membuat semua salah dimatanya.
"Terimakasih." Gemintang lalu memasukkan semua bawaannya di meja kedalam tas besarnya.
"Sudah makannya?" tanya Raj.
"Iya. Aku mau pulang." Gemintang pun berdiri sambil menyelempangkan tas nya.
"Aku antar?" tawar Raj.
"Tidak usah. Terima kasih." Gemintang lalu berpamitan dengan Lucy. "Lucy, c'est très délicieux ( sangat lezat ). Merci beaucoup ( terima kasih ). Je reviendrai ( aku kesini lagi kapan-kapan )."
"Je t'en prie ( sama-sama ). J'attendrai ( aku tunggu ). À bientôt ( sampai nanti )" balas Lucy.
"Au revoir." Gemintang pun keluar dari cafe itu menuju parkiran sepeda miliknya.
"Gemintang!" panggil Raj yang menyusul gadis itu. "Aku temani, saljunya semakin deras."
"Aku sudah biasa, Rao..."
"Raj atau kamu panggil aku Arjun. Orang-orang banyak memanggil aku Raj" ralat Raj.
"Tapi melihat mu sama saja dengan Rao. Apakah nama belakang kalian berbeda?" sarkasme Gemintang.
Raj hanya tertawa kecil. "Kamu masih teringat kelakuan kembaranku?"
"Siapa yang bisa melupakan? Apalagi melihat persamaan wajah kalian! Semua yang dia lakukan selama di Singapura, kembali teringat!"
"Buang!"
"Buang? Apa maksudmu?" Tanpa sadar Gemintang dan Raj berjalan beriringan dengan posisi gadis itu menuntun sepedanya karena tidak memungkinkan untuk dikayuh karena licinnya jalan akibat salju. w
"Jika kamu tidak mau membuang semua kejadian buruk masa lalu, bagaimana kamu bisa menyehatkan diri kamu? Aku tahu itu tidak mudah karena sekian tahun kamu mengalami nya dan sekian tahun kamu memendamnya sendiri..."
Gemintang melongo. Bagaimana kamu tahu?
"Kamu terlalu baik dan berharga untuk dilukai oleh kembaranku. Oh, sebelum kamu bertanya mengapa aku selalu menyebutnya kembaranku, karena wajahmu tampak lebih nyaman daripada aku menyebut nama Krisna..." Raj menatap wajah Gemintang. "Lihat, begitu aku menyebut namanya, alismu yang indah itu langsung berdenyut menunjukkan tidak nyaman tapi saat aku menyebutnya kembaranku, wajahmu tampak relaks."
"Apakah kamu yakin seorang dokter bedah, bukan seorang psikiater?" sindir Gemintang.
Raj tertawa dan entah mengapa Gemintang mendengar tawa yang renyah dan berbeda dengan mantan suaminya.
"Aku banyak mengenal orang dari berbagai belahan dunia jadi secara tidak sadar, aku bisa membaca bahasa tubuh seseorang. Dan kamu, Astri ... Mulai sekarang aku panggil kamu itu ya supaya menjadi lembaran baru, sesuatu yang berbeda, agar kamu bisa menghilangkan beban psikis akibat kembaranku."
"Astri, jika kamu masih tetap mau hidup dengan bayang-bayang masa lalu, silahkan. Tapi kamu sendiri yang akan terus merasa sakit dan itu akan menggerogoti kamu. Bukankah sumbernya sudah kamu lepaskan? Aku tahu kamu tidak mau menceritakan pada keluarga mu karena tidak mau membuat ramai karena kamu merasa bisa menghandle semuanya sendiri, tapi kamu tidak kuat Astri. Kembaranku bercerita bahwa kamu harus mengkonsumsi obat migrain akibat tekanan stress karena dia... Apakah selama kamu disini dan lepas dari kembaranku, kamu pernah mengalami migrain lagi?"
Gemintang menggelengkan kepalanya.
"Syukurlah karena minum obat terus tidak bagus, Astri. Kamu kan juga dokter meskipun dokter hewan..." Raj tersenyum lembut.
Gemintang hanya terdiam. Pria mirip Rao ini sangat berbeda pola pikirnya.
"Kamu tinggal di daerah mana?" tanya Raj yang bingung melihat Gemintang berjalan melewati taman kota.
"Oh, aku tinggal di belokan situ." Gemintang menoleh ke arah Raj. "Terima kasih sudah menemani aku jalan tapi aku bisa sendiri."
"Yakin tidak mau aku antar sampai rumahmu?"
"Tidak. Aku masih tidak nyaman dengan wajahmu.."
Raj tersenyum maklum. "Ya bukan mauku dilahirkan kembar dan memiliki wajah sama dengan kembaranku."
Gemintang mengangguk. "Au revoir" pamitnya sambil berjalan meninggalkan Raj.
"Astri!" panggil Raj tapi Gemintang tetap tidak menoleh. "Gemintang!"
Gemintang baru menoleh. "Oui?"
Raj berjalan mendekati gadis itu. "Boleh minta nomor kontakmu?"
"Jika kamu minta nomor kontakku, pasti kamu akan memberikan pada mantan suamiku" tolak Gemintang.
"Buat apa aku kasih tahu ke kembaranku? Sama saja aku tidak membuat kamu move on dan bahagia." Raj menatap Gemintang serius. "Aku janji tidak akan memberikan pada dia."
"Maaf, Raj..."
"Arjun."
"Hah?" Gemintang menatap Raj bingung.
"Aku lebih suka kamu memanggilku Arjun."
"Kenapa?"
"Mungkin sama denganmu, ingin sesuatu yang berbeda?" senyum Raj. "Seperti yang aku bilang tadi, semua orang memanggilku Raj dan aku ingin sesuatu yang berbeda. So, kamu panggil aku Arjun."
Gemintang menggelengkan kepalanya. "Ternyata kalian sama saja, sama-sama narsis."
Raj tertawa. "Narsis itu perlu kalau memang diperlukan."
Gemintang membalikkan tubuhnya untuk berjalan menuju villanya.
"Astri... nomor kontakmu?" panggil Raj.
"Kamu tahu dimana aku praktek kan? Kamu kesana saja jika ada yang ingin dibicarakan!" balas Gemintang tanpa menoleh.
Raj hanya berdiri di dekat belokkan jalan sambil menatap Gemintang yang masuk kedalam komplek villa pribadi.
"Kamu benar, Krisna, Gemintang memang cantik" gumam Raj. "Kamu memang bodoh, Krisna. Menyakiti wanita sebaik Gemintang!"
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️