
"Ohh...Oke..."Ucap Damar sedang sengum ke Dara.
Damar pun beranjak dari tempatnya itu dan duduk di kursi roda yang telah Dara ambilkan untuknya itu,Dara Yang melihat Dara perlahan Duduk di Kursi Roda yang telah ia ambilkan itu.Ia hanya tersenyum tipis walau sebenarnya ia tak suka melakukannya,Dara pun mendorong Kurai Roda yang ada Samar itu masuk ke dalam Lift.
"Rumah sakit segede ini ko sepi banget ya...di lantai 1 doang yang rame...apa mungkin lantai ini VIP ya.."Batin Dara.
Di dalam Lift itu Dara sedikit menjauh dari Damar dan menjaga jaraknya,Sedangkan Damar Ia melihat ke arah Dara yang sedang menjaga jarak dengan nya dengan tatapan anehnya.
"Ngapain Lu sejauh gitu...Niat ga sih buat Nge jemput.."Suruh Damar.
Dara yang mendengar Damar itu,Dirinya mengacuhkan nya dan melanjutkan lamunannya itu.Damar yang melihat dirinya du Acuhkan itu,Dia menahan emosinya itu sembari ia melihat ke arah Dara yang berdiri di sisi dekat tombol"Di lift.
"Sebenarnya nih orng kenapa sih....bisa bisa nya di cuek apa gue.."
"Bukan cuek...kayak ada rasa benci terdalam di tatapannya itu...tapii...kok jantung gue deg degan gini ya...apa gue sakit jantung??"
"Engga mungkin kan gue suka dia..."Batin Aiden.
"Ck...cari muka gini amat ya tuhan...kenapa harus mau tadi sih..."Batin Dara sembari ia membentur kan kepala nya pelan.
TINNNGGGGGGGG
Pintu Lift itu terbuka dan Dara pun mendekat ke arah Kursi Roda Damar dan ingin mendorong nya keluar,Damar dan Dara melihat seseorang yang berdiri di deoan pintu lift dengan ekspresi kaget dan kecewa.
"Berlian???...Ngapain dia kesini.."
"Ganggu pemandangan aja...Keknya gw harus buat sandi wara nih sama Dara..."Batin Damar.
Berlian hanya tertegun setelah ia melihat Damar bersama dengan seorang perempuan di dekatnya,Sedangkan Danar yang melihat Berlian justru ia malah meengatakan suatu hal yang tak seharusnya.
"Sayangggg...Ayok buruan aku pengen pulang..."Ucap Damar dengan sedikit teriak dan nada manis ke Dara.
"Sayang apa nya...Najis tau engga manusia kek kamu ga ada malu ya..."Jawab Dara sambil ia menggerutu di belakang kursi Roda Aiden.
"Kamu itu....kenapa sih cuek banget.."Goda Damar di depan Berkian.
Sedangkan Damar yang melihat ia langsung merubah raut wajahnya,Dan Dara ia yang ingin mendorong kursi Roda tapi ia di halangi itu ia pun meminta seseorang itu untuk tak menghalangi Jalannya.
"Anu mbak....Bisa minggir engga...Mbaknya ngalangin jalan keluar lift.."Suruh Dara.
"Ohh...Maaf...iya saya minggir"Ucap Berlian dengan pelan lalu ia bergeser dan masuk ke dalam lift.
Seseorang yang menghalangi Jalan tadi adalah Berlian yaitu tunangan dari Damar,Berlian yang mendengar Dara itu akhirnya ia bergeser dengan wajah yang sudah menahan tangis.
"Makasih ya mbak..."Ucap Dara lalu ia mendorong Kursi roda keluar dari lift.
"Akan ku lihat bagaimana nanti dan apa yang kau katakan pada ayah mu itu.."Ucap Damar dalam batin.
Dara dan Damar pergi melewati pintu masuk rumah sakit itu yang di depan sudah ada Sopir yang Ryan siapkan untuk menjemput mereka,Dara pun membantu Damar masuk ke dalam mobil sedangkan sang sopir mengembalikan kursi roda itu.
Sedangkan di pintu Lift yang sudah mulai menutup itu,Terdapat berlian yang matanya sudah memerah dan perlahan ia menangis kecil.Berlian mulai terisak dan menangis,Dan dirinya itu pun membalikkan badan ke sudut lift itu.
"Siapa perempuan itu??"
"Kenapa Damar memanggilnya seperti itu di depan ku??Apa dia kekasihnya..??Ttapi aku tunangan kenapa dia bisa seperti itu kepadaku.."
"Kenapa kamu selalu mengakitiku...padahal aku tak pernah berbuat apa pun padamu...Sebegitu kah kamu membenci ya???hiks....apa salah ku....hiks..."Batin Berlian sembari ia menangis.
Di tengah tengah tangisannya itu dan pintu List yang akan tertutup,Tiba tiba ada seseorang yang menahan pintu Lift agar tak tertutup.
"TUNGGGUU...!!!"Teriak seseorang yang menahan pintu lift tertutup.
Seseorang itu pun masuk ke dalam Lift dengan nafas yang tersenggal senggal karna habis berlari,Di dalam Lift itu ia melihat Berlian yang sedang menangis menyembunyikan wajahnya dengan jaket yang ia bawa dan bebalik ke arah sudut lift.
"Apa mbanya ini menangis???...Tapi kenapa dia menangis disini??"Batin seseorang pria itu.
Pintu lift mulai tertutup dan hanya ada Berlian dan seseorang itu,Seseorang itu yang mendengar isakan tangis dari Berlian ia pun mendekat dan menepuk pundak Berlian
"Mbak kamu kenapa menangis??.."
"Are You oke???.."Tanya seseorang itu.
Berlian tidak menjawab perkataan seseorang itu,Tetapi ia hanya menggeleng gelengkan kepalanya saja.
"Kenapa kau tak berbicara apa pun??Apa kau bisu ??"
"Tapi dari suara tangisan mu itu kamu tak bisu...berhentilah menangis apa kamu mau cerita dengan ku nona???"
"Ya mungkin itu tak mengurangi beban mu....tapi mungkin perasaanmu akan lebih baik...aku mengerti akan semua hal itu.."Ucap seseorang itu dengan pede nya.
Mendengar Seseorang itu yang berbicara seperti itu,Berlian sedikit menaikkan pandangannya tetapi ia tak berbalik.
"Tidak ada..."
"Aju baik baik saja...Tapi kau takkan pernah mengerti apa yang ku rasakan sekarang..."Lirih Berlian.
"Ya kalo mau Cerita...Saya bakal ngerti kok"
"Siapa tau saya bisa kasih solusinya..."Ucap Seseorang itu.
Mendnegar seseorang yang tak mengerti uucaoannya itu,Berlian menghapus air matanya dan begitu juga Pintu lift mulai terbuka.
"SUDAH AKU BILANG!!!...KAMU ENGGA AKAN MENGERTI APA YANG KU RASAKAN...KAMU DIAM SAJA JANGAN KATAKAN APAPUN PADAKU!!!.."Bentak Berlian pada seseorang itu.
Setelah membentak Seseorang itu pun akhirnya Berlian memilih pergi meninggalkan Seseorang itu sendiri disana,Sedangkan untuk seseorang yang ada disana ia hanya memperhatikan kepergian Berlian.
"Kayaknya kamu punya beban yang berat ya mbak.."
"Mbaknya lucu...keknya aku suka deh..."Ucap Seseorang dalam Lift itu.
Seseorang itu tersenyum sembari ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu,Yang bersamaan dengan tertutupnya pintu Lift.
****
Tempat berada pada Aiden yang terlihat dirinya baru sampai di rumah sakit,Aiden begitu tergesa gesa berlari dan berlari ke arah Resepsionis rumah sakit itu dan bertanya pada Suster yang ada Disana.
"Sus...apa ada pasien yang bernama Jingga disini??..."Ucap Aiden yang bertanya pada Suster itu.
"Sebentar ya pak saya cari dulu..."Jawab Sektertaris itu,Sembari ia mencari nama seseorang yang Aiden sebutkan.
"Iya sus..Cepat ya..."Ucap Aiden dengan wajah yang penuh kringat,Dan ia mengusap kasar rambut dan wajahnya itu.
"Pasien yang baru masuk???.."Tanya Suster itu.
"Iya benar...dimana dia??.."Jawab Aiden dengan mengiyakan pertanyaan dari sang suster itu.
"Dia ada di lantai 2...dan Ada di ruangan 23...Tuan bisa-??"
"Thanks Sus.."Potong Aiden.
Sebelum mendengar selesai apa yang di katakan Suster itu,Aiden telah berlari meninggalkan tempat Resepsionis itu dan langsung berlari.
"Cepat sekali dia pergi padahal tahihannya bekum dibayar loh...Gimana nih??...tapi dia cukup tampan.."Gumam Suster itu.
Di lorong itu Aiden tampak kebingungan mencari sebuah ruangang yang di sebutkan oleh Resepsionis itu,Sehingga ia akhirnya menemukannya dan langsung masuk ke dalam kamar itu.Aiden melihat Adiknya yang tengah berbaring lemas di atas Brankar itu,Dirinya pun langsung masuk dan menggenggam tangam Jia.
"Adikk..."
"Jia...bangun...kenapa kamu ada disini"
"Ayo buka matamu..kamu kenapa??Kau sakit apa kenapa kau sampai di Infus dan kabel kabel ini ada di badanmu??"
"Hey hey..."Ucap Aiden yang menepuk pipi Jia pelan bertujuan untuk membangunkan Jia.
Di ruangan Itu terdaoat seorang pria yang menunggu Jia sebelum Aiden datang,Ia adalah seseorang yang menelfon Aiden tadi.Melihat Aiden yang begitu khawatir dengan Jia,Seseorang itu mendekat ke arah Aiden san menanggilnya.
"Hai kak??...kamu kakanya anak ini ya yang saya telfon tadi ya??.."Ucap Seseorang itu.
Aiden yang mendengarnya ia langsung melepaskan genggam an tangannya dan menghadap ke seseorang anak Remaja itu.
"Iya saya Kakanya...loohhh???..Kamu??"Ucap Aiden yang terkejut setelah meluhat wajah seseorang itu.
"Loh kakak???..Kakak yang minggu lalu nyari kak Dara kan.."Ucap Seseorang itu.
"Tunggu kamu Siapa namamu kemarin...Alan kan??"Ucap aiden.
Alan hanya mengangguk anggukan keoalanya saja dengan sorot mata bingungnya,Sedangkan Aiden yang melihat Alan itu juga terkejut.Aiden pun mengajak Alan untuk kelyar dari rauangan Jia,Di depan Ruangan itu terlihat Aiden yang memperhatikan Jia dari luar lewat kaca transparan di pintu itu.
Sedangkan Alan yang di ajak keluar itu tampak bingung untuk apa dirinya diajak keluar itu.
"Anu kak....Kakak buat ngajak aku keluar kesini??.."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
...SAMPAI DI SINI DULU YA GUYS...
...Terimasih ya udah baca ,Jangan lupa untuk dukung ya author bakal semangat kalau kalian suka...
...KOMENTAR jangan lupa lIKE,FAVORIT and VOTE...
...Muach...Muach...Muach Cium jauh ya...
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...