
Pagi kembali datang, Karin yang sudah siap dengan seragamnya langsung turun kelantai bawag dimana keluarganya menunggu. Ketika di anak tangga Karin melihat Kara yang juga sedang berjalan turun.
Dengan jahilnya Karin mendekati lalu melompat naik ke punggung pemuda itu hingga kaget dan hampir jatuh.
"Karin! astaga kalau kita jatuh tadi gimana hah! kalau mau bercanda itu lihat tempat" marah Kara pada Karin yang ada di punggungnya.
"Maaf bang, Karin cuma mau di gendong aja kok" ucap Karin membela diri dengan wajah sedihnya.
Kara menghela napas melihat hal itu, kemudian pemuda yang sudah rapi dengan jasnya itu memperbaiki posisi Karin agar tidak jatuh di punggungnya.
"Ya udha pegangan biar gak jatuh, tapi lain lali jangan gini lagi ya" Karin mengangguk semangat karena abangnya tetap menggendongnya.
"Ayo kita sarapan" ajak Karin semangat.
"Pegangan" teriak Kara berlari turun dari tangga tapi tetap hati-hati agar mereka tidak jatuh.
Karin tertawa bahagia karena ulah Kara yang selalu bisa membuatnya tertawa. Hanya dirumah saja Karin bisa seperti itu, tertawa dan bercanda serta saling menjahili dengan abangnya.
Kedua orang tua mereka hanya tersenyum dengan pemandangan yang mereka lihat, terkadang keduanya bisa sangat akur dan terkadang bisa saling mengejek. Lihat saja sebentar lagi pasti akan ada adu mulut di antara keduanya yang saling menyayangi.
"Ayo sarapan" ajak Banu pada keluarganya.
Semua orang duduk dengan damai di tempat masing-masing dan sarapan dengan tenang.
"Mama udah siapin bekal Karin?" tanya gadis remaja itu setelah selesai sarapan.
"Udah, bi ambilin bekal yang saya taruh di meja dekat kompor tadi ya" ucap Tati pada art nya setelah menjawab Karin.
"Iya buk"
Kara yang sudah selesau sarapan dan minum air langsung melemparkan tisu yang baru saja di pakainya kearah Karin.
"Dasar bocah, masih aja suka bawa bekal memangnya uang jajanmu kurang" ejek Kara.
"Ih Karatan, rasain nih" Karin balik melempar abangnya dengan tisu yang di basahinya.
"Gak kena" ejek Kara menjulurkan lidahnya saat lemparan Karin melenceng.
"Ish rasain nih" lemparan Karin kembali melenceng.
Jadilah mereka ribut di meja makan itu hingga Banu berseru untung menhentikan keduanya.
"Cukup!" Karin dan Kara diam di tempat.
Tidak lama bagi Karin untuk diam karena dia sudah bergerak mendekati mamanya mengambil bekal yang baru di bawa pelayan.
"Makasih bi"
"Sama-sama non"
Setealh mendapatkan bekalnya dan memasukkan kedalam tas. Karin mencium pipi mamanya untuk pamitan.
"Karin pergi ya ma"
"Hati-hati ya" Karin mengangguk.
"Karin pergi pa" pamit Karin juga pada Banu membuat pria itu heran.
"Loh kamu mau pergi sama abang?" tanya Banu.
"Gak, Karin naik bus aja pa lebih enak" sahut Karin santai.
"Kok gitu sih, sama papa aja ya nak" bujuk Banu yang kembali mendapat gelengan Karin.
"Sama papa aja nak, nanti kalau ada apa-apa gimana" ucap Tati menatap Karin khawatir.
"Gak ma, Karin udah tahu jalan ke sekolah kok, lagian kan ada haltenya dekat sekolah jarak rumah ke halte juga gak jauh" santai Karin memakai tasnya.
Kedua orang tua itu menatap Karin bingung sekaligus khawatir, memang saat awal Karin di bawa ke kota dan di beri tahu semua kegiatannya gadis remaja itu hanya mengangguk. Kecuali ketika pergi kesekolah, remaja itu menolak keras untuk di antar jemput supir bahkan keluarganya.
Karin lebih memilih naik bus atau ojek awalnya tapi Banu melarang keras Karin naik ojek. Banu dan Tati hanya mencoba untuk membujuk saja agar anak perempuan mereka berubah pikiran.
Hingga tingga di kota Karin tetap bersikap sederhana walaupun banyak fasilitas mewah dan barang mewah yang di berikan orang tuanya pada dirinya. Karin hanya menyimpan semua itu tanpa memakainya, Karin hanya menggunakan seadanya semua miliknya.
Banu dan Tati hanya bisa pasrah saat tidak bisa membujuk anak perempuan mereka itu, yang penting Karin mau tinggal di kota bersama mereka yang sudah berpisah lama.
"Kayaknya kamu lebih baik tinggal di kosan aja Rin dari pada di sini" ucap Kara asal saja yang malah mendapat pelototan Banu.
"Eh hehehe maaf pa" cengir Kara pada papa mamanya.
Karin hanya mengangkat bahunya acuh dan berjalan keluar rumah dengan santainya. Melihat Karin yang semakin menjauh membuat Banu langsung mengambil ponselnya.
"Kamu ikuti anak saya dari jauh, diam-diam saja jangan sampai dia tahu dan pastika semuanya aman" ucap Banu lalu mematika panggilan setelah dapat jawaban.
"Gadis kecil kita udah besar pa, dia bahkan begitu sederhana sikapnya" ucap Tati sendu.
"Iya ma, kita jugakan udah lama gak tinggal sama Karin jadi lihat Karin sekarang sering buat papa kangen masa kecilnya"
Tati mengangguk begitupun dengan Kara yang memang tidak pernah sempat untuk bermain bersama adiknya saat mereka berpisah jauh. Sekarang Kara selalu berusaha untuk memanjakan adiknya itu dengan segala yang ia bisa dan punya walau adiknya itu tetap pada kesederhanaannya.
"Ayo kita berangkat Kar, kamu harus belajar di perusahaan secara langsung"
"Iya pa, ma Kara berangkat"
Setelah kedua laki-laki itu pergi Tati masuk kedalam rumah lagi dengan kesendiriannya sembari menunggu Karin pulang nanti siang.
Sedangkan Karin sudah duduk santai di halte bus menunggu kendaraan umum yang akan membawanya ke sekolah itu. Saat bus datang Karin langsung masuk dan duduk di dekat jendela sembari mengeluarkan bukunya untuk di baca.
Karin selalu melakukan itu jika di naik bus, setelah sampai di halte dekat sekolah Karin keluar dari bus. Langkah ringan Karin membawanya menuju sekolah tempatnya menuntut ilmu saat ini.
Tatapan meremehkan para murid di sana sudah menjadi pemandangan biasa bagi Karin yang tidak perduli pada orang-orang itu. Karin sangat nyaman dengan penampilannya dan kesederhanaanya itu.
Meski di ejek, di remehkan dan di rendahkan dengan kalimat cupu atau orang susah Karin tidak perduli dan tidak menanggapi itu. Hingga sampai di koridor menuju kelasnya Karin sudah di halangi oleh rombongan siswi yang kemarin menyuruhnya membawa tas.
Karin hanya menatap santai pada mereka yang tanpa perduli dan hendak melanjutkan langkahnya tapi di hadang lagi.
"Eh mau kemana kamu cupu?" ucap Jes merentangkan tangannya menghalangi langkah Karin yang di ikuti oleh teman gengnya Jes yang juga merentangkan tangan.
"Kalau kalian mau senam jangan di sini, di lapangan aja" ucap Karin.
Mata Jes dan teman-temannya menatap Karin heran dan semakin mengejek.
"Dia ini bukan cuma cupu tapi juga bloon ya!" seru teman Jes.
"Sia-sia dong dia masuk kelas favorit kalau gitu"
"Siapa juga sih yang masukin dia ke kelas favorit? pasti dia udah lakuin yang enggak-enggak"
"Heh mana tas kita-kita" ucap Jes yang geram dengan tampang jutek tapi santai Karin.
Karin hanya mengangkat bahunya tanda tidak tahu apa-apa. Dan masih menatap geng Jes yang masih merentangkan tangan.
"Jangan pura-pura! mana tas kita!"
"Gak tahu, kan punya kalian"
"Tapi semalam kitakan nyuruh kamu buat bawain, gimana sih?"
Karin menatap teman Jes yang berucap itu dengan sedikit berpikir.
"Memangnya kenapa sama tas itu?" tanya Karin.
"Pake nanyak lagi, itu tas mahal tahu gak, pasti kamu jualkan buat beli makan, dasar orang susah" ejek teman Jes lagi.
"Ck, kalau butuh uang bilang aja, lagian kita juga bakalan bayar kamu yang udah bawain tas kita kok, iya gak" ucap Jes yang meminta persetujuan temannya dengan tampang mengejek.
Teman-teman Jes menatap Karin mengejek juga. Tapi Karin tetap dengan santai berhadapan dengan mereka.
"Siapa yang jual tas kalian? bukannya kalian nyuruh aku buat buang tas itu! jadi ya udah ku buang di tempat yang seharusnya" jawaban Karin membuat Jes dan teman-temannya tercengang tidak percaya.
APA?