First Kiss

First Kiss
Perbaiki mood



Pulang sekolah sudah tiba dan semua murid berhamburan keluar, Karin tetap duduk santai di kursinya, sampai di yang lain sudah keluar dan tidak berebutan lagi barulah Karin keluar dari kelas.


Gadis remaja itu berjalan santai di lorong-lorong sekolah menuju gerbang. Tidak sedikit yang menatapnya penuh permusuhan dan ketidak sukaan apa lagi berita tentang yang baru terjadi di ruang kepala sekolah sudah menyebar.


Semakin beriri hatilah para perempuan di sekolah itu yang menganggap Karin begitu spesial bagi Aldi. Pada hal Karin sendiri tidak merasa melakukan apapun, tapi melihat banyaknya pasang mata yang tidak menyukainya semakin membuat Karin masa bodo dengan mereka.


Karin terus melangkah menuju gerbang sekolah saat tiba-tiba ada motor yang berhenti di hadapannya. Merasa dirinya menghalangi Karin menyingkir dan menjauh dari motor itu sebelum panggilan seseorang menghentikan langkahnya.


"Kemana?"


Karin melihat sejenak dan kemudian berjalan lagi saat mengetahui Aldi lah si pemilik motor setelah membuka tutup kaca helm yang di gunakan.


"Karina" panggil Aldi.


"Apa?" tanya Karin melihat Aldi yang turun dari motor mendekatinya.


"Kemana?"


"Pulang"


"Ikut aku"


"Tidak"


"Ikut"


"Tidak"


Keduanya terus mengatakan dua kalimat itu, yang satu memaksa yang satunya menolak. Sampai Aldi yang lelah memaksa langsung membopong tubuh Karin di lengannya membuat gadis remaja itu berteriak kaget.


"Lepaskan aku! apa yang kamu lakukan? apa maumu?" teriak Karin yang mengundang perhatian beberapa siswa yang hendak pulang juga.


"Diam, bergerak kakimu patah" ancam Aldi saat sudah mendudukkan Karin di jok belakang motornya.


Karin diam menatap kesal pada Aldi yang terus memaksa. Saat Aldi menaiki motornya, saat itu pula Karin melompat turun kemudian berlari menjauhi Aldi sembari berteriak.


"Dasar bunglon aneh, patung hidup, mumi, tukang paksa" teriak Karin membuat Aldi melongo.


Bagaimana tidak melongo kalau ternyata Karin sangat nekat melompat dari motornya yang lumayan tinggi untuk ukuran Karin yang tidak terlalu tinggi itu. Bahkan gadis remaja itu menggunakan rok span selutut, walau tidak ketat tapi cukup sulit untuk melompat apa lagi berlari secepat itu.


Karin sudah keluar dari gerbang dan menuju halte dengan cepat. Aldi mengedip-ngedipkan matanya melihat tingkah Karin yang benar-benar lain dari yang lain.


"Boleh juga" gumam Aldi pelan dengan senyum tipisnya yang tidak kentara.


Aldi menghidupkan mesin motornya kemudian berlalu keluar gerbang untuk mencari kemana Karin berlari. Tidak mungkin dia sudah hilang secepat itu bukan pikirnya.


Sedangkan Karin yang sudah tiba di halte duduk di kursi sembari mengatur napasnya yang tersengal akibat berlari. Pandangan Karin melihat pada gerbang sekolah yang tidak terlalu jauh dari halte.


"Gila tuh orang main paksa-paksa aja, mana main gendong sembarangan lagi, kan bahaya kalau sampe orang salah paham" gerutu Karin masih mengatur napasnya.


Sembari menunggu bus datang Karin mengipasi wajahnya dengan telapak tangan akibat kepanasan sehabis berlari. Lama menunggu bus tidak juga muncul membuat Karin kesal sendiri, sepertinya moodnya sedikit terganggu akibat berlari.


"Huh, pantesan aja gak ada bus yang lewat sampe jam segini, aku pasti telat tadi gara-gara bunglon mumi patung hidup tukang paksa itu" kesal Karin menyebutkan semua panggilannya untuk Aldi.


Karena sudah lapar Karin mengeluarkan ponselnya dan melakukan sesuatu agar bisa segera mendapat makanan.


"Halo pa, jemput Karin dong" ucapnya manja agar sang papa bisa segera datang, karena biasanya jika Karin sudah berkata manja pada papa mama dan abangnya maka apa yang di inginkannya akan terlaksana dengan lebih cepat.


"Kamu dimana nak?" tanya Banu.


"Di halte dekat sekolah pa, Karin gak dapet bus"


"Ok papa meluncur, tunggu ya lima menit lagi sampe"


"Ok"


Senyum tipis Karin muncuk saat mendengar ucapan papanya yang akan segera tiba.


"Sabar ya perut bentar lagi papa dateng, nanti kita minta makanan enak sama papa" ucap Karin mengusap perutnya yang lapar.


Kali ini Karin ingin meminta makan yang banyak dan enak pada sang papa untuk memperbaiki moodnya.


"Siapa yang dia telpon? apa pacarnya? masa iya dia udah punya pacar? emang ada yang mau?" gumam seseorang yang berada tidak jauh dari halte tempat Karin duduk.


"Memperhatikannya beginipun gak ada untungnya buatku, pulang ajalah" gumam Aldi menjalankan motornya karena merasa tindakannya tidak masuk akal.


Lima menit kemudian Banu tiba di halte tempat Karin menunggu, ternyata bukan hanya Banu saja. Di dalam juga ada Kara yang duduk di samping supir.


"Ayo neng masuk sebelum angin yang masuk" goda Kara yang mendapat pelototan dari Karin.


"Kok papa cepat sih sampe sininya?" tanya Karin saat sudah duduk di sampingBanu.


"Tadi kebetulan papa abis ada pertemuan sama klien yang lewat sini, papa juga udah rencana mau ajak kamu karena kita mau makan seafood siang ini" ucap Banu yang membuat Karin sumringah.


"Beneran pa kita makan seafood?" Banu mengangguk melihat putrinya yang bersemangat dan senang.


"Mama udah nungguin di restoran sekalian pesan, jadi kita langsung kesana"


"Asik, pokoknya Karin mau makan banyak ya pa"


"Iya sayang" Banu mengusap lembut kepala Karin.


"Gemuk baru rasa" ejek Kara.


"Biarin aja gemuk, nanti kalau bang Kara jahatin Karin tinggal di timpahin aja biar penyet" sahut Karin.


"Memangnya abang ayam, penyet"


"Kalau abang bukan ayam penyet"


"Trus" Kara menghadap belakang menatap Karin curiga dengan ujung yang sudah tidak enak.


"Abang ayam Karatan" tawa Karin pecah melihat wajah muram dan kesal.


"Kamu karatnya"


"Abanglah"


"Kamu"


"Sudah-sudah jangan ribut lagi, nanti ganggu konsentrasi supir aja" lerai Banu yang tahu perdebatan akan terus berlanjut kalau tidak di lerai.


Karin menjulurkan lidahnya mengejek Kara di depan yang semakin terlihat kesal. Sesampainya di restoran Banu dan kedua anaknya langsung menuju meja dimana sang istri sudah menunggu.


"Lama ya ma?" tanya Banu saat istrinya menyalami tangannya.


"Gak kok pa, mama belum lama juga, makanannya aja belun dateng"


"Mama pesan banyak kan ma?" tanya Karin memastikan.


"Iya mama udah pesan banyak" sahut Tati yang di sambut senyuman manis Karin.


"Ke sukaan aku ada kan ma?" giliran Kara yang bertanya dan di angguki Tati dengan tersenyum. Kedua anaknya ini memang sangat menyukai yang namanya seafood.


"Ikutan aja" ucap Karin menatap Kara kesal.


"Biarin wle" gantian Kara yang mengejek Karin dengan menjulurkan lidahnya.


"Gak kreatif"


"Masa bodo"


"Abang jelek"


"Ganteng"


"Lihatnya pakek sedotan"


Saat Kara akan menjawab ucapan Karin pelayan datang membawa pesanan mereka. Mama Tati memang memesan kursi dekat jendela dan berada di keramaian.


Kalau bukan urusan pribadi atau membahas masalah penting maka keluarga Banu akan senang makan di meja biasa saja. Tapi kalau pekara penting baru memesan ruangan vip.


Sepanjang makan siang mereka lebih banyak Karin yang menghabiskan lauk yang ada, memperbaiki mood ala Karin memang dengan cara makan banyak. Jadilah ia makan sebanyak yang ia mampu, apa lagi mamanya sangat pengertian dengan memesankan kesukaannya.


Kara yang suka jahil pada adiknya tidak tinggal diam, pemuda itu terus saja mengganggu Karin dengan mencomot milik Karin hingga adiknya itu meradang dan kesal.