
"Akh gagal lagi" geram Kara yang gagal dengan permainannya.
Pandangannya beralih pada adiknya yang sudah berwajah kecut karena dirinya tidak bisa memberikan yanh diinginkan adiknya.
"Maaf ya dek, nanti kita beli aja di toko abang gak bisa dapetin yang itu" ucap Kara menyesal tapi tidak bisa berbuat banyak selain memberi pilihan lain pada Karin.
"Tapi itu bagus bang" lirih Karin yang tidak bisa melepaskan pandangannya dari boneka incarannya itu.
"Mau yang mana?" ucap suara di samping Karin mengagetkan keduanya yang tidak menyadari keberadaan orang itu.
"Kamu" ucap Karin saat melihat siapa yang bicara itu.
"Mau yang mana?" tanya Aldi lagi tanpa melihat Karin tapi menarik tangan gadis remaja itu mendekati tempat lemparan gelang.
"Heh, mau dimana kemana adikku?" ucap Kara mencegah tapi berhenti karena memang cuma selangkah Aldi berjalan.
Tanpa menanggapi ucapan Kara, Aldi membayar pada penjaga permainan dan mendapatkan enam gelang untuk dua kali permainan yang bisa memilih dua hadiah jika menang.
Aldi melemparkan gelang-gelang itu begitu saja dan tepat sasaran semuanya membuat Karin melompat senang dan repleks memegang lengan Aldi tanpa sadar.
"Silahkan pilih hadiahnya dan anda punya dua hadiah" ucap si penjaga permainan.
"Boneka kelinci putih yang besar itu" tunjuk Karin dengan satu tangan dan tangan lainnya yang menggandeng Aldi.
"Silahkan, bonekanya milik anda, satu lagi mau hadiah apa?"
"Beruang pink" ucap Aldi yang langsung di beri boneka yang di inginkannya. Aldi memberikan boneka itu juga untuk Karin di sampingnya.
Karin terlihat sangat bahagia hingga tersenyum lebar dengan manisnya. Aldi yang melihat itu langsung membeku, seakan melihat kembali senyuman yang sudah hilang belasan tahun lalu.
Kini senyuman itu di depan matanya dan terlihat sangat jelas, Aldi bahkan tidak memalingkan pandangannya dari Karin yang masih tersenyum di sampingnya.
"Makasih ya Di" ucap Karin tulus masih dengan senyum manisnya.
"Thaks bro, udah dapetin apa yang di inginkan adikku, kamu mau berapa untuk ganti boneka itu?" tanya Kara yang merasa tidak enak karena boneka yang di dapatkan laki-laki itu di berikaan pada adiknya.
"Gak perlu" sahut Aldi pelan tapi masih di dengar.
Pandangan Aldi terus menatap pada Karin yang bahagia dengan dua boneka cantik di dekapannya. Benarkah pandangannya ini, atau ia hanya berhalusinasi saja karena sudah terlalu merindukan orang yang selalu dinantinya.
Bahkan panggilan 'Di' yang di dengarnya dari Karin sama persis dengan yang dulu di dengarnya. Aldi merasa seakan kembali pada kenangan dulu saat bersama teman kecilnya.
"Kalau gitu kami pamit ya bro udah malem, adikku gak boleh terlalu lama di luar kalau malam gini, lain kali kalau kita ketemu ku traktirin" ucap Kara ramah sembari menepuk pundak Aldi.
Aldi tersentak kaget karena tepukan di pundaknya itu dan hanya menatap Kara sebentar. Setelahnya Aldi kembali mentap Karin yang masih tersenyum kecil menatapnya.
"Ayo dek pulang" ajak Kara yang di angguki Karin.
"Aku pulang dulu ya Di" pamit Karin yang kembali membuat tubuh Aldi membeku mendengar panggilan 'Di' itu.
Kara dan Karin berbalik dan berjalan bersama meninggalkan Aldi yang masih berdiri di depan tempat permainan itu. Kara tidak mau lebih lama lagi di luar bersama adiknya karena sudah semakin larut malam.
Aldi terus menatap kepergian Karin dan laki-laki yang sejak tadi memanggil Karin adik itu. Ingatannya akan senyuman Karin yang sama persis dengan teman kecilnya kembali membuat Aldi merasa rindu, tapi ada juga semacam rasa curiga, mungkinkah dia?.
"Nana" ucap Aldi lirih masih menatap Karin yang berlalu.
Aldi baru sadar kala ponselnya berbunyi yang ternyata pesan dari bundanya. Aldi membuka pesan itu dan langsung berbalik badan tanpa menyadari kalau Karin berhenti dan seperti mencari sesuatu.
Sedangkan Karin yang mendekap kedua boneka besar itu masih tersenyum kecil akibat senang. Pada hal kalau di pikir-pikir papa dan mamanya bisa membelikannya boneka yang lebih mahal.
Bahkan Kara pun bisa memberinya boneka yang lebih cantik dari itu. Tapi entah kenapa Karin sangat menginginkan boneka itu menjadi miliknya, bahkan ketika ia mendapatkan satu lagi yang cantik membuatnya semakin bahagia walau Aldi yang berhasil mendapatkan boneka itu.
Besok bawa bekal dua supaya bisa kasih dia sebagai ucapan terimakasih gumam Karin dalam hati. Tapi tiba-tiba langkah Karin terhenti dan senyumannya hilang, berganti dengan wajah tegang yang penuh kerinduan.
Panggilan masa kecilnya dari seseorang yang selalu di tunggunya. Karin balik badan dan pandangan yang menyusuri semua orang mencari asal suara yang memanggilnya tadi.
"Didi" lirih Karin pelan.
Kara yang kaget dengan langkah adiknya yang berhenti tiba-tiba ikut menghentikan langkahnya dan menatap heran pada Karin. Tapi ia tidak mendengar ucapan Karin karena ada suara musik kuat yang baru berbunyi.
Gadis remaja itu sedikit menggelengkan kepalanya mencoba menghilangkan angan dan pendengarannya tentang suara barusan. Ia yakin pasti berhalusinasi karena sangat merindukan Didi nya itu.
"Kamu sakit dek?" tanya Kara lagi memegang kening Karin.
"Gak panas, kenapa dek?" tanya Kara yang khawatir.
"Karin pengen makan sate bang" ucap Karin agar abangnya tidak khawatir.
"Oh, ya udah ayo nanti kita singgah di tempat jual sate" ajak Kara merangkul bahu Karin agar adiknya tidak hilang karena kedua tangan gadis remaja itu masih mendekap bonekanya.
Setelah masuk mobil, Kara melajukan kendaraannya mencari pedagang sate, karena malam banyak pedagang sate yang masih buka.
"Mau sate apa dek?" tanya Kara menatap Karin di samping yang terlihat melamun.
"Karin" panggil Kara lagi menyentuh bahu adiknya yang langsung kaget.
"Apa sih bang? ngagetin aja" protes Karin cemberut.
"Kamu yang kenapa? di tanya malah melamun" kata Kara.
"Ngantuk bang"
"Ya udah kita pulang aja kalo gitu"
"Satenya"
"Katanya ngatuk"
"Iya tapi mau sate juga"
"Makannya gimana kalo ngantuk mau sate? dalam mimpi" heran Kara akan permintaan Karin.
"Pokoknya mau sate" rengek Karin.
"Ya udah sate apa?"
"Ayam"
"Tunggu sini aja ya, jangan kemana-mana abang beli dulu kalo ngantuk tidur nanti sampe rumah abang bangunin baru makan satenya" Karin mengangguk.
Setelah Kara keluar menuju tukang sate, Karin memposisikan dirinya untuk tidur dengan masih mendekap dua boneka pemberian Aldi tadi. Karin merasa pusing memikirkan teman kecilnya yang menghilang dan suara panggilan yang tadi di dengarnya tapi entah berasal dari mana.
Akhirnya Karin tertidur karena sudah lelah tubuh dan hatinya. Sedangkan Kara masih menunggu sate yang baru di pesannya masih di bakar.
Tanpa sengaja pula Kara bertemu dengan Aldi yang akan pulang setelah membeli sate.
"Hey kamu yang tadikan!" sapa Kara ramah.
"Kamu yang sama Karin ya?" ucap Aldi.
"Iya, Karin itu adikku, makasih ya dua bonekanya tadi kalau gak dapet itu boneka dia pasti bakalan keingetan terus karena keinginannya gak kepenuhi" kata Kara.
"Sama-sama, aku duluan" ucap Aldi yang ingin langsung pulang.
"Oh iya hati-hati" Kara mengangkat tangannya sebagai salam peepisahan yang di balas anggukan saja oleh Aldi.
Aldi dan Kara memang tidak pernah bertemu walau orang tua mereka berteman. Karena setiap kali orang tua Kara akan pergi kerumah orang tua Aldi, Kara tidak mau ikut begitupun sebaliknya.
Kara duduk sembari menunggu sate selesai di bakar sambil main ponsel yang tadi sudah di berikan Karin saat mereka sudah tiba di pasar malam.
Sedangkan Aldi yang melewati mobil yang di naiki Karin tidak sengaja mendengar sesuatu yang membuatnya hampir hilang fokus berkendara.
Ya Aldi kembali mendengar panggilan Didi untuknya dari arah mobil yang di parkir itu. Karena kaca mobil yang tidak di tutup rapat, tapi Aldi tidak tahu yang mana mobilnya karena ada tiga mobil yang parkir di sana.
Sudahlah pikir Aldi mencoba fokus pada jalan dan kendaraannya supaya tidak celaka.