
Selesai makan siang keluarga Banu duduk bersama di ruang keluarga. Dengan Karin yang masih menempel pada sang papa yang di rindukannya. Banu juga menunda pekerjaannya yang akan di kerjakan di rumah saja karena putri kesayangannya yang masih kangen dan tidak mau di tinggal dulu.
"Kamu mau kuliah di mana nanti sayang?" tanya Banu pada Karin sembari mengelus rambut gadis itu sayang.
Karin yang di tanya hanya mengangkat bahunya saja.
"Gak tahu" jawabnya santai masih memeluk papanya.
"Kok gak tahu? kamu mau kulaih kan?" tanya Kara bingung.
"Ya mau, tapi belum tahu mau kuliah di mana"
"Satu kampus aja sama Aldi gimana nak! mama masih sedikit ragu ngelepasin kamu kuliah dengan kondisi begini, atau kamu kuliahnya dari rumah aja ya" ucap Tati ikut angkat bicara.
"Kok di rumah aja sih ma? udah kayak orang penyakitan dong akunya di karantina" protes Karin melepaskan pelukan papanya.
"Ya habis kamu juga belum tahukan mau kuliah di mana, mama juga masih khawatir sama keadaan kamu" jelas Tati pada Karin agar anaknya itu tidak salah paham dengan maksudnya.
"Abang rasa apa yang di bilang mama ada benernya dek, abang juga khawatir kalo kamu kuliah di luar" timpal Kara menyetujui keinginan Tati agar Karin kuliah dari rumah saja.
"Jadi orang kuper dong Karin" lesu Karin cemberut.
Banu menghela napas sejenak dengan pikiran yang terus berputar untuk mengambil keputusan apa yang baik untuk semuanya. Dengaan dua pendapat yang berbeda tentu Banu sebagai kepala keluarga yang harus memberi keputusan baik untuk semuanya serta memberi alasan yang dapat di terima pula oleh semua anggota keluarganya.
"Ya gak kuper juga dek, nanti kalo kamu udah selesai kuliahnya mama ajakin kamu jalan-jalan deh" bujuk Tati agar Karin mau mengikuti keinginannya.
"Abang nanti bakalan luangin banyak waktu juga deh buat nemenin kamu, kamu mau kemana aja nanti pasti abang anterin" kata Kara pula.
Karin menggembungkan pipinya, lalu melirik pria paruh baya di sampingnya yang masih diam dengan tenang mendengarkan diskusi mereka.
"Kalo papa gimana? setuju juga sama keinginan mama sama abang?" tanya Karin yang ingin mendengar pendapat papanya.
Banu menatap Karin lalu tersenyum manis pada anak gadisnya itu. Tangan Banu terangkat untuk membelai rambut Karin dengan sayang.
"Kalo papa sih setuju sama saran mama sama abang untuk kamu kuliah dari rumah, tapi papa juga bakalan setuju kok kalo kamu memang mau kuliah langsung di kampus" ucap Banu yang langsung mendapatkan tatapan heran dari ketiganya.
"Kok papa gitu sih pa?" ucap Tati yang tidak terima dengan jawaban Banu.
"Gitu gimana ma?" tanya Banu melihat istrinya yang duduk bersama dengan Kara.
"Ya papa yang konsisten dong pa, iya iya gak gak, gimana sih masa jawabannya gitu, ke sana iya ke sini iya gak jelas nih papa omongannya" ucap Tati sedikit cepat.
Wanita paruh baya itu ingin jawaban yang pasti dari sang suami, bukan jawaban seperti yang di ucapkan Banu tadi.
"Ya itu kan udah jelas ma" santai Banu tanpa perduli dengan wajah kesal istrinya yang jelas tidak puas dengan ucapannya tadi.
"Jelas gimana?" tuntut Tati ingin penjelasan lebih.
Sebagai wanita dan seorang ibu, tentu Tati sangat mendukung apapun keinginan anaknya selama itu baik. Namun kali ini Tati merasa sangat ingin jika Karin kuliah dari rumah agar ia bisa terus memantau kondisi sang anak yang baginya masih belum sehat sepenuhnya.
"Maksud papa itu, kalau Karin memang mau kuliah dari rumah kayak keinginan mama sama Kara ya papa setuju, tapi kalo Karin nya juga ngerasa lebih nyaman, lebih enak kalau kuliah ke kampusnya langsung dan belajar langsung di kampus ya gak masalah, papa juga setuju, kalo papa sih ya gimana nyamannya anak aja asal dia bisa menjaga dirinya dan tetap perhatikan kesehatannya selama di luar, jauhi hal yang berbau ketidak benaran dan merapatlah kekeadilan supaya bisa jadi anak yang berguna bagi siapa yang mau" jelas Banu panjang lebar dengan kata yang sedikit bercanda di akhir kalimatnya.
"Ih papa! akhir kalimatnya gak banget" protes Karin.
Tati menghela napas setelah mendengar penjelasan suaminya. Memang ia tadi sempat berpikiran egois ingin agar anak gadisnya tetap di rumah saja supaya ia tidak kesepian. Tapi kembali lagi pada si anak yang akan menjalani kehidupannya untuk masa depannya sendiri.
Tati sadar, sebagai orang tua ia juga seharusnya mendukung apapun yang menjadi pilihan anaknya. Tapi berpendapat dan memberi pilihan tidak salahkan?.
"Ya udah deh kalo gitu, mama ikut papa aja deh" pasrah Tati akhirnya.
Banu langsung melihat ke arah sang istri lalu tersenyum jahil.
"Mama mau ikut kemana? mau ikut kekamar! ya hayuk" ucapnya beranjak dari duduk menghampiri sang istri yang sudah sedikit melotot itu.
"Apaan sih pa? maksud mama ikut itu sama keputusan papa bukan mau ikut ke kamar" protes Tati sembari melihat sang suami yang sudah di sampingnya memegang lengannya.
"Ih si mama pake acara malu-malu ngeong lagi, udah ayo ma gak usah malu-malu kayak gak biasa aja" Banu menarik tangan Tati lembut.
Tati mencoba melepaskan tangan sang suami yang masih memegang kedua lengannya tapi tetap mengikuti langkah Banu.
"Papa salah makan ya tadi, kok jadi aneh gini sih" ucap Tati menatap heran Banu.
"Gak ada yang aneh atau salah makan ma, papa itu lagi semangat ini ayo"
"Malu pa sama anak-anak"
"Memang apa yang harus di malukan?"
"Ini masih siang pa astaga!"
"Ya kenapa kalo siang? memangnya gak boleh orang mandi siang trus suami minta di siapin handuk sama pakaian sama istrinya sendiri!"
Wajah Tati jadi memerah malu karena ia ternyata sudah salah sangka dengan suaminya sendiri. Sedangkan Karin dan Kara yang masih mendengar ucapan kedua orang tua mereka langsung tertawa di ruang keluarga, apa lagi memang posisi kedua orang tua itu memang masih belum jauh dari ruang keluarga.
"Aduh mama ya ampun, mikirin apa sih sampe segitunya banget di ajakin kekamar doang" ucap Karin di tengah tawanya yang sedang ia usahakan meredamnya.
"Haduh orang tua orang tua" gumam Kara.
Setelah bisa meredam tawanya, Kara berdiri dari duduknya menatap Karin yang terlihat menguap di sofa.
"Abang mau keluar, kamu ikut gak?" ucap Kara memberi tawaran pada Karin.
"Gak ngantuk" sahut Karin sembari memejamkan matanya setelah rebahan.
"Di kamar dek kalo mau tidur"
"Udah mager"
"Apa mager?"
"Males gerak"
"Memang dasarnya males aja pakek bahasa begituan segala"
Kara mengangkat tubuh Karin dan membawanya kekamar gadis itu. Setelah merebahkan tubuh Karin di kasur dann menyelimutinya barulah Kara keluar dari kamar itu dan melanjutkan tujuannya yang ingin pergi.