
Pintu ruang ICU terbuka menarik perhatian orang yang sudah menunggu dengan gelisah.
"Bagaimana dokter keadaan anak saya?" tanya Tati penasaran.
"Anak ibu dan bapak hanya pingsan saja karena ada bagian dari ingatannya yang kembali"
"Benarkah dokter, jadi adik saya sudah ingat semuanya?" ucap Kara senang mendengar kabar dari dokter itu.
"Begini" dokter wanita paruh baya itu membenarkan letak kaca matanya sejenak.
"Anak ibu dan bapak memang mengingat masa lalunya, tapi sepertinya tidak semua hanya beberapa memori saja yang kemungkinan dia ingat saat ini, jadi saya harap bapak sekeluarga bisa lebih membantunya mengenang kembali masa lalunya pelan-pelan dan untuk lebih jelasnya lagi bisa di bawa ke dokter yang menanganinya sejak awal supaya lebih jelas lagi seperti apa kemajuan ingatannya" jelas dokter itu apa adanya.
"Iya dok, terimakasih" ucap Banu setelah mengerti maksud dokter itu.
"Saya permisi dulu pak buk, anaknya sebentar lagi di pindahkan ke ruang rawat nanti baru boleh di temui dan kalau sudah sadar beri air minum secukupnya karena nanti dia pasti haus" ucap dokter yang diangguki Banu dna yang lainnya.
Setelah dokter itu pergi, pintu kembali terbuka bersama dengan tubuh Karin yang di dorong di atas bed menuju ruangan rawat. Saat pintu lift yang akan membawa Karin tertutup bersama yang lainnya seseorang datang mencoba masuk tapi terlambat.
"Ah sial" gumam Aldi menatap keatas yang menunjukkan kemana kotak besi itu menuju.
Aldi langsung berlari menuju lift yang biasa di gunakan para pengunjung vip jika akan menuju lantai khusus di mana keluarga mereka berada. Karena hanya orang-orang yang benar-benar akan menuju lantai elit itu saja yang menggunakannya. Sedangkan lift satunya lagi cukup banyak yang akan menaikinya.
Setelah menekan tombol menuju lantai yang ingin di tuju Aldi menghentak-hentakkan ujung sepatunya gelisah. Tadi ketika Aldi pulang dari supermarket ia menyempatkan diri untuk kerumah Karin lebih dulu.
Apa lagi Aldi sempat merasakan perasaan tidak enak juga tidak nyaman yang entah karena apa. Ketika sedang membeli sesuatu tiba-tiba saja Aldi seperti mendengar suara Karin memanggilnya. Hal itu membuat jantung Aldi berdetak, tanpa pikir panjang lagi Aldi menyudahi belanjanya lalu membayar di kasir.
Aldi melajukan motornya menuju rumah Karin dengan harapan gadis itu baik-baik saja. Tapi ternyata saat tiba di sana security yang biasanya membukakan gerbang memberitahunya kalau tuannya sedang pergi ke rumah sakit karena nona mereka yang drop.
Sontak saja Aldi kaget dan kembali melajukan motornya menuju rumah sakit tterdekat di sana sepeerti yang di katakan security tadi. Dengan tubuh yang terasa lemas karena kabar buruk itu Aldi tetap mencoba fokus menyetir hingga tiba di rumah sakit.
Aldi masuk ke dalam rumah sakit dan bertanya pada suster jaga tentang orang yang baru masuk lalu menyebutkan ciri-ciri dari Banu agar lebih mudah. Suster menunjukkan ruang ICU pada Aldi yang langsung membuat laki-laki itu berlari.
Belum sampai di tempat yang di tunjukkan suster Aldi sudah melihat Banu juga yang lainnya berjalan cepat mengikuti bed yang di dorong para suster menuju lift khusus untuk petugas dan pasien di rawat.
Dan sekarang Aldi keluar dengan cepat dari lift menuju lorong yang terdapat kamar-kamar kelas vip di sana.
"Maaf sus, pasien yang baru naik di ruangan mana ya?" tanya Aldi pada suster yang mendorong bed yang tadi di gunakan Karin.
"Pasien ada di ruangan itu mas" tunjuk suster pada pintu yang tidak jauh dari mereka karena para suster itu juga belum lama keluar dari sana.
Aldi datang tepat saat Banu dan keluarganya masuk ke dalam ruangan Karin.
"Terimakasih sus" Aldi langsung lari lagi menuju pintu yang di maksud suster itu.
Tok
Tok
Tok
Aldi mengetuk pintu lebih dulu untuk lebih memastika ia tidak salah masuk kamar. Bisa gawat kalau sampai salah kamar.
"Oh kamu Al, ayo masuk" ajak Kara membuka lagi pintu untuk mempersilahkan Aldi masuk.
"Siapa Kar?" tanya Banu menoleh ke arah pintu.
"Ini ada Aldi pa" sahut Kara mendekati Banu yang sudah berada di dekat sofa.
"Maaf om kalo Aldi ke sini gak bilang-bilang dulu" ucap Aldi yang takut keluarga Banu tidak suka dengan kedatangannya yang tiba-tiba.
Banu tersenyum pada Aldi yang masih saja terlihat sungkan pada mereka.
"Gak papa nak, om malah senang kalo kamu dateng ke sini jadi kami ada temennya lagi selain Kara" canda Banu mencairkan suasana yang sudah mulai tenang karena Karin hanya tinggal menunggu sadar saja.
"Iya om, tadi Aldi abis dari supermarket trus singgah kerumah om, tapi kata security di gerbang om pergi ke sini jadi Aldi ke sini" jelas Aldi.
"Iya tadi Karin pingsan makanya kami bawa ke sini" kata Kara ikut angkat suara.
"Pingsan kenapa?" kaget Aldi lalu mendekati Karin yang masih memejamkan matanya.
Tangan Aldi menyentuh tangan Karin yang satunya karena satu lagi di pegang oleh Tati yang berada di sebelah kanan.
"Tadi Karin nanyain kalungnya yang berliontin merah delima" ucap Kara.
Tati menyerahkan kalung itu pada Aldi karena sejak tadi memang sudah di peganginya ketika suster memberikan kalung itu.
"Ini" Aldi menerima kalung itu dan menatapnya, sedetik kemudian laki-laki itu tersenyum manis lalu menatap Karin yang masih terpejam.
Aldi mengecup kening Karin tanpa memperdulikan keberadaan keluarga perempuan itu yang masih ada di ruangan yang sama bahkan sedang menatap keduanya.
"Nana, bangunlah Didi di sini" bisik Aldi lalu kembali mengecup kening perempuan itu lembut.
"Bangunlah Nana, kamu gak kangen sama aku ya? aku kangen banget sama kamu Nana" bisik Aldi lagi.
Banu, Tati dan Kara yang melihat itu memilih untuk keluar lebih dulu dan memberikan kesempatan pada Aldi untuk berduaan dengan Karin saja. Memang selama Aldi sering menemui Karin setiap ada waktu dan sering menghabiskan waktu berduaan pula.
Kesehatan Karin memang jadi lebih baik lagi dan beberapa nama juga mulai di ingatnya walau tidak tahu siapa nama yang du sebutkannya. Akhirnya Banu atau istrinya yang akan menjelaskan pada Karin siapa nama yang di sebutkannya.
Atau Aldi sendiri yang akan menjelaskan pada Karin kalau bertepatan gadis itu mengingat saru nama dan bertanya pada Aldi. Hal itu memang membuat bahagia kedua keluarga itu. Desi juga berharap kalau anaknya dan anak temannya bisa bersama. Atau kalau perlu mereka bisa bersanding bersama di pelaminan, itulah harapan Desi.
Tapi balik lagi pada keadaan saat ini yang masih harus memulihkan ingatan dan juga kaki Karin yang mulai pulih walau belum seutuhnya.
Aldi masih betah memandangi wajah Karin yang sudah mulai menunjukkan tanda akan sadar. Senyuman laki-laki itu mengembang manis ketika mata indah yang sudah di tunggunya terbuka pelan-pelan.
"Nana" ucap Aldi menyentuh pipi Karin lembut dengan tangannya.
Alis Karin bertaut menatap Aldi seperti ornag bingung.
"Kamu...siapa?"
Mata Aldi melotot kaget mendengar pertanyaan yang tidak ingin di dengarnya lagi itu. Bukankah mereka sudah sering bersama? lalu kenapa Karin bisa lupa lagi dengannya pikir Aldi.