
Tok tok tok
Suara pintu sebuah ruangan di ketuk membuat semua orang yang ada di dalamnya kaget dan saling pandang. Siapa kiranya yang berani mengganggu rapat penting mereka begitulah kiranya yang mereka pikirkan.
"Siapa yang berani mengganggu rapat? berani sekai dia" ucap seorang pria muda yang tampan dengan wajah kesalnya.
Pria yang menjadi asistennya pun langsung bergegas mendekati pintu yang kembali di ketuk. Saat pintu sudah terbuka alangkah terkejutnya ia melihat siapa yang ada di sana.
"Ada perlu apa ya pak?" tanya pria itu sopan pada polisi yang ada di depan pintu.
"Kami mencari saudara Riki Putra pemilik perusahaan ini" ucap komandan polisi itu yang mengetuai kedatangan mereka.
"Kalau boleh tahu ada perlu apa ya pak?" tanyanya lagi dengan perasaan yang sudah tidak enak, apa yang terjadi dengan bosnya pikirnya.
"Kami mendapat surah perintah penangkapan atas nama beliau jadi mohon kerja samanya" ucap polisi itu seraya menunjukkan surat yang di maksudnya.
"Diamana beliau pak?" tanya polisi itu lagi.
"A ada di dalam pak, sebentar saya panggil" ucapnya gugup dan langsung masuk ke dalam menghampiri tuannya.
Begitu sampai pada tuannya pria itu langsung membisiki sesuatu pada tuannya yang langsung kaget.
"Apa katamu?" kagetnya dengan suara keras hingga berdiri yang mengagetkan para koleganya yang ada di sana.
"Iya tuan mereka ada di..."
"Permisi tuan tuan, kami datang membawa surat penangkapan untuk anda jadi mohon ikut dengan kami" ucap polisi memotong kalimat pria tadi karena mereka harus cepat dan takut tersangka kabur.
"Tapi apa salah saya pak? saya tidak merasa melakukan kesalahan" ucapnya gugup karena bagaimanapun juga di ruangan itu semua kolega penananm saham sedang berkumpul.
Kedatangan polisi yang mengatakan akan menangkapnya bisa merusak nama baiknya juga menghancurkan perusahaannya.
"Bapak di duga bersekongkol dengan istri bapak atas penganiayaan terhadap anak kandung bapak sendiri, jadi ikut dengan kami sekarang juga" polisi itu menggerakkan tangannya pada polisi lainnya untuk segera menangkap Riki.
"Apa maksudnya pak? saya tidak pernah menganiaya anak saya sendiri, bahkan anak saya tidak ada dengan saya" ronta Riki yang tidak mau ikut polisi.
"Silahkan jelaskan di kantor polisi dan anda bisa melihat semua buktinya di sana nanti"
Riki di seret oleh polisi keluar dari ruang rapat dan di bawa kekantor polisi walaupun ia terus saja berontak dan menyangkal tuduhan polisi tersebut. Sedangkan para kolega penanam saham di perusahaannya saling pandang.
"Tidak ku sangka ternyata tuan Riki tega melakukan penganiayaan pada anaknya sendiri, orang sepeerti itu tidak bisa terus di pertahankan jadi rekan bisnis, lebih baik ku tarik saja sahamku di sini" ucap salah seorang pria paruh baya yang sangat menyayangkan sikap Riki itu.
"Bukannya pak Riki tidak punya anak ya! istrinya tidak pernah melahirkan" seru yang lain.
"Aku pernah tidak sengaja bertemu dengan pak Riki dan istrinya yang sedang makan malam di restoran bersama anak kecil yang wajahnya mirip dengan pak Riki, aku yakin anak itu yang di maksud polisi" sahut yang lainnya.
"Mungkin dari istri sebelumnya dan yang sekarang istri kedua"
Akhirnya para pria itu keluar dari ruang rapat dan akan melakukan prosedur penarikan saham mereka. Karena merasa tidak cocok dengan sikap dari Riki.
"Tuan tuan tolong jangan lakukan itu, pasti ada kesalah pahamana di sini mohon bersabarlah" ucap asisten Riki mencoba menahan orang-orang itu karena ia tadi sempat mendengar ucapan mereka setelah kembali lagi ke ruangan rapat setelah melihat tuannya pergi bersama polisi.
"Kami tidak mau bekerja sama dengan orang yang tega menyakiti anak kecil sepertinya" ucap salah satu dari mereka.
"Itu hanya kesalah pahaman tuan pasti ada yang sengaja memfitnah tuan Riki, mohon pertimbangkan lagi" ucap asisten Riki.
"baik kapau memang benar apa yang anda katakan ini fitnah, kami akan menunggu dan bertahan tapi kalau terbukti nyata maka kami tidak akan berpikir dua kali lagi" kata salah satu pria yang lebih tua di sana.
""Terima kasih tuan tuan terimakasih, kami pasti akan membuktikan kalau semua itu memang fitnah saja untuk menjatuhkan tuan Riki" sahut asisten Riki senang.
Di kantor polisi Riki langsung di bawa keruang pemeriksaan dan matanya melotot saat melihat siapa yang ada di sana.
"Salsa!" ucapnya, ia mulai berpikir apa mungkin ini ada hubungannya dengan mantan istrinya itu? tapi kenapa dia ada di sini juga pikirnya.
Riki duduk di tempat yang berjarak satu kursi dari Salsa. Salsa tidak di periksa oleh polisi ia hanya di mintai keterangan lebih lanjut tentang apa yang di laporkannya tadi setelahnya wanita satu anak itu langsung keluar.
Salsa tidak perduli dengan kehadiran mantan suaminya itu yang tadi sempat menatapnya penuh tanya dan menuntut penjelasan. Namun Salsa tidak perduli dan memilih mengabaikannya dan pergi. Biarlah polisi yang akan menjelaskannya nanti pada pria itu.
Di luar Salsa kembali bertemu dengan wanita yang menjadi istri dari mantan suaminya. Wanita yang dulu menjadi racun dalam rumah tangganya dan yang sudah menyiksa anak yang di sayanginya.
"Kau! apa yang kau lakukan di sini hah? apa yang kau lakukan sampai aku di seret polisi begini" teriak wanita itu marah saat melihat Salsa di sana.
"Melaporkan kejahatanmu dan suamimu tersayang itu, jadi selamat menikmati indahnya jadi tersangka dan tahanan" ucap Salsa lalu pergi dari kantor polisi.
Wanita bernama Sora itu di bawa oleh polisi lagi ke ruang pemeriksaan di mana di sana ternyata ada suaminya yang sudah duduk.
"Sayang kamu di sini juga! apa di lakukan perempuan hina itu sampai kita di seret polisi begini? kamu tahu hancur sudah reputasiku di hadapan semua temanku karena polisi membawaku saat sedang kumpul bersama mereka, mau taruh dimana muka aku sayang" cerocosnya tanpa henti pada snag suami.
"Diam! aku yakin ini pasti ada hubungannya dengan hilangnya Kiko dari rumah, dan juga kau yang sudah menyiksanya" ucap riki berteriak pada Sora dengan kesalnya karena wanita itu malah memikirkan reputasinya bukan memikirkan cara supaya mereka bisa bebas.
"Kamu nyalahin aku! salahin aja tuh anak kamu yang gak tahu diri itu, gak bisa di atur banyak mintanya aku kan capek kalo harus ngurusin dia, dia juga bukan anak aku buat apa aku repot-repot urusin dia" kata Sora tidak terima di salahkan oleh suaminya.
"Tapi kamu yang minta untuk jemput Kiko kan! kamu yang mau supaya Kiko tinggal sama kita karena kamu gak punya anak apa lagi melahirkan anak, itu ide kamu kan tapi nyatanya kamu gak ngurus dia dengan baik bahkan aku suruh kamu untuk nyari dia juga kamu gak mau"
"Dia kan anak kamu! ya kamu cari sendirilah, urus sendiri anak kamu, kalo bukan karena orang tua kamu yang cerewet minta cucu aku juga gak mau ketemu sama anak kamu, bisa rusak badan aku kalo hamil aku juga gak mau repot ngurusin anak"
"Tapi lihat sekarang akibatnya, kita di sini sekarang, Salsa pasti laporkan kita kepolisi karena udah siksa Kiko, dan itu karena ulah kamu" bentak Riki.
"Salah kamu sendirilah, kamu aja sebagai ayah gak perduli sama dia aku pukulin anak kamupun kamu diam aja kan! malah kamu ikut pukul dia waktu dia nangis karena pengen main sama kamu tapi kamu masih asik kerja"
Kedua orang itu terus berdebat di dalam ruang periksa itu hingga membuat polisi yang berjaga di sana merasa jengah. Menunggu sebetar saja mereka sudah ribut, kalau sampai satu jam kemudian mungkin mereka akan saling membunuh pikirnya
"Diam kalian berdua" bentak polisi itu yang sudah merasa pusing mendengar keributan keduanya.