First Kiss

First Kiss
Insting papa



Setelah api berhasil di padamkan para perugas pemadam maju dan mencoba memeriksa bagian dalam mobil yang terbalik itu.


"Tidak ada siapapun disini" teriak seorang petugas pemadam.


Antara lega dan semakin khawatir, lega karena anaknya tidak terpanggang dalam kobaran api dan semakin khawatir karena anaknya di nyatakan hilang.


"Segera telusuri lokasi ini dalam radius 3 kilometer" komando seorang perwira polisi pada bawahnya.


"Dimana putriku? dimana kamu nak?" sedih Banu ingin ikut peegi mencari tapi di tahan oleh petugas.


"Bapak tetap disini saja pak, atau kembali ke rumah sakit, kami akan segera menemukan anak bapak" ucap seorang polisi yang tidak tega melihat kesedihan Banu yang menangis.


"Tidak pak, saya masih sanggup untuk ikut mencari anak saya"


"Tapi ini sudah sangat larut malam pak, bapak juga harus menjaga kesehatan"


"Saya tetap ikut mencari anak saya pak, saya masih sanggup"


"Baiklah, tapi jangan jauh-jauh dari tim kami pak"


Banu mengangguk dan mulai bergerak mengikuti langkah para petugas yang sudah membagi kelompok pencarian. Pencarian tetap di lakukan walau larut malam, daerah yang cukup menyeramkan di malam hari itu membuat mereka tetap mencari.


"Karin dimana kamu nak?" panggil Banu dengan suaranya yang serak akibat sedih.


"Karin ini papa nak, kamu dimana?"


Pencarian terus berlangsung hingga satu jam dan mereka sudah menyusuri sekitar tempat kejadian. Banu tidak merasakan lelah sama sekali dan justru ia merasa seperti langkah kakinya sedang di tuntun sesuatu yang membuatnya terus melangkah dan terpisah dari rombongan polisi yang di ikutinya.


"Karina putri papa, dimana kamu nak?" Banu terus berteriak memanggil anaknya berharap mendapat jawaban.


"Karina putri papa, dimana kamu sayang? papa disini nak, kamu dimana?"


Banu terus melangkahkan kakinya sampai pada daerah yang terdapat rumput-rumput lebat setinggi lutut. Pria paruh baya itu menghentikan langkahnya menatap hamparan gelap di hadapannya dengan hampa.


"Karriiiin, Kariin dimana kamu sayang? papa di sini nak" teriak Banu kearah gelapnya malam di hadapannya.


"Pa..pa.."


Banu yang hendak berbalik arah kembali langsung menghentikan langkahnya saat mendengar samar-samar suara dari belakangnya.


"Pa..ma.." lirih suara itu yang membuat Banu semangat lagi dan kembali melangkah maju.


"Karina papa disini, kamu dimana? jawab papa nak" teriak Banu lagi dan mengeluarkan ponselnya untuk penerangan senter.


Setelah dapat penerangan Banu kembali memanggil anaknya.


"Karinaaa jawab papa nak"


Terdengar suara derap langkah kaki mendekati Banu dengan penerangan di tangan mereka.


"Karin kamu dimana?"


"Pak, jangan kesana berbahaya" ucap salah satu polisi menahan Banu yang ingin semakin maju menjauh.


"Tadi aku mendengar suara putriku dari arah sini" ucap Banu semangat.


"Berpencar dan cari, ambil penerangan lagi" perintah polisi itu yang membuat yang lainnya bergerak cepat.


"Karinaaa" panggil Banu lagi.


DUGH


Bqnu menghentikan langkahnya saat merasa menendang sesuatu di bawah dan langsung menyorotnya.


"Karinnn" teriak Banu bahagia karena menemukan anaknya.


Walau dengan kondisi yang penuh luka dan baju yang penuh darah tapi Banu yakin kalau itu anaknya. Apa lagi kalung berliontin bulan sabit yang digunakan Karin terlihat jelas di mata Banu.


Para polisi datang membantu Banu yang sudah mengangkat tubuh Karina setelah mengantongi ponselnya.


"Ayo pak bawa ke dalam ambulan" ucap polisi membimbing langkah cepat Banu.


"Bertahanlah sayang, papa bawa kamu ke rumah sakit" ucap Banu meneteskan air mata akan kondisi anaknya yang mengkhawatirkan.


Di dalam ambulan Karin di beri pertolongan pertama dengan alat bantu napas, petugas juga membersihkan darah di wajah Karin. Banu kembali meneteskan air matanya melihat keadaan wajah Karin yang terluka di bagian pipinya dan keningnya, juga goresan-goresan di beberapa bagian wajah lainnya.


Banu menghapus air matanya saat mendapati mata Karin bergerak-gerak pelan.


"Pa..pah" lirih Karin sangat pelan sembari membuka matanya perlahan tapi tidak sepenuhnya.


"Iya sayang ini papa, maaf papa lama nemuin kamu nak" ucap Banu memegangi tangan Karin yang dingin dan berdarah.


"Pa..pah"


"Iya sayang ini papaa" senang Banu karena Karin terus memanggil dirinya.


"Bertahan ya sayang, mama udah nungguin kamu di rumah sakit sama abang, bertahan ya"


"Ma..mah"


"Iya mama, sama abang"


Karin masih menatap lekat wajah Banu dengan mata sayunya.


"Pa..pa"


"Iya ini papa"


"Pak tolong lebih cepat, saya ingin anak saya segera di tangani" pinta Banu pada petugas yang di depannya.


"Sebentar lagi kita tiba pak"


"Di..di"


Banu melihat Karin lagi saat mendengar anaknya bergumam.


"Apa sayang? kamu ngomong apa nak?" Banu terus mencoab mengajak Karin bicara karena ia takut kalau anaknya tidak di ajak bicara malah akan menutup matanya.


"Sayang bilang sama papa, Karin mau apa?" tanya Banu.


"Di..di"


"Siapa didi sayang? papa gak kenal" ucap Banu yang memang tidak tahu siapa itu Didi.


Mata Karin kembali terpejam sebelum menjawab pertanyaan Banu. Dan hal itu semakin membuat pria itu was-was dan ketakutan.


"Karin, buka mata kamu nak, bilang sama papa siapa Didi nanti papa bawa orangnya nemuin kamu ya nak, Karin" Banu menggoyang-goyangkan tangan Karin yang di pegangnya berharap anaknya membuka matanya.


"Karin buka mata kamu nak"


"Maaf pak tapi anak bapak sudah tidak sadarkan diri, saya harap bapak tenang" ucap petugas ambulan setelah memeriksa Karin.


"Astaga putriku, pak lebih cepat lagi putriku harus segera di obati" ucap Banu sedikit berteriak.


"Kita sudah tiba pak" ucap petugas yang langsung membuka pintu.


Banu keluar dari ambulan dan melihat bangkar anaknya di tarik keluar dari mobil itu dan dengan cepat pula di dorong masuk ke dalam rumah sakit. Banu terus mengikuti bangkar anaknya hingga di depan pintu UGD.


"Bapak tetap di sini, kami akan menangani pasien dengan baik" ucap suster menahan Banu.


"Tolong selamatkan anak saya suster" pinta Banu.


"Kami akan usahakan pak mohon doanya juga untuk anak bapak"


Pintu UGD tertutup, Banu mundur beberapa langkah dan bersandar di dinding depan ruangan di mana anaknya masih di periksa.


Dari kejauhan terdengar langkah kaki mendekat, Banu mengangkat kepalanya dan melihat Tati berlari kearahnya. Banu langsung memeluk istrinya begitu wanita itu tiba.


"Gimana pa? mana Karin? anak kita baik-baik aja kan pa? Karin belum matikan pa?" cecar Tati setelah melepaskan pelukan mereka.


"Karin udah papa temukan ma, dia masih di periksa di dalem" Banu melihat pintu ruang UGD lalu kembali melihat Tati.


"Kara gimana ma? apa kata dokter?" tanya Banu yang ingin tahu kabar anak laki-lakinya.


"Kata dokter Kara baik-baik aja pa, dia cuma shok sama kaget, trus juga mengalami tekanan karena ngelihat Karin yang jatuh, karena waktu sempat sadar Kara terus manggil-manggil Karin sambil nangis" ucap Tati serak juga karena sejak tadi menangis menanti kabar kedua anaknya.


"Trus sekarang di mana Kara?"


"Kara masih di ICU pa, mungkin besok pagi baru di pindahkan keruang rawat karena dokter masih mantau terus kondisi mental Kara yang tertekan" Tati kembali meneteskan air matanya kala mengingat nasib kedua anaknya yang begitu malang.


Banu menghela napas lalu menarik tubuh Tati kepelukannya.


"Sabar ma, ini cobaan untuk keluarga kita, kita harus tetap kuat demi anak-anak" ucap Banu sedih menahan air matanya mencoba kuat dihadapan sang istri.